My Affair

My Affair
Pembicaraan Jero dan Vian



Josua dan Ryan kemudian berjalan meninggalkan Jero yang masih duduk di kursi taman belakang sambil membaca koran dan menikmati sarapan yang telah dihidangkan oleh para pengawal yang lainnya.


Vian yang melihat Josua dan Ryan telah pergi meninggalkan Jero, langsung saja berjalan menuju kekasihnya itu. Vian sangat penasaran sekali dengan cerita yang terjadi antara Jero dengan Josua dan Ryan.


Jero yang asik duduk sambil membaca koran sama sekali tidak menyadari kalau kekasih hatinya itu sudah berjalan mendekat ke arah dirinya sambil membawa sarapan untuk Vian sendiri.


"Selamat pagi sayang" ujar Vian menyapa kekasihnya.


Cup, sebuah kecupan selamat pagi mendarat sempurna di pipi Jero.


"Selamat pagi juga sayang. Sudah bangun?" ujar Jero bertanya kepada Vian.


"Haha haha haha. Maafkan aku karena telat bangun sayang. Padahal biasanya aku yang memasak sarapan dan menghidangkan sarapan untuk kamu. Karena aku keletihan semalam makanya aku bangun kesiangan." kata Vian menjawab dengan panjang lebar kepada Jero alasan dia bisa terlambat bangun tadi pagi.


"Maafkan aku ya?" ujar Vian sambil mengedip ngedip kan mata indahnya kepada Jero.


Jero yang memang tidak pernah tahan melihat gaya Vian yang seperti itu hanya bisa tersenyum dan memaafkan Vian dengan semua alasan yang diberikan oleh Vian tadi. Jero juga sangat tahu bagaimana capeknya Vian sehari kemaren. Mereka berkeliling taman bunga yang sangat luas, belum lagi perjalanan memakai mobil yang dibawa oleh Josua dan Ryan berkeliling kota, terakhir kegiatan di villa, kejutan yang diberikan oleh kedua adik da juga sahabatnya serta tak ketinggalan para pengawal.


"Iya sayang, aku paham kenapa kamu telat bangun. Sekali sekali menikmati tidur indah tidak masalah sayang" kata Jero menjawab permintaan maaf yang diberikan oleh Vian kepada dirinya.


Jero menjawab sambil tersenyum indah. Jero sangat tahu kalau Vian paling suka kalau diberikan senyuman maut seperti itu. Senyuman Jero yang tiada duanya.


"Makasi sayang"


Kali ini giliran Vian yang memberikan senyumannya kepada Jero. Senyuman yang sama indahnya, tak terbayang bagaimana senyuman anak mereka besok kalau hubungan mereka lanjut ke jenjang selanjutnya setelah perceraian Juan dan Vian selesai.


"Kamu menyusul aku kemari pasti karena ada sesuatu kan ya sayang?" ujar Jero yang sudah bisa menebak apa yang ada di dalam pikiran Vian.


"Nggak sayang, aku ke sini karena kangen kamu aja" jawab Vian sambil melihat ke arah Jero.


"Beneran nggak ada maksud lain?" tanya Jero sambil memandang kearah Vian meyakinkan Vian kalau Vian memang tidak ada yang ingin ditanyakan oleh dirinya kepada Jero.


"Sayang kenapa memandang aku seperti itu? Memandangnya biasa ajalah sayang" kata Vian yang risih dipandang dengan cara seperti itu oleh Jero.


"Memandang dengan cara bagaimana? Aku biasa aja kok memandang kamu" kata Jero yang menyangkal kalau dirinya memandang Vian dengan pandangan yang menurut Vian aneh.


"Mana ada biasa aja, aneh itu. Masak kamu memandang aku setajam itu."


"Kayak orang sedang bolak balik isi otak orang aja" kata Vian sambil melepaskan tatapan matanya dari arah Jero.


"Haha haha haha. Itu menurut kamu sayang, nggak benar itu" kata Jero menjawab tuduhan yang diberikan oleh Vian


Mereka berdua kemudian menyantap sarapan yang ada di depan mereka masing masing. Vian yang sudah kembali nyaman memegang tangan Jero yang berada di atas meja. Sekarang Jero semakin yakin kalau Vian pasti ingin menanyakan sesuatu kepada dirinya.


"Ada apa? Katakan saja atau tanyakan saja" kata Jero memberikan instruksi selanjutnya kepada Vian yang dengan tiba tiba menggenggam tangan Jero.


"Aku cuma mau bertanya kepada kamu sayang, apa pembicaraan antara kamu dengan Josua dan Ryan tadi."


Jero memandang ke arah Vian. Dia harus menjawab pertanyaan yang diajukan oleh kekasih hatinya itu. Jero sudah berjanji kepada Vian untuk mengatakan semuanya tanpa ada yang ditutup tutupi satupun.


"Aku akan jawab apapun pertanyaan yang kamu berikan sayang" ujar Jero meyakinkan Vian kalau dia pasti akan menjawab semua pertanyaan yang diberikan oleh Vian kepada dirinya.


Vian mengangguk dan tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Jero kepada dirinya. Jero yang bersedia menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Vian kepada Jero.


"Jadi gini sayang, tadi tu Josua dan Ryan memberitahukan tentang keadaan di pulau kelapa" kata Jero menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Vian.


"Pulau kelapa? Apa itu sayang? Aku baru dengar" ujar Vian dengan nada heran dan penasaran dengan apa itu pulau kelapa.


"Pulau kelapa itu, dibeli oleh Daddy saat Mommy dan Daddy pergi ke sebuah pulau. Nah pulau itu seperti tidak ada kehidupan. Mommy memberikan usulan kepada Papap untuk menanam kelapa di pulau tersebut serta membuat pabrik pengolahan hasil kelapa" kata Jero mulai menjelaskan kepada Vian apa yang dimaksud dengan pulau kelapa.


"Jadi nama pulau kelapa siapa yang ngasih?" tanya Vian yang penasaran dengan nama unik tersebut.


"Mommy sayang. Mommy yang memberikan nama pulau kelapa untuk pulau itu" lanjut Jero memberitahukan kepada Vian siapa yang memberi nama pulau itu menjadi pulau kelapa.


"Apa saat pulau itu sudah jadi Mommy sempat ke sana sayang?" ujar Vian bertanya dengan sangat hati hati kepada Jero.


"Nggak sayang. Mommy sama sekali nggak sempat ke pulau itu. Pulau itu selesai Mommy sudah bercerai dengan Daddy" ujar Jero yang sebenarnya tidak ingin lagi mengingat hal menyedihkan tentang mommy.


Vian meremas tangan Jero. "Maafkan aku sayang" kata Vian.


"tidak apa apa sayang" jawab Jero.


"Terus kelanjutan dari pulau kelapa apa sayang?" tanya Vian yang kembali ingin tahu tentang keadaan pulau kelapa.


"Tuan besar Alexsander atau Papi mertua kamu sedang berada di pulau itu" ujar Jero memberitahukan kepada Vian siapa yang berada di pulau kelapa saat ini


"Apa dengan dua manusia yang sangat tega itu dia di sana?" tanya Vian meyakinkan dirinya kalau Juan dan Nyonya besar Alexsander juga berada di pulau tersebut.


"Tidak sayang, mereka tidak berada di sana. Aku saja ragu apakah mereka tahu cerita tentang pulau kelapa atau tidak" kata Jero menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Vian.


"Syukur kalau mereka tidak tahu. Jadi semua kenangan Mommy aman di sana" kata Vian yang sangat berbahagia karena kedua makhluk sadis itu tidak ada di pulau kelapa.


"jadi Papi dengan siapa di sana sayang?" tanya Vian yang penasaran Papi dengan siapa di pulau kelapa.


"Dengar bunyinya dengan semua pelayan sayang. Tapi apa alasannya pelayan ke sana kita semua belum ada yang tau" ujar Jero menjelaskan kepada Vian.


"Baiklah sayang. kita tinggalkan cerita tentang mereka." kata Vian yang sudah malas tidak mau membicarakan tentang keluarga Alexsander.


"Oke. terus kita ngapain?" tanya Jero yang tidak tau mau berbuat apa.


"Aku lihat di sana ada meja untuk bermain tenis meja. Bagaimana kalau kita bermain di sana saja?" ujar Vian mengajukan salah satu solusi kepada Jero.


"Oke sip"