My Affair

My Affair
BAB 91



Jero yang ingin mengejutkan Vian yang sedang sibuk memasak sarapan, membatalkan niatnya karena Vian keburu berbalik menghadap ke arah Jero.


"Pasti mau ngejutin aku kan ya sayang?" tanya Vian kepada Jero yang terlihat pura pura sedang meminum air yang tadi diambilnya.


"Nggak ah sayang. Kamu suudzon aja ke aku. Aku cuma mau minum aja. Terus nampak kamu di sini, makanya aku kemari. Belum lagi tumisan bumbu yang membuat perut aku dansa ini sayang" ujar Jero sambil mengambil pisau dari tempatnya dan membantu Vian membuka buah.


Vian yang melihat Jero mau membuka buah, membiarkan saja pria tampan itu bekerja. Vian sama sekali tidak melarang Jero untuk membuka buah buahan tersebut.


"Hati hati tangan ya sayang" ujar Vian kepada Jero.


"Emang anak kecil" jawab Jero sambil memandang ke arah Vian dengan memberengut.


"Haha haha, jangan ngambek sayang. Cup cup cup cup" ujar Vian menggoda kekasihnya itu.


Vian kemudian kembali fokus ke penggorengan yang sedang menumis bumbu untuk tempe orek. Sedangkan Jero fokus untuk membuka buah.


Saat itulah Bram datang dari arah kamar. Bram juga ingin mengambil air minum. Bram merasakan haus di tenggorokannya.


Bram yang melihat Jero sedang di dapur berjalan menuju abangnya yang terlihat sedang serius membuka buah melon.


"Ya elah bang, melon gendut gendut bisa jadi langsing kayak gini sih Bang. Apa yang mau dimakan lagi ini Bang" ujar Bram kaget saat melihat melon yang di kuoas oleh Jero hanya tinggal beberapa mili saja lagi. Sedangkan yang lain terbuang percuma dengan kulit yang dibuka oleh Jero.


Vian yang mendengar apa yang dikatakan oleh Bram, langsung menuju ke arah Jero yang berjarak dekat dengan posisi Vian saat ini.


Mata Vian membulat sempurna dan mulutnya menganga saat melihat apa yang dilakukan oleh Jero terhadap buah melon mahal yang langsung dari negara J itu di pesan kepala urusan rumah tangga.


"Sayang kok jadi langsing langsing gini melon nya. Kamu apain buka kulitnya sayang" ujar Vian sambil geleng geleng kepala melihat hasil akhir melon tersebut


"Kalian berdua lebay banget. Itu keras nggak manis makanya abang tebelin bukanya" ujar Jero yang tidak mau disalahkan oleh Bram dan Vian.


"Emang nggak manis Bram?" tanya Vian kepada Bram.


"Nggak tau kakak ipar. Kita coba aja kulitnya. " ujar Bram mengambil sebuah pisau kecil dan membuka kulit yang tebal dan sudah dibuang oleh Jero.


Vian melakukan hal yang sama dengan Bram. Dia juga mengupas melon tersebut. Vian dan Bram memasukkan ke dalam mulut mereka melon yang sudah dikupas itu.


"Manis pun" ujar Vian dan Bram kompak sambil menatap ke arah Jero yang hanya bisa cengir kuda saat melihat kekasihnya dan juga adik bontot nya itu mencoba melon yang dikupas nya tadi.


"Hehe hehe hehe" ujar Jero yang hanya mampu tertawa dan menggaruk tengguknya yang tidak gatal sama sekali itu.


"Jangan marah ya sayang. Nanti aku ganti dengan satu truk melon" ujar Jero sambil memeluk pinggang Vian.


Bram hanya bisa pasrah saja melihat kemesraan yang ditampilkan oleh Abang dan juga calon kakak iparnya itu.


"Aku nggak marah sayang. Tapi lain kali nggak usah bantu bantu aku masak lagi ya." ujar Vian meminta Jero untuk tidak berbaik hati mau menolong dirinya kembali.


"Waktu di negara I, sayur bayam aku banyak yang kamu buang ke tong sampah dari pada yang akhirnya harus aku masak." ujar Vian mengatakan kali pertama Jero membuat masakannya jadi ya bisa dikatakan hancur karena sayur bayam banyak terbuang dari pada dibuat menjadi sayur.


"Sekarang sayang, melon mahal aku kamu jadikan kurus kayak gini. Banyak terbuang dari pada yang bisa dimakan nanti" ujar Vian sambil melihat hasil jadi dari kupasan buah melon Jero.


"Sayang berhubung aku nggak lulus yang memotong, gimana kalau aku mengaduk saja?" tanya Jero yang sebenarnya cari cari alasan agar selalu berada di dekat Vian.


"Sekarang lebih baik loe duduk di sini, jangan ganggu kakak ipar. Ini udah mau pagi" ujar Bram sambil melihat jam di dinding.


Vian juga melihat ke jam dinding, dia masih memiliki waktu setengah jam lagi untuk bikin mie hun.


Jero kemudian lebih memilih untuk duduk di kursi mini baru dari pada semakin membuat Vian emosi jiwa pagi pagi, karena kelakuan Jero membuka melpn menjadi melin.


"kakak ipar, apa masih lama lagi ya kak?" tanya Bram yang diberikan tanggung jawab untuk mengupas buah setelah Jero gagal melakukannya.


"Apa kamu udah selesai mengupas buah yang tadi tu?" tanya Vina kepada Bram.


"Udah. Ini" ujar Bram memberikan kepada Vian buah yang sudah dipotong potong oleh Bram.


Bram sengaja membanding buah yang diperoleh oleh Bram dan buah yang dipotong oleh Jero


"bagusan mana potongannya kak?" tanya Bram sengaja menanyakan hal itu kepada Vian.


Vian melihat hasil karya dari Jero dan Bram. Vian menatap Jero, Jero hanya tersenyum kepada Vian.


"jelas Bram lah sayang. Jangan bujuk aku dengan senyuman mu yang akan bikin wanita menggelepar itu" ujar Vian kepada Jero sambil memukul lengan Jero dengan lembut.


"Haha haha, jadi wanita lihat senyum aku menggelepar sayang? Perasaan satu-satunya wanita yang melihat senyum aku itu sekarang hanya kamu aja sayang. Yang lain nggak ada" uajr Jero mengatakan hal itu kepada Vian.


Vian menatap tidak percaya saat mendengar jawaban dari Jero.


"Kamu serius sayang?" tanya Vian lagi kepada Jero.


"Serius sayang. Jadi kamu lihat senyum aku menggelepar gitu? Wow keren banget" ujar Jero kepada Vian.


"mana ada sayang, aku bilang kan wanita lain" ujar Vian yang wajahnya sudah bersemu merah.


"Kakak ipar, bukannya tadi abang sudah mengatakan kalau dia hanya tersenyum kepada satu wanita saja yaitu kakak ipar." ujar Bram yang sekarang berbalik berada di posisi Jero.


"Kamu di posisi siapa Bram. Kenapa bolak balik gitu" ujar Vian yang tidak menyangka sekarang Bram sudah di posisi Jero berada.


"Dimana keadilan dan kebenaran itu berada kakak ipar. Di sanalah aku berada" jawab Bram asal ngomong saja.


"Ya ya ya." ujar Vian yang sudah tidak tau lagi harus menjawab apa.


Vian sudah kadung malu karena pernyataannya sendiri. Vian tidak menyangka Jero akan menjawab seperti tadi.


"Makanya kakak ipar ngomong itu jangan ngasal. Jelas jelas Abang aku yang dua itu freezer kalau ketemu wanita. Malah di bilang kalau abang senyum wanita menggelepar" ujar Bram yang sangat senang melihat Vian gugup tak bersuara.


Akhirnya setelah drama menggelepar dan potong buah usai. Vian selesai memasak semua makanan untuk sarapan nanti. Vian dibantu Jero dan Bram menata semua sarapan di atas meja makan.


Maid yang ada di sana hanya bisa melihat saja lagi. Mereka tidak mungkin mengambil atau memaksa untuk mereka saja yang melakukan.


Setelah selesai dengan meja makan, mereka bertiga kembali ke lantai tiga mansion untuk bersih bersih badan dan memakai pakaian kantor. Hari ini semua orang akan ke kantor. Sedangkan Vian belum dapat gambaran mau melakukan apa hari ibu