
"Kata Bang Jero kalau dia, Felix dan Bram akan mengobrol selama tiga puluh menit dengan Tuan besar Alexsander. Setelah itu dia akan langsung ke mobil, supaya Tuan besar Alexsander tidak melihat keberadaan kita. Jadi, dia tidak perlu curiga dengan JEro, Felix dan Bram" ucap Vian memberitahukan kepada Jeri apa isi pesan chat yang dikirm oleh Jero kepada Vian.
"terus kalau dalam tiga puluh masih belum selesai mengobrol bagaimana?" lanjut Jeri bertanya kepada Vian. Jeri sebenarnya sangat cemas, tetapi dia harus menguasai dirinya supaya yang lain juga bisa menguasai dirinya agar semuanya dalam kondisi stabil. Sehingga yang harus terlihat stabil terlebih dahulu adalah Jeri bukan yang lainnya. Jeri stabil maka semuanya akan terbawa stabil, begitu juga sebaliknya, maka sedapat mungkin Jeri akan berusaha stabil tidak terlihat panik dengan keadaan yang sedang terjadi pada saat ini.
"Kalau dalam tiga puluh menit itu masih belum juga selesai mengobrol, maka Jero harus menghentikan percakapan" ujar Vian menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Jeri kepada dirinya. Jero sebenarnya tidak mengatakan apa apa soal pertanyaan yang diberikan oleh Jeri kepada Vian, tetapi Vian harus menjawab juga, makanya Vian hanya asal comot jawaban saja, tergantung apa yang ada di dalam pikiran Vian pada saat itu.
"Keren" ujar Jeri saat mendengar apa yang dikatakan oleh Vian sebentar ini. Dia akan pastikan kalau semuanya dalam kendali dirinya.
Vian, jeri, Greta dan Tama kemudian melanjutkan obrolan mereka dan menatap ke arah ruangan VVIP sebelah di mana di sana sedang duduk tiga orang yang sangat berarti bagi mereka semua, siapa lagi kalau bukan Jero, Felix dan Bram. Mereka berdoa semoga Jero, Felix dan Bram dalam keadaan baik baik saja saat pulang selesai mengobrol dengan Tuan besar Alexsander, kalau tidak maka tuan besar Alexsander akan melihat murka dari mereka semua, karena telah dengan berani membuat masalah dengan keluarga Asander.
"Jero, Felix dan Bram, kenalkan saya adalah Tuan besar Alexsander. Saya adalah pengusaha yang bergerak di berbagai bidang." ujar Tuan besar Alexsander memperkenalkan dirinya.
Bram menatap heran ke arah Tuan besar Alexsander. Bram sangat tidak suka dengan gaya perkenalan diri Tuan besar Alexsander yang seperti sangat sombong tersebut. Bram benar benar merasa aneh dengan cara Tuan besar Alexsander memulai membuka percakapan antara mereka berempat.
Tuan besar Alexsander paham dengan tatapan yang diberikan oleh Bram kepada dirinya saat Bram, Jero dan Felix mendengar apa yang dikatakan oleh Tuan besar Alexsander saat dirinya memperkenalkan siapa dia kepada ketiga bersaudara itu.
"Tuan Jero, Tuan Felix dan Tuan Bram. Maafkan kalau cara perkenalan diri saya tadi salah, saya bukan bermaksud ingin menyombongkan diri, sama sekali tidak. Tujuan saya adalah supaya kita bisa menjalin kerjasama ke depannya" ujar Tuan besar Alexsander menjelaskan kenapa tadi dirinya mengatakan kalau dia adalah pemilik perusahaan Alexsander grub yang bergerak di semua bidang bisnis yang ada di negara I
"Haha haha haha" Jero tertawa saat mendengar penjelasan yang diajukan oleh Tuan besar Alexsander kepada dirinya dan kedua adiknya itu.
"Tuan besar Alexsander, sepertinya Anda salah mengajak kami mengobrol, kami bukanlah pengusaha Tuan besar Alexsander" ujar Jero yang mengelak dan langsung menolak untuk bekerjasama dengan perusahaan Alexsander Grub.
Perusahaan yang sudah mereka akuisisi di negara E. Sekarang mereka tidak tertarik lagi untuk mengakuisisi perusahaan Alexsander Grub yang ada di negara I.
"Saya tidak yakin Tuan Jero, kalau Tuan bertiga bukan pengusaha" lanjut Tuan besar Alexsander memberikan tanggapannya terhadap apa yang telah dikatakan oleh Jero menanggapi perkenalan dari Tuan besar Alexsander yang anti maestream tersebut.
"Haha haha, kami ini hanya staf biasa Tuan di perusahaan tempat kami bekerja" jawab Jero yang masih tetap tidak mau mengatakan mereka bertiga sebenarnya siapa.
'kamu masih tidak berubah Tuan besar Alexsander, masih tetap sombong dengan perusahaan yang kamu miliki' ujar Jero kesal dengan apa yang telah dilakukan oleh Tuan besar Alexsander yang sangat sangat tidak mengenakkan itu.
"Baiklah Tuan besar Alexsander" ujar Jero mengatakan kata Alexsander dengan penekanan yang sangat sangat membuat siapa saja yang mendengar menjadi kesal, karena sangat terlihat jelas kalau Jero menyindir habis Tuan besar Alexsander.
"Kalau tidak ada lagi yang akan di bahas, kami izin untuk pergi dari ruangan ini" ujar Jero yang sudah sangat sangat tidak betah lagi berada di ruangan VVIP itu, akibat kesombongan yang masih diperlihatkan oleh Tuan besar Alexsander kepada dirinya dan juga kepada kedua adik Jero yaitu Felix dan Bram.
Tuan besar Alexsander terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Jero kepada dirinya. Dia benar benar sudah salah mengira. Tuan besar Alexsander tadi mengira kalau Jero, Felix dan Bram adalah tiga orang kakak beradik pemilik dari salah satu perusahaan ternama karena mereka bertiga menumpang pesawat pribadi, sehingga Tuan besar Alexsander dengan sengaja menubrukkan badannya kepada Jero.
'Saya telah salah memilih target untuk melakukan aksi saya' uajr Tuan besar Alexsander dalam hatinya.
Dia benar benar sangat menyesal harus berkenalan dan menghabiskan waktu dengan Jero, Felix dan Bram.
"Kami permisi pamit dulu Tuan besar Alexsander" ujar Jero kembali mengucapkan hal yang sama kepada Tuan besar Alexsander tersebut.
"Jangan begitu Tuan Jero. Saya masih mau mengobrol dengan Anda bertiga" ujar Tuan besar Alexsander yang masih berusaha mempertahankan tatakramanya. Padahal sebenarnya dirinya sudah sangat ingin mengusir ketiga kakak beradik itu dari tempat dirinya berada sekarang.
tetapi ntah kenapa di satu sisi, tuan besar Alexsander masih tidak percaya kalau mereka bertiga bukanlah seorang pengusaha yang terkenal. Tuan besar Alexsander sama sekali tidak mempercayai itu, tuan besar alexsander tetap yakin kalau jero dan kedua adiknya adalah pemilik salah satu perusahaan besar di negara I.
Jero menatap ke arah kedua adiknya. Felix dan Bram sepakat untuk mengikuti permainan yang sedang dilakukan oleh Tuan besar Alexsander. Mereka akan mengikuti dengan senang hati, tetapi Tuan besar Alexsander harus bersiap diri kalau Felix dan Bram sudah bermain, maka mereka akan bermain main dengan serius.
Jero geleng geleng kepala dengan apa yang ada di dalam pemikiran kedua adiknya. Dia harus memberikan mereka peringatan nanti saat sampai di mansion keluarga Asander. Mansion yang sudah sebulan tidak dikunjungi oleh Jero dan kedua adiknya
"Baiklah Tuan besar Alexsander, kami akan menunda kepulangan kami dulu untuk sementara waktu." ujar Jero yang kembali mengambil posisi duduk ternyaman di dalam ruangan VVIP yang terasa sudah sangat hangat tersebut.
Tuan besar alexsander tersenyum mendengar jawaban yang diberikan oleh Jero kepada dirinya. Dia sangat senang saat Jero, Felix dan Bram memilih untuk tetap tinggal sebentar lagi.
"Saya hanya punya waktu untuk mengobrol dengan Anda hanya tiga puluh menit Tuan besar, tidak lebih dan tidak kurang" ujar Jero memberitahukan kepada Tuan besar Alexsander berapa lama dia bisa berbagi cerita dengan tuan besar tersebut.
"oh ya tuan jero, kenapa tadi saat perkenalan anda tidak menyebutkan nama keluarga anda?" ujar Tuan besar alexsander bertanya kepada jero
Felix dan Bram langsung kaget mendengar pertanyaan yang diajukan oleh tuan besar alexsander tersebut. Mereka berdua sangat yakin kalau tuan besar alexsander masih berusaha mencari tahu siapa mereka bertiga sebenarnya
"Ayo bang, kita pulang aja. Ngabis ngabisin energi berbicara dengan orang yang hanya pikirannya harta dan kerja sama perusahaan" ujar Bram yang sudah berdiri dan mengutarakan apa yang ada di dalam pikirannya kepada semua orang yang ada di sana.
Jero dan Felix yang melihat Bram sudah berdiri dari duduknya juga melakukan hal yang sama, mereka juga akan pergi mengikuti Bram meninggalkan ruangan VVIP itu.
"Maaf tuan besar alexsander sepertinya percakapan kita tidak bisa dilanjutkan kembali. Kami permisi terlebih dahulu" ujar Jero
Mereka bertiga kemudian keluar dari dalam ruangan VVIP. Jeri yang melihat juga langsung mengajak mereka yang berada di ruangan VVIP yang satu lagi untuk keluar dan berjalan menuju mobil mobil yang telah menanti mereka di depan terminal kedatangan penumpang pesawat pribadi. Ivan dan Juan sudah berdiri di sana dari tadi.
"udah berapa lama berdiri di sini Bang?" ujar Bram bertanya dengan raut wajah yang masih kesal
"Sejam lebih" jawab Juan
'Kenapa dia?' ujar Juan bertanay kepada Felix dengan gerakan mulutnya.
'nanti di mansion' jawab Felix
Mereka semua kemudian masuk ke dalam mobil hitam dove yang sudah menunggu dari tadi. Mereka semua akan langsung menuju mansion utama Asander. Mansion yang sangat bagus dan sangat luas yang ada di negara I. Mansion yang letaknya hanya orang orang Asander saja yang tahu dimana gerbang masuk mansion mewah tersbeut, selain dari orang orang Asander maka tidak ada yang tahu lagi dimana mansion itu berada