
"Aku akan ikut membalaskan dendam Mommy kepada keluarga itu. Aku masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana susahnya kita hidup dulunya. Terlepas dari hubungan darah kita yang tidak ada dengan Mommy, tetapi berkat Mommy kita bisa menjadi seperti sekarang ini." ujar Felix.
"Tapi target gue bukanlah Tuan besar, melainkan istri keduanya yang telah membuat Mommy terusir dari mansion besar tersebut"
"Wanita yang telah membuat Bang Jero kehilangan gak nya atas kebahagiaan keluarganya" lanjut Felix dengan berapi api.
Felix sudah bisa membayangkan apa yang akan dilakukan oleh dirinya terhadap istri kedua Tuan besar Aleksander.
"Ternyata. Gue kira loe akan diam aja Bang" jawab Bram yang tidak menyangka kalau Felix juga memiliki pemikiran untuk balas dendam kepada keluarga itu.
"Gue hanya tidak ingin Bang Jero bertambah beban pikiran. Makanya gue tadi diam saja." jawab Felix yang selalu memikirkan Jero terlebih dahulu sebelum dirinya bertindak.
"Haha hahaha haha, bener juga Bang. Kalau loe ikut ikutan frontal kayak gue, maka sudah bisa dipastikan Bang Jero akan langsung panik" kata Bram
Bram senyum senyum sendiri. Dia membayangkan bagaimana paniknya Jero saat mengetahui kedua adiknya sudah sangat frontal dalam niat untuk memperumit dan membalaskan dendam mereka kepada keluarga Aleksander.
"Kita mulai dari mana Bram?"
"Gue sama sekali tidak ada pengalaman dalam hal seperti ini" ujar Felix dengan polosnya mengakui kekurangannya kepada Bram.
"Loe ikutin aturan main dari gue aja Bang."
" Untuk kapan dan dari mana kita mulai, kita harus bersabar Bang. Kita harus lihat apakah Bang Jero sudah memulai aksinya atau belum" jawab Bram.
"Ngapain harus lihat Bang Jero. Tapi tadi kamu mengatakan kalau urusan kita berbeda dengan Bang Jero" kata Felix yang kembali mengingatkan Bram apa yang dikatakan oleh dirinya tadi kepada Jero.
"Memang Bang. Tetapi kalau kita jalan duluan, mereka pasti akan fokus dengan menangani permasalahan yang kita buat." Bram menjelaskan kepada Felix, tentang maksud yang dikatakan oleh dirinya tadi kepada Felix.
"Nah kalau dia berpusat kepada kita, maka permasalahan yang dibuat Bang Jero tidak akan mereka gubris. Padahal titik sentralnya adalah masalah yang dibuat oleh Bang Jero" lanjut Bram menjelaskan kepada Felix.
"Jadi maksud kamu, kita akan menunggu pergerakan dari Bang Jero, setelah itu baru kita bergerak. Begitu maksudnya?" tanya Felix yang sudah mulai mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Bram.
"Pas bener" Bram memberikan dia jempolnya kepada Felix.
"Bang, kita beres beres dulu. Gue males ribut dengan Bang Jero gara gara kita telat datang makan malam"
"Sip. Mari kita bersiap siap"
Dua kakak beradik tersebut yang sedang memiliki satu rencana balas dendam bersama berjalan meninggalkan ruang keluarga, mereka menuju kamar masing masing.
Jero, Vian, Felix dan Bram sedang duduk di ruang makan untuk menikmati sarapan yang sudah di buat Vian subuh tadi. Vian suda mulai melakukan aktifitasnya seperti biasa kembali. Aktifitas yang diawali dengan memasak sarapan.
Tiba tiba saat mereka sedang menikmati sarapan itu, terdengar bunyi bel mansion yang dipencet seseorang dari arah luar. Seorang pelayan berjalan cepat untuk membukakan pintu mansion.
"Siapa pagi pagi begini sudah datang bertamu? Apa mereka tidak tahu etika bertamu?" komentar Felix sambil melihat ke arah pintu mansion.
Terlihat dari arah luar seorang pelayan berjalan dengan tiga orang pria berseragam. Seragam yang jarang dilihat oleh Jero dan anggota keluarga yang lainnya.
"Maaf Tuan dan Nona, saya mengganggu sarapan Tuan dan Nona" ujar Pelayan.
Jero mengangguk menjawab perkataan dari pelayan tersebut.
"Tiga Bapak Bapak ini katanya adalah pegawai pengadilan ingin bertemu dengan Nona Vian" ujar Pelayan memberitahukan maksud kedatangan dari tiga tamu di pagi hari itu.
"Baik" uajr Jero.
Jero memberikan kode kepada pelayan untuk meninggalkan ruang makan. Pelayan itu berlalu dari ruangan tersebut. Sedangkan ketiga pegawai pengadilan berdiri dengan kikuk di depan Jero dan yang lainnya.
"Silahkan duduk. Saya yakin anda bertiga belum sempat sarapan karena harus datang ke sini pagi pagi sekali" ujar Jero berkata sambil melihat ke arah tiga pegawai pengadilan yang sudah datang ke mansion pagi pagi sekali.
"Tidak terimakasih Tuan, kami sudah sarapan" ujar salah seorang dari tiga pegawai yang berdiri di depan Jero menjawab pertanyaan yang diajukan Jero kepada mereka bertiga.
"Jadi, apa bisa kami sarapan dulu, setelah itu baru kita membahas kedatangan anda bertiga di pagi buta ke tempat kami" ujar Felix
"Silahkan Tuan, kami akan tunggu di luar" jawab petugas yang tadi.
Ketiga petugas itu berjalan menuju ruang tamu. Mereka bertiga akan menunggu Jero dan yang lainnya di sana. Mereka tidak mungkin ikut makan di meja makan yang sama dengan Jero dan saudaranya yang lain.
"Ada urusan apa mereka datang ke mansion kita pagi pagi Bang?" tanya Bram.
"Ntahlah. Malahan yang lebih heran lagi, kenapa mereka bisa tau dimana letak mansion kita" jawab Jero yang kesal mansion nya di datangi oleh orang lain tanpa memberi kabar terlebih dahulu kepada dirinya.
Vian menundukkan kepalanya dalam dalam. Jero melihat hal itu. Sekarang dia tahu dari siapa para petugas pengadilan itu dimana letak mansion nya. Jero lebih memilih untuk diam dan tidak bertanya lagi dari siapa mereka tahu letak mansion keluarga Asander.
"Ayo kita temui mereka" ujar Jero mengajak Vian dan kedua adiknya untuk menemui para petugas pengadilan yang sudah menunggu di ruang tamu dari tadi.
"Maaf sudah membuat Anda bertiga lama menunggu kami selesai sarapan" ujar Jero sambil duduk di sofa yang biasa di duduknya.
Vian, Felix dan Bram kemudian duduk di sofa mereka masing masing. Saat itulah Jeri masuk. Jeri memang di kontak Bram tadi saat petugas pengadilan datang mendadak ke mansion mereka.
"Duduk Jer" ujar Jero meminta Jeri untuk duduk.
Ketiga pegawai pengadilan itu mengetahui siapa Jeri. Mereka menundukkan sedikit kepalanya sebagai tanda menyapa Jeri yang baru datang.
"Jadi, bisa langsung saja. Apa tujuan Bapak Bapak datang ke mansion saya pagi sekali" ujar Jero dengan nada dingin.
Tiga orang pegawai pengadilan meresakan hawa yang lain dari cara Jero berbicara. Saat mereka mendapatkan alamat itu saja dan melihat bagaimana mewahnya komplek itu, sudah membuat mereka ingin balik ke kantor saja. Tetapi karena semua ini adalah pekerjaan mereka, jadi mau tidak mau mereka tetap harus duduk di sana dan menyelesaikan semua pekerjaan itu dengan baik.