My Affair

My Affair
BAB 21



Jero berjalan menuju kantin tempat dia akan bertemu dengan orang suruhannya tadi. Jero sangat luar biasa marah mendengar apa yang diceritakan oleh Vian. Vian menceritakan kalau dia tidak boleh makan di rumah dan kehilangan hak atas Nyonya Muda kalau Juan Alexsander tidak ada di mansion. Menurut Jero semua itu benar benar sudah keterlaluan dan tidak bisa diberikan toleransi lagi.


Setiap orang yang berselisih jalan dengan Jero memberikan tatapan kekaguman kepadanya. Mereka menatap Jero tanpa berkedip, mereka memandang habis ke punggung Jero, mereka menatap Jero sampai Jero tidak bisa lagi di lihat oleh tatapan mata mereka.


Jero berjalan bergegas dia sama sekali tidak mengindahkan orang orang yang menatapnya dengan tatapan kekaguman. Jero menganggap tatapan itu sudah biasa diberikan orang orang saat melihat dirinya dengan aura yang sekarang. Bukan aura seorang asisten sekaligus sopir pribadi seorang dokter cantik yang bernama Vian Bramantya.


Jero sampai di kantin rumah sakit, dia memandang ke sekeliling mencari seseorang yang sudah janjian dengan dirinya. Ternyata seseorang itu duduk paling pojok terhalang oleh tonggak kantin. Jero berjalan ke sana. Dia terlihat sedang sangat sangat kesal.


"Terlihat kesal." ujar seseorang itu menatap wajah Jero yang terlihat raut raut kesal yang tidak bisa di tutupi Jero lagi.


"Kesal sangat." ujar Jero.


Jero duduk di depan seseorang itu.


"Jadi?" tanya seseorang itu menatap Jero.


Dia sudah bisa membayangkan apa yang akan dilakukan oleh Jero.


"Habisi pelan pelan. Kita akan memulai permainannya lagi. Gue udah tidak bisa menahannya lagi. Kali ini mereka harus merasakan semua akibatnya." ujar Jero dengan dingin dan aura kekejaman muncul seketika dari dalam dirinya.


"Loe udah yakin? Loe nggak akan mengubah keputusan ini di tengah jalan bukan?" tanya seseorang itu menatap ke mata Jero, mencari sebuah kesungguhan dari hati Jero.


Dia sangat tau bagaimana Jero kalau sudah marah dan kesal. Dia tidak akan menghentikan kekejamannya lagi. Apalagi sekarang Jero sudah memutuskan. Maka tidak ada yang bisa menghindar dari kekejaman Jero. Mereka hanya bisa menerima semua akibat karena telah menyinggung Jero.


"Aku sudah pustuskan. Habisi pelan pelan. Aku tidak mau semua ini berakhir dengan cepat. Biar dia tau bagaimana rasanya sakit saat kita berada di puncak." ujar Jero sambil meremas gelas es teh yang sudah dipesankan oleh temannya itu.


"Jero, apa gue boleh bertanya sebagai sahabat bukan sebagai orang kepercayaan elo?" tanya seseorang itu.


"Silahkan Felix, silahkan bertanya apa yang mau elo tanyakan." ujar Jero menatap Felix.


"Apakah ini ada hubungannya dengan dia?" tanya Felix.


Felix bertanya karena ingin memastikan semua tebakannya. Dia berharap semua ini adalah benar. Felix berharap Jero marah memang didasarkan kepada apa yang terjadi terhadap wanita itu. Wanita yang selama ini berusaha di cari dan di jaga Jero dari balik bayang bayang.


"Ya, memang karena dia. Dia telah berani mengusik dan membuat sedih hati orang yang dari dulu gue jaga. Pria itu harus menerima akibatnya." ujar Jero yang memang menaruh dendam kepada keluarga Alexsander. Dendam yang tidak tau akan sampai kapan akan berakhirnya. Dendam yang semula hanya berawal dari satu masalah, sekarang sudah menjadi dua masalah. Masalah yang semakin membuat Jero benci dengan keluarga Alexsander.


"Jero, apakah loe masih dendam kepada mereka?" tanya Felix kembali.


"Masih dan tetap akan masih. Gue masih dendam dan marah kepada mereka. Mereka harus menerima semuanya. Mereka membuat menangis orang orang yang gue sayang." ujar Jero dengan mata berapi api.


Jero benar benar marah. Semua itu terlihat jelas. Siapapun yang melihat raut wajah Jero sekarang, mereka akan tau pasti kalau pemilik wajah tampan nan gagah itu sedang marah.


"Sampai kapan Jer, elo akan menyimoan dendam ini?" tanya Felix menatap Jero.


"Felix hentikan. Jangan pernah menasehati gue akan hal ini. Elo nggak merasa bagaimana sakitnya gue Felix. Bagaimana gue harus bangkit dengan kedua kaki gue." ujar Jero.


"Gue nggak pernah ceritakan hal ini kepada siapapun. Gue nyimpen sendiri Felix." lanjut Jero dengan nada kesal dan marah. Jero sama sekali tidak menutupi rasa kesal dan marahnya. Dia memperlihatkan secara nyata kepada Felix.


"Makanya Jero cerita agar gue paham." ujar Felix yang dari dulu sampai saat ini tidak tau Jero dendam kepada keluarga Alexsander gara gara hal apa.


"Suatu saat Felix, suatu saat, pas gue siap berbagi semuanya, maka gue akan ceritakan kepada elo dan Vian." ujar Jero.


Ponsel milik Jero bergetar. Dia melihat Vian yang menghubunginya.


"Aku mau ke toko buku. Apa kamu bisa menemani? Atau aku naik taksi online saja?" ujar Vian yang tau Jero sedang bertemu sahabatnya.


"Jangan. Aku akan antar kamu pergi." lanjut Jero.


"Gue permisi dulu. Lakukan segera." ujar Jero.


"Siap." jawab Felix yang tidak bisa membantah kehendak Jero.


Jero kemudian berdiri dari kursi kantin. Dia kembali berjalan menuju ruangan Vian. Dia akan mengantar Vian menuju toko buku.


Jero membuka pintu ruangan Vian. Dia melihat Vian sudah menunggunya sambil duduk di kursi kerjanya.


"Udah siap?" tanya Jero sambil menuju Vian yang memberengut.


"Lama kali." jawab Vian masih memberengut.


"Kangen?" tanya Jero menatap Vian.


Vian mengangguk. Jero mengecup puncak kepala Vian.


"Udah jangan memberengut. Ayuk jalan." ujar Jero memegang tangan Vian.


"Kemana?" tanya Vian menatap Jero dengan senyuman di kulumnya.


"Tapi ke toko buku?" tanya Jero dengan wajah biasa saja.


"Mana ada." jawab Vian.


"Jadi?" tanya Jero menatap Vian dengan tatapan mengintimidasi.


"Jadi." balas Vian membalas tatapan Jero.


"Oooo. Jadi kamu becandain aku. Biar aku cepat balik gitu?" tanya Jero menatap Vian.


"Jadi, kamu sengaja mengatakan kepada aku kalau kamu akan pergi dengan taksi online agar aku cepat kembali gitu?" ujar Jero sekali lagi memastikan keinginan Vian yang tidak terucap itu.


"Jadi, kamu sengaja mengatakan hal itu agar aku kembali cepat." ujar Jero selanjutnya.


"Jadi, kamu nggak mau ditinggal lama lama sama aku lagi." lanjut Jero.


Vian tertawa. Dia berhasil menyuruh Jero balik cepat. Dia memang nggak mau lama lama berpisah dengan Jero.


Jero membawa Vian kedalam pelukannya. Dia sangat bahagia Vian tidak ingin berpisah lama dari dirinya. Jero bangga sekali dengan semua ini. Dia sebenarnya juga tidak ingin berpisah lama dari Vian. Kalau tidak ada hal yang penting, Jero tidak akan meninggalkan Vian lama lama.


"Kamu udah makan siang?" tanya Jero menatap Vian.


Vian menggeleng. Vian memang belum makan siang sama sekali. Dia sengaja ingin makan siang dengan Jero.


"Mari keluar. kita makan di luar saja. Apa kamu mau?" tanya Jero.


Vian mengangguk. Mereka kemudian pergi makan siang keluar. Mereka akan makan di restoran yang sangat mewah.