
Vian, Felix dan Bram kemudian duduk di sofa mereka masing masing. Mereka sudah siap untuk mendengarkan informasi apa yang akan disampaikan oleh ketiga pegawai pengadilan yang datang ke mansion mereka pagi pagi sekali.
Saat itulah Jeri masuk. Jeri memang di kontak Bram tadi saat petugas pengadilan datang mendadak ke mansion mereka. Jeri yang sedang menikmati sarapannya, terpaksa menyelesaikan sarapan dalam waktu cepat
"Duduk Jer" ujar Jero meminta Jeri untuk duduk.
Ketiga pegawai pengadilan itu mengetahui siapa Jeri. Mereka menundukkan sedikit kepalanya sebagai tanda menyapa Jeri yang baru datang.
"Jadi, bisa langsung saja. Apa tujuan Bapak Bapak datang ke mansion saya pagi sekali" ujar Jero dengan nada dingin.
Tiga orang pegawai pengadilan merasakan hawa yang lain dari cara Jero berbicara. Saat mereka mendapatkan alamat itu saja dan melihat bagaimana mewahnya komplek itu, sudah membuat mereka ingin balik ke kantor saja. Tetapi karena
"Sebelumnya kami meminta maaf kepada Tuan Tuan semua, karena kamu bertiga sudah mengganggu waktu sarapan Tuan Tuan" ujar salah seorang dari tiga pegawai pengadilan yang datang.
Jero menganggukkan kepalanya. Dia sama sekali tidak membuka menjawab dengan lisan, tetapi hanya dengan anggukan kepala saja.
"Tujuan kedatangan kami ke sini adalah, untuk memastikan bahwasanya Nona Vian tidak tinggal bersama pria lain selama tuntutan perceraian yang diajukan oleh Nona Vian" kata pegawai pengadilan menyampaikan kepada Jero dan yang lainnya terkhusus kepada Vian tentang tujuan mereka datang ke mansion keluarga Asander.
"Tapi ternyata Nona Vian masih tinggal bersama Anda Tuan. Jadi, dengan tarpaksa kami harus mengatakan bahwasanya kalau hal ini masih terus terjadi, maka pengadilan bisa membatalkan gugatan perceraian yang diajukan oleh Nona Vian dengan dakwaan kekerasan dalam rumah tangga dan perselingkuhan" lanjut pegawai pengadilan menyampaikan apa hasil dari temuan mereka saat datang ke mansion itu.
"Kenapa bisa begitu?" ujar Vian spontan bertanya. Vian sangat kaget saat mendengar apa yang dikatakan oleh orang pengadilan itu. Vian tidak mau perceraiannya dibatalkan.
"maaf Nona sekali lagi kami katakan. Kalau Nona masih tinggal bersama dengan Tuan ini" kata orang pengadilan sambil menunjuk ke arah Jero dengan jempol tangannya
"Maka dengan berat hati, kami harus membatalkan gugatan yang Nona masukkan ke pengadilan" lanjut oegawai pengadilan.
"Bagaimanapun juga, menurut yang kami lihat, Nona lah yang berselingkuh karena tinggal satu atap dengan pria yang tidak memiliki hubungan darah dengan Nona" lanjut pegawai pengadilan menyampaikan apa yang harus disampaikan kepada Vian dan yang lainnya.
Jeri menyimak semua yang dikatakan oleh orang orang pengadilan itu. Dia masih belum ingin bertanya. Jeri akan menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan apa yang seharusnya dikatakannya nanti.
"Tapi kekerasan dalam rumah tangga itu benar terjadi, makanya saya memilih untuk keluar dari mansion" kata Vian dengan nada gemetar.
Jero menggenggam tangan Vian. Dia sangat yakin kalau sekarang Vian sedang marah, sehingga Vian tidak bisa mengontrol emosinya dengan baik.
"Kalau anda bertiga mengatakan saya dengan Jero tinggal seatap, maka jawabannya iya. Kalau anda bertiga atau pengadilan akan membatalkan gugatan perrceraian saya terserah. Saya tidak masalah" ujar Vian selanjutnya.
"Saya sudah muak dengan semua ini. Saya yang merasakan bagaimana menjadi seorang istri yang hanya untuk dikasari saja. Saya juga sudah muak dengan menjadi seorang istri yang di baik baik saat sedang jamuan makan malam" Kata vian dengan nada tinggi di depan pegawai pengadilan.
"Jadi kalau anda bertiga tetap ingin membatalkan permohonan gugatan perceraian saya, silahkan. Saya ulangi sekali silahkan saja. Saya tidak masalah" ujar Vian dengan nada tinggi, Vian benar benar sudah muak dengan semuanya.
"Sekarang saya rasa anda bertiga sudah cukup kan mendengar apa yang sudah saya jawab. Jadi, silahkan anda kembali ke kantor Anda" kata Vian mengusir ketiga orang pengadilan tersebut.
"Anda mau langsung membatalkan silahkan. Tapi ingat satu hal, apapun upaya anda untuk membuat saya harus kembali dengan pria toxic itu, saya tidak akan pernah kembali kepada dia" lanjut Vian.
Tiga orang pegawai pengadilan menatap ke arah Vian. Mereka baru sekali ini melihat seorang wanita yang sedang sangat marah karena apa yang telah mereka katakan.
"Oke saya rasa sudah cukup. Kalian bertiga boleh pergi" lanjut Vian.
"Oh ya satu lagi saya lupa. Kalau Anda atau pengadilan perlu saya, silahkan hubungi saja Jeri, dia adalah pengacara saya." lanjut Vian kembali.
"Mulai detik ini, saya tidak akan pernah lagi datang ke pengadilan itu. Sudah cukup rasanya saya kalian ceramahi dengan kata kata berbaikan, karena setiap pernikahan ada cobaannya" kata Vian.
"Sayang, aku pergi dulu ya. Ada operasi setengah jam lagi"
"Maaf karena sudah berkata dengan nada tinggi di depan kamu" kata Vian berpamitan kepada Jero.
"Kamu pergi dengan siapa?" tanya Jero yang tidak akan mungkin meninggalkan tiga orang pegawai dari pengadilan ini di mansion mereka.
"Hendri saja" jawab Vian.
Jero mengangguk, Vian sudah memberikan jawaban yang paling tepat.
"Hendri, kamu antar Nona ke rumah sakit" kata Jero memberikan perintah kepada asistennya itu.
Cup. Sebuah kecupan mendarat di kedua pipi Jero. Vian sengaja melakukan itu di depan tiga orang yang sudah datang ke mansion mereka pagi pagi.
"Nanti pulang aku jemput" ujar Jero
"Makan siang, aku akan ke perusahaan kamu" balas Vian.
Jero tersenyum, dia sangat suka saat Vian sedang emosi seperti sekarang ini. Vian terlihat menjadi seseorang yang sangat berani. Vian bisa seperti itu karena ada Jero di sisinya yang pastinya akan membela Vian mati matian.
Vian berlalu begitu saja dari ruang tamu. Dia sama sekali tidak berkata apa apa lagi ke tiga orang tamu yang datang pagi pagi itu.
"Maafkan Vian." ujar Jero dengan ramah kepada ketiga tamunya.
Mereka bertiga tidak selayaknya mendapatkan perlakuan seperti itu dari Vian. Tetapi mereka juga salah, telah mengatakan hal yang tidak seharusnya di dengar oleh Vian, sehingga membuat Vian menajdi sangat emosi dan luar biasa marah.
"Sebenarnya apa yang terjadi Tuan Jero, sehingga apa yang kami katakan tadi membuat Nona Vian menjadi sangat emosi" Ujar salah seorang pegawa pengadilan.
"Sebenarnya apa yang ditanggung oleh Vian selama ini adalah sebuah malapetaka dalam hidupnya." Jero mulai membuka cerita tentang Vian.
"Saya tidak akan mengatakan apa yang terjadi di sini sekarang. Tetapi satu hal yang jelas, pernikahan mereka memang layak untuk diakhiri" kata Jero yang berubah pikiran.
Jero tidak ingin mengkhianati kepercayaan yang diberikan oleh Vian kepada dirinya.
"Lebih baik semua fakta di buka di pengadilan saja. Kami sudah menyiapkan semua bukti bukti untuk ke pengadilan. sehingga pihak pengadilan pasti akan mengabulkan pengajuan gugatan perceraian Vian setelah melihat bukti yang kami akan serahkan"
"Saya rasa pertemuan ini sudah cukup. Kita akan bertemu di pengadilan. Saya akan pastikan Vian untuk datang" kata Jero dengan sangat halus mengusir tiga orang pegawai pengadilan itu.
Tiga orang pegawai pengadilan yang sudah datang pagi pagi ke mansion Jero berdiri dari duduknya. Mereka bertiga kemudian pergi dari mansion mewah tersebut.
"Jeri, loe harus pastikan Vian bisa bercerai. Gue tidak tahu caranya gimana. Semua urusan gue seharian ke elo" Perintah Jero kepada Jeri sahabat sekaligus pengacara keluarganya.
"Siap Jer, serahkan ke gue." kata Jeri dengan yakin.
Jeri tidak akan mungkin mengecewakan Jero dan juga Vian. Apalagi saat Jeri mengenang apa yang telah diberikan oleh Mommy dan Jero kepada keluarganya selama ini. Hutang budi yang tidak akan bisa ditebus oleh Jeri.
Mereka semua kemudian berangkat menuju perusahaan masing masing. Hari ini mereka akan kembali mengais rezeki.