
Jero kemudian masuk ke dalam kamar Vian, begitu juga dengan Felix dan Bram, mereka masuk ke kamar tepat di sebelah kamar Jero. Sedangkan Andre, dia tetap berjaga jaga di lantai tersebut dengan dua orang pengawal yang lainnya. Andre dan pengawal tidak ingin sesuatu terjadi kepada tiga orang tuan muda mereka yang terkenal sangat baik hati itu.
"Vian, Vian, Vian" ujar Jero memanggil manggil nama Vian saat dia tidak melihat Vian.
Jero mulai panik saat tidak melihat Vian berada di dalam kamar mereka. Jero mencari sampai ke balkon kamar. Tetapi Vian tetap tidak ditemukan oleh Jero.
"Vian" akhirnya Jero lebih memilih untuk berteriak dengan sangat keras.
"Aku di toilet Jero" balas Vian dengan berteriak.
Vian heran kenapa Jero harus teriak teriak mencari dirinya. Vian benar benar nggak habis pikir dengan kelakuan Jero yang kadang kadang mendadak menjadi aneh. Tapi Vian enggan untuk bertanya. Vian takut Jero tersinggung dan mengakibatkan Jero marah kepada dirinya. Vian tidak mau itu terjadi.
"Vian Vian, Aku kira kamu dimana" ujar Jero yang kemudian memilih untuk duduk di sofa depan televisi.
Jero menghempaskan tubuhnya di sofa. Dia tadi sudah berpikiran buruk tentang Vian. Jero menyambar sebotol air mineral yang ada di atas meja. Jero langsung dalam sekali minum menghabiskan air mineral tersebut setengah botol.
"Kamu kenapa? Pulang pulang langsung teriak teriak begitu. Kayak ada yang gangguin aku aja. Emang ada gitu orang niat jahat sama aku?? Jero jangan panik kayak gitu lagi ya. Aku jadi takut. " ujar Vian sambil ikut duduk di sofa sebelah Jero.
"Aku kira kamu pergi kemana, makanya aku jadi teriak teriak. Jangan takut atau cemas ya. Maafin aku. " jawab Jero berbohong kepada Vian.
Jero sebenarnya ingin jujur kepada Vian. Tetapi Jero tidak tau harus mulai dari mana untuk memberitahukan kepada Vian tentang semuanya itu.
Vian mengangguk, dia memaafkan Jero dengan segala tingkah anehnya hari ini. Tingkah yang sebenarnya sangat absurd menurut Vian.
"Tadi aku rasa perut aku mules banget, makanya aku langsung ke toilet untuk curhat. Eeee kamunya datang langsung teriak teriak bikin aku cemas aja." ujar Vian sambil tersenyum menatap Jero.
Mereka berdua kemudian terdiam. Jero menatap ke arah Vian. Vian seperti ada yang dipikirkan olehnya. Vian tidak bisa menutupi keoada Jero kalau dia ada yang sedang mengganjal dipikiran Vian.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Jero kepada Vian.
Vian terlihat sedang berpikir, itu tergambar jelas dari raut wajah Vian saat ini. Wajah cantik yang mengisi semua pikiran dan perasaan Jero.
"Boleh aku bertanya sesuatu yang sifatnya pastilah sangat pribadi. Kamu berhak untuk tidak menjawabnya." ujar Vian kepada Jero. Vian berharap Jero memperbolehkan dirinya untuk bertanya tentang sesuatu itu.
Jero menatap ke wajah Vian. Jero sudah tau apa yang akan ditanyakan oleh Vian kepada dirinya. Vian menatap ke arah Jero.
"Boleh tidak aku bertanya tentang sesuatu itu?" tanya Vian kepada Jero. Vian mengulang pertanyaan yang sama lagi kepada Jero.
"Boleh mau tanya apa?" ujar Jero kepada Vian.
Jero akan menjawab semua pertanyaan yang akan diajukan oleh Vian kepada dirinya. Jero akan menjawab dengan jujur tanpa ada satupun yang di sumpetin nya dari Vian.
"Jadi, apa yang mau kamu tanyakan?" kata Jero kepada Vian.
Vian menatap ke arah Jero. Jero mengangguk meyakinkan Vian untuk berbicara.
"Waktu itu, hari masih malam. Kamu dalam keadaan tidur, kamu terus saja mengigau memanggil mommy mommy dalam mimpi kamu." ujar Vian memulai pertanyaannya dengan menerangkan kronologi yang terjadi malam itu.
"Jadi yang mau kamu tanyakan ke aku apa?" tanya Jero kepada Vian. Jero sudah tidak sabar lagi mendengar pertanyaan sesungguhnya dari Vian.
"Ada apa dengan mommy kamu?" tanya Vian sambil menatap ke arah Jero. Vian menunduk karena sudah menanyakan hal itu.
"Kenapa menunduk. Angkat wajah kamu. Kamu berhak kok bertanya hal itu. Aku sama sekali tidak marah sama kamu" ujar Jero sambil mengangkat dagu Vian dengan jari jarinya.
Vian mengangkat kepalanya, Vian tidak ingin Jero marah kepada dirinya karena dia menundukkan kepalanya.
Jero menatap Vian lama. Jero mencari sesuatu di mata Vian. Jero dapat melihat rasa ingin tahu dan rasa simpati dari tatapan mata yang teduh dan optimis itu.
"Baiklah aku akan bercerita tentang masa lalu aku ke kamu, tentang mommy. Kenapa sampai sekarang Mommy masih selalu datang dalam mimpi aku" ujar Jero memulai ceritanya tentang Mommy.
Vian tersenyum, dia meremas jari jari tangan Jero. Serta mencium tangan itu. Vian seperti memberikan kekuatan tambahan kepada Jero untuk bercerita tentang mommy.
"Aku sebenarnya tidak berasal dari negara ini. Bisa dikatakan aku berdarah campuran" ujar Jero memulai ceritanya tentang siapa dirinya.
"Pantesan wajah kamu separo bule" ujar Vian sambil menatap wajah Jero lama lama.
"Mau lanjut nggak neh?" tanya Jero sambil menatap Vian. Jero paling tidak suka, saat dia berbicara ada aja yang memoting perkataannya
"Lanjut lah" ujara Vian sambil menatap Jero.
"Demi mendengar cerita kamu, aku kuat untuk tidak tidur" ujar Vian yang sebenarnya ragu apakah kuat untuk tidak tidur semalaman.
"Waktu umur sekitar dua puluh tahun, Daddy dan Mommy berpisah, aku hidup dengan Mommy hanya berdua saja. Pada saat itu aku bertemu dengan dua adik angkat aku namanya Felix dan Bram." ujar Jero memulai ceritanya.
"Felix dan Bram? Aku tidak pernah kenal dengan mereka." ujar Vian yang memang baru kali ini mendengar nama Felix dan Bram disebut oleh Jero.
"Mereka tinggal di negara ini. Tetapi besok besok lah aku akan menunjukkan mereka ke kamu." ujar Jero berjanji kepada Vian suatu saat akan memperkenalkan Felix dan Bram kepada Vian.
"Dimana kamu mengenal mereka berdua? Terus kenapa kamu mengangkat mereka berdua jadi adik? " ujar Vian menyerbu Jero dengan pertanyaan pertanyaannya.
"Sayang, kamu mau tau tentang Mommy atau tentang mereka berdua? Pilih salah satu." ujar Jero memberikan pilihan kepada Vian.
"Kalau semuanya?" tanya Vian sambil mengerjap ngerjapkan matanya menggoda Jero.
"Belum saatnya." jawab Jero kepada Vian.
"Oke sip. Sekarang Mommy dulu" ujar Vian yang tidak ingin memaksa Jero untuk menceritakan semuanya sekarang.
"Kehidupan pasca Daddy dan Mommy berpisah bener bener di luar nalar aku. Silih berganti cobaan datang ke aku, mulai dari uang kuliah yang harus aku bayar, biaya sewa rumah. Semuanya datang bergantian saat itu. Untung saja Felix dan Bram membantu, kalau mereka berdua tidak ada, ntah apa yang terjadi kepada aku dan Mommy saat itu" ujar Jero melanjutkan ceritanya.
"Singkat cerita Mommy jatuh sakit. Sudah seminggu lamanya. Aku sama sekali tidak punya uang untuk membawa Mommy berobat. Hari itu aku, Felix dan Bram mengeluarkan semua uang yang kami punya. Tetapi sama sekali tidak cukup untuk berobat Mommy." ujar Jero melanjutkan ceritanya.
"Sampai pada akhirnya, aku memutuskan untuk ke rumah Daddy, keputusan yang sampai sekarang menyesal aku lakukan." ujar Jero.
Jero tanpa sadar memperlihatkan wajah marahnya di depan Vian. Vian kemudian meremas tangan Jero. Vian tidak mau Jero menjadi marah dan memiliki mood yang rusak.
"Saat itu aku datang dengan tangan kosong. Aku benar benar butuh uluran tangan dari dia. Tapi apa yang aku terima? Kamu tau apa yang aku terima?" tanya Jero kepada Vian.
Vian menggeleng lemah. Dia sudah tau ujung dari cerita ini. Tetapi Vian ingin mendengar langsung dari Jero. Bukan dia yang menebak apa yang terjadi dengan Mommy Jero.
"Hari itu, jam itu, menit itu dan detik itu selalu terngiang ngiang di telinga aku bagaimana dia menghina aku dan Mommy." ujar Jero.
Tanpa sadar Jero meremas tangan tangan kursi. Vian mengambil tangan tersebut. Dia tidak ingin Jero menyakiti dirinya sendiri.
"Saat itu satu kalimat yang sampai sekarang masih aku ingat. Kalian bukan keluarga saya lagi, jadi saya tidak berhak membantu kalian" ujar Jero mengatakan hal yang diterima dari orang yang telah menelantarkan hidupnya.
Jero kemudian lama terdiam. Vian masih sabar menunggu kelanjutan cerita dari Jero. Vian menahan mati matian rasa kantuk nya. Untung saja besok dia libur jadi tidak perlu bangun pagi pagi sekali.
"Kemudian aku pergi berjalan menyusuri gelapnya malam. Saat itulah aku bertemu dengan orang baik yang sangat baik. Dia memberikan aku pekerjaan malam itu, aku sangat senang, karena akan mendapatkan upah untuk membeli obat mommy." ujar Jero melanjutkan ceritanya.
"Aku melakukan pekerjaan mengganti ban mobil Nyonya yang pecah ban itu. Setelah aku selesai mengganti bannya dengan ban serap, Nyonya itu memberikan aku uang yang luar biasa banyaknya. Aku kaget melihat uang yang aku Terima. Aku menolak pemberian sebanyak itu." kata Jero berujar.
"Aku mengatakan kepada Nyonya itu, aku tidak berhak menerima upah sebanyak ini. Tapi, Nyonya itu tetap memberikan aku uang yang banyak tadi. Dia mengatakan kalau aku pasti membutuhkan uang itu nanti nanti. Aku tidak bisa menolak lagi." ujar Jero.
"Dengan uang yang aku punya. Aku berlari menuju apotek untuk membeli obat Mommy. Aku mendapatkan obat yang harus diminum Mommy. Tapi sayangnya obat itu terlambat aku dapatkan" ujar Jero dengan air mata yang telah mulai turun di pipinya.
Vian membawa Jero ke dalam pelukannya. Jero menyandarkan kepalanya di pundak Vian.
"Sudah kalau sudah tidak sanggup bercerita lagi tidak apa apa. Jangan lanjutkan. Aku nggak mau kamu bersedih" ujar Vian kepada Jero.
Jero menggeleng. Dia sudah janji akan menceritakan tentang Mommy kepada Vian.
"Saat aku sampai di kontrakan, Felix dan Bram sudah menangis di samping tubuh mommy yang tidak bernyawa lagi. Aku terus memanggil Mommy, tetapi Mommy sudah tidak bisa menjawab panggilan aku lagi" ujar Jero melanjutkan ceritanya setelah dia bisa menenangkan hatinya kembali.
"Kami bertiga kemudian menge bumi kan Momny tanpa ada pelayat yang datang. Padahal semasa hidupnya Mommy selalu membantu orang orang di sekitarnya. Tetapi itulah namanya hidup. Saat kita bukan siapa siapa lagi, jangan harap ada orang yang mendekat. Bukan hanya orang lain, keluarga saja tidak mau mendekat kepada kita" ujar Jero sambil menatap jauh terbang ke angkasa.
"Semenjak kematian Mommy karena ketidak adaan uang, kami bertiga bekerja mati matian sampai sekarang. Kami tidak mau salah satu di antara kami bertiga meninggal karena tidak punya uang. Cukup mommy yang menjadi tumbalnya. Kami tidak mau lagi" ujar Jero.
Vian meremas tangan Jero. Dia jadi tahu sekarang, kenapa Jero mati matian bekerja.
"Udah malam, kita tidur yuk. Kamu mau tidur dimana?" tanya Vian kepada Jero.
"Sofa saja. Pinjam aku bantal satu ya" Kata Jero sambil memberikan senyumannya yang sangat menawan kepada Vian.
Mereka berdua kemudian beristirahat. Vian rasa sudah cukup bagi dirinya menguras emosi Jero hari ini. Dia akan secara perlahan bertanya tentang masa lalu Jero. Vian tidak akan mendesak Jero untuk menceritakan semuanya.
Jero juga sama. Dia berjanji akan memberitahukan kepada Vian semuanya tetapi tidak dalam waktu dekat. Jero akan secara perlahan menjawab semua pertanyaan dari Vian.