
"Tama, paggil Greta sana, kita harus tanya sama dia langsung sepertinya. Ini orang depan kita udah berubah jadi batu" kata Jero meminta tolong kepada Tama untuk memanggil kembali Greta ke dekat mereka.
"Tapi Jer, loe tau sendirilah dia baru ke sana. Gue nggak mau di amuk tu anak, belum lagi di amuk sama Vian, yang iya iya ajalah loe suruh gue" ujar Tama yang menolak apa yang diminta Jero untuk memanggil Greta ke tempat mereka sedang melihat pemandangan bersama dengan Vian dan Bram.
"Ya udah, kita aja yang ke sana" ujar Jero langsung berdiri dari posisi duduknya.
Jero dan Tama kemudian berjalan menuju tempat Greta berada. Jeri sudah tidak bisa lagi melarang keinginan kedua sahabatnya itu. Jeri sangat tahu bagaimana Jero kalau sudah memutuskan sesuatu. Jero pasti akan langsung mencari tahu dan menuntaskan secara langsung saat itu juga. Apalagi ini tidak ada urusannya dengan orang luar, orangnya ada di dekat Jero. Jadi, Jero akan menyelesaikan saat itu juga.
Jero berjalan lurus tanpa melihat ke beberapa pelayan kereta api yang menyapa dengan cara mengangggukkan kepalanya kepada Jero dan Tama.
"Tuan muda di atas kereta api ini semuanya tampan, tetapi dingin" ujar salah satu pelayan berkata kepada rekan kerjanya.
"Sedangkan wanitanya, dua nona itu sangat ramah sekali" kata pelayan yang lawan bicara dari pelayan yang mengatakan kalau tuan tuan yang ada di kapal itu tampan tetapi dingin.
Jero dan Tama yang mendengar apa yang dikatakan oleh beberapa orang pelayan itu hanya membiarkan saja tanggapan dari mereka. Jero dan Tama tidak ambil pusing dengan mereka, kedua pria itu tetap berjalan dengan gaya mereka menuju dimana Greta berada pada saat ini.
"Itu mereka Tam" ujar Jero saat melihat Vian dan Greta sedang duduk menghadap ke kaca yang ada di bagian belakang gerbong kereta api bagian belakang itu.
"Ternyata memang bagus pemandangan di sini Jer" ujar Tama yang menatap dengan pandangan penuh kekaguman saat melihat pemandangan yang disajikan oleh alam di depan mata elangnya itu.
Greta berharap Jero mau membicarakan apa yang akan dibicarakannya dengan Greta di sini saja. Greta tidak ingin dia nanti salah paham dengan Vian. Greta harus menghormati Vian sebagai kekasih Jero dan juga Jeri yang merupakan kekasih dari dirinya sendiri. Makanya Greta menawarkan kepada Juan untuk berbincang bincang di sini saja.
"Di sini saja tidak apa apa, Vian dan Bram juga boleh dengar. Mana tau nanti mereka memiliki pandangan sendiri untuk apa yang akan gue tanyakan ke elo" ujar Jero menyetujui permintaan dari Greta untuk berbicara di tempat mereka berada sekarang tanpa harus pindah ke tempat lain. Jero menganggap kalau pembicaraan ini bukanlah pembicaraan rahasia yang tidak boleh di dengat oleh orang lain, siapapun boleh mendengar dan memberikan pendapatnya sendiri tentang apa yang akan dibicarakan oleh Jero dan Greta serta Tama nantinya.
"Baiklah. Main langsung aja ya, loe taulah gue nggak suka basa basi. Nggak seperti tu sahabat di rumah sakit elo, yang luar biasa bisa bebasa basi" ujar Jero yang sebenarnya sudah terlalu panjang memberikan pengantar untuk mulai membicarakan apa yang akan dibicarakannya dengan Greta.
Tama yang mendengar apa yang dikatakan oleh Jero kepada Greta, membuat dirinya menjadi sedikit heran kenapa tiba-tiba saja Jero sedikit menggunakan nama Tama pada apa yang dikatakan oleh dirinya saat ini. Padahal dari tadi dia hanya diam saja, tidak ikut ikutan dalam pembicaraan antara Jero dengan Tama.
" Lu kenapa ikut-ikut bawa bawa nama gue coba. Gue nggak ngapa-ngapain dari tadi. Gue hanya diam saja dari tadi, e e e e e tiba tiba saja elo bawa bawa nama gue." kata Tama mengajukan protesnya kepada jero yang saat ini sedang terlihat memerhatikan Vian yang sedang serius menatap ke arah pemandangan yang disajikan oleh alam.
Jero hanya diam saja mendengar bantahan yang diajukan oleh Tama kepada dirinya. Jero tetap fokus kepada Apa yang dilihat oleh dirinya dan Vian. Jero juga sudah lupa kalau dia harus bercengkrama dengan Greta. Jero sama sekali belum memulai pertanyaannya kepada Greta. Greta pun heran dengan Jero. Tadi Jero terlihat tidak sabar lagi untuk berbicara dengan dirinya. Sekarang tiba tiba saja, Jero sama sekali belum memulai pembciaraan antara dirinya dengan greta. Tama juga merasa heran, sedangkan Jeri merasa sedikit tenang karena Jero sama sekali belum memulai pertanyaannya kepada Greta.
Vian mengingatkan tujuan utama Jero untuk datang ke tempat mereka berada saat ini. Jeri yang mendengar Vian mengingatkan Jero, langsung menatap ke arah Vian. Dia tidak menyangka Vian akan melakukan hal itu.
"Oh iya sayang, aku lupa" jawab Jero sambil tersenyum kepada Vian
"Makasi udah mengingatkan aku untuk hal penting itu" lanjut Jero mengucapkan terimakasih kepada Vian karena sudah mengingatkan dirinya tentang tujuan utama Jero dan yang lainnya menuju tempat Vian dan Greta serta Bram berada saat ini.
Vian tersenyum cantik kepada Jero. Ini adalah hal terburuk dari seorang jero kalau sudah bersama dengan vian. Jero akan lupa segala galanya saat dia sedang bersama dengan vian. Bram yang sudah hafal dengan kelakukan abangnya itu, hanya bisa maklum saja dan menganggap kalau dirinya tidak melihat semua kejadian yang tersaji di depan matanya pada saat ini.
Jero kemudian melihat ke arah Greta. Dia memutar kursinya supaya bisa menatap Greta. Hal yang sama juga dilakukan oleh yang lain. Mereka semua sekarang melihat ke arah Greta dan Jero yang akan melakukan pembicaraan yang kata Jero penting. Fokus setiap orang yang tadi melihat ke arah kaca untuk melihat pemandangan, sekarang sudah beralih menghadap ke arah Greta. Mereka semua juga penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Jero kepada Greta.
"Jadi, hal sepenting apa yang akan kamu bicarakan kepada aku Jer?" tanya Greta yang sebenarnya juga penasaran dengan apa yang akan dibicarakan oleh Jero kepada dirinya dari tadi.
"Jadi gini Greta. Tadi kekasih kamu yang super dingin itu ngomong ke gue dan Tama, kalau kamu dan dia akan pindah ke negara I. Apa benar hal itu?" kata Jero yang akhirnya menanyakan kepada Greta apa yang dikatakan oleh Jeri kepada dirinya tadi saat mereka duduk bertiga di gerbong kereta api.
Greta memandang ke arah Jeri. Greta mencari isyarat yang diberikan oleh Jeri kepada dirinya. Jero yang tau Greta mencari isyarat dari Jeri, memalingkan wajahnya kepada Jeri.
Jeri yang tau apa yang akan dilakukan oleh Jero, hanya diam tidak memberikan reaksi apa apa terhadap Greta.
"Huft" ujar Greta melepaskan nafasnya dengan berat.
'Sepertinya memang harus perang sendirian' ujar Greta dalam hatinya sambil melihat ke arah Jeri sekali lagi berharap Jeri memberikan kode.
Tetapi kenyataannya sama aja, Jeri sama sekali tidak memberikan kode apapun kepada Greta. Wajah Jeri tetap datar se datar tembok.
"Greta" panggil Jero kembali memusatkan perhatian Greta kembali.
Greta kemudian kembali fokus. Dia siap menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh Jero kepada dirinya. Apapun itu.
"Baiklah, memang benar aku dan Jeri akan pindah ke negara I" jawab Greta dengan nada santai menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Jero kepada dirinya.