My Affair

My Affair
BAB 29



Felix tau Bram mengolok olok dirinya. Makanya Felix lebih memilih pergi dari hadapan Bram. Bram kembali melanjutkan pekerjaannnya yang sempat tertunda.


Sedangkan Jero dan Vian, mereka berdua sudah berada di dalam mobil untuk kembali ke mansion Alexsander. Vian sengaja pulang agak cepat karena dia tidak ingin di maki maki dan mendapat hadiah pisang goreng dari Juan Alexsander kalau Vian pulang terlambat. Jero melajukan mobil dalam kecepatan biasa saja.


Mobil berbelok masuk ke dalam perkarangan utama mansion Aleksander. Jero memberhentikan mobil tepat di depan pintu gerbang mansion.


"Aku turun duluan ya." Ujar Vian menatap Jero.


"Kangen nggak?" Tanya Jero kepada Vian.


Vian kembali menutup pintu mobil. Cup. Sebuah kecupan mendarat di pipi Jero. Jero menatap Vian.


"Makasi" Ujar Jero.


"Sama sama sayang" ujar Vian sambil turun dari dalam mobil.


Jero melajukan mobil menuju garasi rumah. Jero memarkir mobil di tempat biasa. Setelah memastikan mobil sudah terparkir rapi, Jero pergi menuju kamarnya.


Dia kemudian mengeluarkan ponsel miliknya. Jero menghubungi Felix yang diminta mengantarkan dokumen dokumen itu ke mansion utama keluarga Alexsander.


"Hallo Felix, gimana dengan dokumen?" ujar Jero saat Felix mengangkat panggilan dari Jero.


"Sudah sampai dengan selamat. Bram yang mengantar." Jawab Felix yang sedang membaca dokumen dokumen penting perusahaan.


"Bram? Apa dia tidak ketahuan satpam?" Ujar Jero saat mendengar siapa yang dikatakan oleh Felix yang mengantarkan dokumen itu ke mansion utama.


"Kayak loe nggak tau dia aja." Ujar Felix menjawab perkataan Jero.


"Tapi belum ada reaksi kan Felix?" Tanya Jero kembali.


"Belum. Sepertinya Tuan Besar tidak ada di rumah. Informan belum memberika kabar apapun." Ujar Felix.


"Baik. Nanti kalau ada kabar, bagi informasi." Ujar Jero.


"Siap" Lanjut Felix.


Jero memutuskan panggilannya dengan Felix. Jero kemudian merebahkan badannya yang terasa lelah setelah seharian bekerja belum lagi luapan emosi saat Vian tidak mengangkat panggilan darinya. Dalam sekejap Jero langsung tertidur. Jero sudah sangat lama sekali tidak menikmati tidur siang.


Sedangkan di mansion utama Tuan Aleksander. Tuan Besar yang baru pulang langsung masuk ke dalam mansion. Tuan besar sudah di tunggu oleh Nyonya besar di teras rumah.


"Capek sayang?" Tanya Nyonya besar Alexsander.


"Lumayan sayang. Tumben kamu ada di rumah sekarang?" Tanya Tuan Alexsander.


"Nggak ada kegiatan di luar sayang. Oh ya sayang, tadi satpam menitipkan dokumen. Katanya dari Juan." Ujar Nyonya besar kepada suaminya.


"Mana?" Ujar Tuan Besar yang penasaran dengan dokumen yang dimaksud oleh istrinya itu.


Nyonya besar mengambilkan dokumen yang tadi di titipkan oleh satpam rumah kepada dirinya. Nyonya besar kemudian memberikan dokumen itu kepada Tuan Alecsander.


"Ini Papi" ujar Nyonya besar sambil memberikan dokumen yang diberikan satpam.


Tuan besar menerima dokumen yang diberikan Nyonya besar.


"Aku mandi dulu. Nanti kita buka setelah aku mandi." Ujar Tuan Alexsander.


Tuan Alexsander masuk ke dalam kamar. Dia kemudian langsung ke kamar mandi. Hari ini rencananya Tuan Alexsander akan mandi dengan memakai shower saja. Dia tidak akan berendam kali ini.


"Dokumen tadi mana dia Mi?" Tanya Tuan Alexsander meminta dokumen yang tadi diberikan oleh Nyonya Alexsander.


Nyonya Alexsander memberikan dokumen yang diminta oleh Tuan Alexsander.


Tuan Alexsander membuka dokumen tersebut. Tuan Alexsander menerima sebuah amplop lagi dalam amplop besar itu. Serta sebuah compeck disk.


"Hidupkan Mi." Ujar tuan besar Alexsander.


Nyonya Alexsander pergi menghidupkan cd yang diterimanya dari Tuan Alexsander.


Nyonya Alexsander duduk di sebelah Tuan Alexsander. Mereka berdua akan menonton cd yang dikirimkan oleh Juan Alexsander.


Tuan dan Nyonya Alexsander menatap kepada televisi yang luar biasa besar itu. Perlahan televisi mulai menampilkan gambar gambar seorang Juan Aleksander sedang mabuk di sebuah bar. Keluar dari bar, Tuan Muda Juan Alexsander di bopong oleh dua orang wanita yang luar biasa seksi.


Dua wanita itu menaikka Juan Alexsander ke atas mobil. Mereka kemudian pergi bertiga. Video kemudian menampilkan Juan Alexsander dan kedua wanita club masuk ke dalam kamar Juan Alexsander. Kemudian video menampilkan permainan yang luar biasa dahsyatnya antara Juan Alexsander dengan kedua wanita club tersebut.


Nyonya Alexsander yang sudah tidak tahan lagi melihat apa yang ditampilkan oleh televisi langsung membuka dokumen yang dikirimkan oleh Juan.


Betapa kagetnya Tuan dan Nyonya Alexsander saat melihat apa isi dokumen yang diberikan oleh Juan tersebut.


"Papi, apa Papi percaya dengan semua ini? " Tanya Nyonya Alexsander kepada istrinya.


"Gimana untuk tidak percaya Mami. Itu video tidak akan bisa di edit. Apalagi ini semuanya sudah jelas. Mereka datang ke mansion utama. Buka hotel. Kalau orang berniat ngejebak, ngapain harus ke rumah utama, mending hotel." Ujar Papi dengan nada yang murka.


Nyonya Alexsander menunduk saat Tuan Alexsander berkata dengan nada tinggi.


"Maaf Mami, bukan maksud Papi membuat Mami tertunduk!! " Ujar Tuan Alexsander yang tau kalau Mami takut saat Tuan Alexsander berkata dengan nada tinggi .


"Tidak apa apa Pi" Ujar Nyonya yang sebenarnya sangat kesal dengan Tuan Alexaander.


Papi meraih kunci mobil miliknya.


"Ikut tidak? " Ujar Tuan Alexsander sambil menatap ke arah Nyonya Alexsander.


"Kemana? " Tanya Nyonya Alexsander.


"Kerumah pria kurang ajar yang hanya bisa buat malu nama keluarga saja." Ujar Tuan Besar Alexsander.


"Aku ikut. Anak itu benar benar keterlaluan. Bisa bisanya dia membawa dua orang wanita untuk tidur di rumah. Mana istrinya ada lagi." Ujar Nyonya Alexsander.


"Sekarang bisa kamu ngomong seperti ini. Kemaren kemaren kemana kamu? Kamu mati matian bela dia." Ujar Tuan Alexsander yang mulai emosi ke Nyonya Alexsander.


"Kemaren aku tidak lihat bukti apapun. Sekarang semua bukti sudah ada. Nggak bisa ngelak lagi." Ujar Nyonya Alexsander.


"Sudah nanti di bahas. Sekarang mari kita ke rumah itu. Aku ingin lihat bagaimana wajah tu anak saat melihat semua bukti yang akan aku lemparkan ke wajahnya." Ujar Tuan besar sambil membawa amplop yang berisi cd dan juga bukti cetak fhoto.


Tuan Besar dan Nyonya besar Alexsander sudah berada di dalam mobil.


"Ke rumah Juan Pak." Ujar Nyonya besar memberitahukan kemana tujuan mereka.


"Baik Nyonya" Jawab sopir.


Mobil melaju menuju rumah Tuan Muda Juan Alexsander. Wajah Tuan Besar Alexsander terlihat mengandung kemarahan yang sama sekali tidak ditutup tutupi nya lagi. Dia terlihat sangat tegang karena emosi melihat kelakuan anak laki lakinya yang akan menjadi penerus kerajaan bisnis Alexsander.