
"Istri kamu kemana Juan Aleksander? Kenapa saya dari tadi tidak melihat wajahnya?" tanya Papi dengan nada suara dingin.
Papi ingin mengetahui keberadaan Menantunya dimana sekarang ini. Saat Papi datang sampai sekarang dia tidak melihat sama sakali Vian ada di mansion.
"Kenapa Papi nanyak Vian Pi?" tanya Mami kepada Papi penasaran.
"Papi takut dia kabur dari mansion karena mendengar apa yang Papi katakan saat konferensi pers tadi pagi" ujar Papi menjelaskan kepada Mami kenapa dia mencari Vian sekarang ini.
"Di rumah sakit Papi" jawab Juan Aleksander dengan jujur.
Juan memang tidak berbohong Vian sekarang memang berada di rumah sakit. Juan saja mengalami hal yang tidak mengenakkan di rumah sakit tadi karena perlakuan Vian dan pengawalnya kepada dirinya.
"Oke. Vian di rumah sakit. Pak Hans dan Bik Ima kemana?" tanya Papi menanyakan sepasang suami istri yang memang sudah lama ikut dengan mereka itu. Papi dari tadi juga tidak melihat adanya Bik Ima dan Pak Hans di mansion besar itu.
"Pak Hans dan Bik Ima, dia pulang kampung Papi." ujar Juan Aleksander masih membohongi kedua orang tuanya. Juan tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya. Juan takut dimarahi oleh Papi.
"Juan Aleksander sekali lagi saya bertanya. Kemana menantu saya!!!!!!!" teriak Papi mulai murka dengan jawaban Juan Aleksander yang seperti tidak mengetahui apa apa.
Juan Aleksander terdiam. Dia tidak mengetahui dan belum bersiap siap memakai tameng apa untuk menyelamatkan dirinya dari amukan seorang Tuan Aleksander. Mami hanya bisa diam, dia tidak bisa lagi membantu Juan Aleksander, atau mami mau untuk tidak berbelanja lagi. Tadi sebelum berangkat menuju mansion Juan, Papi dan Mami sudah membuat kesepakatan, kalau Mami tidak boleh lagi membela kelakuan aneh dari seorang Juan Aleksander.
"Kamu dengar saya tidak Juan Aleksander, kemana perginya menantu saya dan dua orang palayan yang sangat setia kepada saya. Bik Ima dan Pak Hans tidak akan berani pergi dari mansion kalau tidak kamu yang meminta" teriak Papi dengan nada keras dan sudah tidak lagi bisa menahan amarahnya.
Juan masih saja diam. Dia sama sekali tidak melawan apa yang dikatakan oleh Papinya itu. Juan masih tidak menjawab pertanyaan dari Papi.
"Juan jawab saya, dimana menantu dan pelayan setia saya. Kamu punya mulutkan Juan?" tanya Papi kepada Juan. Papi mulai akan memukul Juan. Papi sudah mengangkat tangannya tinggi tinggi.
Juan masih dalam mode diamnya. Dia tidak menyangka Papi akan tau secepat itu. Papi akan bertanya tentang Vian, Pak Hans dan Bik Ima.
"Juan jawab saya" teriak Tuan Aleksander
Plak plak plak. Tiga tamparan mulus mendarat di pipi seorang Tuan Muda Juan Aleksander. Juan Aleksander hanya bisa memegang pipi mulusnya yang sekarang pasti sudah terdapat lima bekas jari di sana. Pipi yang terasa perih dan hangat setelah ditampar oleh Papi.
"Sakit rasanya Tuan Muda Juan Aleksander?" tanya Papi kepada Juan Aleksander dengan rasa marah yang tidak bisa dikendalikan nya lagi seperti yang sudah sudah.
Juan Aleksander mengangguk, dia memang merasakan sakit di pipinya saat ini. Juan merasakan rasa panas dan berdengung di telinganya. Apalagi saat mandi maka akan semakin perih semua.
"Juan Aleksander, jawab jujur saya, apa yang telah kamu lakukan terhadap Vian, Bik Ima dan Pak Hans." tanya Papi dengan nada tinggi. Papi kesal dengan Juan yang masih tetap dengan sikap diamnya itu.
Papi terlihat sangat jelas kalau, Papi saat ini sedang berusaha mengendalikan amarah yang ada dalam dirinya. Tetapi apalah daya Papi, sekarang begitu banyak cobaan yang menerpa keluarga Aleksander sehingga membuat Papi harus bisa sabar dan tidak berbuat tindakan yang gegabah.
"Apa yang terjadi Juan. Kenapa istri, Pak Hans dan Bik Ima tidak lagi ada di rumah ini. Apa yang telah kamu lakukan kepada mereka Juan Aleksander. Jawab saya. Jangan diam saja" ujar Papi semakin murka dan sudah tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak berteriak kepada Juan anak laki laki penerus kerajaan bisnisnya.
Juan menatap kepada Mami. Dia meminta Mami mendukung dirinya untuk bisa menceritakan semuanya kepada Papi. Mami mengangguk, mendukung Juan Aleksander untuk berbicara kepada Papi.
"Maafkan Juan, Papi. Saat itu, waktu Juan dari mansion utama. Juan sampai di mansion ini dan langsung melihat tidak ada Vian. Padahal saat itu sudah bukan jam kerja dia di rumah sakit." ujar Juan Aleksander mulai menceritakan kejadian versi dirinya.
"Bik Ima mengatakan kepada Juan kalau Vian ada operasi mendadak. Nah saat itu Juan berpesan kepada Bik Ima kalau Vian datang suruh dia ke kamar" lanjut Juan menceritakan kejadian hari itu.
"Kemudian Vian datang dan menyusul Juan ke kamar. Saat itulah emosi Juan meledak. Vian melawan semua kata kata yang Juan keluarkan. Dia tidak menghargai Juan lagi sebagai suaminya" lanjut Juan Aleksander.
"Akhirnya tanpa sengaja mulut ini mengusir Vian dari mansion" lanjut Juan Aleksander sambil menunduk dalam dalam.
Dia takut melihat ke arah Papi. Juan takut dimurkai oleh Papi.
"Apa kamu mengusir dia dari mansion ini Juan?" tanya Papi tidak percaya dengan apa yang dikatakan Juan.
Papi terduduk di sofa nya. Dia berpikir dengan keras. Satu hal baru telah terjadi lagi. Masalah yang akan kembali menerpa keluarga Aleksander.
"Juan, kenapa kamu tidak ngomong dari awal masalah ini Juan. Sekarang semua orang di negara ini sudah tau kalau Papi mengatakan kamu membawa wanita ke rumah karena Vian tidak melayani kamu dengan baik. Sekarang sebelum Papi mengatakan hal itu, kamu telah mengusir Vian dari mansion" ujar Papi yang terduduk dengan lemas. Papi tidak percaya dengan semua ini. Papi tidak mengira Juan akan mengusir Vian dari mansion.
Mami mencerna semua yang dikatakan oleh Papi. Tiba tiba Mami tersenyum penuh kebahagiaan. Mami tersenyum dengan senyuman kemenangan. Mami tidak menyangka ternyata penyelesaian dari masalahnya dilakukan sendiri oleh Juan.
"Papi, kenapa Papi cemas. Lebih baiklah Juan mengusir Vian, sebelum Papi melakukan konferensi pers. Nah sekarang semua masalah dilimpahkan ke Vian. Jadi, keluarga kita tidak dalam masalah lagi" ujar Mami kepada Papi dengan wajah sangat ceria sekali.
"Maksud Mami bagaimana? Papi kurang paham" ujar Papi sambil memandang lama Mami. Papi tidak mengerti dengan ucapan Mami. Papi sangat malas menganalisa semua kejadian.
"Permasalahan ini kan sudah Papi jelaskan saat Papi konferensi pers, Papi mengatakan kalau permasalahan ini terjadi karena, Juan Aleksander membawa wanita ke mansion. Nah di sini kan yang salah Juan. Semua masyarakat pasti menyalahkan Juan dan keluarga kita. Sampai sini Papi dan Juan mengertikan?" tanya Mami kepada Papi.
Mami berharap Papi dan Juan paham dengan apa maksud dari Mami. Kalau tidak, maka Mami akan semakin sulit menjelaskan kepada Papi dan Juan, cerita selanjutnya.
"Paham. Lanjutkan saja Mami. Kami akan mendengar analisa dari Mami, dari awal sampai akhir" ujar Papi menjawab pertanyaan Mami apakah mereka paham atau tidak dengan apa yang dikatakan oleh Mami tadi.
"Nah saat permasalahan itu disangkakan kepada Juan. Papi kan melakukan konferensi pers tadi siang, Papi mengatakan kalau Juan melakukan hal itu karena Vian tidak becus menjadi seorang istri, nah sekarang bola itu berbalik kepada Vian. Sekarang Vian lah yang disalahkan oleh masyarakat. Terlebih lagi hal ini diperkuat dengan Juan yang mengusir Vian dari mansion" lanjut Mami memberitahukan kepada Papi dan Juan tentang analisanya. Analisa Mami tentang segala kejadian yang terjadi di keluarga besarnya.
Papi dan Juan menganalisa semua perkataan Mami. Mereka berdua tersenyum. Mereka paham sekarang dengan maksud perkataan dari Mami.
"Bener apa yang dikatakan oleh Mami. Sekarang Juan tidak akan disalahkan oleh masyarakat banyak lagi. " kata Papi dengan semangat dan kembali tidak terlihat seperti senar gitar yang mau putus.
"Papi, Mami ada yang mau Juan beritahukan kepada Papi dan Mami." kata Juan Aleksander dengan nada seriusnya.
"Seandainya masih ada, kami tidak sanggup lagi untuk menanganinya. Kamu tangani dan selesaikan saja sendiri. Nggak usah minta bantuan kami lagi. Kamu harus bersikap dewasa dan mengatasi semua permasalahan kamu sendiri" ujar Mami kepada Juan Aleksander dengan nada serius dan sedikit lelah dengan tingkah laku seorang Juan Aleksander.
"Nggak Mami. Hal yang ingin aku ungkapkan ini adalah suatu hal yang sangat mendukung tuduhan kita kepada Vian" ujar Juan Aleksander memberitahukan permasalahan apa yang akan dikatakannya kepada kedua orang tuanya itu.
Mami memandang ke arah Papi. Papi. Mengangguk memperbolehkan Juan Aleksander untuk menceritakan apa yang diketahuinya.
"Jelaskan Juan" ujar Mami meminta Juan untuk menjelaskan hal tersebut.
"Jadi, gini Mami, Papi." ujar Juan memulai ceritanya kepada kedua orang tuanya itu.
"Saat aku mengusir Vian keluar dari mansion, ternyata ada satu kejadian yang membuat aku terkejut. Benar benar terkejut saat aku mengetahuinya. Aku baru tahu dan baru sadar saat aku mengusir Vian" ujar Juan Aleksander mulai menceritakan ceritanya itu.
"Apa yang terjadi Juan?" tanya Mami yang mulai penasaran dengan apa yang akan diceritakan oleh Juan kepada mereka berdua. Cerita yang sepertinya sangat menarik untuk diketahui oleh Papi da Mami.
"Aku kan mengusir Vian dengan menarik dan mendorongnya keluar dari mansion. Saat itu yang membantu adalah Jero." ujar Juan memberitahukan kepada kedua orang tuanya.
"Jero sopir pribadi Vian itu?" tanya Mami sambil menekankan kata sopir pribadi kepada Juan.
"Yup Mami. Ternyata mereka di belakang aku memiliki sebuah hubungan yang aku tidak ketahui selama ini" jawab Juan yang sekarang berbalik posisi sebagai seseorang yang dizholimi oleh Vian.
Papi dan Mami saling memandang. Dalam pandangan mereka, mereka saling menyebutkan satu nama yaitu "Jero" nama yang sebenarnya tidak asing lagi di telinga Papi. Papi kemudian menggeleng. Dia tidak yakin kalau itu adalah Jero yang itu.
"Jadi, sekarang Vian dimana?" tanya Mami kepada Juan.
"Nggak tau juga Mi, dia dimana. Tapi yang jelas sepertinya Jero itu bukan orang dari kalangan biasa saja" ujar Juan kepada kedua orang tuanya.
"Maksud kamu bukan dari orang kalangan biasa itu bagaimana Juan?" kali ini Tuan besar Aleksander yang bertanya kepada Juan.
"Maksud Juan begini Papi. Tadi Juan ke rumah sakit ingin bertemu dan berbicara baik baik dengan Vian. Juan sebenarnya ingin membawa Vian pulang ke sini kembali, karena Juan tau kalau Papi dan Mami sangat suka dengan Vian" ujar Juan Aleksander mulai kembali mengungkapkan cerita kejadian di rumah sakit itu.
"Nah saat Juan sampai di sana. Ternyata di depan pintu ruangan kerja Vian, sudah berdiri dua orang pengawasan pribadi yang terlihat sangat sangat kompeten." ujar Juan memberitahukan apa yang dilihatnya di sana.
"Malahan ya Pi, Mi. Juan sama sekali tidak diizinkan masuk. Vian dengan gampangnya memerintahkan kedua pria itu untuk mengusir aku dari ruangannya." kata Juan melanjutkan ceritanya.
Papi dan Mami saling memandang. Mereka berdua semakin penasaran ingin bertemu dengan Jero. Pria yang sampai hari ini sama sekali belum pernah bertemu dengan Tuan dan Nyonya Aleksander.
"Aku ke sini aja tadi diantar dia pengawalnya yang lain yang terkenal kejam itu. Malahan aku diturunkan oleh pengawalnya di simpang depan. Aku jalan kaki sampai ke sini" ujar Juan menceritakan pengalamannya hari ini kepada kedua orang tuanya itu.
"Jero" ujar Papi menyebut nama itu dengan perlahan.
"Kok bisa dia bekerja di sini Juan?" tanya Mami penasaran.
"Hari itu dia datang ke perusahaan melamar pekerjaan. Saat itu aku memang membutuhkan seorang sopir. Jadi, aku mengambil dia untuk dijadikan sopir." ujar Juan menceritakan bagaimana bisa dia merekrut seorang Jero jadi sopir.
"Nah saat aku menikah dengan Vian, aku meminta dia menjadi sopir pribadi Vian. E e e e e e ternyata ini yang terjadi." ujar Juan kepada kedua orang tuanya.
Papi masih terdiam. Bagi dia tidak menarik kisah antara Jero dengan Vian. Papi lebih tertarik ingin melihat wajah Jero.
"Mami, masak makan malam dulu ya Pi. Sepertinya rumah ini membutuhkan seorang maid lagi untuk memasak" ujar Mami yang melihat tidak ada maid di mansion Juan.
"Mami minta aja salah satu dari koki kita di mansion untuk pindah ke sini. Dari pada kita cari orang baru, nanti ada lagi masalah baru" ujar Papi memberikan usul kepada Mami.
Papi tidak ingin ada penyusup lain masuk ke dalam mansion Juan Aleksander dan membuat masalah baru lagi di dalam keluarga Aleksander.
"Mami dari pada Mami masak. Bagaimana kalau kita makan malam di restoran saja. Kata orang makan malam di restoran A saat ini sangat enak. Kita coba makan malam di sana saja bagaimana?" kata Juan memberikan usulnya kepada Papi dan Mami untuk makan malam di luar saja.
"Oke. Kita makan malam di luar saja. Lebih cepat dan praktis. Lagian Mami ragu apakah di rumah ini ada bahan masakan atau tidak sama sekali" ujar Mami yang setuju dengan pendapat Juan.
"Gimana Pi?" lanjut Mami bertanya kepada Papi.
"Setuju" jawab Papi yang sebenarnya tidak fokus sama sekali dengan apa yang ditanyakan oleh Mami tadi. Papi asal main setuju saja.
"Kamu ganti pakaian dulu Juan. Tengok tu udah basah semua" ujar Mami meminta Juan untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu.
Juan kemudian beranjak dari tempat duduknya. Dia akan membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum pergi dengan kedua orang tuanya, keluar untuk makan malam.
"Papi, Mami merasa kalau Jero yang dikatakan oleh Juan tadi bukanlah Jero yang itu" ujar Mami yang tahu kalau Papi memikirkan nama Jero dari tadi.
Mami tidak mau kalau Papi menjadi ragu dan mencari sosok Jero yang diceritakan oleh Juan tadi. Mami tidak ingin ada lagi bagian dari masa lalu itu kembali muncul dalam kehidupan mereka.
"Ntahlah Mami. Papi berharap juga tidak. Papi tidak ingin ada lagi puzzle dari masa lalu merusak kehidupan kita" ujar Papi sambil menggenggam tangan istrinya itu.
Mami tersenyum bahagia ke arah Papi. Mami juga menggenggam tangan Papi dengan lembut.
"Cinta kita sangat kuat Papi. Mami yakin kita akan selalu bersama, apapun yang terjadi" ujar Mami berkata kepada Papi.
Juan telah berada kembali di antara mereka. Mereka bertiga kemudian masuk ke dalam mobil. Mobil yang dikemudikan oleh Juan bergerak menuju restoran A. Tempat yang mereka tuju untuk makan malam kali ini