
"Aku sayang. Walaupun aku sudah memutuskan untuk bekerja kembali, tetapi aku akan tetap menyempatkan waktu untuk membuat sarapan. Aku sangat tahu kalau kekasih aku yang tempan dan sekarang sudah kembali bekerja untuk memberi aku nafkah ini, sangat menyukai masakan aku dan akan sangat lahap memakannya" jawab Vian sambil tersenyum kepada Jero.
"Jadi aku tidak mungkin melupakannya" ujar Vian sambil memeluk pinggang Jero dari belakang dengan tangan sebelah kanannya yang sama sekali tidak sedang memegang apapun tetapi sedang di genggam oleh Jero.
Jero membalas pelukan separo Vian dengan tangan kirinya yang tadi mengenggam tangan Vian dan Vian melepaskan genggaman tangan itu karena ingin memeluk pinggang Jero. Mereka sama sama menyampirkan tangan masing masing ke pinggang pasangan. Suatu hal kemesraan yang memang terlihat untuk saling mendukung antara satu dengan yang lainnya.
Vian memang sudah memutuskan walaupun dia kembali bekerja tetapi kewajibannya kepada Jero tidak akan dilupakan oleh Vian. Bagi Vian, Jero adalah pusat dunianya saat ini, jadi apapun itu, betapapun capeknya Vian siap bekerja di rumah sakit, dia akan tetap akan memasak untuk Jero.
"Makasi sayang." ujar JEro dengan nada bangga karena Vian selalu menomor satukan Jero walau bagaimanapun keadaan Vian
"Tapi kalau kamu capek, kamu mintak pelayan saja yang menyiapkan sarapan ya. Aku tidak apa apa kok. Aku nggak mau kamu sakit nantinya, karena kelelahan sibuk di rumah sakit dan sibuk di mansion" ujar Jero yang paham kenapa Vian melakukan hal itu.
"Tenang sayang. Saat aku capek makan aku akan minta pelayan yang membuatkan sarapan untuk kita semua. Tapi kalau aku masih sehat dan rasanya mampu makan akan tetap aku yang buat" jawab Vian sambil tersenyum kepada kekasihnya itu.
Vian sangat tahu kalau Jero memikirkan kesehatannya makanya Jero mengatakan hal tersebut. Mereka berdua kemudian melanjutkan perjalanan menuju ruang makan. Jero dan Vian berdua berjalan menuruni anak tangga yang jumlahnya lumayan itu. Sebenarnya mereka bisa menggunakan lift dari lantai 3 mansion. Tetapi karena mereka berdua ingin mengobrol, sehingga membuat mereka lebih menikmati turun tangga dari pada menggunakan fasilitas lift yang ada di mansion tersebut.
Jero melihat semua anggota keluarganya sudah duduk di kursi masing masing. Hanya tinggal kursi dirinya dan Vian yang masih kosong.
"Ternyata hanya tinggal menunggu kita berdua lagi sayang" ujar Jero berkata kepada Vian sambil melihat ke arah Vian kekasihnya itu.
Vian mengangguk semua orang memang sudah berada di meja makan dan duduk di kursi mereka masing masing, mereka hanya tinggal menungggu Jero dan Vian untuk menikmati sarapan pagi yang sangat menggugah selera tersebut. Apalagi mereka tahu bagaimana rasa masakan yang di masak oleh Vian, hal itu semakin menguji iman mereka saat sudah duduk di meja makan tetapi sama sekali belum bisa menikmati sarapan yang terhidang karena harus menunggu kedatangan Jero dan Vian.
"Maaf telat, ada kesalahan sedikit tadi, ajdi harus dibetulkan terlebih dahulu" ujar Jero memberitahukan kepada semua orang yang sudah hadir kenapa dirinya bisa sampai terlambar datang ke meja makan bersama dengan Vian.
Felix dan Bram melihat penampilan Jero yang tidak seperti Jero ingin ke perusahaan. Felix melihat ke arah Bram, Bram juga melakukan hal yang sama. Penampilan Jero yang seperti ini membuat Felix dan Bram bertanya tanya apakah Jero memang akan kembali bekerja atau mau menemani Vian ke rumah sakit. Jero yang paham dengan penglihatan kedua adiknya itu, memberi bahasa isyarat dengan menyebut nama Vian melalui gerakan bibir saja
"Ooooo" ujar mereka berdua serempak sambil membulatkan mulut mereka masing masing.
"Sudah mari makan" ujar Jero mengajak mereka semua untuk menikmati sarapan yang sudah dibuat oleh Vian.
Vian hari ini memasak nasi goreng hijau dengan tambahan udang tempura, union ring, capcay dan juga telor dadar yang diiris tipis tipis serta tidak lupa pula kerupuk baguak untuk tambahannya serta kol iris, timun iris dan juga tomat iris sebagai sayuran.
Mereka semua makan dengan sangat lahap, apalagi jam dinding mansion sudah menunjukkan pukul tujuh tepat, mereka semua tidak ingin terlambar sampai di tempat kerja masing masing. Bagi mereka, walaupun mereka yang memiliki perusahaan atau bahkan rumah sakit, mereka tidak mau terlambar dibandingkan para pekerja, mereka semua ingin memberikan contoh yang baik kepada semua anggota atau karyawan di perusahaan dan juga rumah sakit tempat mereka bekerja.
"Sama Jero, Greta" jawab Vian sambil tersenyum kepada Greta. "Jadi kita bertemu di rumah sakit aja oke" lanjut Vian.
"Sip, kalau begitu gue dengan Jeri jalan duluan. Bay semua" ujar Greta sambil menggandeng tangan Jeri kekasihnya yang hari ini akan pergi ke pengadilan agama untuk mengambil formulir pendaftaran gugatan cerai Vian kepada Juan Alexsander.
"Cie Bang, loe mentang mentang udah ada gandengan nggak ngajak ngajak gue lagi naik mobil loe itu" ujar Bram yang memang selalu menggoda Jeri kalau Jeri sudah terlihat kalem seperti sekarang ini.
"Makanya cari gandengan sana. Kalau nggak laku, gandengan sama Ivan aja" jawab Jeri yang sudah masuk ke dalam mobil sport barunya yang ternyata datang saat mereka sedang liburan di negara F. Mobil keluaran terbaru dari salah satu mobil keluaran eropa yang sangat terkenal dengan jaminan keselamatannya.
Bram mau menjawab perkataan dari Jeri, tetapi semua itu gagal saat Ivan dengan santainya menggandeng tangan Bram untuk masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan oleh Ivan dari tadi. Semua orang yang melihat apa yang dilakukan oleh Ivan hanya bisa senyam senyum saja. Ivan memang selalu menjadi penyelamat keributan yang hampir terjadi di pagi hari antara Jeri dengan Bram.
"Sudahlah bos jangan dilayani pria tua yang seharusnya sudah menikah itu. Lebih baik kita cari nafkah untuk liburan ke maldifes akhir tahun ini" ujar Ivan mengingatkan Bram tujuan liburan akhir tahunnya.
"Hah Maldifes. Ikut Bram" ujar Vian yang sama sekali tidak bisa mendengar kata liburan apalagi tempat yang mereka tuju adalah sebuah pulau lengkap dengan pantai indahnya. Maka Vian dengan suka rela tanpa di ajak pasti akan ikut serta dalam rombongan itu.
"Aman kakak ipar, kita berangkat akhir tahun" ujar Bram yang sudah berada di dalam mobil.
"Sayang masih mau mengobrol?" tanya Jero yang sejak tadi melihat ke arah jam mahalnya itu.
Vian sudah menghabiskan waktunya dengan sia sia hanya karena pembahasan maldives doang.
"Oh tidak, mari jalan" ujar Vian yang langsung masuk ke dalam mobil.
Dalam mobil sudah duduk Ryan sebagai pengemudi. Sedangkan Josua bertugas untuk menutup pintu mobil setelah Jero masuk.
"Sayang, kok kamu masuk dalam mobil aku ya?" ujar Vian bertanya kepada Jero saat melihat Jero sudah duduk di sampingnya dan Josua duduk di samping Ryan.
"Saipa bilang kamu akan bawa mobil sendiri sayang? Tidak akan mungkin. Kamu akan aku antar jemput selama bekerja. Jadi terima saja nasib kamu tanpa ada protes sedikitpun" ujar Jero yang sudah sangat yakin kalau Vian pasti akan protes dengan apa yang dikatakan oleh dirinya kepada Vian.
"Oh ya sudahlah ya" jawab Vian sedikit cemberut tetapi mau bagaimana lagi. Dia harus menerimanya dengan suka hati dan rela hati.
Semua ini pastilah untuk kebaikan dirinya. Hal yang akan membuat Jero nyaman saat bekerja di perusahaan. Jero benar benar tidak ingin Vian kenapa kenapa, makanya dengan semua yang bisa dilakukan oleh Jero, Jero pasti akan memastikan keamanan Vian.