
Dret dret dret dret dret dret dret, ponsel milik Jero yang berada di atas meja kerjanya bergetar dari tadi. Sudah beberapa panggilan yang masuk ke ponselnya dibiarkan saja oleh Jero. Jero sama sekali tidak perduli dengan panggilan yang masuk ke dalam ponselnya itu. Sekarang Jero hanya ingin fokus dengan semua dokumen dokumen yang menggunung di depannya ini, dokumen dokumen yang memang harus dibacanya dan diselesaikan oleh Jero saat ini juga.
Tetapi yang namanya ponsel direktur utama sekaligus pemilik perusahaan tidak berhenti berbunyi dari tadi, hal ini semakin membuat Jero kesal dan memilih untuk menonaktifkan nada dering ponselnya itu."Ini yang mereka mau. Jelas jelas kalau sudah menelpon satu kali orang nggak mau angkat, jangan di telpon lagi karena berarti orang itu dalam kondisi tidak mau menerima telpon." ujar Jero dengan kesal saat ponsel miliknya tidak berhenti bergetar.
Dret dret dret dret, kembali ponsel milik Jero bergetar di atas meja kerja itu. "Memang dasar orang nggak paham situasi dan bahasa isyarat" ujar Jero dengan kesalnya.
"huft orang ini sepertinya tidak paham kalau gue sedang males angkat telpon" ujar Jero sambil meraih ponselnya tersebut. Dia akan melihat di layar ponselnya, siapa yang menghubunginya kali ini.
"Kalau rekan bisnis lagi nggak akan gue terima." "Gue akan langsung mematikan ponsel lagi saja nanti. Capek juga gue denger getar ponsel" ujar Jero yang memang sedang malas untuk membicarakan masalah kerja sama atau bisnis dengan rekan rekan bisnisnya untuk hari ini. Nah, karena alasan inilah Jero mematikan nada dering ponselnya, sehingga siapaun yang menghubunginya, Jero akan membiarkan saja panggilan itu.
"Wow Vian. Untung saja gue lihat kalau nggak bisa mengamuk ini singa betina" ujar Jero saat melihat nama siapa yang muncul di layar ponsel miliknya itu.
Jero tidak menyangka kalau Vian akan menghubunginya di jam segini. Biasanya Vian akan menghubungi Jero di saat jam jam makan siang akan masuk, sekedar hanya untuk bertanya mau makan siang bersama atau tidak. Makanya tadi Jero sempat membiarkan saja panggilan masuk dari Vian.
"Hallo sayang. Tumben nelpon jam segini, biasanya nanti saat mau jam makan siang. Ada apa sayang?" ujar Jero menyapa Vian dengan ramah dan sangat lembut sekali.
Jero harus melakukan hal itu karena dia tahu, dia sedang dalam kondisi bersalah karena sudah terlalu lama mengangkat panggilan telpon dari Vian. Bisa bisa Vian mengamuk kalau Jero tidak menyapa dirinya dengan cara yang seperti dilakukan oleh Jero pada saat ini.
"Seperti nya kamu sudah tahu kalau kamu salah ya sayang, sehingga kamu mengangkat panggilan dari aku dengan nada super duper lembut selembut sutra itu sayang. Biasanya Hallo ada apa?" ujar Vian memberikan tanggapan atas cara Jero mengangkat panggilan dari dirinya yang lain dari pada biasanya, apalagi sekarang masih jam kerja dan juga jam sibuk Jero.
"Maaf sayang, aku memang salah telah terlalu lambat mengangkat panggilan dari kamu sayang." kata Jero dengan nada menyesal.
"Tapi itu bukan aku sengaja sayang. Tetapi ada penyebabnya" lanjut Jero yang tidak ingin disalahkan oleh Vian seorang diri atas kesalahan yang diperbuat oleh dirinya sebentar ini.
"Penyebabnya?"
"Ada apa lagi sayang? Apa ada masalah dengan perusahaan?" tanya Vian yang langsung melupakan rasa kesal dan marahnya karena Jero sempat mengabaikan telpon dari dirinya sebanyak dua kali. Bahkan panggilan ketiga di angkat Jero di detik detik panggilan itu akan berakhir.
"Perusahaan aman sayang" jawab Jero yang tidak ingin Vian berpikiran buruk tentang perusahaan yang dikelola oleh Jero untuk saat ini.
"Terus apa yang sedang kamu pikirkan saat ini? Ada masalah apa lagi yang sama sekali aku tidak ketahui sayang?" "Jangan bikin cemas aku sayang?"
Perasaan Vian semakin berkecamuk karena Jero sama sekali tidak menjelaskan ada apa sebenarnya yang terjadi sehingga Jero harus tidak mengangkat semua panggilan telpon yang masuk ke ponselnya itu.
"Sayang jangan buat aku harus meninggalkan operasi aku nanti siang ya, supaya aku bisa memastikan kalau kondisi kamu dalam keadaan baik baik saja di sana" ujar Vian mengeluarkan ancamannya untuk meninggalkan pekerjaannya supaya dia bisa datang ke perusahaan Jero untuk memastikan kondisi Jero dalam keadaan baik baik saja dan tidak sedang sakit atau ada kendala lainnya.
Jero sangat menikmati nada panik dari suara Vian. Mendengar nada panik seperti itu semakin membuat Jero sangat yakin kalau Vian benar benar mencintai dirinya dan mencemaskan dirinya akan sesuatu yang bisa terjadi terhadap Jero maupun segala sesuatu yang berkaitan dengan Jero.
Teriakan Vian membuat pengawal yang berada di depan mendadak membuka pintu ruang praktek Vian. Mereka mengira kalau Vian ada apa apa di dalam.
"Saya baik baik saja" ujar Vian
Pengawal mengangguk dan kembali ke luar ruangan Vian.
"Hahaha haha hahaha" Jero tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Vian kepada pengawalnya itu.
"Oh sekarang aku yakin kalau kamu dalam keadaan baik baik saja" ujar Vian dengan nada kesal mendengar suara tawa Jero yang sangat besar dan membuat Vian mendadak jadi jengkel dan marah kepada Jero.
Jero mendengar perubahan suasana hati Vian dari nada bicara Vian.
"Sayang, kamu jangan marah dulu ya."
Jero berusaha membujuk Vian sebelum Vian menjadi marah dan berakibat dia tidak akan mau mendengar apa yang dikatakan oleh Jero. Hal itu akan membuat Jero menjadi panik sendiri atas apa yang dilakukan oleh Vian kepada dirinya nanti.
"Aku nggak marah, malahan biasa aja" ujar Vian yang memang sama sekali tidak marah kepada Jero melainkan sangat kesal sekali.
"Aku bukan nggak mau angkat panggilan kamu, bukannya sengaja mengabaikan panggilan kamu. Tetapi hari ini aku sedang malas menerima telpon"
"Oh baiklah kan jelas, aku nggak akan nelpon lagi" sambar Vian sebelum Jero selesai mengatakan alasannya kepada Vian
Selesai mengatakan satu kalimat itu Vian langsung memutuskan panggilannya dengan Jero. Jero menatap tidak percaya kepada ponselnya tersebut. Vian benar benar sudah memutuskan panggilannya.
"Apa gue salah ngomong lagi ya? Apa gue udah membuat dia menjadi marah lagi ya? Perasaan gue nggak ngomong yang aneh aneh ke dia" ujar Jero berkata sendirian sambil melihat ponselnya yang layarnya sudah hitam itu.
"Tapi kenapa dia menjadi sangat emosi seperti itu?" lanjut Jero tidak mengerti dengan apa yang ada di pikiran Vian saat ini.
"Gue telpon ajalah" kata Jero
Jero melakukan panggilan kepada ponsel Vian, tetapi Vian sama sekali tidak mengangkat panggilannya itu. Jero kembali mengulang menghubungi ponsel Vian, tetapi hasilnya tetap sama. Vian sama sekali tidak mengangkat panggilan telpon dari Jero.
"Huft. Dia beneran marah" ujar Jero.
"Wanita memang sulit dimengerti" lanjut Jero dengan kesal