
"Nanti pulang aku jemput" ujar Jero sambil menatap Vian yang duduk di kursi belakang. Sedangkan Jero dia duduk di sebelah Felix yang sedang mengemudikan mobil.
"Nggak jemput aku bunuh" ujar Vian sambil memperagakan orang menggorok leher.
"Lihat aja nanti. Kalau sempat nggak jemput. Aku akan pergi dari mansion" lanjut Vian menakut nakuti Jero.
"Sayang sayang mana bisa kamu pergi dari aku. Nggak nengok aku aja kamu dalam sehari kamu pusing sayang. Apalagi pergi jauh dari aku" ujar Jero sambil menaik naikkan alisnya.
"Yelah, pokoknya jemput. Nggak mau tau." kata Vian memberikan ultimatum nya kepada Jero.
"Kalau sedang meeting gimana sayang?" ujar Jero menggoda Vian. Jero sengaja menambah nambah pertanyaannya kepada Vian.
"Tinggalin. Toh biasanya kamu juga tidak pernah ke perusahaan waktu jadi supir pribadi aku. Sekarang lagaakan mau ke perusahaan" lanjut Vian menjawab perkataan dari Jero.
Felix mengarahkan mobilnya menuju rumah sakit harapan kita. Dia akan mengantarkan Vian ke sana terlebih dahulu. Setelah mengantarkan Vian barulah mereka kembali menuju perusahaan.
Jero menghubungi Hendri untuk menunggu Vian di depan pintu ruangannya.
"Sayang jangan main pergi aja seperti tadi" ujar Jero memperingatkan Vian untuk tidak main pergi saja. Ini sudah kesekian kalinya Jero mengingatkan Vian. Vian sampai hafal kata kata yang akan diucapkan oleh Jero kepada dirinya.
"Iya iya, nanti aku pergi akan ngomong. Nggak akan asal kabur aja" ujar Vian yang nggak mau ribut dengan Jero.
Dengan Jero berdebat, makanan Vian tidak akan pernah menang sama sekali. Jero luar biasa bisa menjawab apa yang dikatakan oleh Vian. Masalah simpel akan jadi besar kalau Jero sudah dalam mode protektif yang sangat luar biasa itu.
"Kalau aku kabur gimana?" tanya Vian tiba tiba.
Felix yang mendengar langsung menepuk jidatnya tidak percaya mendengar apa yang ditanyakan oleh Vian.
'Kakak ipar Kakak ipar. Kamu bener bener pengen cari mati' ujar Felix dalam hati sambil melirik Vian dari kaca spion mobil.
"Tenang aja sayang. Aku akan menambah pengawalan dengan empat kali lipat dari yang ada" ujar Jero menjawab perkataan Vian.
"Kecil. Baru delapan" ujar Vian yang mengira pengawalnya hanya Hendri dan Erik saja.
"Mana delapan. Delapan puluh iya" jawab Jero sambil memandang Vian.
"Huft" akhirnya Vian memilih untuk mengalah. Dia sudah tidak kuasa lagi menjawab semua kata kata dari Jero.
Felix mendengar keributan sepasang kekasih itu. Jero dengan sikap protektifnya sedangkan Vian dengan sikap ngeyel nya. Felix hanya bisa diam saja, dia menikmati keributan yang sangat sangat hangat itu.
"Ngapain senyum senyum Felix?" tanya Vian kepada Felix yang terlihat sangat menikmati keributan yang terjadi antara dirinya dengan Jero.
"Nggak ada. Aneh aja. Hari gini masih perang. Kalau udah cinta mah nggak usah main perang. Santai aja" ujar Felix kepada sepasang kekasih yang memang kadang nggak jelas itu.
Mereka bertiga kemudian terdiam sepanjang sisa perjalanan. Felix membelokkan mobilnya masuk kedalam parkiran rumah sakit, Jero dan Vian kemudian turun dari mobil. Mereka masuk ke dalam rumah sakit. Sedangkan Felix menunggu Jero di dalam mobil.
"Sayang, aku ke kantor dulu ya. Ha" ujar Jero yang perkataannya langsung di potong oleh Vian.
"Hati hati, kalau pergi ngomong. Jangan hilang dari pandangan Hendri dan Erik" ujar Vian memotong perkataan Jero yang sudah hafal oleh Vian.
Jero mengacak rambut Vian.
"Mantap udah pinter jawab" ujar Jero sambil mengacungkan dua jempolnya kepada Vian.
"Sekali sekali, selagi hafal apa yang mau diucapin kan ya" ujar Vian yang semenjak tau siapa Jero, selalu menjawab apa yang dikatakan oleh Jero.
"Jam berapa selesai nanti?" tanya Jero yang merasakan ponselnya bergetar di dalam saku jas. Felix sudah menghubunginya sebanyak tiga kali sejak tadi.
"Jam lima ya. Jangan telat" ujar Vian sambil menggoyang goyangkan jari telunjuknya ke hadapan Jero.
"Oke jam lima. Nggak akan telat" jawab Jero memastikan kalau dia nggak akan telat sampai di tempat Vian. Jero akan selalu menepati janjinya kepada Vian.
"Masuk sana" ujar Jero membukakan pintu ruangan Vian.
Hendri dan Erik sudah ada di dekat sana. Vian melarang mereka untuk berdiri pas di depan pintu ruangan. Vian nggak mau para pasien nantinya akan merasa terganggu karena ada Hendri dan Erik yang berjaga jaga di depan pintu ruangan Vian.
"Jangan telat Jero" Vian sengaja meneriaki Jero yang baru berjalan tujuh langkah dari depan ruangan Vian.
Jero mengangkat tangan kanannya. Jarinya membentuk tanda Oke dan mengarahkan ke Vian. Jero sama sekali tidak berpaling menghadap Vian. Jero masih melihat ke arah pintu keluar rumah sakit. Vian tersenyum melihat kelakuan kekasihnya itu. Kekasih yang sebenarnya salah, tetapi tidak dipermasalahkan oleh Vian. Vian merasa nyaman dengan Jero. Sehingga baik buruknya Vian siap menerima.
"Aku mencintai kamu" ujar Vian lemah. Hanya Vian sendiri yang bisa mendengar apa yang dikatakan oleh dirinya.
"Hendri, kalian berdua udah makan belum?" tanya Vian kepada kedua pengawalnya yang dari pagi sudah mengikuti dia kemana mana. Vian tadi lupa mengajak kedua pengawalnya untuk ikut makan siang bersama.
"Siap sudah Nona. Saat Nona pergi dengan Tuan tadi. Kami makan siang di kantin rumah sakit" jawab Hendri.
Hendri dan Erik sudah terbiasa melakukan kegiatan seperti ini. Mereka harus pandai pandai mencuri curi waktu untuk keperluan pribadi mereka sendiri. Baik untuk makan maupun untuk ke kamar mandi.
"Maaf, tadi saya lupa membawa kalian berdua. Mulai besok saya akan mengusahakan untuk tidak melupakan kalian berdua. Sekali lagi maaf" ujar Vian yang memang lupa dengan Hendri dan Erik tadi.
"Tidak apa apa Nona. Tidak ada yang perlu dimaafkan." jawab Hendri.
"Aku masuk dulu ya. Kalian kalau capek boleh kok duduk. Tidak masalah. Jero kan tidak ada di sini. Jadi, nggak usah kaku seperti ada Jero" ujar Vian kepada Hendri dan Erik sesaat sebelum dia masuk ke dalam ruangannya.
Vian masuk ke dalam ruangannya. Dia mulai membuka arsip pasien yang harus divisit besok pagi. Vian tidak ingin besok pagi baru menyusun semua dokumen pasien.
Saat Vian sedang sibuk menyusun laporan kesehatan pasien, terdengar keributan di depan ruangan Vian. Vian yang terbiasa acuh tidak memperdulikan keributan itu. Lagian belum tentu juga keributan di depan ada kaitannya dengan Vian. Makanya Vian lebih memilih untuk tidak keluar dan melihat kejadian yang sedang hangat itu.
"Maaf Tuan, Anda tidak bisa main masuk saja. Anda harus minta izin dulu kepada Nona Vian." ujar Hendri sambil memegang tangan pria itu. Seorang pria terlihat sangat ingin masuk ke dalam ruangan Vian.
"Kalian tidak tau siapa saya, saya ini Juan Aleksander. Tuan Muda dari keluarga Aleksander. Lagian yang mau saya temui adalah istri saya sendiri. Mana ada bisa orang melarang suami menemui istrinya. Apalagi suami hari meminta izin kepada istrinya untuk minta bertemu" ujar Juan dengan penuh emosi. Juan Aleksander masih berusaha melepaskan tangannya dari pegangan Hendri dan Erik.
"Maaf Tuan, anda tidak bisa masuk" ujar Hendri memegang tangan Juan dengan kekuatan penuh. Hendri tidak mau Juan lepas dari pegangan tangannya.
"Kalian semua memang ya. Kalian mau membuat saya emosi?" ujar Juan Aleksander yang sudah kehabisan kesabarannya.
"Terserah Anda Tuan. Anda mau esmosi, mau emosi mau erosi terserah Anda. Kami semua tidak peduli. Bagi kami yang jelas, Anda tetap tidak bisa masuk ke dalam ruangan Nona Vian" kali ini Erik yang berbicara kepada Juan Aleksander.
Hendri meminta Erik untuk menjawab, supaya Juan Aleksander bisa mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Erik. Mana tau saat Hendri yang mengatakan dia sama sekali tidak mengetahui apa maksudnya.
"Ada apa sih rame banget di luar. Heran gue, nggak biasa biasanya serame ini. Ini rumah sakit bukan pasar" ujar Vian marah marah sendirian di dalam ruang kerjanya itu.
Vian yang sudah bosan mendengar keributan itu, berjalan membuka pintu ruangan. Dia melihat Juan Aleksander ada di sana. Ternyata yang ribut dari tadi adalah Juan Aleksander dengan dua orang pengawal pribadi Vian.
"Vian" teriak Juan dengan keras.
"Ngapain lagi kamu ke sini? Belum puas kamu nyakitin aku ha?" ujar Vian berteriak saat melihat banyak keluarga pasien yang akan menyaksikan hal nggak wajar dan nggak penting itu.
"Vian dengarkan aku dulu" ujar Juan Aleksander berusaha membuat Vian mau mendengarkan apa yang akan dikatakannya.
"Maaf Tuan Muda Juan Aleksander, saya tidak bisa lagi mendengar apa yang Anda katakan. Sudah cukup sudah masalah yang kemaren kemaren. Saya sudah tidak sanggup lagi Tuan. Mohon mengertilah" ujar Vian yang sangat tidak ingin bertemu lagi dengan Juan Aleksander.
"Usir dia Hendri. Saya tidak mau melihat dia lagi" ujar Vian dengan murkanya. Vian terpaksa mengatakan hal itu karena Juan sama sekali tidak mau pergi dari hadapannya.
Penghinaan dari Juan Aleksander masih terngiang ngiang di telinga Vian. Penghinaan yang sangat kasar. Vian dianggap seperti binatang oleh seorang Juan Aleksander. Selain penghinaan dari kata katanya, Vian juga sering mendapatkan hukuman fisik dari Juan. Vian sering ditampar oleh Juan. Hal ini membuat Vian menjadi sangat murka.
"Tuan, tolong kerjasamanya. Kalau Anda masih seperti ini, saya pastikan anda akan menyesal" kata Hendri sekali lagi kepada Juan.
Juan menatap Hendri dengan tatapan tidak bersahabat. Juan betul betul marah dengan keadaan yang terjadi saat ini
"Lepaskan sebentar" ucap Juan Aleksander.
"Vian, saya minta sama kamu, tolong suruh pengawal kamu ini melepaskan saya. Sebentar saja" ujar Juan Aleksander memohon kepada Vian untuk melepaskan dirinya sebentar saja.
Hendri menatap Vian. Vian mengangguk. Dia ingin melihat Juan Aleksander melakukan hal apa.
Juan Aleksander maju ke arah Vian. Hendri dan Erik hendak mengikuti Juan. Tetapi, Vian melarang Hendri dan Erik untuk mendekat ke arahnya.
Plak sebuah tamparan melekat di pipi Vian. Vian memegang pipinya yang memerah itu. Hendri dan Erik memegang tangan Juan Aleksander dengan begitu kuatnya.
"Anda sudah melewati batasan Anda Tuan Muda. Anda saya pastikan akan menerima konsekuensi dari perbuatan Anda sebentar ini." ujar Hendri dengan nada dingin dan kasar. Hendri benar benar tidak menyangka Juan Aleksander akan menampar Vian
"Angga, Anggi." panggil Hendri kepada dua pengawal yang berdiri agak jauh dari mereka sekarang berada.
Angga dan Anggi datang ke tempat Hendri.
"Seret pria ini. Lemparkan ke mansion nya" ujar Hendri dengan murka.
"Siap Tuan" jawab mereka kompak.
Angga dan Anggi kemudian membawa Juan Aleksander secara paksa. Mereka seakan menyeret Juan Aleksander untuk keluar dari rumah sakit itu. Kiri dan Kanan orang melihat apa yang dilakukan oleh Angga dan Anggi terhadap Juan Aleksander.
"Hahahahahaha. Kalian akan mendapatkan balasan yang setimpal dari Tuan besar Aleksander. Kalian telah membuat anaknya teraniaya. Saya akan pastikan kalian semua termasuk wanita ****** itu tambah supir kurang ajar itu, akan merangkak ke kaki saya. Memohon untuk diampuni dan dibiarkan menghirup udara bebas" ujar Juan Aleksander yang masih belum tau dengan siapa dia berlawanan sekarang ini.
Juan Aleksander masih membanggakan dirinya dan keluarganya. Padahal peta permainan sudah berubah, sayangnya keluarga Aleksander tidak berpikir sampai ke sana. Mereka masih menganggap kalau mereka adalah yang terbaik di bisnis.
Angga dan Anggi, dua pengawal kembar yang terkenal dapat dipercaya itu. Menarik dengan kuat Juan Aleksander. Mereka seperti sedang membawa seorang tahanan. Padahal yang mereka bawa sekarang adalah Tuan Muda keluarga Aleksander.
"Hay jangan kuat kuat. Lecet nanti Tuan Muda Aleksander. Papinya Tuan besar Aleksander" ujar Hendri mencemeeh Juan Aleksander. Hendri sengaja melakukan itu, agar semua orang juga bisa melakukan hal yang sama kepada manusia sombong itu.
"Diangkat aja. Dia nggak biasa nginjek tanah. Nanti kakinya kudisan kalau dia menginjak tanah. Kalian nggak akan bisa mengembalikan kaki mulusnya." ujar Erik mengikuti apa yang dilakukan oleh Hendri.
"Wow kakinya mahal" ujar salah satu pengunjung rumah sakit.
"Hahahahahahaha" semua orang di lantai itu tertawa.
"Hus jangan di gitukan juga Tuan Muda itu. Nanti kalian di inspeksi Papinya baru tau" sambar salah satu penonton yang masih setia menunggu minyak yang akan datang.
"Manusia sombong memang harus dibegitukan Tuan." ujar salah satu pengunjung.
"Ngomong istri. Tapi, bawa wanita lain ke rumah. Apa namanya tu" teriak seorang pengunjung.
Juan Aleksander tidak membayangkan kalau kejadiannya akan seperti ini. Padahal tadi Juan Aleksander sudah memperhitungkan kalau dia akan dengan mudahnya berbicara dengan Vian.
Juan Aleksander tidak tahu kalau Vian sudah jauh berubah. Vian sudah sangat bahagia saat ini. Dia sama sekali tidak pernah menangis di rumah ini. Berbeda dengan di mansion keluarga Aleksander.
Juan Aleksander berjalan cepat menuju mobil yang akan ditumpangi oleh mereka. Mobil bergerak meninggalkan rumah sakit untuk menuju mansion Tuan Muda Aleksander. Mereka akan menurunkan Juan Aleksander di warung tenda nasi goreng.
Anggi yang memang kadang aneh itu, memberhentikan mobil di depan penjual nasi goreng.
Anggi membuka pintu tempat dimana Juan Aleksander duduk.
"silahkan turun Tuan. Kami hanya sampai sini mengantarkan Tuan. " ujar Anggi kepada Felix.
Juan Aleksander kemudian turun dari dalam mobilnya. Dia berjalan cukup jauh untuk menuju mansion. Juan Aleksander benar benar soal untuk hari ini
"Bersabar , bentar lagi juga sampe makanannya" ujar Anggi kepada Juan Aleksander.
Stay cun ya kakak kakak**.
Baca juga
Kepahitan Sebuah Cinta
It's My Dream
Kesetiaan Seorang Istri
Suamiku Bukan Milikku