
Peperangan antara dia keluarga akan dimulai. Kali ini bidak yang akan turun adalah mereka bertiga. Mereka tidak akan memakai bidak yang lainnya. Jero dan kedua adiknya akan memberikan balasan yang setimpal kepada keluarga Aleksander itu.
"saatnya beraksi" ujar mereka kompak dalam kamar masing masing sambil mengepalkan tangan mereka.
"mommy bentar lagi ya mommy" ujar mereka. masih dengan kekompakan.
Tiga saudara itu sudah membulatkan tekadnya untuk melakukan pembalasan terhadap keluarga Aleksander yang telah dengan sengaja melakukan tindakan kekerasan kepada Jero.
Jero mengambil fhoto Mommy yang selalu berada di bawah bantalnya. Dia memandang fhoto tersebut dengan cukup lama. Fhoto orang yang telah melahirkannya kedunia, fhoto seorang wanita yang disiasiakan oleh seorang laki laki yang memilih untuk menikah kembali dan menjalin hidup dengan pelayan di mansion besar mereka. Fhoto seorang wanita yang melakukan perjuangan yang sangat ektra untuk membesarkan dia dan kedua adik angkatnya.
"Mommy, kami tidak akan menyia nyiakan perjuangan Mommy selama ini. Kami akan tunjukkan kepada mereka kalau kami bisa bertahan hidup tanpa bantuan mereka sama sekali. Kami bisa lebih dari mereka." ujar Jero dengan nada dingin dan terbersit secarik dendam yang memuncak di kepala dirinya.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Felix dan Bram di kamar mereka. Mereka berdua sama sama melihat fhoto mommy yang mereka peluk erat bertiga.
"Mommy, kami akan membalaskan semuanya kepada mereka dengan kontan Mommy. Kami tidak akan menyia-nyiakan perjuangan Mommy membesarkan kami" ujar Bram yang paling dekat dengan Mommy menjelang Mommy meninggalkan mereka selama lamanya.
"Mommy, mereka akan menerima balasannya" ujar Felix hanya dalam satu kalimat saja.
Jero, Felix dan Bram kemudian meletakkan kembali fhoto Mommy mereka ke bawah bantal. Bagi mereka Mommy memang telah pergi, tetapi jiwa Mommy masih berada di dalam diri mereka saat ini.
Mereka bertiga kemudian beristirahat. Besok pagi mereka akan kembali bekerja seperti biasa.
Pagi hari sarapan sudah disiapkan oleh Vian dan Bik Ima. Koki yang biasanya masak dan menyiapkan sarapan hanya bisa duduk tenang saja. Arena pertempuran mereka sudah dikuasai oleh Vina dan Bik Ima yang terlihat sibuk di dapur.
Para koki hanya melihat saja apa yang dimasak oleh dua wanita itu. Mereka sama sekali tidak bisa mendekat. Sedangkan para maid yang lain sudah sibuk bekerja sesuai dengan pekerjaan mereka sendiri sendiri.
Jero yang sudah selesai memakai pakaian kerjanya keluar dari kamar. Felix dan Bram yang juga sudah selesai bersiap siap juga ikut keluar dari kamar. Mereka bertiga bisa sama sama keluar dari kamar saat makan karena sudah menyepakati jam makan mereka, pada jam berapa saja.
Jero, Felix dan Bram berjalan ke lantai dasar mansion besar itu. Padahal di mansion mewah tersebut terdapat lift untuk memudahkan mereka berpindah lantai.
"Bang Felix, kenapa para koki, terlihat santai santai saja. Siapa yang menyiapkan sarapan untuk kita? Nggak mungkin kan kita nyiapin sendiri?" ujar Bram bertanya kepada Felix saat melihat para koki hanya duduk duduk santai saja di meja mini bar.
Sedangkan Jero tidak ada komentar sama sekali, saat Bram mengomentari perihal koki yang duduk duduk santai saja.
Jero, Bram dan Felix berjalan menuju meja makan. Terlihat di sana sudah terhidang berbagai menu sarapan. Jero, Felix dan Bram kemudian duduk di kursi mereka masing masing, kemudian menyusul Jeri dan Pak Hans.
"Nasi uduk?" ujar Jero melihat menu sarapan yang terhidang di atas meja.
Menu sarapan kali ini adalah nasi uduk lengkap dengan segala unsur unsur pendukungnya.
"Gue tau siapa yang masak ini Bang" ujar Bram membuka percakapan di meja makan.
"Siapa?" ujar Jeri menatap Bram.
"Bik Ima lah siapa lagi, nggak mungkin koki internasional itu masak ini. Mereka bisanya masak makanan barat." ujar Bram yang terlihat senang bisa makan nasi uduk untuk sarapan pagi mereka.
Bik Ima yang datang dari arah kamarnya langsung duduk di sebelah Pak Hans suaminya.
"Maaf Tuan Bram. Bukan Bik Ima yang memasak semua ini. Bik Ima cuma jadi tukang cuci cuci saja. Kalau nggak percaya boleh tanya koki" ujar Bik Ima menjawab perkataan dari Bram yang mengatakan kalau Bik Ima lah yang memasak nasi uduk.
"Nah jadi siapa yang masak. Nggak mungkin hantukan ya?" ujar Bram lagi.
"Ngeri mau makannya. Padahal lezat sepertinya. Apalagi ayam kecap nya itu. Huft" ujar Bram yang dari tadi sudah mengkhayal akan makan nasi uduk dengan ayam kecap, orek tempe dan kerupuk udang.
Vian mendengar apa yang dikatakan oleh Bram. Dia geleng geleng kepala mendengar semua yang diucapkan oleh Bram. Vian berjalan ke arah Bram.
"Hay anak kecil. Ini hantu yang masak nasi uduk itu" ujar Vian sambil memukul pelan kepala Bran dengan telapak tangannya.
"Main pukul aja kakak ipar. Aku nggak percaya kalau kakak ipar yang memasak semua masakan ini" ujar Bram yang memang tidak percaya kalau Vian yang memasak semua sarapan yang terlihat banyak jenisnya itu.
Vian duduk di sebelah Jero, Felix bergeser satu kursi, biasanya kursi yang diduduki Vian itu adalah kursi yang biasa diduduki oleh Felix. Vian memberikan senyuman selamat pagi kepada Jero.
"Kamu juga nggak percaya kalau aku yang masak semua ini sayang?" ujar Vian bertanya kepada Jero, sambil menatap Jero dan mengedip ngedipkan matanya dengan genit
Bram melihat kelakuan absurd Vian. Dia nggak menyangka seorang yang dikenalnya pertama bisa bersikap seperti ini.
"Kakak ipar kelilipan?" tanya Bram sambil melihat ke arah Vian.
"Ya kelilipan tatapan maut Abang Jero, Bram" jawab Vian dengan sengaja semakin membuat kesal Bram yang mendengar.
"Huft. Males dengernya" jawab Bram lagi.
"Ini udah bisa dinikmati atau belum sayang?" tanya Jero kepada Vian.
"Bisalah sayang. Mari kita makan" ujar Vian mengajak semua anggota keluarga untuk sarapan bersama.
Vian mengambilkan nasi uduk lengkap dengan lauknya untuk Jero. Setelah itu Bik Ima mengambilkan untuk Felix, Bram, Pak Hans dan Jeri.
"Felix, pimpin doa" ujar Jero meminta Felix untuk memimpin doa akan mulai makan.
Felix kemudian memimpin doa. Mereka kemudian menyantap sarapan nasi uduk yang dibuat oleh Vian pagi tadi.
Vian menatap wajah semua orang satu persatu. Vian ingin melihat bagaimana reaksi mereka saat makan nasi uduk hasil masakan dirinya.
Bram yang tau apa yang dilakukan oleh Vian, langsung memasang wajah tidak suka dengan rasa masakan Vian. Vian membesarkan matanya kearah Bram.
Jero yang melihat apa yang dilakukan antara Vian dengan Bram hanya bisa geleng geleng kepala saja.
"Sayang, jangan lawan dia. Masalah nggak akan selesai kalau kamu selalu lawan dia sayang. Jadi biarkan aja." ujar Jero memperingatkan Vian agar tidak melawan apa yang dilakukan oleh Bram.
Vian menuruti apa yang dikatakan oleh Jero. Dia sama sekali tidak melawan Bram lagi. Vian melanjutkan makan sarapannya.
Setelah mereka selesai sarapan. Jero menggenggam tangan Vian. Mereka semua berjalan menuju pintu utama mansion.
"Jero, loe ke perusahaan Bram?" tanya Jero kepada Jeri yang terlihat sudah bersiap siap untuk pergi.
"Yup. Gue masih utang janji ke dia" jawab Jeri yang memang sudah berjanji kepada Bram, akan mengajari Bram aplikasi lanjutan hari ini.
"Oh sip. Loe hari ini mau kemana Bang?" tanya Felix yang berharap Jero akan mengatakan ke perusahaan Asander.
"Rumah sakit, udah lama gue nggak buka ruangan milik gue" ujar Jero menjawab pertanyaan dari Felix.
"Kirain mau ke Asander Bang" ujar Felix dengan nada lemah.
Jero mendengar nada bicara Felix.
"Oke, Abang akan ke Asander. Tapi antar Vian ke rumah sakit dulu" ujar Jero yang bisa menyimpulkan kalau Felix membutuhkan dirinya di perusahaan.
"Loe ikutin dari belakang Felix. Jadi nanti, Pak Hans akan menemani Vian di rumah sakit. Abang, numpang sama kamu menuju perusahaan" ujar Jero memberitahukan rencananya kepada Felix.
Mereka kemudian masuk ke dalam tiga mobil berbeda. Satu mobil berisi Bram dan Jero yang akan menuju perusahaan JFB Grub. Mobil nomor dua diisi oleh Felix yang akan langsung menuju Asander Grub. Sedangkan mobil terakhir yang dikemudikan oleh Pak Hans berisi Jero dan Vian.
Ketiga mobil mewah itu bergerak meninggalkan mansion utama Asander. Mansion yang sangat dan jauh lebih besar dari pada Mansion keluarga Aleksander. Para pengawal di sepanjang jalan menuju gerbang utama menunduk setiap ketiga mobil itu lewat. Vian menggeleng tidak percaya melihat apa yang terpampang di depannya saat ini.
"Kenapa lagi, sampe harus geleng geleng seperti itu?" tanya Jero kepada Vian yang menggeleng geleng saat melihat para pengawal menunduk kepada mobil yang mereka tumpangi.
"Sayang, aku nggak tau sekarang sedang menjalin hubungan dengan siapa. Aku jadi pusing sendiri" ujar Vian mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya hari ini.
"Nona Vian, satu yang pasti. Orang yang menjalin hubungan dengan Nona saat ini adalah orang yang sangat baik dan pantas untuk Nona" ujar Pak Hans menjawab pernyataan dari Vian.
"Serius Nona. Tuan Jero jauh lebih baik dan berbeda dari dia" jawab Pak Hans meyakinkan Vian dengan ucapannya tadi.
"Nah loh Pak Hans aja bisa tau gimana Jero. Masak aku yang katanya nih ya, wanita yang paling dicintainya setelah Mommy, tidak tahu menahu tentang dia. Kan aneh Pak Hans. Bener nggak Pak Hans?" ujar Vian yang meminta dukungan dari Pak Hans.
"Hahahahahaha. Kalau masalah yang itu saya nggak bisa komen Nona. Tapi satu yang jelas, Nona tidak akan tersakiti lagi kalau bersama dengan Tuan Jero" kata Pak Hans yang tidak mau menjawab mendukung atau tidak apa yang dikatakan oleh Vian tadi.
Vian kemudian terdiam, dia sama sekali tidak bisa memancing Pak Hans untuk menjawab perkataan dari dirinya. Dia sebenarnya berharap Pak Hans mendukung dan memberikan bocoran kepada dirinya siapa Jero sebenarnya.
Vian kemudian menatap Jero lama. Jero tersenyum, dia tau Vian pasti penasaran dengan kehidupan Jero sebelumnya. Tapi, Jero sengaja untuk tidak mengatakan siapa dia sebenarnya kepada Vian. Jero ingin mengatakan setelah status Vian menjadi jelas kalau dia memang sudah bercerai dengan Juan Aleksander.
Mobil masuk ke dalam gerbang rumah sakit Harapan Kita. Pak Hans memberhentikan mobil di lobby rumah sakit. Jero dan Vian kemudian turun dari dalam mobil. Vian terlihat ingin menggandeng tangan Jero.
"Sayang, jangan. Mereka taunya kamu istri Juan. Nanti kamu juga yang repot sayang, kalau ada gosip yang menyebar" Ujar Jero mengingatkan Vian untuk tidak menggandeng tangannya.
"Hehehehe. Lupa serasa udah jadi janda aja" uajr Vian sambil tersenyum kepada Jero.
"Pengen jadi janda?" ujar Jero bertanya kepada Vian.
"Pengen banget. Kalau bisa cepat aja jadi jandanya, nggak nunggu lama lama" ujar Vian menjawab pertanyaan dari Jero.
"Hahahahahaha. Mana bisa jadi janda cepat cepat kalau surat nggak diurus. Ada ada aja kamu sayang" ujar Jero kepada Vian.
"Urus besok yuk" jawab Vian dengan sangat antusias untuk mengurus surat cerainya dengan Juan Aleksander.
"Nanti bahas." ujar Jero.
Mereka ternyata sudah berada di depan ruangan Vian. Terlihat dua orang pengawal sudah berdiri di depan pintu ruangan Vian. Mereka menunduk saat melihat Jero dan Vian.
"Siapa sayang?" tanya Vian berbisik karena ada beberapa suster berada di dekat mereka saat ini.
"Kalian berdua masuk ke ruangan Vian" Jero memberikan perintah kepada kedua pengawal yang berdiri berjaga di depan pintu ruangan Jero.
Mereka berempat kemudian masuk ke dalam ruangan Vian. Vian duduk di kursi kerjanya. Sedangkan Jero berdiri di samping Vian.
"Siapa mereka sayang?" tanya Vian kepada Jero sambil menunjuk kedua pengawal yang tadi berdiri di depan pintu ruangannya.
"Oh. Mereka pengawal baru untuk kamu sayang. Nama mereka, perkenalan sendiri saja lah" ujar Jero yang akhirnya memilih pengawal untuk memperkenalkan diri mereka sendiri.
"Nama saya Hendri, Nona" ujar salah satu pengawal.
"Saya, Erik, Nona" ujar yang satu lagi.
"Oh Oke. Hendri" ujar Vian menunjuk ke arah Hendri.
"Erik" ujar Vian menunjuj ke arah Erik.
"Oke kalian sudah dijelaskan oleh Bram bukan, apa yang harus kalian kerjakan?" tanya Jero kepada dua pengawal baru Vian itu.
"Sudah Tuan. Tuan Bram sudah menjelaskan kepada kami, apa yang harus kami lakukan dan yang tidak kami lakukan" ujar Hendri menjawab perkataan dari Jero.
"Oke sip. Berarti aman. Silahkan keluar" ujar Jero kepada kedua pengawal itu.
Jero kemudian memutar ke samping kursi Vian. Dia memegang tangan Vian, dan menggenggam tangan kekasihnya itu.
"Aku mulai sekarang nggak bisa terus ada di depan pintu itu lagi. Perang ini akan dimulai. Kamu jangan pernah hilang dari penglihatan semua pengawal yang ada di sini" ujar Jero memberitahukan sedikit clue kepada Vian.
"Perang? Perang apa sayang?" ujar Vian yang tidak mengerti dengan maksud perkataan dari Jero.
"Intinya ini adalah dendam lama sayang. Dendam yang harus di tuntaskan. Suatu saat aku akan menjelaskan kepada kamu, apa maksudnya. Tapi bukan di negara ini. Kita akan terbang ke suatu negara" ujar Jero kepada Vian.
"Negara E?" ujar Vian menebak negara mana yang dimaksud oleh Jero.
"yup benar, negara E. Aku sudah tahu kamu pasti penasaran banget sayang. Tetapi, aku tidak akan menceritakan semuanya kepada kamu saat ini. Jadi, aku minta kamu untuk sabar ya." ujar Jero menenangkan kembali Vian.
"Sip sayang, aku akan sabar. Oh ya, besok aku mau bayar uang kuliah. Bisa temani ke bank?" ujar Vian memberitahukan rencananya esok hari.
"Kenapa ke bank? ATM kan ada sayang?" ujar Jero yang nggak paham Vian mau ngapain ke bank.
"Sayang, uang aku nggak cukup untuk membayar uang pertama masuknya. Makanya aku berencana untuk mengajukan peminjaman ke bank" kata Vian sambil menunduk malu. Keinginannya yang sangat besar untuk melanjutkan studinya membuat dia harus mengajukan peminjaman ke bank.
Jero mengangkat dagu Vian dengan jari jarinya yang panjang panjang.
"Tidak ada pinjam ke bank sayang." kata Jero yang melarang Vian untuk melakukan peminjaman ke bank.
"Kenapa sayang? Pakai apa mau aku bayar, kalau aku tidak melakukan peminjaman ke bank?" ujar Vian bertanya kepada Jero.
"Sayang, sebelumnya aku minta maaf. Tapi bayar lah pakai ini" ujar Jero sambil meletakkan sebuah black card di telapak tangan Vian.
"Tapi sayang" ujar Vian yang nggak mau menerima ATM dari Jero.
"Nggak ada tapi tapian. Terima, tidak ada kata tapi tapian" ujar Jero dengan nada yang nggak bisa di bantah oleh Vian lagi.
"Makasi. Cup" Vian mengecup sekilas bibir Jero.
Jero tersenyum bahagia. Dia mengecup puncak kepala Vian.
"Pinnya?" tanya Vian.
"Enam angka belakang ponsel aku" ujar Jero memberitahukan PIN dari ATM yang diberikan kepada Vian.
"Oke sip. Makasi sekali lagi sayang" ujar Vian kembali mengatakan hal yang sama
"Iya sayangku cintaku manisku. Ingat satu hal, pergi kemana mana bawa mereka. Ada dengar Vian?" ujar Jero menatap Vian.
"iya sayang iya. Tenang aja. Aku nggak akan pergi sendirian" jawab Vian menenangkan ketakutan yang menghantui Jero.
"Pegang janji ya sayang. Aku pergi dulu. Makan siang aku ke sini lagi" ujar Jero berjanji akan makan siang bersama dengan Vian.
"Sip. Bawa makanan dari restoran Asander sayang. Sup kemaren enak banget" ujar Vian mengatakan makanan apa yang mau dimakannya nanti siang.
"sip" ujar Jero.
Jero kemudian menutup pintu ruangan Vian.
"dampingi terus" ujar Jero kepada kedua pengawal.
"siap Tuan" jawab pengawal kompak.
Jero kemudian kembali ke lobby rumah sakit. Dia menjadi tatapan para suster dan dokter yang tidak mengetahui siapa Jero sebenarnya.
Jero kemudian masuk ke dalam mobil yang telah menunggunya dari tadi.
"Lama banget Bang perpisahannya" ujar Felix yang lancang berbicara dengan Jero kalau tidak ada orang lain di antara mereka.
"Pamitan dulu" ujar Jero menjawab perkataan Felix.
Mobil meluncur menuju perusahaan Asander. Felix mengemudikan mobil dalam kecepatan biasa. Dia sama sekali tidak menggeber laju mobil mereka.