
Juan Aleksander terlambat bangun pagi ini, biasanya dia selalu dibangunkan oleh Bik Ima. Sedangkan pagi ini, Bik Ima yang biasanya membangunkan Juan Aleksander telah diusir oleh dirinya sendiri. Juan mengusap matanya. Dia berusaha mengumpulkan kembali nyawanya yang sempat berserakan tadi.
"Huft, mereka beneran mau jadi gembel" ujar Juan Aleksander yang tidak menyangka keempat orang yang diusirnya itu ternyata beneran pergi dari mansion besar itu.
"Apa yang mereka harapkan dari Jero itu? Pria yang hanya berstatus sebagai sopir pribadi. Mereka bertiga benar benar gila. Terlebih Vian. Aku jamin Vian akan merengek ingin kembali ke mansion ini" ujar Juan dengan rasa percaya dirinya mengatakan hal itu.
Juan Aleksander kemudian bangun dari tidurnya. Dia kemudian berdiri dan mengambil handuk yang ada di gantungan. Juan Aleksander kemudian membersihkan badannya. Dia menyiram tubuhnya dengan air hangat. Juan ingin menghilangkan semua kepenatan dalam dirinya dengan menyiram kepalanya memakai air hangat itu.
Setelah selesai mandi, Juan memakai pakaiannya dengan cepat. Juan tidak ingin terlambat sampai di mansion utama. Papi bisa semakin murka nantinya kalau dia terlambat datang. Juan berjalan menuju lantai satu mansion.
"Gini bener nasib nggak ada maid. Sarapan yang biasanya terhidang, hari ini sudah tidak ada lagi. Aku harus mencari pelayan baru" ujar Juan Aleksander menatap meja makan yang kosong dan bersih serta rapi itu.
Kriuk kriuk, terdengar bunyi perut Juan Aleksander yang minta diisi.
"Mana perut lapar lagi" ujar Juan sambil memegang perutnya yang kelaperan itu.
"Bersabar perut sampai semua urusan aku selesai" ujar Juan sambil mengusap perutnya yang kelaperan itu.
Juan berjalan ke luar mansion. Dia melihat tidak ada mobil yang diparkir di depan mansion.
"Pak Hans" teriak Juan dengan sangat keras. Juan hendak marah kepada Pak Hans.
"Huft, lupa gue. Dia pasti ikut istrinya juga" ujar Juan yang baru sadar kalau orang yang akan dimarahinya itu sudah tidak berada di sini lagi.
Juan kembali ke dalam rumah. Dia mengambil salah satu kunci mobil. Juan kemudian berjalan ke parkiran mobil, dia sebenarnya tidak tau mobil yang mana yang sekarang kuncinya ada di tangannya itu. Juan akhirnya mengandalkan remot saja lagi. Mobil yang mana yang berbunyi, maka itu adalah mobil yang akan dia pakai.
Juan melihat sebuah lamborghini aventandor yang berbunyi, saat Juan memencet remot yang dipegangnya.
"Yah" ujar Juan lemas. Juan sangat tidak suka memakai mobil itu untuk kegiatannya sehari hari.
Juan tidak mungkin kembali ke dalam mansion untuk mengambil kunci yang lain. Dia memilih untuk memakai saja mobil tersebut.
Juan masuk ke dalam mobil, dia kemudian melajukan mobil menuju mansion utama keluarga Aleksander. Juan melihat jam dipergelangan tangannya, ternyata jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi.
"Wow, bisa marah tu tuan besar" ujar Juan kembali menginjak pedal gasnya lebih dalam. Dia tidak ingin semakin membuat Papinya emosi.
Juan melajukan mobilnya dengan kecepatan sangat tinggi. Dia tidak ingin terlambat sampai di sana. Juan tidak bisa lagi mendengarkan suara suara dan kemarahan dari Tuan Aleksander.
Tidak beberapa lama mobil yang dikemudikan oleh Juan Aleksander sudah sampai di depan pintu gerbang mansion. Juan memarkir mobil di parkiran khusus untuk pemilik mansion. Juan keluar dari dalam mobil, dia berjalan menuju mansion. Ternyata Papi sudah menunggu Juan di teras mansion.
"Jam berapa ini Juan, apa kamu tidak bisa datang tepat waktu?" ujar Papi saat melihat jam berapa Juan datang.
"Maaf Papi." ujar Juan yang tidak bisa mengatakan sekarang kepada keluarganya apa yang terjadi di mansion mereka.
"Udah udah. Nggak usah lanjutkan kata kata maaf. Kita jalan sekarang" ujar Papi yang nggak mau berlama lama membahas masalah keterlambatan dari Juan.
Papi dan Juan kemudian masuk ke dalam mobil. Mereka akan pergi menuju langsung perusahaan Wijaya Grub. Perusahaan yang sudah membuat ulah dengan Aleksander Grub.
Juan melajukan mobilnya dengan sangat kencang. Mereka harus cepat sampai di perusahaan Wijaya. Setelah berkendara selama empat puluh lima menit mereka akhirnya sampai juga di perusahaan Wijaya. Juan memarkir mobilnya di parkiran khusus tamu.
Tuan Aleksander dan Juan Aleksander turun dari dalam mobil, mereka kemudian masuk ke dalam perusahaan Wijaya. Mereka tidak hanya masuk berdua saja, tetapi dengan empat orang pengawal.
Karyawan perusahaan Wijaya menatap heran dengan enam orang yang masuk ke dalam perusahaan. Mereka menatap ke arah enam orang berpakaian rapi tersebut. Tuan Aleksander berjalan terus masuk ke dalam perusahaan Wijaya.
"Maaf Tuan, Anda semua mau kemana?" tanya salah seorang resepsionis menyapa Tuan Aleksander.
"Saya mau bertemu dengan Tuan Wijaya" jawab Tuan Aleksander dengan nada yang tidak ramah sama sekali.
"Apa sudah buat janji Tuan?" tanya resepsionis.
"Sudah" jawab Tuan Aleksander.
"Kalau sudah, mari saya antar keruangan Presiden direktur Tuan" ujar resepsionis kepada Tuan Aleksander dan rombongannya.
Tuan Aleksander dan yang lainnya berjalan mengikuti resepsionis yang berjalan paling depan. Tuan Aleksander sudah tidak tahan lagi untuk menguji kemampuan Tuan Wijaya.
Tok tok tok. Pintu ruangan Tuan Wijaya diketuk dari luar oleh resepsionis. Tuan Wijaya yang berada di dalam sedang sibuk membaca beberapa laporan laporan perusahaan.
"Masuk" ujar Tuan Wijaya.
Resepsionis membuka pintu ruangan. Tuan Aleksander secara mendadak langsung menerobos masuk ke dalam ruangan Tuan Wijaya bersama dengan Juan Aleksander. Sedangkan empat orang pengawal berdiri di luar ruangan.
Resepsionis tidak bisa mencegah Tuan besar dan Tuan Muda Aleksander untuk masuk ke dalam ruangan Tuan Wijaya. Resepsionis akhirnya membiarkan saja kedua Tuan Aleksander itu untuk masuk ke dalam ruangan Tuan Wijaya.
Tuan Wijaya yang melihat siapa yang masuk ke dalam ruangannya dengan tergesa gesa dan terlihat menahan emosi itu, menjadi terkejut. Dia tidak menyangka kalau Tuan Aleksander akan datang hari ini tanpa pemberitahuan melalui asisten.
"Selamat datang Tuan Aleksander" sapa Tuan Wijaya dengan nada ramah, Tuan Wijaya berjalan menuju Tuan Aleksander.
"Terimakasih Tuan Wijaya. saya ada perlu dengan Anda" ujar Tuan Aleksander
"Duduk dulu Tuan." ujar Tuan Wijaya dengan ramah.
"Tidak perlu beramah ramah dengan saya Tuan Wijaya, saya tau apa yang sudah Anda lakukan terhadap keluarga saya dan juga perusahaan saya" ujar Tuan besar Aleksander dengan nada yang sudah tidak bersahabat lagi.
"Maksud Anda, Tuan?" tanya Tuan Wijaya yang tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Tuan Aleksander.
"Anda jangan pura pura tidak mengerti Tuan Wijaya, nggak perlu saya perjelas lagi apa permasalahan yang terjadi antara Aleksander dengan Wijaya" ujar Tuan Aleksander dengan nada tinggi.
"Maaf sebelumnya Tuan Aleksander, saya betul betul tidak mengerti maksud Tuan ini" ujar Tuan Wijaya kembali kepada Tuan Aleksander.
"Anda jangan pura pura tidak mengerti Tuan Aleksander, saya butuh jawaban Anda sekarang. Apa maksud Anda menyebarkan fhoto dan video anak saya ke media massa dan televisi?" ujar Tuan besar Aleksander mengatakan permasalahan apa yang membuat keluarga Aleksander menghampiri Tuan Wijaya.
"Maaf Tuan. Saya tidak pernah melakukan tindakan kotor itu" ujar Tuan Wijaya masih mengingkari apa yang telah dilakukannya kepada Juan Aleksander.
"Anda jangan mengelak lagi Tuan. Saya berikan kesempatan kepada Tuan untuk mengakui segala perbuatan yang telah Tuan lakukan itu" ujar Tuan Aleksander
"Kami benar benar tidak melakukannya Tuan" ujar Tuan Wijaya masih tidak mau mengakui kesalahan yang telah diperbuatnya itu.
Tuan Aleksander terdiam. Dia tidak akan bisa membuat Tuan Wijaya mengaku kalau tidak ada buktinya sama sekali.
"Baiklah Tuan. Berhubung Tuan tidak mau mengakuinya. Saya sendiri yang akan memberikan bukti bukti apa yang telah Anda lakukan kepada kami" ujar Tuan Aleksander menatap tajam kepada Tuan Wijaya.
"Jadi, sebelum saya melemparkan semua bukti yang sudah kami dapatkan, silahkan Anda untuk mengakuinya kepada kami" ujar Tuan Aleksander kembali memberikan kesempatan kepada Tuan Wijaya untuk mengakui apa yang telah dilakukannya.
Tuan Wijaya terdiam, dia tidak tau harus berbuat apa apa lagi. Dia benar benar tidak tau harus mengambil keputusan seperti apa untuk saat ini. Tuan Wijaya memikirkan nasib perusahaannya, yang sudah goyah karena perusahaan JFB Grub menarik saham mereka empat puluh persen. Sekarang dia harus berhadapan lagi dengan perusahaan yang lebih besar lagi. Perusahaan yang dalam sekejap dapat membuat perusahaan Wijaya menjadi jatuh miskin.
"Gimana Tuan Aleksander, apakah Anda masih juga tidak mau mengakui kesalahan yang telah Anda buat?" tanya Tuan besar Aleksander dengan nada dingin dan penuh ancaman.
Tuan Wijaya menatap ke arah Tuan Aleksander. Tuan Wijaya bisa melihat kalau Tuan Aleksander serius dengan semua ucapannya.
"Bagaimana Tuan? Apa Anda sudah mau mengakui atau masih tetap tidak ingin mengakui?" ujar Tuan Aleksander bertanya satu kali lagi kepada Tuan Wijaya.
Juan Aleksander yang mendengar pertanyaan Papi sudah berulang ulang kali, terlihat sangat kesal. Apalagi saat melihat reaksi dari Tuan Wijaya yang sama sekali masih tidak mau mengakui, hal ini semakin membuat kesal Juan Aleksander.
Tuan Aleksander bertepuk tiga kali. Dia orang anak buah mereka yang berada di luar langsung masuk ke dalam ruangan Tuan Wijaya. Sedangkan yang dua lagi berdiri di depan ruangan Tuan Wijaya, yang akan menjaga eksekusi yang akan dilakukan sebentar lagi.
Kedua pengawal memegang erat tangan Tuan Wijaya.
"Apa apaan ini Tuan. Saya tidak melakukan apa apa. Saya bisa runtut Tuan ke polisi, karena sudah melakukan tindakan kekerasan dan tidak menyenangkan kepada saya" ujar Tuan Wijaya dengan emosi.
"Silahkan saja tuntut saya. Tapi, tuntutan untuk anda akan lebih mengerikan lagi. Anda telah menyebabkan nama baik anak saya dan keluarga Aleksander menjadi tercoreng. Karena kelakuan dan tindakan Anda" balas Tuan Aleksander yang tidak mau kalah dengan Tuan Wijaya.
"Saya tidak melakukan apa apa. Kalau memang ada mana buktinya. Kalian keluarga Aleksander hanya menuduh saya saja" teriak Tuan Wijaya yang ternyata masih memiliki nyali untuk menjawab perkataan dari Tuan Aleksander.
"Hahahahahaha. Anda salah cari lawan Tuan. Tapi sudah saya katakan, kalau Saya sudah menyimpan bukti kejahatan yang Anda lakukan terhadap keluarga saya" ujar Tuan Aleksander sambil memegang rahang Tuan Wijaya dengan sangat kuat dan menatap tajam mata Tuan Wijaya.
"Anda mungkin mengira saya berdusta dengan semua bukti bukti itu. Anda ingin buktinya bukan. Baiklah ini buktinya" ujar Tuan Aleksander memberikan bukti bukti tindakan yang dilakukan oleh Tuan Wijaya kepada keluarganya.
Tuan Wijaya terkejut melihat bukti bukti yang didapat oleh Tuan Aleksander. Tuan Wijaya hanya bisa terdiam saja.
"Kenapa Anda diam Wijaya? Bukannya Anda tadi mau menuntut saya?" tanya Tuan Aleksander sambil tersenyum sinis kepada Tuan Wijaya yang sudah diam seribu bahasa itu.
"Anda kaget kenapa saya mendapatkan semua bukti bukti itu?" lanjut Tuan Aleksander.
"Tuan Wijaya Tuan Wijaya. Anda berani memberikan kepada mereka hanya sebatas yang mereka minta Saya berani mebayar mereka tiga kali lipat dari yang mereka mintaminta, makanya saya mendapatkan semuanya." ujar Tuan Aleksander mengambil semua bukti bukti itu kembali dari tangan Tuan Wijaya.
Tuan Wijaya kembali terdiam. Dia tidak menyangka semuanya akan mudah diketahui oleh Tuan Aleksander.
"Maafkan saya Tuan" ujar Tuan Wijaya dengan nada menyesal karena telah melakukan hal tersebut kepada keluarga Aleksander.
"Hahahahahaha. Dengan mudahnua kamu minta maaf kepada saya Wijaya? Oh tidak segampang itu. Tidak segampang kamu membuat malu keluarga saya." ujar Tuan Aleksander murka.
"Apa yang harus saya lakukan Tuan untuk bisa mendapatkan maaf dari Tuan" lanjut Tuan Wijaya yang memang sudah menyesali perbuatannya.
"Hay, kenapa sekarang Anda menjadi lemah, tadi Anda begitu semangatnya untuk melaporkan saya. Sekarang Anda seperti kucing terkena lidi saja" kata Tuan Aleksander yang heran melihat perubahan sikap dari Tuan Wijaya.
Sikap yang berbanding terbalik dengan sikapnya saat Tuan Aleksander datang, dimana Tuan Wijaya dengan menggebu gebu akan menuntut Tuan Aleksander karena perbuatan tidak menyenangkan.
"Saya akan memaafkan Anda, Tuan Wijaya. Tapi dengan satu syarat" ujar Tuan Aleksander menatap Tuan Wijaya dengan tatapan seseorang yang siap menghabisi siapa yang mengusik keluarganya.
"Apa itu Tuan Aleksander, saya siap melakukan apapun, asalkan Tuan memaafkan Saya" ujar Tuan Wijaya yang siap menanggung resiko apapun, asalkan dirinya dimaafkan.
"Papi" ujar Juan yang akhirnya membuka mulutnya setelah sekian lama mereka berada di ruangan Tuan Wijaya.
"Apa?" tanya Tuan Aleksander kepada Juan.
"Aku mau bertanya kepada Tuan Wijaya apa yang mendasari dirinya melakukan hal ini kepada keluarga kita." Juan Aleksander berkata seperti itu karena dia ingin mengetahui apa yang menyebabkan Tuan Wijaya mengambil risiko terburuk itu.
"Jawab pertanyaan anak saya Wijaya. Apa yang mendasari Anda melakukan hal memalukan seperti ini, karena kami rasa, kami tidak pernah melakukan kesalahan bahkan sesuatu yang membuat Wijaya Grub menjadi rugi" ucap Tuan Wijaya yang juga penasaran dengan alasan mendasar Tuan Wijaya melakukan hal itu.
Tuan Wijaya termenung dan terlihat berpikir, apakah dia harus mengatakan alasannya yang akan terdengar sangat konyol itu. Tuan Aleksander dan Juan Aleksander menunggu Tuan Wijaya membuka mulutnya.
"Wijaya" panggil Tuan Aleksander.
Tuan Wijaya melihat ke arah Tuan Aleksander dan Juan Aleksander.
"Jawab pertanyaan anak saya. Apa yang mendasari kamu melakukan hal memalukan ini" ujar Tuan Aleksander sambil memegang rahang Tuan Wijaya dengan cukup keras.
Tuan Wijaya terlihat meringis menahan sakit di rahangnya itu. Dia sama sekali tidak mungkin mencegah tangan Tuan Aleksander, apalagi dua pengawal masih berada di samping kiri dan kanan Tuan Wijaya.
"Sebenarnya yang mendasari saya melakukan hal ini adalah, keluarga Aleksander telah menolak satu satunya anak gadis saya menjadi menantu di keluarga Anda" ujar Tuan Wijaya menatap ke arah Juan Aleksander.
Tuan Aleksander menatap Juan.
"Apa kamu pernah berhubungan dengan anak Tuan Wijaya?" tanya Tuan Aleksander kepada putranya itu.
Juan Aleksander menggeleng.
"Tidak pernah Ayah. Memang benar kalau putri dari keluarga Wijaya pernah mengejar ngejar saya. Tetapi dengan tegas saya menolaknya. Saya saat itu memang tidak berniat untuk menjalin hubungan serius dengan putri dari keluarga Wijaya" ujar Juan menjawab pertanyaan dari Papi.
Papi menatap lama Juan, Papi mencari kebohongan dimata Juan.
"Apa kamu sudah yakin, tidak pernah memberikan harapan kepada putri keluarga Wijaya?" tanya Papi meyakinkan Juan dan dirinya sendiri.
"Yakin Papi. Sangat yakin. Saya tidak pernah memberikan harapan kepada Putri keluarga Wijaya" lanjut Juan kembali berusaha meyakinkan papinya itu.
"Hem berarti, putri kamulah yang salah menanggapi kedekatan anak saya dengan dirinya. Kalau ini yang kamu jadikan alasan sebagai bahan untuk menghukum keluarga saya, maka salah besar. Saya pastikan saya akan membuat perhitungan dengan perusahaan kamu" ujar Tuan Aleksander.
"Saya tau perusahaan kamu baru kehilangan saham yang dimiliki perusahaan JFB sebanyak empat puluh persen. Nah dengan keadaan keuangan seperti itu, saya yakin perusahaan kamu sedang sangat goyah" ujar Tuan Aleksander.
"Hanya dengan menjentikkan satu jari maka perusahaan Anda akan hilang ditelan bumi. Akan terbang dihembus angin" ujar Tuan Aleksander sambil menatap mencemeeh Tuan Wijaya.
Tuan Wijaya hanya bisa diam saja. Dia baru sadar, apa yang telah dilakukan olehnya akan berakibat fatal seperti ini. Semua sudah berakhir, Tuan Wijaya tidak bisa berbuat apa apa lagi.
"Hubungi pengacara, suruh dia datang kemari dan bawa awak media sebanyak banyaknya yang bisa kamu kumpulkan" ujar Tuan Aleksander memerintah salah satu pengawal.
"Siap Tuan" jawab pengawal yang langsung menghubungi pengacara dan beberapa awak media yang bisa dihubunginya.
Satu jam kemudian pengacara dan awak media sudah berkumpul. Tuan Aleksander berdiri di sebelah Tuan Wijaya. Mereka melakukan konferensi pers tentang apa yang telah dilakukan oleh Tuan Wijaya terhadap keluarga Aleksander.
Jero yang sedang duduk dengan Felix melihat siaran pers itu.
"Hahahaha. Mereka beradu antara mereka sendiri. Walaupun keluarga Wijaya sudah mengakui kesalahan mereka, tetapi semua bukti bukti fhoto dan video itu adalah asli. Bagaimanapun juga keluarga Aleksander sudah menerima sedikit akibatnya" ujar Jero sambil menatap televisi yang menampilkan wajah Tuan Aleksander dan Juan Aleksander.
"Kapan kita mulai maju Bang?" tanya Felix kepada Jero.
"Sabar Felix. Kita lihat dulu bagaimana permainan selanjutnya. Lagian sekarang Vian ingin mengurus perceraian dengan Juan." jawab Jero sambil memperhatikan wajah Vian yang menjadi wallpaper ponsel miliknya.
"Bang, ini hanya analisa aku ya. Menurut aku, Tuan Aleksander tidak akan membiarkan Juan Aleksander menceraikan Vian. Apalagi nama baik Juan Aleksander sudah tercoreng oleh masalah yang tadi. Makanya aku berpikir perceraian itu akan ditentang oleh Tuan Aleksander" ujar Felix memberikan pandangannya kepada Jero.
Jero memikirkan apa yang dikatakan oleh Felix.
"Jadi, abang harus gimana Felix?" tanya Jero kepada adiknya yang selalu berpikir sistematis dan jauh ke depan itu.
"Ada baiknya, Abang bawa pergi kakak ipar ke negara E. Bagaimanapun juga kalau di sini, mereka bisa memanggil pihak keamanan untuk memaksa Vian kembali ke mansion. Bagaimanapun juga Abang nggak bisa melarang karena Vian berstatua istri sah dari Juan Aleksander" kata Felix memberikan pandangan dan analisanya.
Jero terlihat berpikir, dia memikirkan apa yang dikatakan oleh Felix.
...****************...
**Langkah apakah yang akan diambil oleh Jero ke depannya?
Stay cun ya kakak kakak**.