My Affair

My Affair
Bangunan Besar



Vian mencubit pinggang Jero. Dari tadi Jero meminta Vian untuk bisa menahan emosinya dan tidak kaget sama sekali saat melihat apa yang ada di dalam mansion saat Jero membuka pintu mansion.


"Itu terus nanti aku beneran pingsan lagi" ujar Vian sambil berjalan mendahului Jero.


"Aits di larang duluan" ujar Jero menahan Vian dengan cara memegang tangan Vian lama.


"Makanya jangan itu itu terus aja yang diomongin" ujar Vian sambil menatap ke arah Jero dengan tatapan mengejek Jero.


"Haha haha. Nyonya Asander ngambek dia" ujar Jero menggoda Vian.


"Sayang, jangan goda aku terus. Kamu kebangetan banget sayang. Hobbynya godain aku terus" ujar Vian sambil menggenggam tangan Jero.


"Siap sayang?" tanya Jero memastikan kesiapan Vian satu kali lagi.


"Siap sayang!" ujar Jero


Jero dan Vian sudah berdiri di depan bangunan besar yang masih terlihat sangat bagus itu. Beberapa karyawan dengan baju khas perusahaan Asander Grub berjalan mondar mandir di sana. Mereka melakukan pekerjaan mereka masing masing tanpa memperdulikan Jero Asander pemilik perusahaan tempat mereka bekerja sedang berdiri di depan mereka saat ini. Semua pekerja memang menunduk hormat kepada Jero, itu pun dilakukan sambil lewat saja. Tidak ada yang benar benar berhenti untuk memberikan hormatnya kepada Jero.


Vian menatap heran dengan cara mereka menyapa Jero. Vian melihat ke arah Jero, Jero memberikan senyumannya kepada Vian sebagai jawaban dari pertanyaan tidak terucap Vian tersebut. Jero tahu kalau Vian pasti ingin menanyakan kenapa semua pekerja yang lewat di depan Jero menyapa Jero dengan cara seperti itu saja. Vian kemudian mengangguk, dia tidak akan membantah atau protes dengan apa yang dilakukan oleh para karyawan saat menyapa Jero.


"Sayang, jadi ini bangunan apa? Kenapa besar sekali sayang? Aku baru tahu kalau ada bagunan sebesar ini di sini" tanya Vian sambil menatap bangunan besar yang megah di depan mereka saat ini. Bangunan yang sangat luas dengan perkarangan yang juga sangat luas sekali.


Beberapa mobil box terlihat parkir di sana. Terlihat para pekerja memindahkan kardus kardus besar ke dalam mobil box itu. Mereka terlihat menyusun dengan rapi kardus kardus besar tersebut. Vian mengamati semuanya dengan sangat sangat jelas. Vian sama sekali tidak melewati apa yang disajikan di depannya saat ini.


Karena keasikan melihat apa yang dilakukan oleh para karyawan, sampai sampai membuat Vian melupakan cara bagaimana para karyawan perusahaan menyapa Jero. Dia lebih tertarik dengan bangunan tinggi di depannya saat ini. Serta para karyawan yang sibuk bekerja di gudang tersebut.


"Jadi sayang ini bangunan milik siapa? Aku melihat logonya tidak asing lagi, tapi aku lupa dimana aku melihatnya." kata Vian yang sudah berusaha mengingat dimana dirinya menemukan logo seperti itu. Tetapi semakin Vian berusaha mengingatnya, Vian semakin tidak ingat, tetapi Vian yakin kalau dia pernah melihat logo tersebut, cuma Vian lupa dimana telah melihat logo itu.


"Pastilah kamu sudah pernah melihat logo ini sayang" jawab Jero Sa. bila tersenyum ke arah Vian yang tadi mengatakan kalau dia pernah melihat logo seperti itu tetapi dia lupa dimana telah melihat logo tersebut.


"Ini adalah gudang milik keluarga Alexsander yang aku akuisisi sayang" jawab Jero sambil menggenggam tangan Vian untuk masuk ke dalam gudang besar tersebut.


Pintu gudang telah terbuka dengan lebar, beberapa karyawan keluar masuk dari dalam pintu itu sambil membawa kardus kardus besar menuju mobil box yang berjejer parkir di depan gudang tersebut.


"Apa mereka tahu kalau kamu mengakuisisinya sayang?" ujar Vian yang masih terlihat sangat syok mendengar apa yang dikatakan oleh Jero kepada dirinya.


Vian benar benar kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Jero sebentar ini. Vian tidak menyangka kalau Jero sudah melakukan serangan serangan kembali kepada keluarganya itu. Sebuah dendam memang sudah membuat Jero menjadi seseorang yang sangat tega kepada keluarganya sendiri. Sebuah luka yang amat sangat membuat Jero menjadi sesososk anak yang berani melawan orang tua kandungnya sendiri.


Jero mengangguk menjawab rentetan pertanyaan yang diajukan oleh Vian kepada dirinya. Jero memang sudah bisa membayangkan bagaimana reaksi Vian bertanya kepada dirinya. Sehingga Jero sudah maklum dengan ekspresi yang diberikan oleh Vian.


"Sayang, kapan kamu akuisisi ini?" ujar Vian saat melihat masih banyak barang barang yang tersimpan di dalam kardus kardus besar dengan logo perusahaan Aleksander Grub.


Mereka berdua sudah berada di dalam gudang besar tersebut. Tepat di belakang mereka berdua berdiri Josua dan Ryan yang mengamati para pekerja yang sedang melakukan tugas mereka masing masing.


"Sewaktu kita di Negara F sayang" jawab Jero dengan santainya menjawab pertanyaan dari Vian.


Vian menganga mendengar jawaban dari Jero. Mereka sedang liburan Jero masih bisa melakukan akuisisi terhadap gudang besar milik perusahaan Aleksander Grub. Sebuah perusahaan raksasa di bidangnya tetapi ternyata bisa jatuh saat berhadapan dengan perusahaan Asander Grub.


Vian sama sekali tidak berminat dengan dunia bisnis. Sehingga apapun yang dilakukan oleh Jero dia hanya bisa menatap Jero dengan tatapan kekaguman bahkan tatapan kaget tidak percaya seperti sekarang ini saat mendengar kalau Jero sudah melakukan akuisisi terhadap gudang milik perusahaan ayah kandungnya sendiri.


"Loh kok bisa sayang?" tanya Vian yang sama sekali tidak mengerti mengenai bisnis yang dijalankan oleh Jero.


"Bisalah sayang, apa yang nggak bisa dilakukan oleh Jero Asander, apapun akan aku lakukan sayang, untuk membalaskan rasa sakit yang ditanggung Mommy selama kami terasing dari keluarga itu" ujar Jero dengan kilatan kemarahan yang sangat jelas di mata elangnya tersebut.


Vian bisa menangkap kilatan kemarahan dari mata seorang anak yang terluka karena perlakuan yang diterima oleh ibu kandungnya.


"Aku bukan tipe manusia yang suka balas dendam sayang." ujar Jero saat melihat bagaimana reaksi dari Vian saat mendengar apa yang dikatakan oleh Jero sebentar ini.


"Tetapi itu harus aku lakukan, karena apa yang telah dilakukan oleh mereka kepada Mommy sudah sangat di luar batas. Aku tidak menerima hal itu" lanjut Jero menjelaskan kepada Vian apa landasan atau latar belakang dia melakukan semua itu.


Vian tersenyum kepada Jero. Vian sangat mengerti kenapa Jero bisa melakukan hal seperti itu. Jero semata mata ingin membuat Mommy di atas sana bangga dengan dirinya.


Bagaimana seorang ibu tidak akan bangga dengan anaknya itu. Jero yang dibesarkan hanya dengan kasih sayang Mommy bisa membuat Jero menjadi seperti sekarang ini. hanya kasih sayang seorang ibu yang membesarkan Jero. Sehingga apapun itu Jero akan melakukannya untuk mommy.