My Affair

My Affair
Briefing Di Ruang Kerja



Vian tersenyum karena Jero dengan berani meminta maaf kepada dirinya. Bagi Vian kalau Jero sudah memahami kesalahannya maka Vian juga tidak akan mempermasalahkan masalah itu. Bagi Vian saat Jero sudah meminta maaf, maka semua urusan akan selesai saat itu juga.


'Huft malapetaka' ujar Bram saat melihat apa yang terjadi antara Jero dengan Vian.


'Alamat nggak akan jadi membahas bisnis ini' kata Felix yang dalam otaknya hanya ada bisnis dan bisnis, kontrak dan kontrak.


"Mari masuk" ujar Vian dengan sangat ramah.


Felix dan Bram saling menatap antara satu dengan yang lainnya. Mereka berdua tidak menyangka kalau Vian akan bersikap seperti itu. Vian benar benar ramah dan tidak terlihat sedang marah seperti tadi.


"Karena kata maaf dari Bang Jero" ujar Bram di telinga Felix sambil berbisik.


"Oh. Kekuatan cinta lagi" lanjut Felix yang sekarang sudah bisa menyindir apa yang dilakukan oleh Jero dan Vian.


"Bucin lebih tepatnya Tuan Muda" kali ini Hendri yang berkata.


"Good" balas Bram sambil memberikan dua jempolnya ke Hendri.


"Hati hati aja, denger sama Jero bisa ilang kamu" ujar Felix menakut nakuti Hendri.


"Tenang Tuan Muda, Tuan muda Jero sudah tahu kalau saya sangat suka mencemooh dirinya kalau terlihat sangat bucin" kata Hendri yang memang sudah biasa terlihat di depan Jero saat dirinya mengejek Jero.


"Kalian mau tinggal di luar?" ujar Vian ke arah Bram, Felix dan Hendri


Mereka berdua masuk ke dalam ruang kerja Vian begitu juga dengan Hendri yang tidak akan pernah jauh dari Jero.


"Sayang, aku ke sini mau menjelaskan masalah telpon tadi." ujar Jero membuka ceritanya dengan Vian. Tujuan utama Jero datang ke rumah sakit memang untuk menemui Vian.


Bram dan Felix langsung pandang pandangan mendengar yang dikatakan oleh Jero. Mereka tidak menyangka kalau Jero datang ke tempat Vian hanya untuk membahas masalah pribadi mereka berdua saja. Dalam bayangan Felix dan Bram, Jero mengundang mereka datang ke rumah sakit untuk membahas tentang bisnis mereka yang baru.


"Huft" ujar Felix dan Bram bersamaan.


Vian melihat hal itu, tetapi Vian sama sekali tidak ambil pusing dengan apa yang dilakukan oleh Felix dan Bram.


"Terus?" ujar Vian menanggapi pernyataan dari Jero hanya dalam satu kata saja.


"Terus aku ya minta maaf, aku memang salah" lanjut Jero.


"Jadi?" kata Vian selanjutnya.


"Sayang, aku malas angkat telpon tadi itu bukan angkat telpon dari kamu yang aku malasin. Tetapi angkat telpon dari rekan rekan bisnis aku" akhirnya Jero berhasil mengatakan kepada Vian apa yang membuatnya malas untuk mengangkat telpon.


Jero bener bener lemes mendengar pertanyaan pertanyaan dalam satu kata yang diutarakan oleh Vian kepada dirinya.


"Ayolah sayang, jangan pake emosi emosi jiwa sayang" ujar Jero kepada Vian.


"Nggak ada emosi. Biasa saja" kata Vian dengan santai.


"Terus kenapa masih jutek? Apa kamu masih belum menerima penjelasan dari aku sayang?" ujar Jero bertanya kepada Vian.


"Oke sayang ooo sayangku. Penjelasan diterima semuanya diterima sayangku" ujar Vian yang sama sekali sebenarnya tidak mau memperumit masalah yang terjadi antara dia dengan Jero. Tetapi Vian sangat senang mengerjai Jero dengan semua gayanya dan tingkahnya.


Tadi Vian memutus panggilan dengan Jero bukan karena Vian marah, tetapi karena sudah harus melakukan operasi. Tetapi, Vian sengaja tidak mengatakan hal itu kepada Jero.


"Kami diundang Bang Jero untuk menyaksikan permintaan maafnya kepada Kak Vian" ujar Bram yang sengaja mengatakan hal itu kepada Vian.


Hal ini disebabkan oleh Jero juga. Jero mengatakan kalau dirinya datang ke ruangan Vian karena Jero mau meminta maaf kepada Vian.


"Hahaha bukan karena itu sayang" ujar Jero yang tahu dia disindir oleh Bram dengan jawaban seperti itu.


"Jadi karena apa?" ujar Vian yang tidak mengerti dengan tiga kakak beradik yang sekarang duduk di depannya itu.


"Kami ke sini mau melakukan pembicaraan bisnis." ujar Jero dengan santainya menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Vian.


"Kok harus di sini? Emang di sini restoran yang bisa menjadi tempat untuk melakukan pembicaraan bisnis?" Vian benar benar tidak mengerti dengan yang diinginkan oleh Jero.


"Ya karena kamu merajuk sehingga aku memutuskan untuk mengajak mereka berdua membicarakan pekerjaan di sini" ujar Jero tanpa merasa bersalah dan tak berdosa.


"Huft banyak kali lah gaya kamu jadi orang" ujar Vian mengejek Jero.


"Biarin. Kamu sampai jam berapa kerja?" tanya Jero sambil menatap ke arah Vian.


"Sampai jam lima" jawab Vian.


"Oke kami akan meeting di sini saja" ujar Jero memutuskan apa yang akan dilakukannya sekarang.


"Hem mulai dah tu" ujar Vian.


"Kalau aku nggak izinkan gimana?" tanya Vian.


"Yakin nggak izinkan?" Jero balik bertanya kepada Vian sambil menatap ke arah Vian.


"Silahkan gunakan ruangan ini tiga Tuan tampan. Saya persilahkan Tuan tampan." ujar Vian sambil tersenyum ke arah ketiga pria tersebut. Vian benar benar ingin tertawa ngakak melihat cara Jero bertanya kepada dirinya.


Vian kemudian duduk di kursi kerjanya, sedangkan Jero, Felix dan Bram langsung duduk di sofa yang ada di dalam ruangan kerja Vian. Mereka bertiga akan membahas masalah bisnis yang akan mereka kerjakan.


"Bang mana bisa seperti itu, seharusnya kan kontrak kerja itu sudah ditandatangani bulan ini" ujar Bram yang menyangkal apa yang dikatakan oleh Felix.


"Kamu mau ke sana untuk pergi menandatangani kontrak kerjasama itu?" jawab Felix.


"Nggak jauh" jawab Bram langsung menolak keinginan Felix yang meminta dirinya untuk pergi menandatangani perjanjian kontrak kerjasama dengan perusahaan dari negara A.


"Makanya, mereka bisa datang ke sini dalam bulan depan." kata Felix sambil melihat melihat ke arah Bram.


"Sayang kita saja yang pergi tanda tangan gimana?" ujar Vian yang sangat bersemangat untuk pergi ke negara A.


"Kok tiba tiba jadi semangat sekali?" kata Jero kepada Vian saat melihat Vian yang sangat sangat bersemangat untuk pergi ke negara A.


"Mana ada semangat biasa aja kok" ujar Vian membela dirinya. Vian tidak ingin terlihat menjadi sangat bersemangat untuk meminta pergi ke negara A.


"Alah tadi padahal semangat tuh. Kakak ipar jangan malu gitu" kali ini Bram yang mulai menggoda Vian dengan gaya khasnya.


Vian membesarkan matanya kepada Bram. Bram membalas apa yang dilakukan oleh Vian kepada dirinya.


"Benerkan Kakak ipar pasti ingin pergi kan ya. Jujur ajalah kakak ipar" ujar Bram sambil melihat ke arah Vian.