My Affair

My Affair
Kejutan Berlangsung



Jero mendadak berhenti. Berhubung Jero berjalan di bagian paling depan membuat yang lainnya langsung berhenti mendadak pula.


"Kenapa berhenti Tuan Muda? Terus jalan" ujar pengawal memerintahkan Jero untuk terus berjalan menuju taman belakang yang hanya tinggal tiga meter lagi.


Jero diam sebentar, dia harus berhitung dengan cepat membaca kejadian yang akan terjadi setelah dia melakukan salah satu permintaan atau pergerakan.


"Saya mau jalan, tetapi apa kalian bisa menjamin kalau kedua adik saya dan juga sahabat saya yang berada di dalam villa dalam keadaan selamat" ujar Jero berkata kepada pengawal pengawal yang menurut Jero sudah mengkhianatinya.


"Aman itu Tuan Muda. Kedua adik Tuan muda dan juga satu sahabat Tuan muda, kami bisa pastikan akan selamat, kalau Tuan muda bersikap kooperatif dengan kami dan tidak menyusahkan kami" ujar pengawal mengatakan sekaligus agak sedikit mengancam Jero.


"Baiklah" jawab Jero.


Jero sekarang lebih memilih untuk mengikuti apa yang diinginkan oleh para pengawal itu. Dia harus bisa mengendalikan emosinya. Jero tidak tahu berapa orang pengawalnya yang telah berbelot dan mengkhianati dirinya.


"Sekarang silahkan jalan lagi Tuan Muda" ujar pengawal meminta Jero untuk melanjutkan perjalanannya menuju taman belakang villa.


Jero kembali menggenggam tangan Vian. Dia membutuhkan Vian sebagai penenangnya. Dia sangat membutuhkan Vian untuk saat ini. Jero takut dia khilaf dan membuat keributan yang akan membuat dia menyesal selamanya. Jero kembali melangkahkan kakinya. Dia harus bisa mengendalikan emosinya untuk saat ini.


"Sayang, muach" ujar Vian berusaha menenangkan Jero dengan gayanya sendiri.


Vian menyadari kalau Jero sekarang sedang membutuhkan dirinya untuk menenangkan kembali emosi Jero atas apa yang dilakukan oleh pengawalnya itu.


"Makasi sayang" jawab Jero sambil menggenggam dan sedikit meremas jari jari tangan Jero.


Mereka akhirnya sampai di tempat yang ditentukan.


"Tuan muda silahkan berhenti" ujar pengawal dengan mendadak meminta Jero, Jeri, Vian dan Greta untuk berhenti.


Mereka berempat kemudian berhenti tepat di tengah tengah taman belakang villa.


Bram memberikan kode kepada semua pengawal yang membawa bunga untuk maju menggunakan penerangan seadanya ke arah keempat orang yang sekarang sedang berdiri di tengah tengah taman belakang villa tersebut. Semua pengawal yang membawa bunga untuk Vian dan Greta kemudian berjalan menuju Vian dan Greta yang berada di tempat yang sudah ditentukan.


Pengawal yang berada di bagian paling depan, memukul tangan Vian sedikit, setelah itu pengawal menaruh bunga di genggaman Vian. Vian yang merasa memegang sesuatu di tangannya berusaha menahan dirinya untuk tidak berteriak. Dia tidak mau membuat Jero menjadi curiga dengan keadaan yang sedang terjadi pada saat ini.


Hal yang sama juga terjadi kepada Greta. Greta mulanya ada sedikit kaget, tetapi dia kembali memakai akal sehatnya kembali.


'kalau ini adalah sabotase sudah bisa dipastikan dari tadi di habiskan nyawa kami berempat' ujar Greta yang mulai bisa menjernihkan isi otaknya.


'Tetapi sekarang, buktinya kami masih sehat sehat saja, tidak kurang satupun' lanjut Greta masih dengan pemikirannya sendiri.


'mereka sepertinya tidak niat untuk menghabisi kami, kalau niat tentu sudah dari tadi mereka lakukan.' kali ini yang berpikiran seperti itu adalah Vian.


'Aku harus mengikuti permainan yang sedang mereka mainkan. Aku nggak boleh gegabah dengan langsung berteriak' lanjut Vian.


Vian dan Greta kemudian menerima setiap bunga yang diberikan oleh pengawal kepada mereka. Vian sama sekali tidak cemas dengan semua yang dilakukan oleh pengawal. Semakin ke sini Vian semakin yakin kalau apa yang dilakukan pengawal bukanlah sesuatu hal yang harus mereka takuti.


Tiba tiba saja pengawal yang memberikan bunga kepada Vian dan Greta habis.


"Buka penutup mata mereka. Kami akan langsung menyalakan semua lampu yang ada di taman" ujar Bram memberikan perintah kepada semua pengawal yang berada di belakang Jero, Jero, Vian dan Greta.


Keempat pengawal yang berada di belakang mereka berempat kemudian membuka penutup mata yang dipakai oleh Jero, Jeri, Vian dan Greta saat mereka berempat baru turun dari dalam mobil.


Saat itulah semua lampu menyala dengan terang. Jero yang semula akan marah marah dan memaki maki para pengawal yang sudah berkhianat itu langsung saja memundurkan keinginannya. Dia sangat terkejut melihat apa yang disajikan oleh para pengawal di taman belakang villa.


Belum habis ke kagetan Jero, Jero, Vian dan Greta tiba tiba dari dalam villa terdengar alunan musik dari biola yang dimainkan secara live.


Mereka berempat yang penasaran langsung memutar badan mereka untuk melihat ke sumber suara. Mereka tidak hanya berempat saja yang penasaran tetapi semua yang berada di sana juga luar biasa penasaran dengan cara bunyi suara biola itu.


"Siapa yang memainkan biola?" kata Bram yang tidak mengerti dan tidak tahu kalau ada rencana penampilan live biola.


"mana abang tahu Bram. Bukannya yang ngatur semuanya kamu?" tanya Felix sambil memegang alat untuk memanggang.


"Itulah Bang yang aku herankan. Dalam susunan acara tidak ada live biola. Gue penasaran siapa dia" ujar Bram yang langsung saja berjalan meninggalkan tempat untuk acara barbeque itu.


Saat itulah mereka semua melihat sesosok pria yang memakai pakaian serba putih berjalan masuk ke tempat acara surprise yang telah direncanakan dengan masak itu.


Betapa kagetnya Jero, Jeri, Felix dan Bram saat melihat siapa yang memainkan live biola tersebut.


"wow bukannya itu Bang Tama?" ujar Bram berteriak saat melihat siapa yang sedang memainkan biola dengan irama yang penuh cinta itu


Irama dan nada yang dimainkan oleh Tama adalah Irama dan nada penuh cinta, membuat siapapun yang mendengar Irama ini merasa selalu dicintai oleh kekasihnya.


Vian yang terbawa oleh nada yang dimainkan oleh Tama memakai biolanya itu, langsung saja memeluk Jero. Hal yang sama juga dilakukan oleh Greta, dua pasang kekasih itu mengambil posisi berdansa.


Kelakuan dua pasang kekasih itu sontak membuat para pengawal menatap heran ke wajah wajah Jero dan Jeri. Wajah wajah yang tadi mengancam akan melenyapkan mereka kalau sesuatu terjadi kepada Felix, Bram, Tama dan Vian, tetapi ternyata orang yang mengancam mereka itu sekarang asik berdansa tanpa memikirkan orang yang memperhatikan mereka dari tadi dan juga orang orang yang telah mereka ancam.


"Wow mereka memang tidak bisa lihat tempat" ujar Bram protes melihat apa yang dilakukan oleh dua pasang kekasih itu.


"Mau gimana lagi Bram. Sedangkan di taman yang jelas jelas orang ramai dan tidak dikenali aja mereka bisa melakukan itu, apalagi di sini yang mereka mengetahui siapa saja orang orang yang ada di sini" lanjut Felix menjawab keluhan dari Bram.


"bener juga Bang. Ngapain dipikirin, mending kita lanjutkan memasak untuk makan malam romantis dua pasang kekasih itu" kata Bram yang mengajak Felix untuk mengolah masakan untuk menu makan malam dua pasang kekasih dan untuk mereka bertiga serta para pengawal yang sudah ikut menyukseskan acara kejutan untuk Jero dan Jeri serta kekasih mereka