My Affair

My Affair
BAB 37



Jero melajukan mobilnya menuju ke arah mansion Juan Aleksander kembali. Dia akan membeli nasi goreng gerobakan yang dibuat oleh anak buahnya yang diminta berjualan di dekat mansion tersebut. Jero akhirnya sampai juga di warung nasi goreng gerobakan itu. Jero memarkir mobilnya di depan penjual nasi goreng.


Jero kemudian turun dari dalam mobil. Dia langsung menuju anak buahnya tersebut.


"Bikin dua porsi nasi goreng dan satu porsi Mei goreng" ujar Jero menyebutkan pesanannya kepada anak buahnya yang biasanya bekerja di restoran milik Jero. Tetapi karena diminta untuk melakukan pengintaian mansion, makanya dia menjadi penjual nasi goreng pinggir jalan dan jualannya luar biasa laris manis. Walaupun harga lebih mahal dibandingkan dengan penjual nasi goreng gerobakan yang lain.


"Apa informasi yang loe dapat hari ini?" tanya Jero kepada penjual nasi goreng saat pembeli sudah tidak ada lagi.


"Juan Aleksander baru pergi ke perusahaannya sebentar ini Tuan" ujar anak buah Jero memberikan informasi yang di dapat olehnya.


"Selama loe jualan di sini, apa pernah Juan Aleksander makan di sini?" lanjut Jero bertanya.


"Pernah Tuan. Waktu malam sebelum Tuan Aleksander datang dengan Nyonya. Malam waktu dia tidur dengan dua wanita itu, Juan Aleksander sempat makan nasi goreng di sini" ujar anak buah Jero.


"Saat dia mabuk atau sebelum dia pergi ke club?" tanya Jero selanjutnya.


"Sebelum dia ke club Tuan" ujar anak buah Jero memberikan jawaban yang diinginkan oleh Jero.


"Oh. Apa dia sempat berbicara sesuatu?" tanya Jero kembali.


"Tidak Tuan. Dia hanya diam saja. Saya kadang berpikir kata orang orang bisnis negara ini dia pintar, menurut saya dia bodoh Tuan" ujar anak buah Jero.


"Kenapa?" Jero penasaran dengan analisa anak buahnya itu.


"Kalau dia memang pintar Tuan. Dia tidak akan pernah membawa dua wanita ke kamarnya. Dia akan membawa ke hotel atau apartemen. Karena dia bodoh maka dia melakukan hal itu" ujar anak buah Jero.


Jero hanya tersenyum saja mendengar apa yang dikatakan oleh anak buahnya yang ada benarnya itu.


"Yang pinter dalam dunia bisnis bukan dia. Tetapi anak buahnya" ujar Jero memberikan jawaban kepada anak buahnya yang telah selesai memasak pesanan Jero.


"Ini Tuan" ujar anak buah Jero memberikan pesanan Jero tadi.


"Dua nasi goreng dan satu mie goreng" ujar anak buah Jero menyebutkan kembali apa apa saja pesanan Jero.


Jero menerima pesanannya, dia menaruh uang di atas gerobak anak buahnya itu.


"Tuan apa ini?" ujar anak buahnya menolak uang yang diberikan oleh Jero.


"Udah Terima aja. Emang loe bikin semua ini tanpa modal" ujar Jero sambil mengangkat bungkusannya.


Anak buahnya hanya tersenyum saja. Itulah kelebihan Jero, Felix dan Bram, mereka tidak mau membuat rugi anak buahnya. Apapun yang mereka makan akan langsung mereka bayar. Mereka tidak mau makan gratis saja.


Jero kemudian masuk ke dalam mobilnya. Dia kemudian menghidupkan mobilnya dan melajukan mobil itu menuju rumah sakit kembali. Jero tidak mau Vian menunggu dirinya terlalu lama. Malahan Jero berharap Vian masih di dalam ruangan operasi. Jadi, dia tidak datang terlambat karena mengobrol terlebih dahulu dengan anak buahnya itu.


Setelah mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Jero akhirnya sampai juga di rumah sakit. Dia langsung menuju ruangan operasi dan masih melihat nama Vian sebagai salah satu dokter yang ada di dalam ruangan operasi. Jero kemudian menunggu Vian di depan ruangan. Dia dengan sabar menanti Vian. Nasi goreng yang dipegangnya masih dalam keadaan panas.


Jero menunggu tidak lama hanya sepuluh menit. Vian yang ternyata suda selesai melakukan tindakan operasi keluar ruangan. Ia melihat Jero sudah berada di kursi tunggu. Vian tersenyum saat melihat bungkusan yang dibawa oleh Jero.


"Hay, udah dari tadi?" tanya Vian sambil berdiri di depan Jero.


"Sudah siap?" tanya Jero kembali kepada Vian.


"Udah. Yuk kita keruangan. Aku lapar banget" ujar Vian sambil mengusap perutnya yang memang dalam keadaan kelaperan.


"Emang malam tadi tidak makan?" tanya Jero sambil melirik Vian yang berjalan kali ini di sebelahnua sesuai dengan keinginan Vian.


"Makan sih tapi dikit. Makanannya sebenarnya enak. Tapi menjadi hambar saat melihat keluarga Alexsander itu" ujar Vian yang memang hanya makan sedikit tadi malam. Selera makan Vian mendadak lenyap karena harus makan satu meja dengan orang orang yang sangat tidak disukainya.


"Udah jangan dipikirin lagi. Sekarang nasi goreng gerobakan yang kamu minta udah ada. Bonus mie goreng satu porsi. Harus dihabiskan ya, jangan sampai tidak" ujar Jero sambil mengangkat bungkusan pesanan Vian ke depan wajah Vian.


"Tenang aja pasti habis. Apalagi aku capek habis operasi. Aku yakin itu makanan akan berpindah dengan cepat ke dalam perut aku" ujar Vian nyerocos sepanjang jalan menuju ruangannya.


Akhirnya mereka sampai juga di depan ruangan Vian. Vian mencari cari kunci ruangannya di dlam tas kerjanya. Setelah mendapatkan kunci ruangannya Vian membuka pintu ruangan, mereka berdua kemudian masuk ke dalam ruangan Vian.


Vian kemudian menuju tempat pembuatan minuman. Vian membuat dua cangkir teh dan mengambil dua gelas air minum. Sedangkan Jero mengambil piring dan sendok. Setelah itu, Jero membuka bungkusan nasi goreng dan meletakkan di atas piring yang telah diambilnya tadi.


Jero dan Vian kemudian menikmati nasi goreng gerobakan yang dibeli oleh Jero sesuai dengan permintaan Vian tadi. Jero dan Vian makan dalam keadaan hening, mereka berdua bener bener serius menyantap nasi goreng yang ternyata memang sangat luar biasa enaknya itu.


"Sayang, aku tau kamu kemana membeli nasi goreng ini" ujar Vian saat mereka telah selesai menyantap nasi goreng itu.


"Dimana?" tanya Jero kepada Vian.


"Di dekat mansion" jawab Vian dengan pasti.


"Kok tau?" ujar Jero yang kaget Vian bisa tahu dimana dia memberi nasi goreng gerobakan berdasarkan dari rasanya saja.


"Aku pernah beli beberapa kali di situ. Emang rasanya enak banget dan murah" ujar Vian menyebutkan alasan kenapa dia bisa sampai tahu dimana Jero membeli nasi goreng gerobakan itu.


"Kenapa nggak nyuruh aku aja pergi beli?" ujar Jero kepada Vian dengan nada sedikit marah karena mengetahui Vian keluar dari mansion sambil jalan kaki.


"Sayang aku belum selesai ceritanya. Iya kali aku keluar mansion nggak ngomong sama kamu, terus jalan kaki pulak. Mana ada" ujar Vian menjawab kemarahan Jero tersebut.


"Terus siapa yang beli?" tanya Jero yang sudah sedikit melunak.


"Bik Ina lah. Siapa lagi. Nggak mungkin aku yang pergi" jawab Vian dengan jujur memberitahukan siapa yang dimintanya untuk membeli nasi goreng itu.


"Serius bik Ina, bukan kamu?" tanya Jero menatap mencari kejujuran di mata Vian.


"Serius Bik Ina. Ngapain boong" ujar Vian lagi.


Vian kemudian membereskan meja itu dari sisa sisa makanan mereka. Jero kembali berdiri di depan pintu ruangan Vian. Vian kali ini akan praktek, dia tidak libur.


Jero menunggui Vian sampai selesai jam kerja. Setelah itu mereka berdua pulang kembali menuju mansion. Sepanjang perjalanan pulang Vian tertidur karena letih begitu banyak pasiennya yang datang. Walaupun Vian masih dokter umum, karena ramahnya Vian banyak pasien yang senang berobat dengan dirinya.


Jero kemudian memberhentikan mobil di depan pintu masuk mansion. Vian kemudian turun setelah memberikan senyuman terbaiknya kepada Jero. Jero kemudian memarkir mobil, dan langsung menuju kamarnya untuk beristirahat.


"Huf untung saja Vian nggak nanyak tentang Mommy" ujar Jero sambil melepas nafas berat yang suda ditahannya dari pagi