My Affair

My Affair
Perjalanan lanjutan 1



"Baiklah,,, gue memang ada rencana mau pindah ke negara I mengikuti Jeri" jawab Greta dengan nada pasti dan sudah tidak bisa ditagukan oleh Jero dan Tama lagi.


"Jadi beneran semua ini berasal dari loe??"


"Bukan paksaan dari Jeri?" ujar Jero yang tidak ingin kepindahan Greta ke negara I disebabkan oleh pemaksaan atau keinginan dari Jeri saja.


Jero ingin semua itu berasal dari keinginan Greta. Bagi Jeri, tempat tinggal yang cocok bagi manusia adalah tempat tinggal yang membuat posisi mereka menjadi nyan dan sama sekali tidak ada gangguan dan pemaksaan dari siapapun.


Greta menatap mata Jero dan Tama bergantian. Dia sama sekali tidak suka diragukan akan pilihannya.


"Semua itu berasal dari gue. Gue ingin pindah ke negara I. Gue udah nggak mau pisah lagi dengan Jeri." kata Greta menjawab dengan pasti semua keinginannya kepada Jero dan Tama.


"Ini semua bukan ada unsur pemaksaan yang dilakukan oleh Jeri kepada gue. Gue yang ingin ikut dengan dia. Gue udah nggak mau lagi pisah dengan dia" ujar Greta menjelaskan dan meyakinkan kepada Jero kalau semua itu memang berasal dari keinginan dirinya.


"Apalagi sekarang kedua orang tua Jeri sudah berada di negara I. Tentu Jeri tidak akan mau berpisah dengan mereka lagi. Jadi, gue memutuskan untuk ikut Jeri ke sana" kata Greta melanjutkan argumennya kepada Jero dan Tama tentang keinginannya untuk pergi dan menetap di negara I.


Greta menatap ke arah kekasihnya itu. Jeri tersenyum hangat kepada Greta. Dia tidak menyangka kalau Greta akan mengatakan hal tersebut kepada Jero. Greta benar benar membuat Jeri bangga kepada dirinya. Peperangan yang dibuka oleh Jero dimenangkan oleh Greta dengan cara Greta sendiri tanpa bantuan dari Jeri.


Jero menatap ke arah Tama. Sedangkan Vian yang sama sekali tidak mengerti dengan alur cerita yang terjadi melihat ke arah Bram.


Bram menggelengkan kepalanya tanda tidak mengerti dengan apa yang sedang mereka semua bicarakan.


"Baiklah karena ini adalah keinginan dari elo, maka loe boleh pindah ke negara I. Kita akan tinggal bersama sama di mansion besar itu." lanjut Jero yang kali ini memutuskan secara sepihak kalau Greta akan ikut tinggal dengan mereka semua di mansion besar milik keluarga Asander.


"Jadi,,,, Greta mau tinggal bersama dengan kita sayang??" ujar Vian bertanya dengan raut wajah bahagia kepada Jero.


"Ya sayang, Greta akan tinggal bersama dengan kita" jawab Jero sambil memandang ke arah kekasih hatinya itu.


"Wow, aku senang" teriak Vian meluapkan kegembiraan dirinya, karena akan ada teman di mansion besar itu selain Jero, Felix dan Bram.


Jero mengusap kepala kekasihnya itu. Hal kecil dari keputusan besar yang diambil oleh Greta bisa membuat kekasihnya bersorak gembira.


'Vian benar benar butuh teman wanita ternyata.' kata Jero dalam hati dan pikirannya sendiri.


Semua orang kemudian kembali didik di tempat mereka masing masing. Vian kali ini duduk di sebelah Jero. Dia kemudian mengambil tangan Jero untuk digenggamannya.


Jero menatap ke arah Vian dengan tatapan memuja dan penuh cinta.


"Ada apa?" tanya Jero kepada Vian.


Jero tahu kalau Vian pasti menyimpan sebuah keinginan sehingga membuat dirinya harus menggenggam tangan Jero dengan sangat kuat.


"Ada apa?" tanya Jero sambil melihat ke arah Vian.


"Nggak ada apa apa" jawab Vian sambil tersenyum manis sekali.


"Terus, kenapa menggenggam tangan aku sebegitunya?" lanjut Jero bertanya kepada Vian.


"Sayang, aku bukan baru kenal sama kamu sayang."


"Kamu mau apa? Katakan saja" kata Jero sambil tersenyum kepada kekasih hatinya itu.


"Nggak ada" jawab Vian tetap kekeh tidak mau mengatakan apa yang sebenarnya berada di dalam pikirannya saat ini.


"Ya udah kalau nggak mau jujur nggak apa apa sayang" kata Jero sambil menatap ke arah kekasihnya tersebut.


Vian tersenyum kepada Jero. Dia sekarang semakin yakin kalau dia tidak akan bisa menyimpan cerita apapun dari Jero. Jero sangat mengenal bagaimana sifat dan sikap Vian kepada dirinya.


Vian memeluk leher Jero. Dia kemudian menarik kepala Jero untuk turun sedikit. Vian kemudian mengangkat pantatnya dari kursi untuk bisa berbisik di telinga Jero.


"Nanti ya sayang aku cerita. Pas kita berdua aja" ujar Vian di telinga Jero.


Jero menjadi tidak fokus saat mendengar Vian berbisik. Terlebih lagi, Vian berbisik di telinganya, sehingga hembusan nafas Vian mengenai tengkuknya dan membuat rambut rambut halus di leher Jero menjadi berdiri meremang.


"Sayang, jangan lakukan itu" ujar Jero mencegah Vian untuk terus melakukan hal tersebut kepada dirinya.


Jero tidak mau berbuat melewati batas kepada Vian. Jero memang sangat menginginkan Vian. Tetapi bukan dengan cara seperti ini. Tetapi harus dengan cara baik baik dan tidak bisa di cegah untuk dimiliki oleh Vian.


"Ye mulai" ujar Vian menepuk paha Jero dan sedikit meremas nya dengan mesra.


Jero memegang tangan Vian yang mulai usil itu. Jero nggak mau Vian melakukan hal lebih lagi. Dia tidak mau lepas kendali terhadap Vian. Apalagi kalau hal itu akan menghancurkan kepercayaan Vian kepada dirinya. Jero sama sekali tidak mau mengambil resiko buruk itu.


"Sayang fokus ke jalan saja." kata Jero sambil mengelus lembut punggung tangan Vian.


"Jangan kayak gini. Ini akan membuat aku menjadi tidak bisa mengendalikan diri aku nanti" lanjut Jero yang melarang Vian untuk melakukan hal hal yang bisa memancing dirinya untuk melakukan suatu hal yang berakibat merugikan dirinya dan Vian.


Vian kemudian tersenyum cantik kepada Jero. Jero benar benar menjaga dirinya. Vian sangat tahu kalau Jero di besarkan di negara asing, tentu sudah hal biasa bagi mereka untuk melakukan hal hal yang di luar kebiasaan negara tempat Vian tinggal selama ini. Tapi ternyata demi Vian, Jero rela untuk tidak melakukan hal hal aneh seperti itu.


"Kakak ipar. Coba lihat sebentar lagi kita akan melewati kebun apel milik perusahaan apel terbesar di negara ini" kata Bram yang memang sangat hafal lokasi yang akan mereka lalui sekarang.


"kebun apel?"


"Kamu serius Bram?" ujar Vian yang kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Bram kepada dirinya.


Vian sangat sangat bahagia dan kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Bram kepada dirinya. Mereka akan melewati kebun anggur seperti apa yang dikatakan oleh Bram kepada dirinya.


"serius kakak ipar."


"kita sebentar lagi akan melewati area itu." kata Bram meyakinkan Vian kalau mereka memang benar akan melewati kebun apel milik perusahaan perkebunan olahan apel di negara yang sedang mereka lewati sekarang ini.


Vian kemudian memiliki sebuah ide yang melintas di kepala cantiknya. Dia benar benar ingin mengatakan hal itu kepada Jero. Vian berharap Jero bisa mewujudkan apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.