My Affair

My Affair
Kebahagiaan Di Negara G



"Sayang, bunga di situ kelihatan sangat bagus sayang" ujar Vian bersorak dan langsung menunjuk ke kelompok bunga yang tidak jauh dari tempat dirinya dan Jero berada sekarang. Bunga bunga di sana memang terlihat sangat cantik dibandingkan dengan yang ada di tempat Vian berdiri sekarang.


Jero melihat ke arah yang ditunjuk oleh Vian. Jero melihat memang bunga bunga di sana lebih bagus, tetapi sebenarnya tidak kalah bagus dengan bunga bunga yang ada di sini. Tetapi demi Vian, Jero tetap akan membawa Vian ke sana.


'Pepatah yang mengatakan taman tetangga lebih bagus dari pada taman kita ternyata benar' ujar Jero dalam hatinya berkata sendirian


"ayuk ke sana, mari kita buktikan apakah bunga bunga di sana memang sangatlah bagus dibandingkan dengan bunga bunga yang di sini" ujar Jero yang setuju untuk langsung membawa Vian ke tempat yang ditunjuk oleh Vian tadi.


Jero meraih tangan Vian, mereka berdua bergandengan tangan menuju tempat yang ditunjuk oleh Vian tadi. Beberapa orang pengawal yang mengiringi Jero dari jauh mengikuti kepada bos mereka itu pergi. Mereka tidak bisa membiarkan Jero dan Vian berada di tengah tengah keramaian itu sendirian. Mereka akan selalu berada dimana Jero dan Vian berada.


"Wow sayang, benerkan yang aku katakan di sini lebih keren" ujar Vian saat melihat ternyata taman yang mereka kunjungi kali ini memang lebih bagus dari pada taman yang sebelumnya.


"Iya sayang di sini memang sedikit lebih keren dibandingkan yang di sana" ujar Jero menanggapi apa yang dikatakan oleh Vian kepada dirinya.


"Kenapa pakai kata sedikit?" tanya Vian protes mendengar jawaban yang diberikan oleh Jero kepada dirinya.


"Gimana nggak akan aku katakan sedikit. Kan tadi saat kita di taman ujung kamu katakan, sayang taman di situ bagus. Saat kita sudah di situ, sayang taman di sana bagus, nanti saat udah di sana, sayang taman berikutnya bagus"


"Jadi dari pada membandingkan lebih baik kita nikamti aja. Sesuai dengan kehidupan sayang, semakin ke atas hendaknya semakin baik bukan semakin buruk" ujar Jero menerangkan kepada Vian sekaligus memberikan Vian nasehat nasehat dalam menghadapi kehidupan ke depannya.


"Bener sayang, kalau itu aku setuju"


Vian dan Jero kemudian menikmati keindahan yang disajikan oleh taman tersebut. Vian asik berfhoto di sana. Jero beberapa kali mengambil dan mendokumentasikan Vian. Terkadang mereka melakukan sesi fhoto berdua, tetapi yang lebih banyak adalah sesi Vian berfhoto sendirian.


"Sayang, tolong ambilkan fhoto aku di sini sayang" ujar Vian meminta Jero untuk mengambilkan fhotonya yang sedang berada di bawah bunga bunga yang menjuntai berwarna putih.


Jero mengambil beberapa fhoto Vian yang sedang berpose di bawah bunga bunga berwarna putih itu. Fhoto fhoto itu semakin cantik karena Vian memakai pakaian berwarna ungu muda, sehingga membuat Vian menjadi sangat nampak di bawah bunga bunga yang berwarna putih tersebut. Benar benar warna yang kontras antara pakaian yang dipakai oleh Vian dengan bunga bunga yang menjadi latar fhoto oleh Vian. Vian terus saja berpose, ntah sudah berapa fhoto yang didokumentasikan oleh Jero, sampai sampai Jero sudah tidak bisa lagi menghitung berapa jumlah fhoto tersebut.


Setelah lelah berfhoto, mereka berdua kemudian mencari tempat untuk beristirahat. Jero selalu menggandeng tangan Vian saat mereka berjalan. Mereka akhirnya menemukans ebuah kursi kosong yang tepat di bawah rimbunnya bunga bougenvil berwarna kuning cerah. Mereka berdua kemudian duduk di bangku taman tersebut, bangku taman yang dipayungi oleh bunga bougenvile berwarna kuning. Vian terlihat sedang melihat lihat fhoto fhoto yang telah didokumentasikan oleh Jero selama mereka berada di taman itu. Berbagai pose dan gaya Vian di ambil oleh Jero. Mulai dari yang Vian meminta secara langsung sampai dengan yang Vian di fhoto secara candid.


"Sayang, kenapa ada fhoto aku yang sedang menguap ini sayang" ujar Vian memberikan protesnya kepada Jero yang telah mengambil fhoto dirinya dalam keadaan menguap. Pose yang sangat membuat Vian malu pada saat melihatnya. Bagaimana menguap sangat lebarnya Vian pada saat itu, untung saja Vian menutup mulutnya dengan punggung telapak tangannya, kalau tidak bisa dipastikan seekor burung merpati yang ada di taman itu akan bisa masuk ke dalam mulit Vian pada saat Vian menguap seperti itu.


"Sayang, itu adalah penampilan kamu yang apa adanya, bukan yang berpose sambil mengerucutkan mulut, atau melihat ke sembarang arah, itumah nggak bagus sayang" ujar Jero menjelaskan kepada Vian bahwasanya fhoto yang seperti itulah sebenarnya yang paling bagus.


"Yup bener, apa gunanya fhoto sambil manyun, mengernyitkan dahi, mengangkat jari dua, dan yang lain lain itu kalau itu hanyalah sebuah kebohongan. Jadi mending fhoto yang kayak gini, fhoto apa adanya adalah fhoto terbaik." kata Jero menekankan sekali lagi kepada Vian.


"Tetapi itu menurut aku loh sayang, menurut yang lain ya terserah mereka, mau menganggap yang mana paling bagus, aku mah nggak akan pernah memaksakan kehendak aku kepada siapapun" ujar Jero menekankan kepada Vian kalau pernyataannya yang tadi adalah hanya untuk dirinya saja, kalau orang lain berpendapat yang lain maka Jero tidak akan mempermasalahkannya karena itu hak mereka untuk mengutarakan pendapat mereka sendiri tentang mana fhoto yang paling keren.


"Oke sayang  oke" jawab Vian yang hanya bisa menjawab dengan kata oke saja perkataan yang baru saja dikatakan oleh Jero kepada dirinya.


Setelah menyelesaikan keributan tentang mana fhoto yang keren tersebut menurut versi mereka masing masing, Jero dan Vian kembali melihat fhoto fhoto yang telah di dokumentasikan oleh Jero. Beberapa fhoto berhasil membuat Vian tertawa terbahak bahak karena keanehan dari setiap fhoto yang berhasil di dokumentasikan oleh Jero.


Saat mereka sedang berbincang bincang itulah seorang pengawal datang mendekati Jero.


"Tuan" ujar Pengawal hendak berbicara empat mata dengan Jero.


"nanti saja" jawab Jero.


Pengawal yang hendak memberikan kabar tersebut, kembali mengundurkan dirinya. Dia tidak akan bisa menyampaikan apa yang akan disampaikan oleh dirinya kepada Jero, karena Jero sudah mengatakan nanti saja. Jadi, dia harus pergi dari sana.


"Bagaimana?" tanya salah satu pengawal yang juga sedang melihat ke arah Jero dan Vian.


"Nanti saja" jawab pengawal itu mengulang apa yang dikatakan oleh Jero kepada dirinya.


"Haha haha, sudah gue duga. Tuan besar tidak akan mau diganggu kalau sedang dengan nyonya besar" jawab pengawal tersebut.


"Kenapa loe nggak bilang dari tadi ke gue, bray. Jadinya kan gue nggak akan mendapatkan dua kata yang luar biasa itu"


Pengawal yang tadi ke tempat Jero mengajukan protesnya kepada rekan sesama pengawalnya tersebut.


"Gue hanya mau ada orang selain gue yang mendapatkan komentar nanti saja itu" jawab pengawal tersebut yang ternyata sudah memiliki pengalaman indah dengan kata nanti saja.


"Oh jadi loe udah duluan dapat kata nanti dulu. Baru ngeh gue"


Kedua pengawal itu kembali memperhatikan setiap gerak gerik orang yang ada di sana. Mereka tidak mau saat mereka mengobrol tiba tiba saja ada seseorang yang mau mencelakai tuan besar atau calon nyonya besar mereka. Kalau sampai itu terjadi, maka siap siap saja mereka akan digantung oleh Tuan Muda Felix. Tuan muda yang paling tidak pernah banyak bicara tetapi paling terkenal dengan kekejamannya.