
"Aku sebenarnya sama sekali tidak mengantuk. Atau bisa dikatakan belum mengantuk"
Akhirnya Bram mengatakan kepada semua orang kalau dia sebenarnya belum merasakan kantuk di matanya karena terbiasa tidur sampai larut malam.
Semua mata memandang kepada pria muda itu. Mereka sudah bisa menyangka kalau pria muda yang paling terkenal kuat begadang di antara mereka semua itu hanya mengambing hitamkan kata kata mengantuk. Ternyata dugaan mereka semua memang benar, pemuda muda itu sama sekali belum mengantuk. Jeri, Tama, Felix serta para pengawal menatap ke arah Bram dan menggelengkan kepala mereka secara bersamaan.
"Terus kenapa harus mengatakan kalau kamu mengantuk kepada kami semua?"
Jero memberikan pertanyaan selanjutnya kepada Bram. Jero sangat penasaran dengan alasan sebenarnya yang membuat Bram harus berbohong kepada mereka semua tentang perkara mengantuk seperti yang dikatakan oleh Bram sebentar ini.
Bram kemudian melirik ke arah semua orang. Semua orang pura pura tidak melihat ke arah Bram.
'Hem awas aja kalian besok kalau dalam posisi gue. Gue juga pura pura tidak melihat kalian semua.' kata Bram dalam hatinya saat melihat gaya dan pergerakan dari semua abang abangnya dan pengawal yang berada di dalam ruangan tersebut.
'Mereka pura pura tidak tahu kalau gue mintak tolong. Awas aja mereka besok' lanjut Bram sambil memberikan isyarat kepada semua orang yang berada di ruangan tersebut.
"Hay Bram, nggak ada gunanya kamu melihat ke arah mereka. Mereka nggak akan menolong kamu juga kali." kata Jero yang mengerti arti tatapan Bram kepada semua orang yang ada di sana.
"Mereka hanya mengaku keluarga saat senang aja itu" lanjut Jero dengan terang terangan menyindir setiap orang yang ada di dalam ruangan itu yang pura pura tidak melihat ke arah Bram, saat Bram meminta tolong kepada mereka.
"Hah?"
Sontak semua orang yang berada di ruangan itu langsung menganga tidak percaya mendengar apa yang dikatakan oleh Jero sebentar ini. Mereka tidak menyangka kalau Jero sekarang berada di pihak Bram. Padahal tadi Jero marah kepada Bram.
"Kenapa marah loe berbalik kepada kami?" ujar Tama yang akhirnya memilih untuk bertanya kepada Jero tentang omongan Jero sebantar ini kepada mereka semua.
"Gimana gue nggak marah sama kalian semua. Katanya kalian keluarga dan saudaranya Bram. Tapi saat Bram dalam posisi hanya seperti ini kalian langsung pura pura tidak tahu"
Jero terlihat marah dengan sikap semua sahabatnya.
"Terutama kamu Felix. Katanya kamu adalah kakaknya. Kamu mengatakan bahwasanya walaupun dia tidak adik kandung kamu tapi sudah kamu anggap adik kandung kamu"
Jero beralih kepada Felix. Felix terdiam melihat kakaknya marah dengan sikap yang diambilnya tadi saat Bram meminta bantuannya melalui tatapan mata.
Felix terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Jero kepada dirinya.
lanjut Jero berkata sambil menatap tajam ke arah Felix. Jero tidak menyangka kalau Felix akan melakukan hal buruk itu. Jero tadi menyangka dan beranggapan kalau Felix pasti akan membantu Bram. Tetapi ternyata tidak, terlepas dari apapun alasan yang akan diberikan oleh Felix nanti kepada Jero. Tetapi kali ini Jero berhak menegur adiknya itu. Karena Felix memang salah dengan melakukan hal itu kepada Bram
"Maafkan aku Bang. Aku tidak akan berbuat seperti itu. Aku hanya berniat mengerjai dia saja" jawab Felix sambil menunduk menyadari kesalahan yang telah diperbuatnya sebentar ini.
"Kamu boleh mengerjai dia Felix. Tetapi apa kamu yakin kalau di luar sana dia mendapatkan masalah kamu masih bisa mengatakan mau mengerjai dia?" kali ini Jero kembali memberikan pertanyaan menohok kepada Felix.
Felix menunduk. Dia semakin menyadari kesalahannya kali ini.
"Apa kamu bisa yakin di luar sana kalau dia benar benar dalam posisi yang memang wajib kamu tolong? Sedangkan di depan kamu saja dia langsung meminta tolong kamu melongos tidak perduli dengan apa yang dia minta" kata Jero semakin membuat Felix menjadi merasa bersalah dan telah gagal menjadi kakak yang baik dari seorang Bram.
Adik yang selama ini dijaga terus oleh Felix dengan jiwa dan nyawanya. Adik yang jangankan di pukul orang, digigit nyamuk aja Felix bisa mengamuk. Ntah setan apa yang masuk ke dalam pikiran Felix tadi sehingga dia tega mengabaikan permintaan tolong dari Bram.
"Maafkan aku Bang" kata Felix yang sudah tidak tahu lagi harus membela dirinya seperti apa lagi.
felix tahu dia salah, dan jalan terbaik adalah meminta maaf dan mengakui kesalahannya pada saat itu juga.
"Aku beneran sayang sama Bram dan kamu Bang. Aku bersedia menukar nyawa aku saat kalian dalam kesusahaan."
Felix berusaha meyakinkan Jero tentang bagaimana dirinya bersedia menjaga Bram dan Jero dengan nyawanya sendiri.
"Bram, maafkan abang mu ini yang tadi sama sekali tidak menolong kamu, malahan mengacuhkan kamu. Abang janji, mulai hari ini ke atas, Abang akan seperti dulu lagi. Abang akan selalu menolong kamu" kata Felix yang kali ini meminta maaf langsung kepada Bram adiknya itu
"Bang, bagi gue nggak masalah. Gue tau kok loe berbuat seperti tadi itu, karena gue berada di depan loe, Dan gue tau loe akan selalu menolong gue saat gue minta tolong."
"Kalau yang sekarang, gue berada di depan loe, dan urusan gue juga dengan bang Jero, Makanya loe abaikan. Gue tau bagaimana sayangnya loe dan bang jero ke gue Bang" lanjut Bram yang paham kenapa Felix melakukan hal seperti tadi kepada dirinya.
Felix berdiri dari duduknya saat mendengar apa yang dikatakan oleh Bram sebentar ini. Dia langsung memeluk Bram. Adik angkat yang sudah dianggap sebagai adik kandungnya. Jero yang melihat kedua adiknya saling berpelukan, juga berdiri dari kursinya. Dia memeluk kedua adiknya itu dengan pelukan melindungi dan kehangatan dari seorang kakak. Mereka bertiga harus saling melindungi dan mendukung satu dengan yang lainnya. Kerena mereka hanya tinggal bertiga tanpa orang tua yang bisa melindungi mereka.
"Abang benar benar bahagia memiliki adik seperti kalian berdua" ujar Jero sambil memeluk kedua adiknya itu.
"Kami juga bangga punya abang seperti abang" jawab Felix dan Bram bersamaan.
Tama dan Jeri yang menyaksikan sahabat mereka memiliki kedua adik yang siap berkorban untuk Jero menjadi sangat bahagia. Jero berhak menerima kebahagiaan seperti ini, setelah kebahagiaan keluarganya diambil paksa oleh orang orang yang tamak akan harta. Cukup sudah Jero merana waktu kecil karena keutuhan keluarganya yang sangat bahagia menjadi rusak karena keegoisan seseorang yang tega merusak kebahagiaan seorang anak laki laki yang sedang butuh kasih sayang orang tuanya.