
Pesawat yang sudah terbang stabil itu membuat Jero sudah kembali tenang. Nafasnya sudah tidak terdengar memburu lagi. Begitu juga dengan keringatnya sudah tidak banyak lagi yang keluar.
Pramugari mulai berjalan memberikan makanan dan juga minuman kepada para penumpang.
"Permisi Nona, silahkan mau minum apa Nona" ujar pramugari menyapa Vian yang sedang mendengarkan musik.
"Jus jeruk sama, choklat cake" ujar Vian menyebutkan makanan dan minuman yang dipesan oleh dirinya.
"Tuan, mau makanan dan minuman apa Tuan?" tanya pramugari kepada Jero.
"Sama dengan Vian aja" kata Jero sambil menatap Vian yang sibuk menyanyi nyanyi kecil.
Suara Vian sangat bagus, tetapi sayangnya Vian tidak memiliki cukup keberanian untuk menyanyi dengan suara keras.
Pramugari meletakkan makanan dan minuman yang dipilih oleh Jero dan Vian. Mereka meletakkan di atas meja kecil yang ada di depan Vian dan Jero.
Pramugari kemudian memberikan untuk penumpang yang lainnya. Nanti dua jam lagi, barulah makanan berat dihidangkan oleh pramugari.
"Sayang, aku nggak yakin kamu ada perjalanan bisnis ke negara U. Nggak mungkin perjalanan bisnis dilakukan dengan mendadak seperti ini." ujar Vian yang menuntut kejujuran dari Jero.
"Kamu pasti ingin pergi mengobati aku kan sayang" ujar Vian langsung menebak kepada Jero apa yang akan dilakukan oleh Jero di negara U.
"Kenapa kamu menebak ke situ?" tanya Jero penasaran dengan Vian.
"Ya, karena aku tau siapa kamu. Kamu memutuskan untuk pergi ke negara U saat melihat aku takut luar biasa ke rumah sakit, terus aku phobia dengan orang yang mengobrol" ujar Vian sambil menggenggam tangan Jero.
"Sayang, aku mau kok berobat. Aku juga mau sembuh. Aku ingin kembali bekerja menjalani hobby aku dan cita cita aku. Aku juga mau kok berjalan jalan dengan santai di sepanjang jalan atau pun mall tanpa memperdulikan orang orang yang mengobrol" lanjut Vian sambil menggenggam tangan Jero.
"Bantu aku untuk sembuh ya." kata Vian selanjutnya.
Jero merebahkan kepala Vian ke pundaknya.
"Sayang, maafkan aku yang tidak jujur mengatakan kenapa kita harus terbang ke negara U. Sejujurnya sayang, aku berbohong karena takut kamu menolaknya. Makanya aku nggak mengatakan hal yang sebenarnya. Bukan maksud yang lain" jawab Jero sambil menaruh kepalanya di atas kepala Vian.
"Aku tau itu juga sayang. Kamu selalu memberikan yang terbaik untuk aku." ujar Vian sambil mencubit hidung Jero dengan mesra.
Bug. Sebuah tendangan pelan mendarat di kursi Jero dan Vian dari belakang. Mereka berdua sontak menatap ke belakang. Melihat kedua adik Jero yang tidur.
"Sayang mereka tidur atau tidak sebenarnya. Nggak mungkinkan hantu yang nendang kursi kita berdua" ujar Vian sambil menatap tidak percaya kepada Felix dan Bram yang terlihat tidur.
"Biarin aja mereka tidur sayang. Kalau mereka pura pura nggak ngaku sama kita berdua berarti mereka siap untuk kehilangan aset" ujar Jero sambil menatap kedua adiknya tersebut.
Bram memukul kaki Felix. Felix meringis menahan sakit. Semua itu terlihat jelas oleh Jero.
"Jadi ya sayang. Semua yang menopang finansial mereka akan aku bekukan." ucap Jero semakin semangat menggoda kedua adiknya itu. Jero sudah tau kalau memang mereka berdua lah yang menendang kursinya tadi.
"Hah?" ujar Vian yang tadi tidak melihat gerakan mata Felix saat kakinya di tendang oleh Bram.
"Mereka yang nendang kursi kita tadi. Makanya aku katakan hal itu" ujar Jero berbisik di telinga Vuan.
"Aku setuju sayang. Bekukan aja semuanya. Jangan lupa sayang, rekening dan ATM mereka juga dibekukan" kata Vian dengan nada yang sengaja ditinggikan.
"Baiklah sayang kalau gitu. Kita akan bekukan juga sekarang juga" ujar Jero.
Felix dan Bram saling pandang pandangan. Mereka tidak menyangka kalau Jero akan serius dengan ucapannya untuk membekukan semua rekening mereka berdua.
"Makanya kalau cemas jangan usil" ujar Jeri sambil menatap kedua bocah yang larut dalam rasa cemas itu.
"Ye, dasar loe bang. Orang cemas loe malah ngejek. Tega banget loe" kata Bram sambil melempar Jero dengan tisu yang dibuat Bram menjadi seperti bola.
"Iyalah, loe juga yang ngadi ngadi. Udah jelas Abang kalian berdua itu manusia tegaan. Masih juga menguji dirinya. Itu namanya kalian mintak di kasih jatah. Jelas" ujar Jeri menasehati Felix dan Bram yang masih juga belum paham dengan tingkah laku Jero.
"Kalian seperti baru tinggal dengan Abang kalian aja" lanjut Jeri sambil geleng geleng kepala melihat kelakuan dua pemuda tampan itu.
Felix dan Bram menggaruk kepala mereka yang tidak gatal. Mereka berdua memanglah sudah salah karena sudah menendang kursi Jero dan Vian.
"Jadi gimana Bang?" tanya Bram kepada Felix.
"Minta maaf ajalah. Ngapain dipikirin juga lagi" jawab Felix yang sebenarnya juga ragu menjawab seperti itu kepada Bram.
Bram mengangkat kedua jempolnya. Mereka sepakat akan meminta maaf kepada Jero dan Vian akibat tingkah kekanak kanakan mereka.
"Abang kami paling ganteng, paling tampan, paling baik hati. Pokoknya paling semua." ujar Bram yang menjadi juru bicara karena menendang kursi adalah ide dari dirinya.
Jero dan Vian terlihat acuh saja. Mereka berdua seakan tidak mendengar panggilan dari Bram yang terdengar menggelitik telinga Jero dan Vian.
"Bang" ujar Bram sekali lagi mencoba peruntungannya.
Jero menatap Felix dan Bram. Jero kemudian menatap ke arah Vian. Vian mengangguk memberikan kode kepada Jero.
"Apa? Mau nendang kursi lagi atau mau minta maaf?" tanya Jero kepada kedua adiknya itu.
"Mau minta maaf karena sudah dengan sengaja menendang kursi Abang dan kakak ipar" jawab Bram dengan memberikan senyuman terbaiknya untuk Jero dan Vian.
"Ngapain pakai senyam senyum segala. Abang nggak butuh senyuman kalian berdua" ujar Jero menatap tajam ke arah Felix dan Bram.
"Yah pelit. Padahal ya Bang, kata Tuan Yang Maha Esa. Memberikan maaf itu sifatnya mulia" kata Bram sambil mengedip ngedipkan matanya kepada Jero.
"Alasan loe berdua. Jadi, kenapa nendang kursi?" tanya Jero sambil menatap kedua adiknya itu.
"Karena" ujar Bram yang menatap Felix dan mengidentifikasi Felix untuk mengatakan apa penyebabnya.
"Karena tadi abang mesra mesraan. Jadi, kami yang jomblo ini merasa cemburu" kali ini giliran Felix yang menjawab apa yang ditanyakan oleh Jero.
"Itu yang ujung juga jomblo tapi nggak ada nendang bangku Abang" kata Jero sambil melihat kearah Jeri yang sibuk dengan ponselnya.
"Mana ada tu orang jomblo. Dokter Greta mau dikemanain Bang?" tanya Bram yang kaget Jero mengatakan Jeri jomblo.
"Katakan cinta aja dia ntah udah ntah belum diragukan" jawab Jero sengaja mengalihkan bola permasalahan ke Jeri.
"Woi Bray, kok jadi gue yang kena yah" kata Jeri yang tidak terima dirinya sekarang menjadi bahan oleh Jero dan kedua adiknya itu.
"Loe berdua yang bikin masalah dengan Abang loe, eee eee sekarang bolanya balik ke gue. Emang banget lah loe berdua" ujar Jeri sambil geleng geleng kepala melihat kelakuan tiga beradik itu.
Dua orang pramugari kembali datang dengan troli nya. Kali ini mereka akan menghidangkan makanan berat untuk para penumpang.
"Udah balik sana duduk. Makan" ujar Jero kepada kedua adiknya sambil melihat ke arah kursi yang ada di belakang kursinya duduk.
"Maafin kan ya? Nggak jadi di blokirkan?" lanjut Bram bertanya dan mengerjap ngerjapkan matanya.
Buah, Vian memukul pundak Bram.
"Ais, sakit kakak ipar main pukul aja" ujar Bram dengan mengusap tangannya yang dipukul oleh Vian.
"Masih untung di pukul. Rencana mau di tendang tadi tuh. Cara ngomong bikin jijik aja. Merinding ini bulu kuduk gue" ujar Vian.
Vian mengelus tengkuknya yang serasa berdiri bulu bulu halus yang ada di tengkuknya itu. Vian tidak menyangka kalau Bram akan melakukan hal menjijikkan seperti itu.
"Bang" ujar Bram dengan merengek kepada Jero.
Jero yang udah capek menahan tawanya, hanya bisa menatap ke arah Felix dan Bram sambil mengangguk. Dia tidak menyangka Bram akan melakukan hal mengenaskan seperti itu. Dengan berbagai cara Bram ingin membuat Jero memaafkan dirinya.
"Udah sana balik. Udah Abang kalian ini maafin. Karena memaafkan itu sangatlah perbuatan yang paling baik di mata Tuhan" jawab Jero.
"Ye" ujar Bram dan Felix kompak.
"Haha haha haha" giliran Vian dan Jeri tertawa mendengar jawaban yang diberikan oleh Jero kepada kedua adiknya itu.
Jawaban yang pastinya membuat kedua adik Jero itu menahan gondok nya. Jawaban yang tadinya diberikan oleh Bram kepada Jero, sekarang dipulangkan tunai oleh Jero kepada Bram.
"Udah sana balik ke kursinya lagi. Abang nggak marah lagi" kata Jero sambil menahan senyumnya.
"makasi bang" ujar Bram.
Felix dan Bram kembali ke kursi mereka. Mereka semua kemudian menyantap makanan berat yang dihidangkan oleh pramugari. Pesawat masih terus mengudara, penerbangan masih akan dilanjutkan satu setengah jam lagi sebelum mereka transit.
"Sayang, aku tidur dulu ya ngantuk" ujar Vian yang merasa matanya sudah sangat berat.
"Sama sayang. Aku juga mengantuk" ujar Jero yang juga telah mengantuk.
Semua penumpang pesawat memilih untuk beristirahat sebelum pesawat mendarat di bandara untuk melakukan transit yang diperkirakan akan memakan waktu selama satu jam.