
"Iya nanti saat pulang aku telpon. Kamu hati hati di mansion. Jangan katakan hal hal yang tidak penting." Ujar Jero memberikan pesan kepada Vian.
Vian kemudian memutuskan panggilan telponnya dengan Jero. Vian kemudian berbaring di ranjangnya, dia mengeluarkan ponsel miliknya dan langsung bermain game online untuk menghilangkan kejenuhan yang menderanya saat ini.
Mata Vian sudah mulai tidak bisa diajak kompromi lagi, Vian kemudian langsung berdiri dari ranjang besar miliknya itu. Vian tidak ingin nanti ketiduran, Vian masih memiliki rasa segan terhadap kedua mertuanya walaupun mereka benar benar telah menempatkan Vian di dalam neraka dengan bingkai pernikahan.
Vian meraih handuknya, dia kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Vian membersihkan dirinya terlebih dahulu. Vian sangat yakin sebentar lagi pintu kamarnya akan diketuk dari luar, karena jadwal makan malam yang hanya tinggal satu jam lagi.
Vian mandi dengan sangat cepat, dia tidak mau terlambat untuk makan malam bersama dengan mertuanya. Selesai mandi, Vian kemudian memakai pakaian terbaiknya yang lain. Setelah itu, Vian merias wajahnya dengan riasan tipis.
"Fhoto kirim ke Jero ah." ujar Vian sambil tersenyum memikirkan ide jahilnya itu.
Vian kemudian berdiri di depan cermin. Dia mengambil fhoto selfi dirinya. Vian tersenyum cantik menghadap ke kamera ponsel miliknya.
Vian kemudian mengirim fhoto selfi nya ke ponsel Jero. Jero yang sedang bercengkrama dengan Felix dan Bram membuka pesan chat yang masuk ke dalam ponsel miliknya.
"Anak ini ada ada aja ulahnya" kata Jero saat melihat apa yang dikirim oleh Vian.
"Ada apa?" tanya Felix yang mulai kepo dengan apa yang ditertawakan Jero saat melihat ponsel miliknya.
"Kepo loe." ujar Jero sambil menoyor pundak Felix.
"Sekali sekali nggak masalah kepo." Felix membela dirinya.
Jero kemudian memperlihatkan sekilas apa yang ingin dilihat oleh Felix dan Bram.
"Hah, masih sempat dia ngirim pesan ke elo. Emang bener lah tu anak. Bukannya ada mertuanya di mansion?" ujar Felix yang nggak habis pikir kenapa Vian masih bisa mengirim pesan chat kepada Jero.
"Ada, dia di kamar. Dia malas mendengar keributan nggak penting keluarga Aleksander" Jawab Jero.
Mereka kemudian kembali berdiskusi masalah masalah yang terjadi di perusahaan. Dan tentang kapal Perusahaan Aleksander yang masih di tahan pihak imigrasi negara H.
"Felix gue butuh dana dua milyard, kapan bisa loe sediain?" tanya Jero kepada Felix.
Felix yang mendengar apa yang dikatakan oleh Jero menganga tidak percaya. Jero meminta uang sebanyak dua milyard.
"Kenapa loe?" tanya Jero, saat melihat Felix menganga nggak jelas.
"Kenapa, untuk apa sama loe uang dua milyard?" tanya Felix memastikan untuk apa yang dua milyar bagi Jero.
Jero kemudian menceritakan kepada Felix dan Bram, apa yang diceritakan oleh Vian kepada dia. Jero tidak ada menutupi cerita sedikitpun dari kedua adik angkatnya tersebut.
"Gila, itu orang tua atau bukan. Masak sama anak itung itungan. Ngomong anak punya utang dua milyard. Gila bener" ujar Bram yang selalu memiliki sifat gamblang mengekspresikan apa yang dirasakan oleh dirinya.
"Terus kapan mau dibayar?" tanya Felix yang akan mengambilkan uang sebanyak yang diminta oleh Jero.
"Tidak sekarang. Vian sebentar lagi akan melanjutkan kuliahnya, jadi saat itu saja. Sesudah Vian pergi, kamu pergi menemui Tuan Bramantya tolong bayarkan uang tersebut. Tapi buat perjanjian dengan dia, kalau dia tidak akan meminta haknya sebagai orangtua kepada Vian." ujar Jero.
Felix mengangguk.
"Kemana Vian melanjutkan studi Bang?" ujar Bram yang akhirnya berkata kata juga.
"Berarti abang juga akan pergi ke sana?" tanya Bram lebih lanjut.
"Yup. Gue akan menemani dia di sana. Lagian gue juga kangen dengan yang ada di sana." kata Jero sambil menatap jauh ke depan seperti menembus bermil mil jarak untuk bertemu dengan yang dikatakan oleh Jero.
Mereka bertiga kemudian melanjutkan pembicaraan dengan hal hal yang membahas masalah bisnis. Jero hanya mendengarkan apa saja yang dilaporkan oleh Felix dan Bram. Mereka berdua secara bergiliran melaporkan apa saja yang telah mereka kerjakan dan akan mereka kerjakan.
Sedangkan di mansion keluarga Alexsander, semua anggota keluarga sudah duduk di kursi meja makan. Mereka makan malam dalam suasana tegang.
'Makan malam horor' ujar Vian dalam hatinya.
Vian semakin menundukkan wajahnya. Dia sama sekali malas mengangkat wajahnya karena suasana yang sangat tegang tersebut. Suasana seperti karet gelang yang siap akan putus.
Setelah makan mereka semua menuju ruang keluarga. Ada beberapa hal yang harus dikatakan Papi kepada Juan dan Vian.
"Juan, ada yang mau Papi katakan kepada kamu. Papi tidak ingin masalah wanita ini kembali terulang. Papi masih yakin, orang yang mengirimkan semua fhoto fhoto ini pasti masih menyimpan file aslinya. Jangan sampai file tersebut tersebar di media massa. Bisa hancur semua bisnis kita Juan" kata Papi dengan nada cemas yang tidak bisa ditutup tutupi nya lagi.
"Maafkan Juan Papi. Tapi, Juan sungguh tidak tau siapa yang telah mengambil fhoto itu." ujar Juan yang memang tidak tau.
"Gimana kamu bisa tau Juan. Kamu sudah mabok pe**n makanya kamu sampai tau." ujar Mami yang sekarang menjawab pertanyaan Juan.
"Apa mungkin diantara kedua wanita itu ada suruhan lawan bisnis kita Papi?" tanya Juan kembi.
"Bisa jadi. Tapi, kita lihat dulu beberapa hari ini, kalau ada ancaman ke perusahaan, baru kita bertindak. Tetapi kalau tidak ada makanan biarkan saja." kata Papi kemudian.
"Vian, Papi tanya sama kamu, apa kamu benci dengan suami kamu?" kali ini arah pertanyaan berubah kepada Vian.
"Vian tidak benci Papi. Vian cuma kecewa saja" ujar Vian. 'Gue senang malahan dia jalan dengan para wanita itu. Gue jadi aman' ujar Vian dalam hatinya.
"Juan jangan ulangi lagi. Istri kamu wanita baik baik Juan" ujar Papi kepada Juan.
Juan mengangguk.
Mereka kemudian melanjutkan obrolan ringan, hanya sebatas obrolan keluarga tanpa adanya obrolan bisnis. Vian sudah bosan setengah mati. Ingin rasanya Vian pura pura mengantuk, tetapi dia masih menjaga sopan santunnya di hadapan mertuanya itu. Akhirnya saat jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Tuan dan Nyonya Alexsander pamit untuk pulang ke mansion mereka.
"Kami pamit dulu Vian. Hati hati di rumah. Kalau pria tidak ada akhlak ini kembali membawa wanita ke mansion, kamu hubungi Papi segera" Ujar Tuan Besar Alexsander yang terlihat enggan menatap wajah Juan Alexsander.
"Baik Papi" jawab Vian.
Vian kemudian bersalaman dengan kedua mertuanya itu. Mereka kemudian berpelukan sesaat. Setelah itu Tuan dan Nyonya Besar Alexsander pulang kembali ke mansion utama Alexsander.
"Hay kau" ujar Juan Alexsander dengan nada emosi memanggil Vian.
"Tenaga saja Tuan. Saya tidak akan mengatakan apapun kepada Tuan Besar. Silahkan Tuan bawa seribu wanita ke rumah ini saya tidak ngaruh." ujar Vian dengan nada tegas.
Setelah itu dia kembali ke kamarnya. Vian langsung mengirim pesan kepada Jero kalau Tuan dan Nyonya Besar Alexsander sudah pulang.
Jero kemudian kembali ke rumah utama. Ponsel mereka tetap terhubung, walaupun Vian sudah tertidur karena besok dia ada operasi pagi.