My Affair

My Affair
Rencana Jero



"Jadi gimana Jer, dengan rencana kemaren?"


"Jadi? Dilaksanakan saat kita sudah di negara I?


Kali ini Jeri bertanya kembali kepada Jero tentang rencana yang telah mereka berdua bicarakan di belakang Tama, Felix dan Bram.


Bram melihat ke arah Felix. Tetapi Felix menggelengkan kepalanya kepada Bram. Felixmengatakan kalau dia sama sekali tidak tahu dengan rencana yang dimaksud oleh Jero dan Jeri saat ini.


Sekarang Felix dan Bram menatap ke arah Tama meminta penjelasan atas yang dibicarakan oleh Jero dan Jeri. Tetapi jawaban yang diberikan oleh Tama sama persis dengan yang diberikan oleh Felix tadi. Felix dan Bram memutar bola matanya karena tidak akan mengerti dengan apa yang akan dibicarakan oleh Jero dan Jeri saat ini.


Tiba - tiba Bram berdiri dari posisi duduknya. Felix dan Tama melihat apa yang dilakukan oleh Bram. Begitu juga dengan Jero dan Jeri. Bram yang tahu keempat pasang mata itu sedang menatap kepada dirinya, berusaha bersikap acuh saja seperti dia sedang tidak melakukan apa apa.


"Mau kemana Bram?" tanya Jero kepada adiknya yang paling bungsu itu.


Adik yang sama sekali tidak bisa menutupi setiap ekspresinya. Bram memang bukan tipe orang yang bisa menahan rasa penasaran, rasa emosi dan rasa sedihnya. Bram adalah tipe orang yang selalu mengekspresikan langsung apa yang sedang dirasakannya saat itu juga. Seperti sekarang, Bram merasa sudah tidak dibutuhkan lagi di antara pembicaraan rahasia antara Jero dengan Jeri. Dari pada dia harus menahan hati untuk mengikuti pembicaraan tetapi dia sama sekali tidak menyambung, makanya Bram lebih memilih untuk pergi saja dari tempat itu.


"Mau ke kamar Bang. Ngantuk" lanjut Bram dengan gaya yang dibuat semengantuknya.


Jero menatap ke arah Bram dengan tatapan menyelidik. Dia sama sekali tidak percaya dengan alasan yang dibuat oleh Bram. Jero sangat tahu kalau Bram bukanlah tipe pria yang tidur pukul sembilan malam.


"kamu jangan bohong sama abang, Bram" kata Jero langsung saja menebak kebohongan yang dikatakan oleh Bram sebentar ini kepada dirinya.


"Siapa yang bohong Bang. Sama sekali tidak ada yang berbohong. Aku benaran mengantuk bang." lanjut Bram yang masih mempertahankan alasan kebohongan yang diberikannya kepada Jero dan yang lainnya itu,


Jero menatap ke arah semua orang yang berada di dalam ruangan itu. Dia menatap satu persatu wajah orang orang yang duduk di sana, baik ke wajah adiknya Felix, ke wajah sahabatnya Jeri dan Tama, maupun ke wajah lima orang pengawal yang sedang duduk di dekat Jero dan Bram.


"Di antara kalian berdelapan, siapa yang percaya kalau Bram mengantuk?" tanya Jero kepada mereka semua.


"Nah kamu Angga, kamu kan asisten Bram. Apa kamu yakin kalau sekarang bos kamu yang muda dan tengil itu sedang dalam keadaan mengantuk berat?"


Kali ini Jero bertanya kepada Angga asisten dari Bram yang dari tadi melihat dan memperhatikan gerak gerik dari bosnya itu.


Angga kemudian melihat ke arah Bram. Dia takut salah memberikan jawaban kepada Jero. Jero melihat apa yang dilakukan oleh Angga.


"Hay Angga, kamu jangan cemas. Kalau Bram mecat kamu dari pekerjaan kamu, dia sendiri yang akan rugi kehilangan sekretaris seperti kamu."


Jero menegur Angga yang terlihat sedikit menatap ke arah Bram sesaat setelah Jero bertanya jepada Angga tentang alasan yang diberikan oleh Bram kalau dia mengantuk pada saat ini.


"Jawab langsung aja Angga. Pertanyaannya saya ulang lagi."


"Apa menurut kamu, bos kamu itu memang dalam keadaan mengantuk, atau sedang dalam keadaan kesal dan marah?"


Kali ini Jero memberikan pertanyaan lengkap dengan pilihan yang harus dipilih oleh Angga. Bram melihat ke arah Felix. Felix tersenyum kepada Bram dengan senyuman 'rasain, makanya jangan cari gara gara'.


"huft"


Bram menghembuskan nafasnya dengan berat. Ternyata pilihannya untuk berdiri dari duduknya itu berakibat buruk sekarang ini.


'sekarang posisi gue jadi serba salah sendiri'


'harusnya gue tadi memakai alasan, kalau harus menghubungi manager di negara I'


'Kenapa dengan alasan goblok itu tadi yang aku kemukakan'


Bram sibuk berkata dalam hatinya,dia benar benar menyesal sekarang. Bram nggak habis pikir kenapa alasan sebodoh itu yang dikatakannya kepada Jero. Sehingga membuat dirinya menjadi makanan empuk abang tertuanya tersebut.


'Padahl gur tau kalau tu abang nggak suka dibohingi. Beneran habis gue' lanjut Jero berkata dalam hatinya dan bergelut dengan pikirannya sendiri.


"Jadi bagaimana Angga?"


Jero tetap mendesak Angga untuk mengatakan menurut pendapat Angga sendiri apakah Bram benar benar dalam keadaan mengantuk atau hanya pura pura mengantuk.


"Maaf sebelumnya Tuan Bram. Saya tidak bisa berbihing sama sekali."


Angga mulai membuka mulutnya. Dia harus mengatakan apa pendapatnya tentang Bram sesuai dengan pertanyaan yang diberikan oleh Jero kepada dirinya.


"Menurut saya Tuan Bram sama sekali tidak dalam keadaan mengantuk Tuan Jero."


"Tuan Bram hanya terlihat sedang kesal dan merasa tidak nyaman dalam pembicaraan ini"


Akhirnya Angga memberikan penilaiannya sendiri tentang apa yang sebenarnya terjadi kepada Bram untuk saat ini. Angga melirik ke arah Bram. Bram sama sekali tidak terlihat seperti marah kepada Angga. Keputusan yang tepat di ambil oleh Bram. Kalau saja Bram marah kepada Angga. Tidak hanya asistennya yang sanget keren itu yang akan hilang, tetapi juga kemarahan dari Jero yang akan di hadangnya. Jero paling tidak suka melihat Felix dan Bram memberikan tekanan kepada anggota mereka masing masing. Karena menurut Jero, mereka tidak akan bisa menjadi seperti ini kalau para asisten, pengawal dan staf tidak mendukung mereka dari belakang. Makanya Jero jarang terlihat marah kalau para bawahannya menjalankan kewajiban dengan sebenarnya. tetapi sempat bawahan melenceng, nah mereka akan melihat bagaimana kejam dan pemarahnya Jero.


"Apa benar yang dikatakan oleh asisten kamu Bram?" tanya Jero langsung kepada Bram yang sekarang menjadi topik pembahasan mereka di ruangan itu.


Bram menatap ke arah abang tertuanya itu. Sekarang dia sudah tidak mengelak lagi. Dia harus berkata jujur kepada Jero apa yang terjadi sebenarnya. Dia tidak mungkin melanjutkan alasan mengantuk itu lagi. Dia harus berkata jujur.


"Maaf sebelumnya Bang" kata Bram memulai membuka percakapan antara dirinya dengan Jero dan yang lainnya.


"Sebenarnya aku sama sekali tidak mengantuk, atau bisa dikatakan belum mengantuk,, karena aku memiliki kebiasaan tidur larut malam"


Bram mulai membuka cerita kenapa dia samapai memakai alasan mengantuk saat akan beranjak dari posisi duduknya tersebut. Alasan yang pada akhirnya membawa Bram kepada permasalahan baru itu.


Bram kemudian sedikit terdiam setelah meminta maaf dan mengatakan kalau dia tidak mengantuk. Jero hanya tersenyum, sedangkan mereka yang ada di sana selain Jero sudah menatap tidak percaya kepada Bram. Mereka sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi kepada Bram.


'Apes bener nasib loe Bro' ujar Tama dalam hatinya.


'Kasihan banget kamu adik' ujar Felix


'Semangat bro' kata Jeri


Mereka semua menatap Bram dengan tatapan kasihan