
"Kita makan malam jam setengah delapan. Aku dan Vian akan bersih bersih dulu" kata Jero memberitahukan kepada Felix dan Bram jadwal makan malam mereka yang diundur karena keterlambatan Jero dan Vian pulang ke mansion.
"Oke Bang" jawab Bram.
Sedangkan Fekux yang sebenarnya sudah lapar terpaksa harus makan roti terlebih dahulu sebelum mereka makan malam. Karena tidak mungkin Felux makan terlebih dahulu.
"Kemana Bang?" panggil Bran saat melihat Felix masuk ke dalam mansion mengikuti Jero dan Vian.
"Ngambil roti" jawab Felix dengan bahasa isyarat. Felix mengusap perutnya menandakan kalau dia sedang dalam kondisi yang lapar. Bram menahan tawanya, Felix tadi siang hanya makan roti saja karena harus beberapa kali melakukan meeting sehingga dia tidak sempat makan siang dengan baik.
Tepat pukul setengah delapan malam semua anggota keluarga telah berkumpul di ruang makan. Mereka sedang menikmati makan malam yang dibuat oleh koki yang ada di mansion tersebut.
"Bang dengar bunyinya Abang mencabut semua saham kita yang ada di perusahaan Atmajaya. Bener itu Bang?" tanya Felix.
Jero mengangguk. "Kamu dapat kabar dari siapa?" tanya Jero memastikan informasi di peroleh Felix dari siapa.
"Dari Bang Jeri" jawab Felix memberitahukan dari siapa dia mengetahui tentang pencabutan saham tersebut.
"Kok bisa Bang? Ada apa?" tanya Felix selanjutnya yang penasaran dengan penyebab dari pencabutan saham yang dilakukan oleh Jero.
"Nanti dibicarakan" jawab Jero dengan lugas.
Setelah mereka makan malam bersama, seluruh anggota keluarga menuju ruang keluarga untuk membicarakan pencabutan saham yang dilakukan oleh Jero.
Saat itulah seorang pengawal berjalan masuk ke dalam mansion dengan tergesa gesa.
"Maaf Tuan Muda, ada Tuan Atmajaya dan istrinya di ruang tamu" ujar pengawal memberitahukan kedatangan tamu yang tak diundang ke mansion mereka.
"Panjang umur mereka" ujar Bram.
"Suruh tunggu sebentar, kami akan ke sana" kata Jero.
Pengawal kembali ke ruang tamu untuk menyampaikan pesan dari Jero. Sedangkan Jero dan yang lainnya masih duduk santai di ruang keluarga. Mereka mash melanjutkan pembicaraan yang tadi sedang mereka bicarakan.
"Sayang, ayok keluar, mereka sudah menunggu kita terlalu lama" ujar Vian mengajak Jero untuk menemui keluarga Atmajaya yang sudah menunggu mereka dari tadi di ruang tamu mansion.
Jero mengangguk setuju dengan ajakan Vian. Keluarga Atmajaya memang sudah menunggu lama di ruang tamu.
"Maaf menunggu lama Tuan" ujar Jero menyapa Tuan Atmajaya.
Nyonya Atmajaya yang melihat Jero menggenggam tangan Vian hanya bisa menatap tidak percaya. Dirinya benar benar telah salah mencari lawan. Apalagi selama ini Jero sama sekali tidak pernah menampakan wajahnya dimanapun, jadi Nyonya Atmajaya sama sekali tidak mengenal Jero.
"Tidak apa apa Tuan Jero. Saya maklum, kerjaan anda pastilah sangat banyak. Apalagi anda seorang pebisnis sukses" kata Tuan Atmajaya menjawab permintaan maaf dari Jero.
Jero tersenyum dingin menanggapi jawaban yang diberikan oleh Tuan Atmajaya kepada dirinya. Dia sudah bisa menebak bagaimana cara Tuan Atmajaya akan menjawab perkataan dari dirinya.
"Ada apa gerangan Tuan, kenapa bisa datang ke rumah saya malam malam seperti ini?" tanya Jero selanjutnya.
"Saya mau membicarakan perihal saham yang Tuan tarik dari perusahaan saya Tuan" ujar Tuan Atmajaya sambil menatap ke arah Jero, Felix, Bram dan Vian bergantian.
"Oh itu. Semua surat suratnya akan siap besok. Ini saya sedang menunggu kedatangan Jeri untuk menandatangani semua surat suratnya" jawab Jero menjelaskan kepada Tuan Atmajaya.
"Tuan Jero bisa saya berbicara sebentar?" tanya Tuan Atmajaya memberanikan dirinya untuk bisa berbicara dan menyampaikan kepada Jero.
"Silahkan Tuan." kata Jero dengan menatap dingin ke arah Tuan Atmajaya.
"Sebelum saya menyampaikan apa yang saya inginkan, apa boleh istri saya menyampaikan sesuatu kepada Nona Vian?" kata Tuan Atmajaya.
"Silahkan" kata Jero mempersilahkan istri Tuan Atmajaya untuk menyampaikan apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.
"Sebelumnya, aku mau menyampaikan permintaan maaf yang sebesar besarnya kepada Nona Vian." kata Nyonya Atmajaya sambil menekurkan kepalanya dalam dalam.
"Anda minta maaf tetapi anda sama sekali tidak bersikap sopan" ujar Bram yang kesal melihat bagaimana cara Nyonya Atmajaya meminta maaf kepada Vian.
"Seharusnya kalau Anda meminta maaf, anda harus melihat ke wajah orang tersebut. Bukan seperti ini" lanjut Bram.
Bram memang dari semula sama sekali tidak menyukai cara Nyonya Atmajaya bersikap. Nyonya Atmajaya seperti seseorang yang paling kaya dan paling paling lainnya. Sehingga tingkah polah Nyonya Atmajaya menjadi tidak disenangi oleh Bram.
"Mami, minta maaf itu harus sopan" kata Tuan Atmajaya sambil berbisik kepada istrinya itu.
"Aku nggak rela minta maaf sama dia Papi" balas Nyonya Atmajaya masih dengan pongahnya.
"Ini semua gara gara kesombongan kamu" lanjut Tuan Atmajaya.
"Ehem"
"Kalau Anda berdua mau ribut, silahkan di rumah kalian saja. Jangan di rumah saya" kata Jero yang kesal melihat Tuan dan Nyonya Atmajaya bertengkar di depannya saat ini.
Tuan dan Nyonya Atmajaya terdiam mendengar suara Jero yang dingin menghardik mereka berdua.
"Kalau tidak ada yang akan kalian bicarakan silahkan pergi dari sini" usir Jero yang kesal melihat sepasang suami istri tersebut.
"Maafkan kami Tuan" kata Tuan Atmajaya yang tidak menyangka akan dihardik oleh Jero.
"Kalian berdua jangan uji kesabaran saya. Saya diam bukan berarti saya bersedia mendengarkan pertengkaran kalian" lanjut Jero dengan kesal.
"Tuan, apakah bisa kalau penarikan saham Tuan Jero di perusahaan saya di batalkan." kata Tuan Atmajaya mulai mengutarakan apa yang diinginkan oleh dirinya.
"Perusahaan saya tidak akan bisa berjalan kalau saham Tuan di dalam perusahaan saya Tuan tarik semuanya" lanjut Tuan Atmajaya menjelaskan lebih terperinci lagi.
Jero, Felix, Bram dan Vian mendengar apa yang dikatakan oleh Tuan Atmajaya. Mereka sebenarnya tidak tertarik dengan apa yang dibicarakan, tetapi untuk menghormati Tuan Atmajaya, mereka semua terpaksa harus mendengarkan apa yang dikatakan oleh Tuan Atmajaya.
Tuan Atmajaya masih mengatakan apa yang dirasakan oleh dirinya. Tuan Atmajaya masih berusaha supaya Jero tidak menarik sahamnya yang ada di perusahaan Atmajaya. Kalau sampai Jero tetap mewujudkan keinginannya maka sudah bisa dipastikan swalayan swalayan milik perusahaan Atmajaya akan langsung gulung tikar.
"Jer, ini dokumen yang lu minta" kata Jeri saat dirinya sampai di mansion Jero.
Jero membaca semua dokumen itu dengan teliti. Dia tidak mau rugi dalam hal ini.
"Jadi bagaimana Tuan Atmajaya, apa bisa kita langsung tanda tangan semua dokumen ini, atau masih ada yang mau Tuan katakan kepada kami semua?" ujar Jero.
Jero melihat ke arah Tuan Atmajaya. Tuan Atmajaya hanya bisa menekurkan kepalanya saja.
"Atau Nyonya Atmajaya, ada yang akan Nyonya sampaikan untuk menyelamatkan perusahaan Nyonya?" tanya Bram.
"Kalau tidak, maka sudah bisa saya pastikan, besok Nyonya tidak akan bisa sombong lagi ke semua orang, karena kalau surat ini sudah ditandatangani, maka kemiskinan akan langsung menerpa keluarga Nyonya" lanjut Bram dengan nada dingin.
"Ayolah Mami. Apa Mami mau kita miskin?" ujar Tuan Atmajaya kepada istrinya.
Nyonya Atmajaya masih tidak bergeming. Dia sama sekali belum membuka suaranya. Rasa gengsi di hatinya masih terlalu tinggi untuk meminta maaf kepada Vian.
"Tuan, kalau Nyonya tidak bersedia jangan di paksa. Bisa bisa nanti dia meminta maaf dengan tidak rela. Saya juga tidak ingin Nyonya Atmajaya meminta maaf dengan tidak rela kepada Vian" kata Jero menyindir tingkah dari Nyonya Atmajaya.
"Mami, aku mohon mami. Perusahaan itu adalah perusahaan keluarga. Bagaimanapun aku harus menyelamatkan perusahaan itu Mami" ujar Tuan Atmajaya memohon kepada istrinya.
"Tuan Jero, kalau istri saya tidak mau meminta maaf kepada Nona Vian, maka saya bersedia untuk bercerai dengan dia, bagi saya yang terpenting adalah perusahaan orang tua saya tidak bangkrut. Itu saja" kata Tuan Atmajaya memohon kepada Jero.
Nyonya Atmajaya yang mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya langsung terdiam. Dia tidak menyangka kalau suaminya akan bisa mengatakan hal yang kejam itu kepada dirinya.
"Tolonglah Tuan Jero. Saya tidak ingin perusahaan milik keluarga saya itu jatuh bangkrut. Orang tua saya sudah susah payah membangun perusahaan itu" lanjut Tuan Atmajaya berusaha memohon kepada Jero.
"Sayang" panggil Vian
Jero memandang ke arah Vian. Jero sudah tau apa yang akan diminta oleh Vian kepda dirinya.
"Apa? Katakan" ujar Jero.
"Nggak usah tarik sahan kamu dari perusahaan itu. Biarkan saja. Aku sudah memaafkan Nyonya Atmajaya" kata Vian dengan tulus meminta kepada Jero.
"Tapi sayang" Jero berusaha memancing Vian untuk mengutarakan apa maksudnya lebih dalam lagi.
"Sayang, aku tau bagaimana rasanya menjadi anak yang tiba tiba ayahnya jatuh bangkrut. Aku tidak mau anak dari Tuan Atmajaya mengalami hal yang sama dengan aku" ujar Vian menjawab alasannya meminta Jero untuk tidak menarik sahamnya dari perusahaan Atmajaya.
Jero menatap Vian "Apa kamu yakin dengan permintaan kamu ini sayang?" tanya Jero sekali lagi. Jero butuh diyakinkan oleh Vian apa yang dikatakan oleh dirinya adalah sebuah permintaan yang tulus.
"Ya aku sangat yakin sayang" jawab Vian.
"Tolong kabulkan permintaan aku sayang" lanjut Vian.
Vian sangat berharap Jero memenuhi permintaan nya. Dia benar benar ingin Jero tidak menarik sahamnya dari perusahaan Atmajaya.
"Okeh. Tapi aku harus memberikan syarat kepada Atmajaya. Kamu tidak bisa melarang aku sayang" ujar Jero.
Vian mengangguk, dia tidak akan melarang Jero untuk memberikan syarat kepada keluarga Atmajaya.
Jero beralih melihat ke arah Tuan dan Nyonya Atmajaya. Tuan dan Nyonya Atmajaya melihat ke arah Jero. Mereka berdua sebenarnya sangat kaget, karena Jero menuruti permintaan dari Vian dengan gampangnya.
"Saya minta kepada Anda Nyonya Atmajaya untuk tetap meminta maaf kepada calon istri saya. Sekarang" ujar Jero
Vian yang mendengar apa yang dikatakan oleh Jero, menatap tidak percaya ke arah calon suaminya itu. Jero ternyata tetap memunta Nyonya Atmajaya meminta maaf kepada Vian.
Tapi yang namanya Nyonya Atmajaya, dirinya sama sekali tidak bergeming dengan syarat yang dikatakan oleh Jero.
"Baiklah kalau permintaan maaf terlalu berat untuk anda lakukan. Saya hanya minta kepada Anda, saat melihat calon istri saya dimanapun, Anda harus memberikan hormat Anda kepada dirinya. Seperti yang Anda lakukan kepada saya" kata Jero memberikan syarat yang lebih berat lagi untuk Nyonya Atmajaya.
Felix dan Bram serta Jeri berusaha menahan tawanya saat mendengar syarat berikutnya yang diberikan oleh Jero kepada Nyonya Atmajaya.
"Maaf Bang, harus aku potong sedikit" kata Felix yang sudah tidak tahan melihat kesombongan Nyonya Atmajaya yang sekarang duduk di depannya itu.
Jero mengangguk. Jero mempersilahkan semua orang yang mau bicara untuk berbicara.
"Nyonya sebenarnya masalah ini sangat gampang untuk kita selesaikan. Nyonya hanya tinggal meminta maaf kepada kakak ipar kami, maka semua permasalahan selesai"
"Jangan Nyonya berpikir, sekarang Bang Jero memang tidak akan mencabut sahamnya, belum tentu yang lain. Ingat Nyonya saham saya juga ada di perusahaan itu" kata Felix mengeluarkan ancamannya dengan nada halus dan cara yang halus.
"Jadi pertimbangkan saja Nyonya. Kalau Nyonya merasa malu untuk mengatakan secara langsung, Nyonya juga boleh memposting di media sosial Nyonya permintaan maaf kepada kakak ipar" lanjut Felix memberikan masalah baru kepada keluarga Atmajaya.
Tuan Atmajaya semakin pusing dengan semua permasalahan yang sedang dihadapinya sekarang ini. Dirinya benar benar tidak tau apalagi yang harus diperbuatnya.
"Sayang sudah. Biarkan. Aku tidak butuh permintaan maaf dari Nyonya Atmajaya. Biarkan saham kita tetap berada di sana. Anggap saja kita menolong anak anak dari Tuan Atmajaya" ujar Vian memutuskan dengan sendirinya perselisihan ini.
"Sekarang Tuan, Anda boleh meninggalkan tempat ini. Saya sudah capek dan butuh istirahat. Saya besok akan bekerja" lanjut Vian.
"Sedangkan untuk anda Nyonya, jangan pernah memandang rendah seseorang. Karena belum tentu orang itu lebih rendah dari Anda" kali ini sasaran perkataan Vian sudah berpindah ke Nyonya Atmajaya.
"Sekali lagi Anda mengatakan hal rendah seperti tadi kepada saya. Maka akan saya pastikan semua keluarga kami yang memiliki saham di perusahaan Anda akan langsung mencabut saham mereka" kata Vian dengan nada tegas.
"Tolong camkan dan pikirkan itu Nyonya" lanjut Vian.
"Sayang aku mengantuk. Mari ke atas" ujar Vian dengan lembut kepada Jero.
Jero menerima uluran tangan Vian. Mereka berdua pergi meninggalkan ruang tamu tersebut. Tuan dan Nyonya Atmajaya ditinggal begitu saja oleh Jero dah Vian.
"Kebaikan kakak ipar kami tolong jangan disia siakan Tuan"
"Itu pesan saya kepada Tuan" ujar Felix.
"Sekarang Tuan bisa pulang dan beristirahat dengan tenang dan nyaman. Kami tidak akan mencabut saham kami dari perusahaan Atmajaya" lanjut Felix.
Tuan dan Nyonya Atmajaya berjalan keluar dari mansion utama itu. Sedangkan Felix, Bram dan Jeri masuk ke kamar masing masing. Jeri malam ini terpaksa menginao di mansion utama. Dia malas kembali ke mansion nya sendiri