
"Kalau gue ikut loe boleh Bram?" tanya Jeri yang memang lebih dekat ke Bram. Mereka berdua hampir memiliki sikap dan sifat yang sama. Bram dan Jero berada dalam satu frekuensi yang sama.
"Wah boleh Bang. Abang kerjain tugas itu dari laptop gue yang ada di kantor. Laptop yang sudah gue lengkapi dengan fitur fitur canggih kesukaan elo Bang" ujar Bram yang sangat bahagia Jeri memilih ikut dengan dirinya ke perusahaan. Bram bisa belajar dari Jero nanti untuk mengoperasikan beberapa aplikasi yang belum bisa dijalankannya dengan sempurna.
Dua mobil mewah warna hitam dan biru berjalan menuju perusahaan yang berbeda.
Jero dan Vian sudah berada di dalam mobil. Vian dari tadi hanya diam saja. Dia sama sekali belum ada mengobrol dengan Jero. Jero yang paham kalau Vian sedang marah tidak memaksakan keberuntungannya. Dia membiarkan saja Vian dalam kondisi diam seperti itu. Bagi Jero kalau memaksa Vian untuk berbicara dan takutnya Vian tidak menerima, maka akan semakin gawat, jadi Jero lebih memilih untuk ikut diam.
Jero melajukan mobil dalam kecepatan sedang menuju rumah sakit tempat Vian bekerja dari mulai menjadi coas sampai dia sudah menjadi seorang dokter. Sepanjang perjalanan mulai dari mansion sampai ke rumah sakit dan sampai Vian turun serta berjalan menuju ruangannya, tidak ada satupun kata yang keluar dari mulut Jero dan Vian. Mereka berdua sama sama diam.
Sesampainya Vian di depan pintu ruangannya. Dia membuka pintu tersebut dan langsung duduk di dalam ruangan. Dia terlihat termenung memikirkan sesuatu.
"Kenapa dia diam aja. Seharusnya dia kan minta maaf karena udah pulang kemalaman dan membuat gue menunggu telponnya sampai ketiduran." ujar Vian dengan kesal sambil menatap pintu ruangannya dan mengangkat tinju ke depan pintu itu.
Jero mendengar semua yang dikatakan oleh Vian. Vian mengira kalau pintu ruangannya sudah tertutup rapat. Tapi sayangnya belum sama sekali, Jero bisa mendengar semua perkataan Vian tadi.
Jero menghubungi salah satu pengawalnya yang berada di rumah sakit untuk pergi membeli sarapan ke restoran mewah mereka. Tempat dimana Vian waktu itu makan malam dengan Juan yang pada ujungnya membuat Vian dipermalukan karena memakai gaun keluaran dua bulan yang lewat dari brand ternama tersebut.
Pengawal menghubungi manager restoran dan memesan menu makanan yang disebutkan oleh Jero tadi. Setelah itu pengawal pergi menjemput pesanan tersebut ke restoran.
Sambil menunggu pengawal yang pergi menjemput sarapan ke restoran, Jero mengeluarkan ponsel miliknya yang lain. Jero melihat ada pesan masuk dari Bram.
Jero melihat video sahabat lamanya yang sekarang dipercayakan untuk mengurus perusahaan utama di negara E, sudah berada di negara ini.
"Kapan ni anak datang? Kenapa dia tidak memberitahukan kepada gue kalau dia akan datang ke sini?" ujar Jero sambil melihat rekaman video yang dikirimkan oleh Bram.
"Apalagi ini, Tuan besar itu meminta tolong kepada Jeri. Apa dia lupa sudah berbuat apa kepada kedua orang tua Jeri?" ujar Jero mendengar dengan sangat benci suara Tuan besar itu.
Jero menyimak semua pembicaraan antara Jeri dengan Tuan besar yang sangat dibenci oleh Jero itu. Jero yakin siapa yang menyuruh Jeri datang pasti memiliki niat yang tersembunyi.
"Tapi siapa yang nyuruh dia datang ya, apakah Felix atau Bram?" ujar Jero berbicara sendirian.
"Tanya Bram ajalah" ujar Jero.
Jero kemudian terlihat sibuk mengetik di layar ponselnya.
'Siapa yang minta Jeri untuk datang ke sini?' bunyi pesan chat yang dikirim oleh Jero kepada Bram.
Bram memperlihatkan pesan chat yang dikirim Jero kepada Jeri.
"Sepertinya dia sangat penasaran, kenapa gue bisa datang ke sini" ujar Jeri yang telah kembali mengerjakan apa yang diminta oleh Tuan besar Aleksander.
"Kayaknya gitu Bang. Apa harus gue bales?" ujar Bram bertanya kepada Jeri.
"Nanti aja, gue hubungi dia" kata Bram yang sibuk bekerja.
Bram akhirnya ikut melihat ke layar laptop tempat Jeri sedang bekerja itu.
Jero yang telah lelah menunggu balasan chat dari Bram, memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku celana. Dia sudah lelah menunggu, sedangkan orang yang ditunggu balasan chatnya sedang privat dengan Jeri.
Pengawal yang pergi membeli sarapan sudah datang dengan membawa kotak hitam yang berlogo restoran terkenal di ibu kota itu.
"Terimakasih" ujar Jero kepada pengawal.
"Sama sama Tuan. Apa ada lagi Tuan yang bisa saya bantu?" ujar pengawal bertanya kepada Jero, sebelum dia pergi dari hadapan Jero dan kembali menuju tempat dia memperhatikan Vian.
"Tidak ada terimakasih, lanjutkan saja pekerjaan kamu" ujar Jero mempersilahkan pengawalnya untuk kembali bekerja.
"Semoga dia nggak marah lagi setelah melihat makanan apa yang gue bawa" ujar Jero sambil mengangkat dan menciun bau dari makanan yang sama sekali tidak keluar dari kotak berwarna hitam itu.
Tok tok tok. Jero mengetuk pintu ruangan Vian. Vian sudah tau siapa yang mengetuk pintu berusaha menahan senyumnya. Dia sudah sangat yakin kalau yang mengetuk pintu adalah Jero. Manusia yang seharian tadi dia diamkan saja.
"Panik panik dah loe. Emang enak dicuekin. Itu yang gue rasain kemaren. Loe pergi lama lama." ujar Vian yang kekeh tidak akan pergi membukakan pintu ruangan kerjanya.
"Oh sepertinya dia sengaja untuk tidak membuka pintunya. Gue masuk aja" ujar Jero.
Jero membuka pintu ruangan Vian itu. Dia melihat Vian sedang membaca buku kuliah yang beberapa bulan lagi akan dijalani oleh dirinya.
Jero meletakkan kotak hitam itu di kursi depan Vian. Jero membuka kotak hitam itu. Dia mengeluarkan sup panas yang luar biasa menggoda ke hadapan Vian. Jero sengaja meletakkan sop favorit Vian itu di depan hidung Vian yang sudah kembang kempis tersebut. Jero melihat semua perubahan raut wajah Vian. Dia sengaja masih belum berbicara kepada Vian.
Setelah semua menu makanan terhidang di atas meja. Jero mulai membuka semua tutupnya. Wangi yang saat ditutup saja sudah menggugah selera, apalagi kalau sudah di buka tutupnya, akan membuat air liur orang yang menciun bau masakan itu akan menetes secara tidak sadar.
Jero kemudian duduk di kursi yang tadi dijadikan tempat untuk meletakan kotak makanan tersebut.
"Masih mau marah, atau mau makan?" tanya Jero kepada Vian.
"Iya, aku minta maaf karena telah pergi lama lama tadi malam." ujar Jero meminta maaf kepada Vian.
"Ada yang disembunyikan dari aku?" tanya Vian menatap menyelidik ke arah Jero.
"Nggak ada. Emang ada apa?" tanya Jero penasaran kenapa Vian bertanya seperti itu kepada dirinya.
"Kamu nggak percaya sama aku lagi?" tanya balik Jero kepada Vian. Sebenarnya Jero ingin jujur, tapi saat ini belum saat yang tepat untuk mengungkapkan semuanya kepada Vian.
"Bukan aku nggak percaya Jero. Tapi, tolong jangan anggap aku sebagai anak kecil lagi. Berikan aku petunjuknya Jero, biar aku tahu aku harus berbuat apa. Jangan tinggalkan aku dalam tanda tanya besar" ujar Vian menatap Jero dengan tatapan memohon.
Jero menundukkan wajahnya. Dia tidak bisa mmelihat tatapan memohon Vian. Jero cemas saat dia menjadi lemah, maka dia akan menceritakan semuanya kepada Vian. Jero tidak mau Vian tau sekarang.
Jero meraih tangan Vian. Dia menggenggam tangan tersebut.
"Satu yang pasti dan harus kamu camkan di hati dan pikiran kamu, kalau aku melakukan semua ini adalah untuk kebaikan kamu. Jadi, aku mohon jangan berpikiran macam macam. Aku hanya berusaha melindungi kamu dari semuanya. Jadi, aku mohon jangan tanyakan apapun lagi" ujar Jero membalas menatap Vian dengan tatapan memohon dan menderita karena pertanyaan Vian.
Vian menatap Jero. Vian sangat tahu kalau Jero melakukan semua yang terbaik untuk Vian.
"Tapi, kamu janji suatu saat kamu akan menceritakan semuanya kepada aku?" ujar Vian memastikan kalau Jero akan memberitahukan kepada Vian apa yang terjadi selama ini.
"Yup, aku akan memberitahukan kepada kamu, semua yang terjadi dari awal sampai akhir" ujar Jero meyakinkan Vian.
"Baiklah, aku akan diam dan tidak bertanya lagi, sampai kamu siap untuk bercerita." ujar Vian sambil tersenyum.
"Tapi ada satu lagi syaratnya?" ujar Vian.
"Nanti aja syarat syarat berikutnya. Aku lapar, aroma sup ini begitu menggoda" ujar Jero yang memang sudah lapar karena aroma sup yang menyeruak.
"Hahahaha. Sama, aku juga udah sangat lapar dari tadi. Aroma sup nya membuat amarah aku menguap seketika" ujar Vian.
Mereka kemudian memakan sop yang sudah terhidang itu. Mereka berdua makan dengan lahapnya.
"Vian, kamu mau tau tentang negara E?" tanya Jero kepada Vian.
"Emang kenapa sayang?" tanya Vian penasaran dengan pertanyaan Jero.
"Sahabat aku dari negara E datang. Apa kamu mau bertemu dengan dia?" tanya Jero yang kali ini ingin mempertemukan Jeri dengan Vian.
"Serius sayang?" tanya Vian memastikan kembali ucapan Jero kepada dirinya.
"Serius. Kamu juga akan bertemu dengan kedua adik angkat aku. Mereka sedang tidak sibuk bekerja hari ini" ujar Jero yang juga akan memperkenalkan Felix dan Bram kepada Vian.
"Wow. Aku sangat senang sayang. Oke kita bertemu mereka nanti siang saja" ujar Vian sangat bersemangat bertemu dengan adik dan sahabat Jero.
"hahahaha. Kamu terlihat sangat bersemangat sayang untuk bertemu mereka" ujar Jero yang sangat bahagia melihat Vian yang sangat senang akan bertemu dengan dua adik Jero dan sahabat terbaiknya.
"Iyalah sayang. Satu satu dari apa yang kamu simpan rapat rapat dalam kotak harta karun kamu, mulai kamu bukakan ke aku sayang" ujar Vian sambil tersenyum.
Jero tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Vian. Vian benar benar selalu di luar dugaan Jero. Jero sangat suka melihat Vian seperti ini. Vian yang selalu semangat saat ingin mengetahui tentang Jero dan kehidupannya.
"Kita pergi jam dua aja sayang. Aku siap dinas jam dua" kata Vian sambil menyusun kembali piring piring kotor ke dalam kotak hitam itu.
"Siap sayang. Aku akan hubungi mereka dulu" ujar Jero.
Jero kemudian kembali ke tempat dia biasa berdiri. Jero akan menghubungi Felix dan Bram. Meminta mereka untuk bertemu dengan Vian nanti siang.
****************
** Apa yang akan terjadi saat Jero mempertemukan Vian dengan Felix, Bram dan Jeri.
Nantikan episode berikutnya kakak.
singgah juga di novel aku yang lainnya kakak
Suamiku Bukan Milikku
It's My Dream
Kepahitan Sebuah Cinta
Kesetiaan Seorang Istri**