My Affair

My Affair
Pembicaraan Ruangan VVIP Sebelah



Sekarang Vian harus percaya dengan semuanya, Vian tidak ingin meragukan apa yang dikatakan oleh Jeri dan Tama tentang bagaimana seorang Jero dalam mengambil sebuah keputusan yang tidak hanya menyangkut dirinya saja melainkan juga menyangkut kedua adiknya yang sangat berharga bagi Jero. Jero tidak akan pernah menaruh kedua adiknya dalam sebuah hal yang bisa membuat adik adiknya itu menjadi dalam posisi yang membahayakan. Jero tidak akan pernah bisa melakukan hal sepertu itu. Sehingga Jero akan selalu menajaga keamanan kedua adiknya yang memang hanya mereka berdua yang dimiliki oleh Jero di atas dunia ini selain Vian yang sebentar lagi akan diresmikan oleh Jero sebagai istrinya. Vian tidak boleh ceroboh dalam mengambil sikap, Vian belajar dari apa yang dilakukan oleh Jero pada saat Jero. Vian harus belajar banyak kepada Jero, supaya Vian bisa mengimbangi Jero dalam melakukan dan mengambil keputuan yang dirasa Vian akan sangat berat sebelum Vian mencobanya berkali kali. Vian harus bisa seperti Jero yang melakukan semuanya dengan perhitungan yang sangat cermat sekali. Vian, Jeri, Tama, Greta dan semua pengawal melihat dan menatap ke arah ruangan VVIP yang berada di depan mereka.


Sebenarnya tidak bisa dipungkiri oleh siapapun, Jeri, Tama dan Greta sebenarnya sangat cemas dengan keadaan jero, Felix dan Bram yang masuk ke dalam seseorang yang bisnisnya memang besar, tetapi dikendalikan oleh seseorang yang sama sekali tidak bermutu, sehingga membuat perusahaan yang sedang maju majunya itu menjadi sedikit meredup dari pada biasanya.


Jero sengaja duduk menghadap ke arah ruangan VVIP sebelah, dia ingin melihat Vian yang sekarang sedang dududk di ruangan VVIP sebelah ruangan tempat Jero akan mengobrol sebentar dengan Tuan besar Alexsander. Sesaat mata Vian dan Jero bertemu, Jero mengangguk memberitahukan kepada Vian kalau dirinya dalam keadaan baik baik saja saat ini, Vian tidak perlu cemas berlebihan seperti yang dilakukan oleh Vian pada saat ini. Vian menatap lurus ke arah Jero, dia sama sekali tidak mau melepaskan matanya dari pria tampan itu. Pria yang selalu mengisi hari harinya yang mulai sepi karena pernikahan yang mendatangkan musibah bagi Vian, pada akhirnya musibah itu bisa hilang saat Vian bertemu dengan kekasihnya yang sekarang. Siapa lagi kalau Bukan Jero sang pangeran berkuda putih yang menyelamatkan Vian dari kekejaman seorang pangeran dan ratu.


'Dipikir pikir cerita hidup gue sama banget dengan cerita kehidupan para putri putri yang ada di dalam dongeng, sangat riskan sekali hidup gue ini' ujar Vian yang memang sangat hafal bagaimana jalan hidup yang dilaluinya sangat berliku liku dan terjal yang kadang membuat Vian menjadi ingin mengakhiri saja hidupnya.


'Apa yang kamu pikirkan di sana sayang. Aku baik baik saja.' bunyi pesan chat yang dikirimkan oleh Jero kepada Vian yang dari tadi tidak habis habisnya menatap kearah Jero yang berada di balik kaca ruangan itu.


Vian membaca pesan chat yang masuk ke dalam ponsel miliknya. Dai benar benar menunggu balasan pesan chat darinya itu. Vian benar benar terlihat uring uringan karena berada tidak seruangan dengan Jero.


'Cepat selesaikan. Aku capek, badannya pegal pegal' balas Vian yang sengaja mengatakan kepada Jero kalau dia tidak enak badan.


'Oke kasih waktu tiga puluh menit ya sayang' balas Jero yang meminta waktu sekitar tiga puluh menit lagi untuk menyelesaikan obrolannya dengan tuan besar Alexsander yang sama sekali belum masuk ke dalam inti permasalahan yang memang harus mereka selesaikan hari ini.


'Oke tiga puluh menit, kalau tidak tinggal.' ujar Vian mencoba peruntungannya dengan mengancam Jero.


'Nggak bakalan bisa ninggalin aku kamu sayang, kamu itu sangat cinta sama aku' balas pesan chat yang dikirim oleh Jero kepada Vian


'Ye lah' balas Vian yang tidak tahu lagi harus membalas pesan chat seperti apa kepada Jero.


Jero benar benar mempermainkan perasaan Vian.


'Tiga puluh menit sayang' balas Vian selanjutnya mengingatkan kepada Jero kalau dia mengizinkan Jero bercerita dengan Tuan besar Alexsander hanya tiga puluh menit saja tidak kurang dan tidak berlebih.


'Makasi sayang' balas Jero kepada Vian.


Jero paham kalau Vian sebenarnya sangat cemas dengan dirinya yang duduk di dalam sarang harimau itu. Tetapi Jero berusaha meyakinkan Vian kalau dirinya pasti akan baik baik saja, karena Jero memang sudah memperhitungkan segalanya dengan sangat perhatian. Jero sama sekali tidak ingin membuat kesalahan apapun.


"Kemana Jeri dan Tama?" ujar Vian yang sama sekali tidak melihat Jeri dan Tama berada di dekat Greta.


'Mereka sedang membrifing para pengawal. Sepertinya Jeri sedang serius mengawal Jero dan kedua adiknya. Jeri tidak mau sesuatu yang buruk menimpa Jero, Felix dan Bram" lanjut Greta menjawab dimana keberadaan Jeri dan Tama pada saat ini.


"Gimana Vian, apa Jero, Felix dan Bram akan kembali ke sini secepatnya?" ujar Greta kembali bertanya hal yang sama kepada Vian.


"Kata Jero, dia minta waktu ke gue tiga puluh menit untuk bisa mengobrol dengan Tuan besar Alexsander" ujar Vian mengatakan kepada Greta apa jawaban yang diberikan oleh Jero kepada Vian.


"Oh Oke, semoga tidak terjadi apa apa di sana" ujar Greta yang sebenarnya sangat cemas dengan keadaan sahabat dan kedua adih sahabatnya itu.


"Yup, kita hanya bisa menunggu mereka untuk balik ke sini dan menceritakan apa yang terjadi sebenarnya di tempat mereka duduk duduk itu" ujar Vian yang sebenarnya sudah tidak tahan untuk tidak bertemu dengan Jero.


Vian dan Greta kemudian mengobrol dengan hangat. Mereka mengobrolkan kalau mereka akan bekerja di Rumah Sakit Harapan Kita sesuai dengan keputusan mereka saat mereka berdua saling berbagi cerita di dalam kamar kereta api yang mengantarkan Jero, Vian, Felix, Bram, Tama, Jeri dan Greta ke negara F.


Saat Vian dan Greta mengobrol dengan sangat asik. Tiba tiba Jeri, dan Tama sudah berada di dekat Vian dan Greta kembali.


"Apa hasilnya, Bang?" ujar Vian bertanya kepada Jeri.


Vian benar benar tidak sabaran lagi mendengar apa yang terjadi di ruang VVIP sebelah ruangan yang sekarang digunakan oleh Tuan besar Alexsander, Jero, Felix dan Bram duduk untuk saling berbagi cerita.


"Hasil apa Vian? Seharusnya kami yang tanya ke kamu apa hasilnya kamu melakukan pesan chat dengan Jero" uajr Jeri yang balik bertanya kepada Vian apa yang dibahas oleh Vian dan Jero tadi


"Kata Bang Jero kalau mereka akan mengobrol selama tiga puluh menit. Kalau dalam tiga puluh menit itu masih belum juga selesai mengobrol, maka Jero harus menghentikan percakapan" uajr Vian menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Jeri kepada dirinya


"Keren" ujar Jeri saat mendengar apa yang dikatakan oleh Vian sebentar ini


Vian, jeri, Greta dan Tama kemudian melanjutkan obrolan mereka dan menatap ke arah ruangan VVIP sebelah dimana di sana sedang duduk tiga orang yang sangat berarti bagi mereka semua. Mereka berdoa semoga Jero, Felix dan Bram dalam keadaan baik baik saja saat pulang selesai mengobrol dengan Tuan besar Alexsander, kalau tidak maka tuan besar Alexsander akan melihat murka dari mereka semua, karena telah dengan berani membuat masalah dengan keluarga Asander.