
Mommy sebenarnya sudah bangun sejak subuh tadi. Mommy juga tahu kalau Daddy tadi mencoba membuka pintu penghubung antara kamar utama dengan kamar Jero. Tetapi Mommy sengaja untuk pura pura tidak mendengar bunyi pintu yang berusaha di buka dari dalam kamar utama.
"Rasain aja sendiri. Lebih bela dia dari pada keluarga mau diapain lagi. Ya terserah, perbuat aja apa yang kamu suka. Kamu bosnya, kami cuma numpang" ujar Mommy sambil menatap ke arah pintu penghubung.
Jero masih pulas tertidur. Mommy sama sekali tidak berani membangunkan Jero. Mommy membiarkan saja Jero untuk beristirahat.
"Pengen mandi, tapi kalau ke kamar sekarang pasti dia ada di sana. Tahan ajalah dulu" ujar Mommy sambil kembali berbaring di ranjang sebelah Jero.
Mommy mengambil ponsel miliknya. Dia membuka beberapa pesan chat milik sahabat sahabatnya yang belum sempat di buka mommy dari kemaren kemaren dan belum sempat di balas mommy.
Mommy kemudian melihat CCTV kamar utama. Dia melihat kalau Daddy sudah tidak ada lagi di kamar.
"Sepertinya dia sudah pergi ke kantor" ujar Mommy yang sama sekali tidak melihat keberadaan Daddy lagi di kamar.
Mommy kemudian melihat jam dinding yang tergantung di kamar Jero. Mommy melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi.
"Ya dia sudah pergi. Bisa bersih bersih ini" ujar Mommy
"Sayang, mommy ke kamar dulu ya mau bersih bersih bentar. Kamu mandi sana ya, setelah itu kita akan pergi ke sekolah" ujar Mommy kepada Jero.
"Siap Mommy. Apa makhluk itu sudah pergi ke kantor Mommy?" ujar Jero menanyakan keberadaan Daddy nya.
"Sayang, dia adalah Daddy kamu" ujae Mommy memberikan nasehatnya kepada Jero.
"Ya daddy yang sudah terlalu membuat aku kecewa dengan semua tingkah bodohnya" ujar Jero kepada mommy.
"Sabar sayang" ujar Mommy sambil mengusap kepala Jero
"Haha haha haha Mommy aja yang terus sabar. Jero udah nggak sabar" ujar Jero sambil mengambil handuknya dan berjalan menuju kamar mandi. Jero benar benar muak dengan semuanya.
Mommy hanya bisa geleng geleng kepala melihat kemarahan Jero terhadap daddynya itu. Mommy sama sekali tidak bisa berkata kata lagi. Mommy hanya bisa diam saja lagi. Jero kalau sudah marah akan sangat susah untuk diberi peringatan. Tetapi Jero termasuk ke dalam orang yang sangat susah untuk marah.
Mommy kemudian membuka pintu penghubung, mommy masuk ke dalam kamar utama. Mommy mengambil handuk miliknya, kemudian mommy menuju kamar mandi untuk bersih bersih terlebih dahulu. Mommy nanti akan pergi mengantarkan Jero ke sekolah.
Mommy yang telah selesai mandi dan bersiap siap, kembali menuju kamar Jero. Jero ternyata sudah selesai bersiap siap. Jero sudah memakai pakaian sekolahnya.
"Siap sayang?" tanya Mommy kepada Jero.
"Siap Mommy. Ayo kita jalan" ujar Jero sambil menatap ke arah Mommy.
Jero memegang tangan Mommy nya. Mereka berdua akan menuju sekolah Jero.
"Kita sarapan dulu ya. Bik Ima sudah menyiapkan sarapan untuk kita" ujar ujar Mommy mengajak Jero untuk menikmati sarapan yang telah dibuat oleh Bik Ima tadi pagi.
"Sip mommy mari kita makan. Aku juga sangat lapar" ujar Jero mengajak Mommy untuk sarapan.
"Pak Hans. Pak Hans antar Jero ke sekolah ya." ujar Jero meminta Pak Hans untuk mengantarkan dirinya ke sekolah.
"Loh tapi sama mommy, kok sekarang minta sama Pak Hans" ujae Mommy yang nggak tau kenapa Jero meminta untuk pergi dengan pak Hans ke sekolah.
"Mommy di rumah aja sama Bik Ima. Biar Jero sekolah dengan Pak Hans" ujar Jero kepada Mommy nya itu.
Mommy terlihat berpikir sesaat. Mommy sebenarnya tidak ingin membiarkan Jero untuk pergi dengan Pak Hans. Tetapi Mommy juga tidak tau bagaimana cara melarangnya.
"Ya sudah sayang, kamu ke sekolah di antar sama Pak Hans aja. Biar mommy duduk di mansion sama Bik Ima. Tapi nanti pas pulang kamu beli kue di toko kue biasa ya" ujar Mommy yang menitip pesan kepada Jero untuk membelikan mommy kue saat mau pulang ke mansion.
"Siap Mommy. Nanti akan aku belikan kue di tempat biasa" jawab Jero sambil menatap ke arah Mommy nya itu.
Mommy dan Jero kemudian sarapan bersama. Mommy yang tadinya mau mengantarkan Jero batal karena Jero minta diantar oleh Pak Hans.
"Mommy, Jero sekolah dulu. Dada mommy, jangan banyak pikiran ya" ujae Jero dengan sangat ramah dan penuh perhatian kepada Mommy.
"Hati hati di jalan sayang. Mommy juga akan hati hati di mansion" jawab Mommy membalas lambaian tangan dari Jero.
Pak Hans mengemudikan mobil keluar dari mansion menuju sekolah Jero. Jero sangat suka saat Pak Hans mengantarkannya ke sekolah karena Pak Hans mau menunggu sampai Jero selesai belajar. Sedangkan kalau Mommy, mommy akan kemansion atau bertemu dengan sahabat sahabatnya.
"Nyonya besar" ujar Bik Ima memanggil monny yang terlihat akan menuju ruang keluarga.
"ada apa Bik Ima?"
Mommy menjawab panggilan dari Bik Ima.
"Bisa bicara sebentar Nyonya Besar?" tanya Bik Ima yang sudah tidak tahan lagi ingin menyampaikan keadaan Tuan besar yang tadi pagi ditemui oleh Bik Ima.
"Bisa bik Ima, sini duduk di sini saja. Kita berdua akan bercerita." ujar Mommy mempersilahkan Bik Ima untuk duduk di sebelah dirinya.
Mommy dan Bik Ima duduk berdampingan di sofa ruang tamu. Mereka sama sama terdiam tidak tahu harus mulai dari mana cerita yang akan mereka ceritakan. Bik Ima masih tidak tahu harus mulai dari mana cerita yang akan dikatakannya kepada Mommy.
Mommy masih menunggu Bik Ima untuk memulai ceritanya. Mommy sama sekali tidak mendesak bik Ima untuk memulai menceritakan apa yang akan dikatakannya tadi. Mommy sabar menunggu sampai Bik Ima siap.
"Sebelumnya saya minta maaf Nyonya besar. Saya tidak ada maksud untuk ikut campur dalam urusan rumah tangga Nyonya besar dengan Tuan besar" ujar Bik Ima membuka percakapan dengan Nyonya besar.
"Ada apa Bik Ima? Saya tidak akan marah kepada Bik Ima. Untuk apa saya marah kepada Bik Ima. Katakan saja apa yang ingin Bik Ima katakan. Saya janji saya tidak akan marah kepada Bik Ima. Bahkan saya akan mengucapkan terimakasih kepada Bik Ima" kata Nyonya besar sambil melihat ke arah Bik Ima.
Bik Ima terdiam, dia sangat tahu kalau Nyonya besarnya ini adalah seorang istri yang sangat baik. Tetapi kebaikan dari Nyonya besar disalahgunakan oleh Tua besar dan juga maid yang tidak tahu diri itu.
"Jadi ada apa Bik Ima?" tanya Nyonya besar ya g sudah penasaran ingin mendengar apa yang diketahui oleh Bik Ima tentang kejadian pagi tadi.