My Affair

My Affair
Kepulangan Ke Negara I



"Sayang, bangun sayang, kita sudah sampai di villa" ujar Jero membangunkan Vian yang tertidur saat menempuh perjalanan dari kafe tempat mereka merayakan kemenangan tadi menuju villa yang jaraknya lumayan lama, sehingga Vian sama sekali tidak bisa menahan rasa kantuk di mata indahnya itu.


Vian yang mendengar suara Jero berusaha membuka matanya. Dia melihat ke sekeliling sudah tidak ada lagi Felix dan Bram serte empat orang pengawal yang bisa menjaga mereka.


"Yang lain mana sayang? Apa mereka tinggal? Kok kamu tinggalin mereka? Teganya kamu sayang" ucap Vian.


Vian berkata seperti air kran yang dibuka besar besar, sehingga apapun yang ada di dalam pikirannya langsung saja dikeluarkan oleh Vian. Jero yang mendengar apa yang dikatakan oleh Vian hanya bisa senyam senyum saja mendengar semuanya.


"Kok senyum senyum sayang? Kamu jemput mereka sana" lanjut Vian masih dengan pedenya memberikan perintah kepada Jero.


"Mau jemput kemana sayang merekanya?" balas Jero yang sangat suka mengganggu Vian yang bangun tidur akan selalu labil tidak jelas seperti sekarang ini.


"Ke kafe tadilah masak ke villa. Kita kan udah di villa" jawab Vian sambil memonyongkan bibirnya dengan kesal saat mendengar pertanyaan dari Jero kepada dirinya.


"Sayang sayang, kita ini udah di villa dari dua jam yang lewat. Kamu keenakan tidur sehingga tidak tahu kalau empat orang pengawal kita dan juga Felix serta Bram sudah turun dari tadi. Sekarang mereka pasti sudah enak tidur di kasur empuknya. Kamu aja yang menganggap kursi mobil seempuk kasur" kata Jero menggoda kekasihnya itu


"Kamu kalau udah ngantuk terus tidur mah nganggap semuanya kasur sayang" ujar Jero kembali mengusili Vian


Vian yang udah malu karena tadi marah marah tidak jelas kepada Jero hanya bisa tersenyum manis saja menanggapi semua yang dikatakan oleh Jero kepada dirinya. Bagi Vian kali ini memang kesalahan dia karena dia sudah menuduh Jero yang tidak tidak, jadi kalau Jero sekarang giliran ngeledek dirinya maka Vian dengan senang hati menerima apa yang dikatakan oleh Jero itu.


"Ayuk sayang masuk, aku juga udah ngantuk, mana besok harus bangun sebelum subuh untuk menyiapkan semua barang barang. Kamu siapin barang sendiri ya sayang" ucap Vian yang kali ini meminta Jero untuk menyiapkan sendiri barang barangnya.


"Oke sip tidak masalah" ujar Jero menjawab permintaan yang diajukan oleh Vian kepada dirinya.


Jero tahu kalau keputusan mereka pulang itu sangat mendadak sehingga membuat siapapun belum menyiapkan barang barang mereka. Sehingga siapapun tidak akan bisa membantu siapapun, jadi mau tidak mau Jero harus menyiapkan sendiri semua barang barangnya, karena barang barang milik Vian lebih banyak lagi, Vian siap shoping beberapa hari yang lalu di mall terbesar negara F dan menyediakan semua barang barang dari merk terkenal.


Jero menggenggam tangan Vian, mereka berdua kemudian masuk ke dalam villa yang sudah lengang tersebut. Semua pengawal diizinkan oleh Jero untuk beristirahat. Tidak ada pengawal yang berjaga jaga karena, keadaan di villa sudah sangat aman, apalagi villa itu dilengkapi dengan sinyal yang akan membangunkan semua penghuni villa saat ada orang yang mencoba masuk ke dalam villa.


"Selamat beristirahat sayang" ujar Jero kepada Vian.


Cup. Jero mengecup puncak kepala Vian. Vian tersenyum bahagia. Perlakuan manis Jero hanya bisa terlihat apabila mereka sedang berdua saja atau dengan keluarga kecil mereka. Sedangkan kalau sudah berada di luar maka Jero akan menjadi seorang pria yang protektif, apalagi kalau ada pria yang berusaha dengan nyata mendekati Vian. Maka protektifnya seorang Jero akan menjadi berkali kali lipat dari pada biasanya. Mereka kemudian masuk ke dalam kamar masing masing.


"Mending siapin barang barang sekarang aja, jadi besok pagi nggak perlu bangun cepat cepat" ucap Vian.


"Ya itu lebih baik" lanjut Vian berkata dengan dirinya sendiri.


Vian mengambil koper kosong yang sudah dibeli oleh dirinya kemaren saat mereka semua sedang shoping di mall besar itu. Shoping yang pertama kalinya dilakukan oleh Vian dengan sangat kalap. Vian mengambil apapun yang dianggapnya cantik dan pas dipakai dirinya ke rumah sakit. Vian memang sudah memutuskan untuk kembali bekerja di rumah sakit menjadi dokter di sana kembali. Dokter yang sudah dirindui oleh seluruh pasiennya. Dokter cantik yang terkenal sangat ramah dan tidak kesal saat pasien pasien nya memberikan pertanyaan saat konsul.


Vian mengeluarkan semua belanjaannya dari dalam almari. Vian menaruh belanjaannya di atas ranjang king size tersebut.


"Hah banyaknya belanjaan gue!!!!!!!!!!!!! Gue nggak nyangka kok gue bisa kalap kayak gini ya?????" ujar Vian kembali berkata sendirian di dalam kamar.


Vian menatap ke arah tumpukan semua barang barang belanjaannya itu. Vian menatap tidak percaya kenapa kali ini rasa ingin belanjanya tidak terkontrol. Vian hanya bisa menatap nanar ke arah barang barang yang dibelinya itu. Vian tidak menyangka kalau barang barang tersebut sangat banyak seperti saat sekarang ini


Vian mulai menyusun semua barang barangnya itu ke dalam sebuah koper besar yang telah dibeli oleh dirinya.


"Kopernya juga besar, kayaknya ini bukan kalap tetapi sengaja di kalap kalapin agar koper besarnya penuh" ujar Vian masih berkata sendiri.


Ternyata semua pakaian dan juga barang barang lain yang dibeli Vian di mall tersebut masuk ke dalam satu koper besar. Vian mengambil koper ukuran sedangnya, koper yang dia bawa dari negara E saat mereka akan liburan ke negera F dan negara G (tetapi negara  G batal karena harus kembali pulang ke negara I).


Vian menaruh semua pakaian kotornya ke dalam koper tersebut. Vian sama sekali belum sempat mencuci semua pakaian kotornya selama mereka liburan di negara F. Vian selalu memakai pakaian barunya setiap mau keluar dan beraktifitas. Vian menata semuanya dalam koper. Vian tidak lupa pula memasukkan sendal dan sepatu kotornya ke dalam koper tersebut.


"yes akhirnya selesai juga. Besok pagi tinggal masukin yang dipakai untuk tidur sama semua perlengkapan mandi dan juga skincare" ujar Vian yang bahagia saat melihat semua barang barangnya sudah rapi dan tidak ada yang dirasa oleh Vian dia lupa menyimpan ke dalam koper.


"saatnya tidur" ucap Vian.


Vian naik ke atas ranjang besarnya itu. Dia akan merebahkan kepalanya ke atas bantal yang dari tadi sudah memanggil manggil dirinya. Vian memeluk boneka pemberian dari Jero dari hasil main lempar bola di gamezoon yang ada di mall besar kemaren.


Dalam sekejap rasa kantuk yang memang sudah menyerang Vian membawa Vian langsung ke dalam alam mimpinya.


Sedangkan di depan kamar Vian. Jero masih sibuk memasukkan barang barangnya ke dalam koper sedang miliknua itu. Jero memang tidak belanja apa apa selain belanja pakaian yang akan dipakainya. Makanya barangnya hanya sedikit. Cuma tadi Jero sempat melakukan suatu hal baru dia merapikan pakaiannya.


"akhirnya selesai juga. Udah lama nggak" ujar Jero sambil menepuk kopernya yang sudah rapi.


"saatnya istirahat" kata Jero dengan bahagia.


Jero langsung saja memejamkan matanya. Dia bener bener butuh istirahat yang cukup. Saat sampai di negara I dia akan langsung turun tangan membuat perhitungan dengan orang orang yang telah dengan beraninya berkhianat kepada dirinya dan keluarga besarnya.