My Affair

My Affair
Penyerahan Berkas Perceraian 2



"Sudah sayang, mari masuk. Mereka berdua sudah menunggu kita dari tadi itu" ujar Jero mengajak Vian untuk masuk ke dalam gedung perusahaan JFB Grub yang sudah berdiri megah di depan Vian dan juga Jero pada saat ini.


Vian menatap kembali ke arah gedung perusahaan yang tinggi menjulang tersebut. Walaupun gedung itu terlihat gagah dan juga penuh misteri karena semua di cat warna abu abu dan hitam, tetapi berkat adanya taman dan juga air terjun mini yang ada di depan gedung perusahaan tersebut membuat gedung itu terlihat nyaman dan aman bagi siapa saja yang bekerja di sana. Sebuah penataan gedung yang memang sangat sangat sempurna dirancang dan dibangun oleh arsiteknya tersebut.


Vian mengangguk setuju dengan ajakan Jero. Jero menggenggam tangan kekasih hatinya itu. Kekasih yang sekarang masih berstatus sebagai istri seorang laki laki. Tetapi sebentar lagi status itu akan sirna karena Vian akan mengajukan gugatan cerai kepada Juan Aleksander.


"Sayang, siapa yang mendisain gedung ini sayang?" ujar Vian yang sudah sangat penasaran dengan arsitek yang bisa melakukan semua ini. Menggabungkan dua aliran yang sangat berbeda, hal yang bertolak belakang bisa menjadi satu. Vian benar benar kagum dengan hasil rancangan dan juga hasil karya dari arsitel tersebut.


"Kamu ingin tahu atau ingin tahu banget sayang?" ujar Jero sambil menatap ke arah kekasihnya itu dari balik kaca mata hitam yang telah di pakainya.


"Hem terserah aja. Dijawab ya syukur nggak dijawab ya nggak apa apa" jawab Vian yang sangat males mendengar jawaban yang diberikan oleh Jero kepada dirinya. Vian benar benar kesal kali ini di buat oleh Jero yang menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lain yang sama sekali tidak berhubungan.


"Haha haha haha haha, jangan marah gitu sayang. Kamu jadi makin cantik kalau marah" ujar Jero mulai menggoda Vian yang sekarang wajahnya sudah cemberut.


"Hem" ujar Vian.


Jero yang mendengar jawaban dari vian hanya berupa Hem saja, langsung memberhentikan langkah kakinya dengan mendadak. Jero sekarang sangat yakin kalau Vian sedang dalam keadaan emosi atau marah karena jawaban yang diberikan oleh dirinya tadi.


Vian yang tidak siap Jero memberhentikan langkah kakinya dengan mendadak langsung saja berhenti di punggung Jero. Vian tadi memang memperlambat langkah kakinya sehingga posisinya berada di belakang Jero.


Semua karyawan yang melihat kejadian langka tersebut hanya bisa tersenyum dan ada juga yang cemburu melihat pemandangan romantis yang berada di depan mereka. Hal yang berbeda terjadi kepada Vian, Vian merasa risih dan janggal dilihat seperti itu oleh semua karyawan. Vian benar benar malu karena apa yang telah dilakukan oleh dirinya sendiri.


"Sayang, kamu berhenti nggak ngode, tengok tu semua orang jadi melihat ke arah aku karena sudah menabrak punggung besar kamu ini" ujar Vian mengajukan protes kepada Jero.


"Lah sayang yang jalan di belakang aku siapa? Sejak kapan kamu boleh berjalan di belakang aku?" ujar Jero yang tidak Terima dirinya disalahkan oleh Vian atas kejadian ini.


Vian yang bener bener udah males ribut dengan Jero apalagi di tonton sekian banyak mata karyawan membuat dirinya harus mengalah. Dia tidak mau menjadi tontonan gratis para karyawan.


"Ya ya ya ya. Aku yang salah. Udah sekarang mari kita lanjutkan keruangan Bram. Lama lama kita berdua bisa menjadi badut bagi para karyawan yang melihat ke sini" ujar Vian sambil melihat ke arah karyawan karyawan yang memilih untuk melihat ke arah mereka berdua dengan sudut mata.


"Hem biarin aja sayang. Aku nggak peduli sama meraka. Yang ada di dalam penglihatan aku adalah kamu seorang, yang lain mah numpang lewat" jawab Jero dengan suara besar supaya orang orang yang ada di sana mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh dirinya.


Vian hanya bisa geleng geleng kepala saja mendengar apa yang dikatakan oleh Jero dengan nada suara yang keras itu. Vian benar benar tidak menyangka Jero akan melakukan hal itu.


Vian menggenggam tangan Jero. "mari kita jalan" kata Vian berucap sambil tersenyum ke arah kekasihnya itu. Vian melupakan sejenak siapa arsitek yang telah membangun dan merancang ini semua.


Mereka berdua kemudian masuk ke dalam lift yang memang dikhususkan untuk petinggi perusahaan. Tidak semua orang bisa menggunakan lift tersebut.


"Palingan tadi ke mansion dulu bang makanya jadi lama sampai ke sini nya" ujar Bram menjawab sambil melihat ke arah pintu. Bram sebenarnya juga sudah bosan menunggu kakak dan juga calon kakak iparnya itu, tetapi dia tidak mungkin memperlihatkan ketidaksabaranya kepada Jeri yang memang sudah sangat tidak sabaran lagi.


Bruk. Tepat sesaat setelah Bram menyelesaikan perkataannya, pintu ruangannya terbuka dari luar. Bram dan Jeri tidak perlu melihat ke arah pintu untuk menyaksikan siapa yang telah dengan berani membuka pintu ruangan direktur tersebut. Mereka berdua sudah tahu siapa yang datang dan dengan pongahnya membuka pintu ruangan itu dengan sekeras tersebut.


"Sorry lama" ujar Jero kepada adik dan juga sahabatnya yang memang sudah lama menunggu tersebut.


Jero sengaja menyapa mereka terlebih dahulu karena sudah tahu kesalahannya apa. Dia berjanji dalam lima belas menit atau tiga puluh menit paling lama untuk sampai di perusahaan Bram, tetapi ternyata Jero menghabiskan waktu satu setengah jam untuk sampai ke sana.


'Wah jarang jarang ne orang minta maaf. Bener bener berpengaruh besar Vian kepada kepribadiannya' ujar Jeri dan Bram dalam hati mereka masing masing saat mendengar Jero meminta maaf atas kesalahannya.


"Oke tidak masalah" jawab Jeri dengan santainya.


"Jadi mana berkas yang gur minta?" ujar Jeri langsung bertanya kepada Jero dan Vian.


Jeri tadi memang sudah menyampaikan syarat syarat yang harus dipenuhi oleh Vian sebagai dasar untuk mengajukan gugatan perceraiannya kepada Juan Aleksander.


"Ini Bang" ujar Vian memberikan kepada Jeri dokumen dokumen yang sudah disiapkan oleh dirinya tadi.


"maaf lama karena beberapa harus di cari dulu ke rumah sakit. Jadi, buat kita berdua telat sampe sini" ujar Vian menjelaskan kepada Jeri dan Bram kepada dirinya dan Jero bisa telat sampai di perusahaan Bram.


"Hem santai aja Vian. Tapi ada juga bagusnya loe berdua telat" uajr Jeri sambil menaruh dan memutuskan untuk nanti saja memeriksa dokumen dokumen yang dibawa oleh Vian.


Vian dan Jero saling memandang, mereka berdua sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Jeri kepada Vian sebentar ini.


"Maksudnya apaan ya Bang? Gue gagal paham?" uajr Vian yang memang sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Jeri sebentar ini.


"Hahaha hahaha hahaha hahaha"


Jeri dan Bram tertawa terbahak bahak berbarengan. Hal ini semakin membuat Vian dan Jero semakin penasaran.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Maaf kakak kakak telah dua bulan tidak update sama sekali...... Maaf karena ada sesuatu hal yang membuat tidak bisa update...... semoga dengan update kembali pembacanya makin banyak ya kakak kakak. terimakasih