
Vian kemudian turun dari dalam mobil. Dia berjalan menuju ruangannya untuk mengambil jas, setelah itu barulah Vian menuju ruangan operasi.
Sedangkan Bram, setelah dia memarkir mobilnya di parkiran khusus miliknya, Bram langsung menuju ruangan direktur rumah sakit yang terletak di lantai paling atas rumah sakit. Sebelumnya Bram sudah menghubungi direktur untuk tidak pulang sebelum Bram berbicara dengan dirinya empat mata. Pembicaraan serius yang akan disampaikan oleh Bram.
Bram langsung saja membuka pintu ruangan direktur rumah sakit. Dia sama sekali tidak mengetuk pintu itu terlebih dahulu.
Direktur yang sedang duduk di kursinya kaget saat melihat Bram yang sudah membuka pintu ruangannya.
"Eh selamat siang Tuan Bram. Mari silahkan masuk, silahkan duduk Tuan Bram" ujar direktur rumah sakit berujar dengan ramah kepada Bram.
Bram masuk dan langsung duduk di sofa ruangan direktur tanpa menjawab pertanyaan direktur satupun. Direktur yang melihat gaya Bram menjadi paham kalau Bram sedang marah sekarang ini.
"Bisa panggilkan dokter Heru?" ujar Bram dengan nada suara yang datar dan mengintimidasi siapapun yang mendengarnya.
"Bisa Tuan. Sebentar akan saya hubungi. Tapi kalau boleh saya bertanya ada keperluan apa Tuan Bram mau bertemu dengan dokter Heru. Apa ada yang sakit?" tanya direktur rumah sakit kepada Bram dengan sedikit gelisah. Semua itu terlihat dari gestur dan nada suara dari direktur.
"Bukan urusan Anda. Nanti saat dokter Heru berada di sini, Anda akan tau sendiri apa yang akan saya bahas dengan dokter Heru" ujar Bram dengan nada seperti tadi. Nada bicara yang akan membuat siapa saja menjadi terdiam dan tak bergeming sedikitpun.
Direktur rumah sakit, kemudian. Menghubungi dokter Heru.
"Hallo dokter Heru, bisa keruangan saya sebentar" tanya direktur rumah sakit.
"Maaf direktur saya jam tiga mau operasi. Jadi sekarang saya sedang menunggu dokter Vian untuk membahasnya" ujar dokter Heru menolak untuk bertemu dengan direktur rumah sakit.
Bram menatap tajam ke arah direktur rumah sakit. Dia sana sekali tidak menerima penolakan dari siapapun.
"Dokter Heru, saya akan membahas masalah yang sangat penting. Jadi, saya mohon untuk dokter Heru datang menemui saya." ujar direktur rumah sakit.
"Baiklah direktur, saya akan keruangan Anda sekarang" ujar dokter Heru yang mendengar kalau apa yang akan dibicarakan dengan direktur rumah sakit adalah suatu hal yang sangat penting.
Dokter Heru menuju ruangan dokter Vian. Dia melihat pintu ruangan terbuka sedikit.
"dokter Vian, Saya keruangan direktur rumah sakit dulu. Nanti kita akan berdialog ya" ujar dokter Heru dengan menampilkan gestur tubuh yang membuat Vian ingin muntah saja.
Vian hanya mengangguk saja menjawab perkataan dokter Heru. Dia benar benar menyesal telah menerima telpon dari dokter Heru dan menerima ajakan untuk melakukan operasi.
Setelah berbicara dengan Vian, dokter Heru menuju ruangan direktur. dokter Heru bersiul sepanjang jalan menuju ruangan direktur. Dia sangat bahagia karena akan melakukan operasi bersama dokter Vian. Dokter Heru berencana untuk menunjukkan kepintarannya kepada dokter Vian saat melakukan operasi. Dokter Heru ingin membuat dokter Vian kagum kepada dirinya.
Tok tok tok, dokter Heru mengetuk pintu ruangan direktur rumah sakit.
"Masuk" ujar direktur rumah sakit dari tempat dia duduk sekarang. Direktur rumah sakit berpikir keras, apa yang telah dilakukan dokter Heru kepada pemilik rumah sakit itu, sehingga membuat pemilik rumah sakit sampai datang ke rumah sakit.
Dokter Heru masuk ke dalam ruangan direktur.
"Selamat siang direktur. Apa yang akan kita bicarakan?" tanya dokter Heru tanpa menganggap ada Bram yang duduk di sofa sambil menyilangkan kakinya.
"Bukan direktur yang ada urusan dengan Anda dokter Heru. Tapi saya yang memiliki urusan dengan Anda" ujar Bram sambil tetap duduk santai bersandar ke sandaran sofa dan menyilangkan kakinya. Nada suara Bram bernada mengintimidasi dan mengandung kemarahan yang luar biasa.
Dokter Heru menatap Bram dengan begitu lama. Dia merasa tidak pernah berurusan dengan pria ini.
'Rasanya nggak pernah bikin masalah dengan dia, kenapa tiba tiba orang ingin mengatakan ada perlu dengan dia. Kenal aja dia nggak' ujar dokter Heru berdialog di dalam dirinya.
"Silahkan duduk dulu dokter Heru. Jangan berdiri terus." ujar Bram sambil melihat sofa yang kosong.
"Tapi saya ada operasi nanti direktur" ujar Heru kepada direktur.
"Masih lama dokter Heru. Masih satu jam lagi. Saya tidak akan lama berbicara dengan Anda. Saya juga bukan tipe manusia yang suka berdialog dengan orang yang nggak saya kenal" ujar Bram kepada dokter Heru.
Bram menatap tajam ke arah dokter Heru. Saat melihat mata Bram yang berkilat marah, dokter Heru sadar, kalau orang yang di depannya ini bukan orang sembarangan. Tambah lagi, direktur rumah sakit hanya diam saja mendengar apa yang dikatakan oleh Bram kepada dokter Heru.
Dokter Heru kemudian duduk di depan Bram. Dokter Heru bisa merasakan intimidasi Bram dalam ruangan itu.
"Dokter Heru langsung saja ke inti masalah. Kalau Anda masih ingin tetap berkarier sebagai dokter, maka jangan pernah menggoda kakak ipar saya lagi" ujar Bram dengan nada tajam dan penuh dengan tekad.
"Kakak ipar Tuan? Maksud Tuan, saya tidak mengerti sama sekali" ujar dokter Heru.
"Baiklah saya akan memperjelas. Anda, saya larang mendekati, menggoda dan berusaha merayu atau menarik perhatian dokter Vian. Karena dia adalah kakak ipar saya. Anda paham dokter Heru?" tanya Bram sambil menatap tajam dokter Heru.
"Kalau saya tidak mau bagaimana?" tantang dokter Heru.
"Kalau Anda saya pecat rumah sakit mana yang akan Anda tuju selanjutnya untuk bekerja?" tanya Bram kepada dokter Heru.
"Rumah sakit sehat selalu" jawab dokter Heru mencoba peruntungannya di hadapan Bram. Dokter Heru sampai sekarang belum tau siapa Bram.
Bram kemudian mengeluarkan ponsel miliknya. Dia menghubungi pemilik rumah sakit sehat selalu. Bram mengaktifkan loudspeaker ponselnya. Dia ingin dokter heru mendengar percakapan antara Bram dengan pemilik rumah sakit sehat selalu.
"Hallo Tuan Bram dari rumah sakit Harapan Kita. Ada apa Tuan Bram? Suatu kehormatan bisa di telpon dari salah satu pemilik rumah sakit terbesar di negara ini" ujar pemilik rumah sakit sehat selalu yang merupakan sahabat terbaik Bram.
"Loe bayak bacot bro. Gue mau mecat dokter bedah rumah sakit gue. Katanya kalau dia gue pecat dia akan masuk ke rumah sakit elo atau rumah sakit loe yang lainnya" ujar Bram kepada sahabatnya itu.
"Hahahahahaha. Gue tau kenapa loe mecat dia. Pasti dia berusaha menggoda dokter yang sudah berumah tangga kan ya? Sorry bro, sepintar apapun tu dokter gue nggak butuh. Gue butuh dokter yang beretika. Gue yakin saat semua pemilik rumah sakit tau kalau dia di pecat oleh pemilik rumah sakit harapan kita, maka sudah bisa dipastikan orang itu tidak memiliki etika." ujar pemilik rumah sakit sehat selalu yang bernama dokter Hendri.
"Hahahahahaha. Gue juga bisa pastikan hal itu bro. Kecuali dia bikin rumah sakit sendiri" jawab Bram lagi.
"Oke bro, makasi atas waktunya yang sudah gue gaduh. Kapan kapan kita kopdar dengan semua pemilik rumah sakit. Kita kumpul kumpul lagi" ujar Bram.
"Siap bro atur aja. Gue juga pengen cerita banyak sama loe" ujar dokter Hendri.
Bram kemudian memutuskan panggilab telpon itu. Panggilan yang cukup membuat nyali dokter Heru yang tadi berada di atas angin langsung terhempas ke bawah bumi.
"Bagaimana dokter? Piliha Anda ada dua. Satu jangan pernah tebar pesona ke kakak ipar saya. Kedua Anda saya pecat dan peluang untuk bekerja di rumah sakit lain sangat kecil. Kedua duanya terserah Anda." ujar Bram dengan tatapan tajamnya.
"Tapi kalau Anda mau dengar saran saya. Anda ganteng keren pintar dokter lagi. Ngapain ganggu istri orang, mending cari yang gadis. Anda yakin kalau skandal Anda terbuka lebar, pasien akan datang ke Anda lagi?" tanya Bram memberikan nasehat dan masukan kepada dokter Heru.
Dokter Heru mencerna apa yang dikatakan oleh Bram. Semua yang dikatakan Bram memang benar, kenapa dia harus repot repot mengganggu istri orang, toh yang gadis juga banyak di rumah sakit ini. Cantik cantik juga.
"Maafkan saya Tuan Bram. Saya telah salah mencoba mengganggu dokter Vian. Anda benar, tidak seharusnya saya mengganggu istri orang. Tolong sampaikan maaf saya kepada suami dokter Vian." ujar dokter Heru dengan nada memohon.
"Oh gampang. Bentar" ujar Bram.
Bram menghubungi Jero yang sedang berbincang dengan Felix dan Jeri. Jero yang melihat Bram menghubungi ponsel miliknya, mengangkat panggilan itu.
"Hallo Bram, ada apa?" tanya Jero saat Bram mengangkat panggilan dari dirinya.
"Ada yang mau ngomong bang" ujar Bram.
"Oke" jawab Jero yang sudah tau siapa yang akan berbicara dengan dirinya.
"Hallo Tuan, maafkan saya karena sudah berani merayu istri Tuan. Saya berjanji untuk tidak melakukannya lagi Tuan" ujar dokter Heru dengan nada gemetar.
"Oke sip. Mana Bram?" ujar Jero yang meminta berbicara dengan Bram lagi.
"Hallo Bang" ujar Bram.
"Kerja loe keren. Sekarang loe tungguin Vian operasi. Gue akan kesana bentar lagi" ujar Jero memerintahkan Bram untuk menuju ruangan operasi.
"Oke big boss" ujar Bram sambil tersenyum.
Jero memutuskan panggilannya dengan Bram. Dia melanjutkan obrolan ringan nya dengan Felix dan Jeri.
"dokter Heru semuanya sudah jelas. Silahkan menuju ruangan operasi." ujar Bram kepada dokter Heru.
"Permisi Tuan" ujar dokter Heru kepada Bram dan direktur rumah sakit.
Bram mengangguk, hal yang sama juga dilakukan oleh direktur rumah sakit. Dokter Heru berjalan dengan perasaan sedikit lega karena permasalahan antara dia dengan pemilik rumah sakit sudah selesai.
"Baik direktur, saya pamit dulu. Saya akan ke ruangan operasi menunggui kakak ipar saya" ujar Bram.
Bram berjabat tangan dengan direktur itu. Direktur yang juga sekaligus sahabat baik Felix.
"Bukannya dokter Vian istri Juan Aleksander. Kenapa menjadi kakak ipar Bram dan Felix? Pusing gue mikirnya. Terserah mereka ajalah, gue nggak ikut ikut." ujar direktur rumah sakit yang pusing dari tadi menyimak perkataan antara Bram dan dokter Heru.
Bram berjalan menuju ruangan operasi. Dia akan bergantian dengan Jero di sana nantinya. Beberapa pengawal terlihat berada di sekitaran ruangan operasi dengan menyamar menjadi orang dalam rumah sakit dan keluarga pasien.
Beberapa dari mereka menganggukkan kepalanya kepada Bram. Bram membalas dengan menganggukkan kepalanya juga