
Mobil yang dikendarai oleh sopir sekaligus asisten Jero sudah membelokan mobil yang dikendarai nya masuk ke dalam perkarangan perusahaan Asander Grub.
"Sayang, mari kita turun" ujar Jero mengajak Vian.
Vian tersenyum ke arah Jero. Mereka berdua kemudian turun dari pintu yang berbeda. Jero kemudian menggenggam tangan Vian, mereka bergandengan tangan masuk ke dalam perusahaan.
"Pagi Tuan" sapa salah seorang karyawan yang baru datang.
"Selamat pagi Tuan dan Nona" ujar karyawan yang lainnya saat mereka ber pas-pasan di lobby perusahaan.
"Pagi" ujar Vian menjawab sapaan dari para karyawan.
Sedangkan Jero masih tetap dengan gaya khasnya, yaitu cool luar biasa. Jero berjalan dengan santainya, dia tidak menggubris sapaan dari para karyawan yang tadi menyapanya sepanjang perjalanan.
"Sayang kenapa kamu sombong sekali?" ujar Vian memprotes apa yang dilakukan oleh Jero kepada semua karyawan yang tadi menyapa dirinya.
"Bukannya sombong, tetapi saat mereka menyapa kita satu kali lalu kita jawab, maka mereka akan selalu menyapa kita" jawab Jero dengan santainya.
"Huft ya terserah lah ya" komen Vian karena sangat tahu betapa keras hatinya seorang Jero.
Lift yang mengantarkan sepasang kekasih itu ke lantai paling atas dari gedung perusahaan GA Grub sudah terbuka. Jero dan Vian melangkah beriringan keluar dari dalam lift.
"Apa kegiatan saya hari ini, Ivan?" tanya Jero ke sekretarisnya yang baru. Sekretaris lama Jero sudah diberikan kepercayaan oleh Jero untuk menjadi salah satu manager di anak cabang perusahaan mereka di luar kota.
"Kegiatan Tuan hari ini sesuai dengan pesan yang disampaikan oleh Tuan Hendri kepada saya, saya sudah mengosongkan semua agenda Tuan" jawab Ivan.
"Oke terimakasih" jawab Jero.
Jero dan Vian kemudia masuk ke dalam ruang kerja Jero.
"Sayang, kamu duduk di situ dulu ya. Aku mau membaca dokumen yang ada di atas meja itu" Kata Jero sambil menunjuk ke arah tumpukan dokumen yang harus dibaca oleh Jero.
Vian mengangguk. Vian kemudian duduk di sofa yang ada di ruangan Jero.
"Jenuh juga. Main game kelihatannya lebih menarik" ujar Vian.
Vian kemudian mengeluarkan ponsel miliknya. Dia kemudian mulai memainkan game kesukaannya. Vian benar benar tidak tahu harus melakukan apa saat ini.
Jero yang melihat Vian sedang main game hanya bisa geleng geleng kepala saja. Jero tahu kalau Vian sudah bosan, tetapi apa mau di kata. Jarum jam dinding masih menunjukkan angka setengah sembilan. Perjalanan dari perusahaan Jero ke pengadilan hanya memakan waktu selama lima belas menit saja. Sehingga kalau mereka pergi dari sekarang, maka mereka akan datang sangat cepat dari perjanjian yang sudah dibuat dengan Jeri, Felix dan Bram. Jadi membiarkan Vian dengan gamenya adalah keputusan yang paling tepat diambil oleh Jero.
"Sayang sudah pukul sembilan lewat, ayuk kita jalan" ujar Jero mengajak Vian untuk berangkat menuju pengadilan.
"Okeh"
Vian menghentikan permainan gamenya. Dia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas tangan yang dibawa oleh Vian.
"Kamu siap sayang?" tanya Jero sekali lagi.
Vian kemudian berdiri. Dia menatap ke mata tajam Jero. Vian memilih untuk memeluk kekasih hatinya itu. Vian butuh ketenangan untuk menenangkan hatinya. Satu satunya orang yang bisa memberikan Vian ketenangan adalah Jero kekasih hatinya itu.
Jero yang tiba tiba dipeluk oleh Vian, membalas pelukan kekasihnya itu. Jero tahu kalau Vian butuh dukungannya sekarang ini.
Cup, Jero mengecup puncak kepala Vian.
"Kamu pasti bisa sayang" ujar Jero meyakinkan Vian.
"Semuanya akan aman aman saja" lanjut Jero berusaha membuat Vian tenang.
"Jalan sekarang?" tanya Jero kepada Vian. Vian masih terus memeluk Jero. Vian seperti tidak ingin melepaskan pelukannya.
"Sayang, nanti kita telat" lanjut Jero mengingatkan Vian akan waktu yang terus berjalan.
"Oke sayang. Mari kita jalan. Aku sudah siap" jawab Vian.
Jero menggenggam tangan Vian dengan lembut. Jero memberikan Vian dukungan lewat genggaman tangannya. Jero tidak akan membiarkan Vian sendirian untuk melakukan dan mengikuti semua proses persidangan, Jero akan selalu berada di sisi Vian.
Hendri yang melihat Tuan dan Nona nya sudah berada di lobby, langsung saja membukakan pintu untuk Jero dan Vian. Setelah Jero dan Vian masuk ke dalam mobil, Hendri mulai mengemudikan mobilnya menuju pengadilan agama
"Hendri coba lihat melalui GPS sudah sampai dimana Jeri, Felix dan Bram" ujar Jero meminta Hendri untuk melihat sudah sampai dimana kedua adiknya dan juga sahabat baiknya itu.
"Siap Tuan" jawab Hendri.
Hendri mengaktifkan fitur GPS untuk semua mobil milik Asander Grub. Jero bisa melihat jelas semua mobil Asander Grub di layar monitor kecil yang di pasang di sandaran kursi depan.
"Gimana sayang?" tanya Vian yang tidak mengerti cara melihat apa yang ditampilkan di layar monitor itu.
"Mereka sudah jalan sayang" jawab Jero sambil melihat ke arah Vian.
"Sayang, kalau itu aku juga tahu sayang kalau mereka sudah jalan." jawab Vian dengan mengerucutkan bibir nya panjang panjang.
"Nah terus maksud pertanyaan kamu tadi apa?" tanya Jero kembali.
"Maksud aku itu, dari sekian banyak titik warna merah dan ada yang warna biru, dari mana kamu tahu yang itu Jeri, Felix dan Bram" kata Vian menjelaskan maksud pertanyaannya tadi.
"Oh itu maksudnya." jawab Jero dengan wajah tanpa dosanya.
"Kalau yang biru itu adalah mobil keluarga kita sayang. Sedangkan yang merah itu mobil operasional kantor" jawab Jero menjelaskan beda warna biru dan merah.
"Oh. Kalau mobil kita yang mana sayang?" tanya Vian yang ingin tahu dimana posisi mobil mereka kalau berdasarkan GPS.
"Ini sayang" kata Jero sambil menunjuk satu titik biru.
"Jadi yang di depan ini, maksud aku yang titik merah ini adalah mobil pengawal yang di depan kita?" lanjut Vian mencerna informasi yang diberikan oleh Jero.
"Yap bener. Titik merah depan dan belakang ini adalah mobil pengawal kita berdua" jawab Jero.
"Oh berarti setiap mobil milik perusahaan atau milik kita, bisa dilacak dimana keberadaannya?" ujar Vian yang takjuo dengan teknologi yang dipakai di mobil semua milik GA Grub
"Yupi, jangankan itu, dengan memakai teknologi ini kita akan tahu siapa yang mengemudikan mobil" lanjut Jero menjelaskan lebih spesifik lagi tentang alat yang dipakai di mobil mereka.
"Kamu mau lihat yang lebih lagi sayang?" tanya Jero kepada Vian.
"Boleh sayang" balas Vian yang sangat antusias mendengar apa saja kelebihan dari alat yang ada di mobil tersebut.
"Hendri tambah kecepatan" ujar Jero meminta Hendri untuk menambah kecepatan mobil yang dikemudikannya
Hendri kemudian menambah kecepatan mobil yang dikemudikannya itu.
"Hendri turunkan kecepatan" teriak Felix dan Bram bersamaan.
"Sayang itukan suara Felix dan Bram" ujar Vian menebak suara yang rerdengar di speaker mobil
"yup. ini adalah salah satu kcanggihan dari mobil ini sayang" kata Jero dengan bangganya