My Affair

My Affair
Mansion Alexsander



" baiklah kalau kepala pelayan sudah memutuskan untuk kita atau saya menceritakan kepada kepala pelayan apa yang dikatakan atau diributkan oleh Tuan dan nyonya besar saat itu, maka aku harus menceritakannya karena tidak ada lagi pilihan. Bener begitukan kepala pelayan" kata pelayan yang sudah tidak bisa lagi mengelak untuk tidak menceritakan apa yang diketahuinya karena hasil mendengar dari percakapan dan nyonya besar di dalam kamar tersebut.


"Bener. Kamu harus menceritakan secara jelas apa yang kamu dengar, supaya tidak menjadi fitnah atau ghibah" kata kepala pelayan yang masih sempat sempatnya mengatakan kata fitnah atau ghibah. Padahal kepala pelayan itu sangat penasaran dengan cerita yang akan disampaikan oleh pelayan kepada dirinya.


"Ya elah, Bik Ima. Udah penasaran dengan berita yang mau saya ceritakan, masih sempat sempatnya membahas ghibah. Jadi, malas saya menceritakan kepada kepala pelayan. Karena saya takut nanti jatuhnya ghibah"


"Saya nggak mau ah dikatakan tukang ghibah. jelek banget kesannya"


Sambar pelayan yang jadinya males mendengar ceramah sekilas diberikan oleh Kepala pelayan kepada dirinya tentang ghibah


"Sudah, katakan saja. Maaf kalau tadi saya sedikit menyinggung kamu dengan kata kata ghibah. Bukan maksud saya mengatakan kamu tukang ghibah"


Kepala pelayan berusaha meluruskan kesalah pahaman antara dirinya dengan pelayan yang akan menceritakan apa yang didengarnya itu. Kepala pelayan tidak mau, pelayan itu tidak jadi menceritakan apa yang di dengernya di depan kamar Tuan dan Nyonya besar Alexsander.


"Jadi bagaimana cerita yang kamu dengar?" kepala pelayan mengulang pertanyaan yang sama kepada pelayan.


Pertanyaan yang sudah kesekian kali di ulang oleh kepala pelayan hanya untuk mengorek cerita tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi di mansion besar ini. Mansion yang selalu saja tidak pernah ada kebahagiaan di dalamnya. Apalagi semenjak pernikahan antara Juan Alexsander dengan Vian, kebahagiaan seakan tidak pernah mau singgah di mansion besar ini. kebahagiaan itu hanya berlalu saja tanpa menyempatkan diri untuk masuk ke dalam mansion.


"Jadi aku hari itu mendengar kalau Tuan dan Nyonya pertamanya masih mengobrol dalam nada dan suasana santai. Tetapi akhirnya mereka ribut" ujar pelayan mulai membuka percakapan antara pelayan.


"Emang hal pertama apa yang mereka ceritakan sehingga masih dalam keadaan biasa biasa saja?" ujar kepala pelayan bertanya seperti aparat keamanan,


"haha haha haha" pelayan tertawa ngakak mendengar bagaimana cara kepala pelayan bertanya kepada dirinya lebih lanjut lagi.


"Kenapa tertawa?" ujar kepala pelayan yang tidak sadar kalau dia telah melakukan sesuatu yang pastinya akan membuat siapa saja menjadi tertawa karena tingkah konyolnya itu.


" gimana Nggak akan tertawa coba. Bima bertanya seperti seorang aparat keamanan yang seperti sedang mengintrogasi seorang tahanan"


" Emang aku tahanan" kata pelayan sambil melihat ke arah kepala pelayan yang dari tadi sangat serius mendengar cerita yang disampaikan oleh pelayan tersebut


" Bukan maksudnya mau mengintrogasi. tapi supaya kamu bercerita lebih jelas. enggak bleeh bleeh seperti itu. aku jadi nih pusing untuk menarik kesimpulan dari apa yang kamu ceritakan" kata kepala pelayan sambil melihat para pelayan itu yang sekarang paham apa maksud perkataan dari kepala pelayan.


" oke oke oke dan oke. aku akan menceritakan kejadiannya sesuai dengan kejadian yang aku dengar saat itu" kata pelayan yang tidak ingin kepala pelayan mendadak menjadi marah dan memindahkan dirinya untuk bekerja membersihkan rumah atau mencuci pakaian dan menyetrika pakaian. pelayan tidak ingin melakukan hal itu, sekarang posisinya sudah enak menjadi koki di mansion besar tersebut.


" jadi pagi itu kan aku sedang menyapu nih. karena pelayan bagian menyapu sedang sakit. sehingga aku harus menggantikan pekerjaannya pada hari itu."


pelayan mulai menceritakan apa yang terjadi kepada kepala pelayan. pelayan itu menceritakan semuanya dengan sangat antusias. dia tidak menyangka, kalau pada akhirnya dia tetap bisa menceritakan apa yang didengarnya kepada salah seorang manusia yang ada di mansion besar itu. sebenarnya pelayan sudah sejak lama ingin menceritakan kejadian tersebut kepada orang-orang yang berada di mension besar tersebut.


" nah pada saat menutup pintu, pintu itu sama sekali tidak tertutup rapat. sehingga aku yang di luar bisa mendengar dengan sangat jelas apa yang dikatakan dan diceritakan oleh Tuan dan nyonya besar dari dalam kamar mereka"


Pelayan kemudian terdiam dan terlihat sedang mengambil nafas serta berusaha mengingat apa yang dikatakan oleh Tuan dan nyonya besar mereka itu.


" mereka berdua kemudian melanjutkan pembicaraan yang belum selesai di ruangan kerja"


" saat itu aku mendengar kalau Tuan besar bertanya kepada nyonya besar tentang keberadaan Nyonya muda yang sampai sekarang tidak diketahui di mana tinggalnya"


" nah saat mulai membahas Nyonya muda inilah. nyonya besar meninggikan nada suaranya. hal itu sontak membuat Tuan besar menjadi sangat emosi dan tidak bisa mengendalikan amarahnya"


"Tuan besar sampai ngomong, jangan pancing amarah saya dengan meningginakn nada bicara kamu. Saya bisa berbuat hal gila karena itu" ujar Pelayan mengatakan apa yang dikatakan oleh Tuan besar, waktu Nyonya besar meninggikan suaranya tersebut saat mereka berdua sedang bercakap cakap.


"Emang nyonya muda kemana?" tanya Kepala pelayan kepada pelayan.


"Mana gue tahu kemana Nyonya muda" jawab pelayan yang tadi menceritakan apa yang di dengarnya kepada kepala pelayan.


"Emang saat mereka berdua ribut itu, mereka tidak mengatakan dan menceritakan dimana Nyonya muda tinggal sekarang?" lanjut kepala pelayan mengorrk informasi lebih dalam lagi kepada pelayan tersebut.


"Sama sekali nggak. Sepertinya Tuan dan Nyonya besar Aleksander memang tidak mengetahui dimana keberadaan Nyonya muda saat ini" kata Pelayan menjawab pertanyaan yang diberikan oleh kepala pelayan kepada dirinya.


"Kamu yakin nggak denger?" ujar kepala pelayan yang kurang percaya dengan apa yang dikatakan oleh pelayan tersebut.


"Beneran. Ngapak juga gue boong sama bik Ima. Nggak ada untungnya sama gue" lanjut pelayan yang kesal dirinya diragukan oleh kepala pelayan itu.


Mereka berdua kemudian terdiam dan sibuk dengan analisa masing masing. Analisa yang digunakan haya untuk hal hal negatif saja. Hal itu semakin membuat Kepala pelayan penasaran dengan keberadaan dari Nyonya muda mereka.


"atau gara gara hal itu, Tuan muda datang dan marah marah kepada fhoto keluarga itu?"


Kepala pelayan memberikan alternatif jawaban lepada pelayan saat mendengar berita yang disampaikan oleh pelayan tersebut kepada dirinya.


"bisa jadi" jawab pelayan yang setuju dengan analisa dan tanggapan yang diberikan kepala pelayan kepada dirinya.


"Menurut gue juga gitu Bik. Nggak mungkin kalau nggak ada masalah di rumah itu, Nyonya muda akan kabur seenaknya saja." kata pelayan yang sangat mengenal bagaimana sikap dan kedewasaan dari seorang Vian.