
"Saya belum selesai dengan Anda. Sopir. Saya akan membuat urusan dengan Anda, urusan kita sama sekali belum selesai." ujar Juan saat dia berjalan di depan Jero dengan tingkah pongahnya.
"Saya tunggu Tuan muda" ujar Jero
"Satu hal lagi, perceraian ini tidak akan saya buat menjadi gampang. Anda jangan bermimpi akan hal itu" kata Juan dengan santai tetapi menatap tajam ke arah Jero.
"Saya akan tunggu Tuan Muda" jawab Jero sekali lagi.
Juan sebenarnya sangat kesal mendengar jawaban dari Jero, tetapi apa mau dikata, Juan tidak mungkin memperlihatkan kemarahannya di sini. Dia tidak mau namanya tercoreng karena melawan sopir. Juan pastinya akan menjaga nama baik keluarganya setelah semua bencana yang menimpa keluarga Aleksander.
Peperangan antara Jero dan Juan akan dimulai. Peperangan yang bukan dikarenakan oleh Vian, tetapi ego antara kedua anak kandung Tuan Aleksander. Jero dari istri pertama dan yang paling berhak atas semua warisan keluarga Aleksander, sedangkan Juan anak dari istri kedua yang dengan liciknya menyingkirkan istri pertama dan anak pertama Tuan besar Aleksander.
"Sayang" panggil Vian dan memegang tangan Jero dengan sangat erat.
"Tenang saja sayang. Aku akan baik baik saja"
"Kamu jangan cemaskan aku" jawab Jero yang tidak ingin Vian mencemaskan dirinya.
"Kamu yang tenang ya" kata Jero meminta Vian untuk tetap tenang.
Vian mengangguk, "asalkan ada kamu di sini, maka aku akan tetap tenang" ujar Vian.
"Maaf yang bisa masuk ke dalam ruangan hanya Tuan Juan Aleksander dan Nyonya Aleksander." kata panitera pengadilan.
Jero dan yang lainnya berhenti di depan pintu masuk ruang mediasi. Ruangan yang akan dipakai untuk pertemuan Juan dan Vian. Ruangan yang akan menjadi tempat mendamaikan antara Juan dengan Vian.
"Aku tunggu di sini. Kamu baik baik dan hati hati ya" ujar Jero menitipkan pesan kepada Vian.
"Siap sayang. Aku akan ingat selalu pesan dari kamu. Tunggu aku di sini" kata Vian sambil mengenggam tangan Jero dengan lembut.
Vian menatap lembut ke wajah Jero. Vian memberikan senyum terbaiknya ke Jero. Vian tidak ingin Jero mencemaskan dirinya.
Panitera yang melihat apa yang dilakukan oleh Vian dan Jero, menjadi heran. Sebuah catatan terselip dalam pikiran panitera persidangan.
Jero dan kedua adiknya duduk di kursi tunggu depan ruangan mediasi tersebut. Begitu juga dengan Tuan besar Aleksander.
"Maaf anak muda, anda ada hubungan apa dengan Vian menantu saya?" tanya Tuan besar Aleksander membuka percakapannya dengan Jero.
"Saya dan Vian sepasang kekasih Tuan besar." kata Jero menjawab dengan lugas.
"Maksudnya?" tanya Tuan besar yang kaget mendengar jawaban yang diberikan oleh Jero kepada dirinya.
"Ya seperti yang Anda dengar Tuan, saya sudah menjalin hubungan dengan Vian sejak Vian keluar dari mansion" kata Jero.
"Sejak kapan kamu kenal dengan menantu saya?" tanya Tuan besar.
"Sejak saya menjadi sopir di keluarga Juan Aleksander" jawab Jero mengatakan dengan jujur apa yang terjadi.
"Jadi, kalian selingkuh?" tanya Tuan besar dengan nada heran
"Ya, kenapa Anda heran Tuan besar. Bukannya masalah seperti ini sudah biasa saja? " kata Jero dengan nada menyindir yang sama sekali tidak terlihat kalau Jero sedang menyindir lawan bicaranya itu.
"Kamu tahu kalau mengganggu istri orang atau selingkuh itu perbuatan yang sangat tidak baik, dan itu dibenci" ujar Tuan besar.
"Oh ya. Saya tahu itu perbuatan yang tidak baik. Tetapi ntah kenapa itu mengasikkan" jawab Jero dengan gaya khasnya.
Jero yang mendengar jawaban dari Tuan besar Aleksander tertawa besar di dalam pikirannya. Jero ingin melepaskan atau mengeluarkan tawanya itu, tetapi hal itu tidak mungkin dilakukan oleh Jero, bisa bisa Tuan besar Aleksander mengamuk karena seseorang seperti Jero menertawakan dirinya
"Haha haha haha. Tuan Tuan. Sedangkan seseorang saja bisa menikah lagi dengan wanita lain, padahal istri dan anaknya dengan setia menunggu di rumah mereka" lanjut Jero sambil tersenyum mencemooh ke arah Tuan besar Aleksander.
"Kamu sudahlah salah tetapi masih juga menjawab dengan keras dan tetap yakin kalau kamu itu benar. Apa lagi kamu bangga dengan apa yang telah kamu lakukan" kata Tuan besar Aleksander.
"Maaf sebelumnya Tuan besar. Saya tahu ini adalah salah. Tetapi kesalahan saya ini saya belajar melalui seseorang yang menjadi idola saya dulunya" kata Jero yang sudah tidak tahan lagi mendengar apa yang dikatakan oleh Tuan besar Aleksander.
"Anda jangan munafik dan pura pura tidak tahu kalau dalam kalangan pebisnis seperti Anda sudah biasa persoalan selingkuh. Apa lagi kami ini, hanya orang dari kelas bawah.Kalau kami selingkuh tidak ada nama besar keluarga yang malu. Sedangkan kalau orang seperti Anda yang merupakan keluarga ternama, pastinya akan malu yang sangat luar biasa" ujar Jero sambil menatap tajam Tuan besar Aleksander. Jero benar benar menyindir habis Tuan besar tersebut, Jero sama sekali tidak memikirkan apa apa lagi. Dia sama sekali tidak memikirkan kalau lawan bicaranya ini adalah orang tua kandungnya.
Tuan besar Aleksander terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Jero kepada dirinya. Tuan besar Aleksander sebenarnya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Jero. Tuan besar Aleksander juga ingat dengan semuanya, salah satu orang yang dikatakan oleh Jero adalah dirinya.
Setelah mengatakan hal itu Jero lebih memilih untuk duduk di dekat Felix dan Bram.
"Bang, apa mereka tidak tahu siapa kita ini?" tanya Bram kepada Felix.
"Sepertinya tidak. Mereka menganggap kita adalah orang biasa saja. Sehingga mereka bisa mengatakan hal seperti tadi kepada Bang Jero" ujar Felix
Jero, Felix dan Bram datang memakai baju kaos dan juga celana levis. Mereka menanggalkan semua atribut yang menandakan kalau mereka pebisnis sukses. Itu semua karena perintah dari Jero. Jero tidak ingin kalau Juan dan Tuan besar Aleksander menghina mereka dan mengatakan mereka menghayal karena berpakaian seperti itu.
Jero dan dua adiknya duduk menunggu selesainya mediasi antara Juan dan Vian. Mereka duduk dengan tampang yang sudah bosan dan jenuh. Beberapa kali ponsel milik mereka bertiga bergetar di dalam saku celana. Tetapi sayangnya mereka bertiga sama sekali tidak bisa menerima telpon atau membaca pesan yang masuk.
"Huft dari tadi ponselku bergetar bang"
"Sama" jawab Felix.
Setelah tiga jam menunggu proses mediasi antara Juan dan Vian. Pintu ruangan terbuka lebar. Juan keluar dari dalam ruangan dengan tersenyum, sedangkan Vian terlihat sebaliknya.
"Apa yang terjadi Bang? Kenapa kakak ipar cemberut?" tanya Bram kepada Felix.
"Mana aku tahu Felix. Kita sama sama di sini berdua. Kita dengarkan saja nanti apa kata kakak ipar saat kita sudah di dalam mobil" ujar Felix.
Juan berjalan mendekat ke arah Jero. Dia berdiri tepat di depan wajah Jero.
"Jangan bermimpi bisa mendapatkan Vian dengan mudah" ujar Juan dengan nada mengancam Jero.
Jero menatap Vian. Vian hanya bisa menundukkan wajahnya dalam dalam.
"Vian, kamu harus ingat apa yang dikatakan oleh panitera tadi. Kamu tidak boleh tinggal dengan sopir ini lagi, karena kamu masih istri sah saya" ujar Juan dengan nada bangganya mengatakan hal itu di depan Jero.
Jero kaget luar biasa mendengar apa yang dikatakan oleh Juan. Tetapi Jero berusaha menetralkan dirinya. Dia tidak ingin terpancing perkataan dari Juan. Jero akan mendengar apa yang terjadi di dalam dari Vian langsung.
"Aku pulang dulu istriku. Perceraian ini tidak akan berjalan dengan mudah" ujar Juan sambil tersenyum licik dan penuh kemenangan.
"Ayo Papi kita pulang. Vian akan tetap menjadi menantu Papi. Papi jangan takut akan hal yang tidak akan terjadi itu" ujar Juan.
Tuan besar Aleksander menganggukkan kepalanya. Dia sangat yakin kalau Juan pasti akan mempertahankan rumah tangganya karena apabila dia bercerai maka seluruh aset dan juga hak waris akan dicabut dari Juan.
Tuan besar dan Tuan Muda Aleksander berjalan meninggalkan Vian dan yang lainnya.
"Jeri jelaskan" ujar Jero kepada Jeri.
"Jangan sampai ada yang tertinggal Jeri. Sampai ada maka kamu akan gue pastikan berakhir di jalanan sekarang juga" lanjut Jero yang murka saat mendengar ancaman dari Juan tadi.