My Affair

My Affair
BAB 34



Jero yang baru saja pulang dari tempat dia mengungsi sejenak menghindari Tuan dan Nyonya Aleksander, telah memarkir mobilnya di tempat biasa. Jero kemudian masuk ke dalam mansion utama. Jero berencana untuk menuju kamar Vian di lantai dua mansion besar itu. Jero ingin memastikan kalau Vian dalam keadaan selamat. Jero hanya ingin melihat Vian sebentar saja. Ntah kenapa dari tadi Jero merasakan keinginan untuk melihat Vian. Padahal selama ini, tidak pernah Jero yang terlalu berkeinginan untuk melihat Vian saat sedang tertidur seperti sekarang.


Tapi baru saja Jero sampai di dapur, Jero dapat melihat Juan Aleksander sedang meneguk minumannya. Beberapa botol anggur tergeletak di atas meja makan. Jero memastikan kalau Juan Alexsander dalam kondisi mabuk berat. Jero terus melihat ke arah Juan Alexsander. Juan Alexsander yang dalam keadaan mabuk berat, tetap saja meneguk minuman anggur merahnya itu sampai habis.


Jero mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana. Dia kemudian menghubungi Vian. Jero tidak ingin saat Vian tidur nanti Juan Aleksander yang mabuk itu masuk ke dalam kamar Vian dan melakukan sesuatu yang tidak diinginkan oleh Vian. Jero terus saja memperhatikan gerak gerik Juan Alexsander. Jero terus menatap fokus ke arah Juan Alexsander. Dia tidak seditikpun mengalihkan pandangannya dari Juan. Jero tetap memerhatikan Juan.


Vian merasakan bunyi getaran di ponsel miliknya yang berada di atas bantal. Vian melihat siapa yang menghubunginya.


"Jero? ujar Vian saat membaca siapa orang yang sekarang sedang menelpon ke nomor ponselnya.


"Hallo, ada apa?" tanya Vian saat dia mengangkat panggilan dari Jero.


"Vian, Juan sedang mabuk di bawah. Kamu harus mengunci pintu kamar. Kalau tidak dia nanti bisa masuk ke sana dan melakukan sesuatu kepada kamu. Apa kamu mau hal itu terjadi?" tanya Jero kepada Vian. Jero tetap memperhatikan Juan Alexsander yang ternyata sudah tertidur dengan meletakkan kepalanya ke atas meja makan.


Sebenarnya pertanyaan itu lebih cocok diberikan kepada Jero. Jawabannya pun sudah jelas, Jero tidak akan rela Vian memberikan kesuciannya kepada pria bejat seperti Juan Alexsander.


"Nggak sayang. Aku nggak mau. Aku kunci pintu dulu" ujar Vian dengan nafas memburu. Vian tidak ingin sesuatu yang tidak diinginkan itu terjadi kepada dirinya. Vian ingin memberikan yang satu itu kepada pria yang benar benar mencintai dan dicintai oleh dirinya.


Vian bangun dari tidurnya. Dia langsung berjalan menuju pintu kamar, dan mengunci pintu tersebut dari dalam. Vian benar benar takut kalau Juan Alexsander akan masuk ke dalam kamarnya ini. Kalau sempat Juan Alexsander masuk, maka bagaimanapun Vian berteriak tidak akan ada yang mendengar. Karena mansion yang begitu besar. Lagian di dalam mansion yang tinggal hanya Juan dan Vian. Para maid serta Jero tinggal di asrama belakang mansion.


"Sayang udah aku kunci. Apa boleh aku tidur kembali sekarang? Aku besok ada jadwal operasi jam tujuh pagi. Kita harus berangkat dari mansion jam enam kurang." ujar Vian memberitahukan kapan mereka berdua harus berangkat besok pagi. Serta memberitahukan kepada Jero kalau besok dia ada jadwal operasi.


"Oke sayang, selamat malam. Aku juga mau tidur. Mimpiin aku ya?" ujar Jero mulai menggoda Vian.


Vian yang mendengar apa bunyi permintaan Jero, hanya bisa tersenyum saja. Vian benar benar selalu menerima kejutan tak terduga dari Jero. Ada ada saja kelakuan Jero yang bisa membuat Vian tertawa bahagia.


"Ogah sayang. Wajah kamu tiap hari aku nampak juga. Ngapain harus diimpikan. Wong tiap hari aku nampak kamu kok ya sayang" ujar Vian menolak untuk memimpikan Jero.


"Masak iya sayang, kamu nggak mau ngimpiin aku. Bener kamu nggak mau? Nyesel nanti baru tau rasa" ujar Jero yang masih tetap kekeh meminta Vian untuk memimpikan dirinya.


"Ogah sayang, masak mimpi bisa di pilih pilih. Emang di pasar, semuanya bisa di tawar dan dipilih" kata Vian meng ibaratkan permintaan Jero kepada urusan belanja di pasar.


"Hahahahaha.Sayang sayang. Kamu ada ada aja. Sana bobok, nggak cocok romantis kelas teri itu di wajah kamu. Kamu cocoknya itu bawa aku ke tempat tempat eksotis yang kamu tau, itu baru cocok. Kalau kayak yang beginian sama sekali nggak cocok. Malah jatuhnya lucu dan norak." ujar Vian meledek gaya sok romantis yang dilakukan oleh Jero sebentar ini.


"Udah dulu ya sayang. Aku ngantuk" uajr Vian yang ingin mengakhiri panggilan telpon dari Jero.


"Iya iya sana tidur. Nggak usah mimpikan aku" uang Jero pura pura ngambek.


"Terserah aja sayang. Pokoknya kamu tidur" ujar Vian sudah mulai emosi.


Vian kemudian memutuskan panggilan telponnya dengan Jero. Dia kembali membaringkan tubuhnya di ranjang itu. Vian melanjutkan tidurnya yang sempat terjeda karena telpon dari Jero yang berisi peringatan untuk mengunci pintu kamar.


Jero yang baru sampai di kamarnya, langsung mengaktifkan laptop miliknya. Dia melihat rekaman CCTV yang menampilkan bagaimana marahnya Tuan Besar Alexsander kepada Juan Alexsander.


Jero tersenyum smirk melihat semua kejadian itu. Kejadian yang diharapkannya. Kejadian yang dimulai dari dendam yang disimpan Jero dengan sangat rapatnya. Dendam yang sekarang mulai dibalas kan Jero sedikit demi sedikit.


Jero bertindak seperti gunung, yang mengeluarkan letusannya kecil kecil terlebih dahulu sebelum mengeluarkan letusan yang paling besar.


Jero menatap tajam ke wajah Nyonya Besar Alexsander. Jero menunjuk wajah wanita itu.


"Selanjutnya adalah anda Nyonya Besar. Anda menyebabkan wanita yang paling aku puja dalam hidupku menderita sampai ajal menjemputnya. Sekarang tunggulah balasan dari aku, aku akan membalaskan dengan tunai rasa sakit yang ditanggungnya sampai malaikat maut datang mengambil nyawanya." ujar Jero dengan nada penuh ancaman.


Jero tidak pernah main main dengan ucapannya. Jero selalu menepati apa yang dikatakan olehnya. Kalau dia sudah mengatakan akan membalas sampai ke akar akarnya, maka itu akan dilakukan oleh Jero. Felix dan Bram akan selalu siap membantu Jero kapanpun diminta oleh Jero.


"Kalain bertiga akan menerima akibat dari perbuatan kalian kepada aku. Kalian akan melihat murka seorang Jero. Kalian akan membayar lunas semuanya di tangan aku. Tangan yang dulu meminta belas kasihan kalian, tapi kalian acuhkan. Sekarang tangan inilah yang akan membuat kalian meminta belas kasihannya." ujar Jero selanjutnya.


"Ingatlah keluarga Alexsander, mata dibayar dengan mata, nyawa dibayar dengan nyawa. Pengkhianatan dibayar oleh penghianatan." ujar Jero sambil menggenggam jari jarinya.


Jero benar benar marah kali ini. Tidak ada satupun orang yang bisa menahan amarah Jero yang sudah meletup letup seperti lahar gunung berapi yang siap memuntahkan lahar panasnya itu.


Siapapun kali ini yang melihat wajah Jero, akan langsung lari terbirit birit karena, tatapan yang diberikan oleh Jero bukanlah tatapan seorang sahabat lagi, melainkan tatapan memburu lawannya.