
"Jam berapa ke pengadilan Bang?"
Bram kali ini membuka percakapan mereka setelah sarapan. Hari ini adalah hari pertama Vian akan melakukan tahapan mediasi pernikahannya dengan Juan.
"Sekitar jam sepuluh" jawab Jero dengan wajah muram. Jero sama sekali tidak semangat hari ini. Dia seperti menyimpan sebuah beban di hatinya.
Vian memperhatikan semua itu. Tetapi Vian tidak mungkin bertanya di depan kedua adik Jero. Belum lagi para asisten yang berada di meja lain, tetapi walaupun masih di meja lain, mereka masih dalam jangkauan pendengaran apa yang akan dikatakan oleh Vian. Sehingga Vian memutuskan untuk bertanya kepada Jero saat mereka dalam perjalanan menuju perusahaan Jero. Vian hari ini memang tidak akan datang ke rumah sakit. Vian akan berangkat ke pengadilan dari perusahaan Jero saja.
"Apa kami harus ikut?" ujar Felix yang memang sangat peduli dengan apa yang terjadi terhadap Jero. Sebenarnya Bram juga peduli, tetapi Bram tidak akan bertanya apa di harus datang atau tidak, tanpa diminta pun Bram pasti akan datang, walaupun dilarang Bram tetap juga akan datang ke pengadilan.
"Terserah kalian saja. Kalau rasanya pekerjaan kalian sudah selesai, maka kalian boleh datang ke pengadilan" jawab Jero.
Felix dan Bram bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Jero saat ini. Vian nanti akan bertemu dengan Juan, maka rasa cemburu dan tidak suka itu masih ada di dalam hati Jero. Hal itu sangat terpampang jelas dengan sikap Jero saat ini. Sikap seorang pria yang sedang dilanda rasa cemburu. Suatu sikap yang tidak pernah diperlihatkan oleh Jero ke siapapun.
Saat mereka selesai sarapan Jeri datang dengan membawa tas ransel dan satu map di tangannya. Penampilannya hari ini sangat berbeda dari pada hari hari biasanya.
"Wow, keren sekali loe bang. Nggak seperti biasanya. Mau kemana loe?" ujar Bram yang langsung saja menyatakan keterangannya melihat penampilan Jeri yang berbeda dari pada hari hari biasanya.
"Tentulah iya gue harus keren. Gue hari ini menjadi pengacara. Loe taulah pengacara kalau di negara ini penampilannya harus keren, biar meyakinkan kalau gue ini mampu jadi pengacara" ujar Jeri sambil duduk di kursi yang kosong di sebelah Bram.
Jeri menyendok nasi goreng ke dalam piringnya. Kemudian mengambil telur, mentimun, tomat dan yang lainnya.
Felix dan Bram memperhatikan apa yang dilakukan oleh Jeri.
"Loe nggak makan di mansion loe Bang?" ujar Bram bertanya sambil melihat ke dalam piring Jeri yang sudah berisi sarapan nasi goreng lengkap dengan yang lainnya.
"Belum. Gue nggak sempat masak sarapan tadi pagi" jawab Jeri.
"Makanya nikah, itu Kak Greta udah datang, loe nya aja yang nggak berani nikahin kak Greta"
Bram sui tukang bully sudah memulai aksinya untuk melakukan pembullyan terhadap Jeri.
"Rencananya ada, tapi tunggu Vian balik dari negara A dulu. Bisa ngamuk dia kalau keberangkatan ke negara A di cancel lagi" jawab Jeri yang memilih untuk menggunakan Vian sebagai alasannya.
"Alasan paling bagus yang bisa abang berikan ke kami semua. Keren" ujar Bram memuji alasan yang diberikan oleh Jeri atas pertanyaan yang diberikan oleh Bram kepada dirinya.
Plak sebuah pukulan lumayan kuat mendarat di pundak Jeri. Jeri yang baru saja mau memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya membatalkan niatnya.
"Huft untung saja, kalau ndak bisa ke selek gue" ujar Jeri yang sangat bersyukur dirinya belum sempat memasukkan nasi itu ke dalam mulutnya.
"Gilak loe Jer, main tabok aja" uajr Jeri komplen ke Jero yang seenaknya saja mukul pundak Jeri dengan begitu kuatnya.
"Ya loe nya yang salah, ngejadiin Vian sebagai orang yang dipersalahkan karena keterlambatan pernikahan loe dengan Greta" ujar Jero yang tidak Terima dengan apa yng dikatakan oleh Jeri sebagai alasan dirinya terlambat menikah.
"Nah kan jelas. Ini jadiin kakak ipar kami kambing hitamnya. Nggak asik loe Bang" ujar Bram sengaja memanas manasi Jero untuk kembali memarahi Jeri.
"Udah jangan jadi tukang adu domba itu. Sekarang biarkan Jeri makan dengan tenang" ujar Vian yang tidak ingin ada keributan di meja makan.
Vian sangat tidak suka dengan hal itu, Vian lebih memilih untuk pergi dari meja makan, kalau keributan yang terjadi tak kunjung selesai juga.
Semua orang yang ada di meja makan memilih untuk diam dari pada dimarahi oleh Vian satu kali lagi. Jero menatap ke arah Bram dan tersenyum mengejek Bram. Bram membalas dengan mengerucutkan bibirnya. Dia tidak menyangka kalau Vian benar benar akan marah saat ini.
Sedangkan jeri yang merasa dibeli oleh Vian tersenyum ke arah Bram. Jeri sangat senang dirinya sekarang berada di atas awan.
"Sudah makan sarapan kamu Jer, tidak usah senyam senyum" kata Vian.
Tepat setengah jam lamanya Jeri telah memindahkan dua piring nasi goreng ke dalam perutnya. Ingin rasanya Bram membully Jeri, tetapi karena Vian masih berada di sana, hal itu membuat Bram mengurungkan niatnya.
"Ayo berangkat" ujar Jeri.
"Loe langsung ke pengadilan atau gimana?" tanya Jero kepada Jeri saat mereka sudah berada di depan pintu keluar mansion.
"Gue ke kantor bentar. Ada yang mau gue ambil. Nanti kita bertemu di pengadilan saja jam setengah sepuluh" ujar Jeri
"Oh Oke. Kita ketemu di pengadilan jam setengah sepuluh"
Jero dan Vian kemudian masuk ke dalam mobil, Hendri sudah berada di balik kemudi. Sedangkan Felix dan Bram sudah berlalu dengan mobil mereka masing masing menuju perusahaan masing masing. Mereka semua sudah sepakat untuk bertemu di pengadilan pukul setengah sepuluh.
"Kita ke perusahaan langsung Hendri. Vian tidak ke rumah sakit hari ini" Jero memberitahukan kepada Hendri kemana tujuan mereka. Tujuan hari ini berbeda dari hari hari biasanya.
"Apa kamu sudah siap sayang?" ujar Jero bertanya kesiapan Vian untuk melakukan sidang mediasi dengan Juan.
"Sebenarnya pertanyaan itu cocoknya untuk kamu sayang. Apa kamu sudah siap akan menikahi aku saat putusan cerai aku keluar" Balas Vian balik bertanya kepada Jero.
"Sangat siap sayang, tapi kita tidak akan menikah di negara ini. Aku ingin membawa kamu ke negara E. Kita akan menikah di sana dihadapan Mommy" ujar Jero yang memang memiliki cita cita dan janji kepada Mommy kalau dia akan menikahi Vian di negara E. Sesuai dengan permintaan Mommy saat mommy masih hidup.
"Aku menyerahkan semua sama kamu sayang" jawab Vian.
"Apa kamu tidak ada punya mimpi untuk bagaimana menikah?" lanjut Jero bertanya keinginan Vian tentang konsep pernikahan yang diinginkan oleh dirinya.
"Sama sekali tidak ada" jawab Vian dengan menggeleng.
Jero tersenyum. Dia pastinya akan membuat pesta pernikahan yang akan membahagiakan bagi Vian. Jero berjanji dalam hatinya.