
Tuan besar Alexander berjalan berkeliling kamar yang kali ini baru berani tuan besar untuk masuk dan melihat keadaan di dalam kamar tersebut. Kamar yang bisa dikatakan menyimpan berjuta kenangan untuk dirinya dan keluarga besarnya. Kamar yang menyimpan semua kenangan antara Tuan besar Alexsander dengan Mommy dan juga Jero yang hanya sampai berusia empat tahun saja. Kenangan kenangan yang selalu menghantui tuan besar Alexsander semenjak kembali dari pulau kelapa. Sebuah pulau yang juga mengingatkan tuan besar Alexsander akan istri tercintanya yang meminta dirinya membeli pulau itu dan menanam semua pulau dengan tumbuhan kelapa.
Tuan besar Alexander menghidupkan kembali sebuah lampu yang tepat berada di bawah sebuah fhoto yang tergantung di dinding kamar tersebut. Fhoto dengan ukuran yang besar. Figura emas membingkai fhoto itu. Fhoto yang terlihat sangat mewah.
Tuan besar Alexander melihat fhoto yang tergantung tersebut. Sebuah fhoto wanita hamil yang sedang memegang perutnya dengan seorang pria yang memeluk dari belakang. Pria itu adalah Tuan Alexsander sendiri. Tuan Alexsander terlihat tersenyum bahagia saat memeluk istrinya dari belakang.
"Sayang, seandainya waktu itu aku tidak tergoda dengan wanita iblis itu, tentu kita akan hidup bahagia sayang" ujar Tuan besar Aleksander sambil mengusap fhoto hamil istrinya. Tampa disadari oleh Tuan besar Alexsander, air matanya jatuh membasahi pipi saat dia menyentuh fhoto itu.
Fhoto maternyty yang di ambil adalah saat Mommy mengandung Jero. Saat itu usia kandungan Mommy adalah masuk usia tujuh bulan, tetapi karena kehamilan Mommy yang besar membuat perut mommy seperti sudah mengandung selama sembilan bulan.
"Walaupun saat itu kita tidak punya harta yang melimpah, tapi kamu selalu setia bersama aku sayang" lanjut Tuan besar Aleksander.
"Aku benar benar bahagia pada saat itu. Saat itu adalah saat saat yang paling bahagia di dalam hidup aku sayang"
"Tetapi sekarang, semuanya hanya tinggal kenangan yang hanya bisa aku kenang tanpa bisa aku berbuat apa apa"
"Hanya penyesalan yang tersisa dalam kehidupan aku sayang" ucap Tuan Aleksander sambil mengusap fhoto istrinya.
"Aku sudah memberikan penderitaan kepada kamu dan anak kebanggaan kita."
"Aku sudah nggak tau lagi harus berbuat apa, aku benar benar bersalah kepada kamu dan anak kita" lanjut Tuan besar Aleksander meratap di depan fhoto istrinya itu.
Setelah puas menatap fhoto wanita cantik yang tidak hanya cantik wajahnya tetapi juga hatinya itu, Tuan besar Aleksander kemudian melangkah ke fhoto yang lain yang ada di ruangan tersebut. Sebuah fhoto dirinya, istrinya dan juga anak lak laki usia empat tahun. Fhoto keluarga terakhir yang bisa didokumentasikan, karena setelah itu penolakan penolakan diberikan oleh Jero saat Tuan besar Aleksander meminta untuk mendokumentasikan fhoto keluarga mereka.
"Daddy tau kamu sangat kecewa dengan sikap daddy. Daddy berharap kita bisa bertemu di luar sana." ujar Tuan besar Aleksander.
"Daddy juga yakin kalau kita bertemu tampa disengaja di luar sana, pasti daddy tidak akan mengenali kamu. Tapi daddy sangat yakin kamu pasti sangat mengenal wajah yang telah menorehkan luka di hati kau dan juga mommy" lanjut Tuan besar Aleksander sangat paham dengan apa yang terjadi dengan Jero, putra pertamanya itu.
Tuan besar Aleksander terus saja berbincang dengan fhoto keluarganya. Tepat satu jam, alarm ponsel Tuan besar Aleksander mengingatkan Tuan besar itu untuk bertemu dengan istri kedua dan anaknya.
Tuan besar Aleksander melangkahkan kakinya dengan tanpa semangat menuju ruang kerjanya, tempat dimana dia akan bertemu dengan dua orang yang ternyata sama sekali tidak bersikap seperti yang seharusnya. Tuan besar Aleksander sangat kesal dengan mereka berdua saat ini.
"Suruh mereka masuk Hen" ujar Tuan besar Alexsander kepada asistennya itu.
Asistin mengangguk, Tuan besar Alexsander kemudian melangkahkan kakinya menuju ruang kerja. Sedangkan Asisten berjalan menuju pintu utama mansion untuk membukakan nyonya besar dan tuan muda Alexsander pintu utama mansion.
"Kelapa lama sekali. Satu jam. Apa yang kamu lakukan di dalam ha!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!" ujar Nyonya besar Alexsander berteriak di depan asisten yang sudah siap dengan kapas kecil di telinganya.
"Maaf Nyonya, tadi saya dan Tuan besar ada meeting sehingga tidak mendengar bel yang di tekan Nyonya dan Tuan muda" jawab asisten yang sama sekali tidak merasa telinganya berdenging karena mendengar teriakan yang dilakukan oleh Nyonya besarnya itu.
"Alasan." jawab Mami yang langsung main masuk saja ke dalam mansion besar itu.
"Maaf Nyonya, Nyonya sudah ditunggu Tuan besar di ruang kerja." ujar asisten memberitahukan kepada Mami kalau Mami sudah harus masuk ke dalam ruang kerja.
"Tuan muda juga sudah ditunggu tuan besar di ruang kerjanya" lanjut asisten memberitahukan kepada Juan kalau dia juga sudah ditunggu oleh tuan besar Alexsander di ruang kerja.
"Kenapa tidak di ruang keluarga saja?" ujar Juan Alexsander bertanya kepada asisten
"Saya tidak tahu Tuan muda. Saya hanya menyampaikan pesan dari Tuan besar saja" jawab asisten yang ditanya oleh Juan tentang alasan Tuan besar mengajak pertemuan itu dilakukan di ruang kerjanya saja.
"Katakan kepada suami saya, saya istrinya tidak mau menemui dia di ruang kerja" ujar Nyonya besar sambil kemali duduk di sofa ruang tamu.
"Maaf Nyonya besar. Itu sudah perintah langsung dari Tuan besar. Nyonya besar tidak boleh menolak perintah dari Tuan besar" ujar asisten memberitahukan kepada Nyonya besar dan mengingatkan Nyonya besar kalau itu semua adalah pesan dan perintah yang diberikan oleh tuan besar kepada mereka, sehingga Juan Alexsander dan Nyonya besar Alexsander tidak bisa menolak keinginan tersebut
Nyonya besar mendengar apa yang dikatakan oleh asisten kepada dirinya. Tetapi yang namanya Nyonya besar sama sekali tidak mau mengalah dengan apa yang dikatakan oleh asisten kepada dirinya. DIa masih tetap duduk dengan nyaman di sofa ruang tamu itu.
"Nyoya besar tolong jangan semakin mempersulit keadaan yang sudah sulit" ujar asisten meminta Nyonya besar Alexsander untuk bersikap kooperatif dengan perintah yang diberikan oleh Tuan besar Alexsander.
"Jadi menurut kamu saya kurang kooperatif begitu?" ujar Nyonya besar Alexsander berkata sambil langsung berdiri dari posisi duduknya.
Asisten sama sekali tidak takut dengan apa yang dilakukan oleh nyonya besar itu kepada dirinya.
"Tahan diri Anda Nyonya, sebelum saya melakukan sesuatu yang tidak pantas saya lakukan kepada Nyonya" ujar asisten dengan nada dinginnya.
Juan melihat kalau asisten serius dengan apa yang diucapkan oleh dirinya. Juan berjalan ke arah Nyonya besar.
"Mami, juan mohon jangan semakin mempersulit keadaan." ujar Juan mencegah Mami melakukan sesuatu yang di luar batas dan nalar.
"Kenapa kamu melarang Mami, Juan? Biarkan saja. Mami akan buat perhitungan dengan pelayan ini" ujar Mami mengatakan asisten dengan kata pelayan.
Asisten tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Nyonya besar Alexsander itu.
"Sekalinya pelayan akan tetap menjadi pelayan Nyonya" jawab asisten yang sangat tahu bagaimana busuk perlakuan seorang Nyonya besar Alexsander terhadap Nyonya besar Alexsander yang pertama.
Asisten kemudian memberikan senyum tipisnya kepada Nyonya besar Alexsander. Nyonya besar hanya bisa mundur saja. Nyonya besar Alexsander tidak ingin Juan Alexsander mengetahui apa yang telah dilakukan oleh dirinya untuk mendapatkan semua kemegahan ini.
"Ayo juan kita langsung ke ruang kerja saja" ujar Nyonya besar Alexsander yang langsung berubah sikapnya
Juan terheran heran dengan apa yang terjadi. Juan tidak mengetahui apa apa, sehingga dia hanya menurut saja apa yang dikatakan oleh Maminya itu