My Affair

My Affair
Jero Menyesal



Jero kembali mengambil ponsel miliknya. Dia kembali menghubungi Vian, Jero berharap panggilan kali ini diangkat oleh Vian. Tapi sudah berkali kali Jero menghubungi Vian, hasilnya tetap sama. Vian sama sekali tidak mengangkat panggilan dari Jero. Jero semakin dibuat cemas oleh keadaan itu.


"Lebih ngebut." ujar Jero memberi perintah kepada sopir. Sopir lebih dalam menginjak pedal gas mobil sport keluaran terbaru itu. Mobil melaju dengan kencang membelah jalanan ibu kota.


"Kenapa gue bego banget, sampai sampai meninggalkan Vian di rumah sakit sendirian." ujar Jero dengan nada sangat menyesal karena sudah meninggalkan Vian sendirian di rumah sakit.


"Seharusnya gue bawa dia tadi" ujar Jero.


Sopir melihat Jero melalui kaca spion mobil. Sopir baru sekali ini melihat Tuan Mudanya sekesal dan semarah ini. Biasanya Jero marah karena urusan kantor yang tidak selesai. Tetapi kali ini Jero marah kepada dirinya sendiri.


"Tuan muda kenapa ya?" ujar sopir berkata dengan pelan.


Mobil yang melaju dengan kencang itu, berbelok masuk ke parkiran rumah sakit Harapan Kita. Sopir memberhentikan mobil tepat di lobby rumah sakit. Jero turun dengan tergesa gesa tanpa menunggu sopir membukakan pintu mobil untuk dirinya. Setelah turun, Jero tidak kembali menutup pintu mobil.


"Dasar Tuan Muda." ujar sopir yang akhirnya turun juga dari dalam mobil karena harus menutup pintu penumpang bagian belakang yang terbuka lebar.


Jero berjalan cepat menuju ruangan Vian. Dia sama sekali tidak memperdulikan orang orang yang menatap heran kepada dirinya.


"Hallo Tuan Felix." ujar sopir mengangkat panggilan telpon dari Felix.


"Dimana Tuan Jero?" tanya Felix kepada sopir yang mengantarkan Jero.


"Sudah kembali ke rumah sakit Tuan. Sepertinya seseorang yang bernama Vian dalam masalah. Tuan Muda dari tadi terlihat terus menghubungi ponsel Nona Vian." ujar sopir memberitahukan kepada Felix apa yang terjadi dengan Jero.


"Tuan Muda baik baik sajakan?" tanya Felix yang sudah berada di dalam mobilnya.


"Baik Tuan, saat turun tadi baik baik saja. Ntah nanti." jawab sopir yang sudah meninggalkan perkarangan rumah sakit.


"Kamu dimana?" tanya Felix


"Jalan menuju kantor Tuan." jawab sopir.


"Tunggu saya di dekat halte rumah sakit. Saya ada tugas untuk kamu yang harus kamu kerjakan sekarang juga." ujar Felix memberikan perintah kepada sopir tersebut.


"Siap Tuan Felix." jawab sopir.


Felix melajukan mobilnya menuju rumah sakit Harapan Kita. Felix ingin memastikan kondisi Jero. Felix takut Jero bertindak diluar batas kewajaran. Felix menggeber laju mobil sport miliknya.


Jero membuka pintu ruangan kerja Vian dengan begitu keras. Sang pemilik ruangan langsung terbangun saat Jero membuka pintu dengan begitu kerasnya. Vian menatap heran ke arah Jero.


"Kenapa?" tanya Vian yang heran melihat sikap dan tindakan Jero barusan.


"Kamu tidak apa apakan?" tanya Jero sambil memegang kedua pipi Vian.


"Tidak apa apa, aku sehat sehat saja. Tidak ada yang sakit." jawab Vian.


"Kamu kenapa?" tanya Vian yang heran melihat sikap Jero.


"Tadi aku menelpon ke ponsel kamu berkali kali, sampe capek cewek itu menjawab panggilan dari aku, kamu sama sekali tidak mengangkat panggilan telpon dari aku. Makanya aku langsung kembali ke rumah sakit, aku takut terjadi sesuatu kepada kamu. Aku takut akan menyesal karena sudah meninggalkan kamu sendirian di rumah sakit." ujar Jero yang memang terlihat sangat takut dan panik di wajahnya.


"Hay aku tidak apa apa, kamu bisa lihat sendirikan aku dalam kondisi sangat baik, kondisi yang sama saat kamu pergi tadi." ujar Vian sambil merentangkan tangannya lebar lebar dan berdiri dari posisi duduknya.


"Terus kenapa nggak angkat telpon dari aku?" tanya Jero kembali.


"Hahahahahaha, tidak angkat karena aku tadi membaca novel online yang judulnya Kesetiaan Seorang Istri, eeeee kiranya aku ketiduran. Ini baru bangun saat kamu membuka pintu dengan begitu kerasnya." ujar Vian menjawab pertanyaan yang bertubi tubi dari Jero.


"Bener kamu tidak apa apa?" tanya Jero kembali kepada Vian. Jero perlu diyakinkan berkali kali oleh Vian.


"Yup, tidak apa apa" jawab Vian sambil tersenyum dan kembali duduk di sebelah Jero.


"Udah ini wajah biasa aja, jangan tegang gitu." ujar Vian sambil mengusap wajah Jero.


Jero menangkap tangan Vian dan membawanya ke dalam genggaman tangannya.


"Janji ya saat tidak ada aku di sebelah kamu, kamu akan menjaga diri kamu dengan baik." ujar Jero sambil menatap ke dalam mata Vian.


Vian mengangguk.


"Sayang jawab" ujar Jero yang tidak ingin Vian menjawab hanya dengan anggukan kepala saja.


Jero dan Vian kemudian melanjutkan obrolan mereka ke obrolan ringan saja. Mereka hanya bercerita tentang apa yang dilakukan Jero di luar sana tadi saat tidak bersama Vian. Jero terpaksa harus berbohong kepada Vian tentang apa yang dikerjakannya di luar sana tadi.


"Maafkan aku Vian, besok aku pasti akan jujur kepada kamu tentang semua semuanya." ujar Jero dalam hatinya sambil menatap ke dalam mata Vian.


Felix memberhentikan mobilnya di depan halte bis yang ada di sebelah pintu gerbang rumah sakit. Felix melihat mobil yang biasa dipakai Jero sudah parkir di sana. Felix memberhentikan mobilnya tepat di depan mobil sport keluaran terbaru itu. Sopir yang sudah tau siapa pemilik mobil yang berhenti dibelakang mobil yang dia bawa, langsung ke luar dari dalam mobil. Sopir masuk ke dalam mobil tersebut.


"Bram, tolong loe antar amplop ini ke mansion utama keluarga Alexsander. Loe tau kan dimana itu?" tanya Felix menatap Bram. Sopir yang sebenarnya adalah sekretaris Jero. Tetapi Bram lebih suka dikatakan sopir dari pada sekretaris yang luar biasa pintar. Mode Felix dan Bram sudah dalam mode sahabat bukan dalam mode atasan dan bawahan, makanya kata sapaan mereka tukar.


"Tau Felix. Gue sangat hafal mansion itu. Apa boleh gue bermain sejenak di mansion tersebut?" tanya Bram kepada Felix.


"Jangan Bram. Loe taukan bagaimana Jero kalau mengamuk? Apalagi kalau dia sampai tau yang bermain di sana adalah loe. Jadi gue minta, setelah loe mengantarkan amplop ini, loe kembali ke perusahaan. Ada beberapa dokumen yang perlu loe baca. Semua dokumen sudah gue tarok di atas meja loe." ujar Felix memberikan perintah dan larangan kepada Bram.


"Kapan eksekusi itu akan dilakukan Felix? Gue udah nggak sabar." ujar Bram yang memang paling tidak sabaran.


"Sabar Bram. Sekarang loe kirimkan amplop ini ke mansion utama Tuan Alexsander." ujar Felix mengulang perintahnya.


Bram keluar dari dalam mobil Felix. Dia menuju kembali ke mobil yang dibawanya. Felix masuk ke dalam perkarangan rumah sakit. Sedangkan Bram menuju mansion utama Alexsander.


"Apa isinya ya?" ujar Bram yang kepo dengan isi amplop yang dibawanya.


Dia melihat sebuah supermarket. Bram memberhentikan mobilnya di depan supermarket, dia membeli amplop yang mirip dengan amplop yang diberikan oleh Felix. Kedatangan Bram membuat semua pengunjung supermarket menatap Bram dengan penuh kekaguman.


"Gantengnya" ujar salah satu pengunjung


"Keren" ujar yang lain.


Bram sama sekali tidak memperdulikan mereka semua, setelah menyelesaikan transaksinya, Bram kemudian keluar dan kembali masuk ke dalam mobil. Bram melajukan mobil menuju kediaman mansion Tuan Alexsander.


Bram membuka amplop yang sudah di lak oleh Felix. Bram mengeluarkan isi dari dalam ampolop.


"Wow keren" ujar Bram saat melihat apa yang ada di dalam amplop.


"Gue katakan aja kalau ini kiriman dari Juan Alexsander biar semakin asik." ujar Bram yang mendapatkan ide yang briliant saat satpam bertanya amplop itu dari siapa.


Setelah berkendara selama empat puluh lima menit lamanya, karena mansion utama Tuan Alexsander terletak dipinggiran kota.


"Permisi" ujar Bram yang mengetuk perlahan pintu pagar mansion.


Seorang satpam keluar dari dalam posnya.


"Ada apa Tuan?" ujar satpam kepada Bram.


"Ini ada paket Tuan. Tolong serahkan kepada Tuan Alexsander. Katakan kiriman dari Tuan Juan Alexsander." ujar Bram yang sudah melakukan penyamaran. Bram takut satpam masih mengenali dirinya.


Satpam menerima amplop itu dengan tanpa rasa curiga sedikitpun. Bram yang melihat satpam sudah menuju mansion dengan memakai sepeda yang ada di dekat pos, langsung masuk ke dalam mobil. Bram kembali menghubungi Felix untuk melaporkan kalau urusannya sudah selesai. Tetapi Felix sama sekali tidak mengangkat panggilan dari Bram.


Bram yang memang tidak tipe seperti Jero, memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas. Dia kemudian melajukan mobil dalam kecepatan penuh menuju perusahaan. Dia harus mengerjakan semua dokumen yang diletakkan Felix di atas mejanya. Setelah berkendara lebih cepat dari pada saat dia pergi tadi, Bram sampai juga di perusahaan. Dia kemudian menuju lantai tempat ruangannya berada.


Bram mulai membaca dokumen yang diletakkan Felix tadi. Bram membaca dengan serius dan mengoreksi setiap yang menurut Bram ada kesalahan. Saat itulah Felix datang dan langsung duduk dengan murka di kursi sofa yang ada di dekat meja kerja Bram.


"Kenapa loe?" ujar Bram yang kemudian duduk di sebelah Felix.


"Lagi kesal" jawab Felix.


"Why?" ujar Bram yang mulai kepo.


"Kan tadi loe ngomong kalau Jero masuk ke dalam rumah sakit dengan tergesa gesa dan terlihat panik. Eeeee saat gue tiba di ruangan Vian, ternyata mereka berdua sedang tertawa dengan bahagianya." ujar Felix menceritakan apa yang disaksikan dengan mata kepalanya sendiri.


"Terus, kenapa loe kesal? Seharusnya loe bahagia karena Jero baik baik saja" ujar Bram sengaja mengolok olok Felix.


"Serah loe" ujar Felix emosi.


Felix tau Bram mengolok olok dirinya. Makanya Felix lebih memilih pergi dari hadapan Bram. Bram kembali melanjutkan pekerjaannnya yang sempat tertunda.


Sedangkan Jero dan Vian, mereka berdua sudah berada di dalam mobil untuk kembali ke mansion Alexsander. Vian sengaja pulang agak cepat karena dia tidak ingin di maki maki dan mendapat hadiah pisang goreng dari Juan Alexsander kalau Vian pulang terlambat. Jero melajukan mobil dalam kecepatan biasa saja.