My Affair

My Affair
Gaya Rambut



Jero Asander sudah berpakaian rapi. Hari ini dia akan mulai bekerja di perusahaan Asander Grub yang berada di negara I. Jero sudah memutuskan untuk mulai kembali bekerja. Dia akan memperkenalkan dirinya kepada semua pengusaha yang ada di negara I sebagai presiden direktur sekaligus salah satu CEO dari perusahaan Asander Grub dan JFB Grub, dua perusahaan raksasa yang salah satunya berkantor pusat di negara I.


Jero memakai kemeja putih dan jas hitam serta celana dasar hitam. Wajah seorang ceo sangat terlihat dari gaya yang ditampilkan oleh Jero Asander. Jero sudah membuat sedikit raoi rambutnya, penampilan yang sama sekali bukan seperti seorang Jero Asander yang dikenal oleh Vian, Jero terlihat sangat rapi dan formal dengan gaya rambut pilihannya itu.


Hal yang sama juga berlaku kepada Vian. vian juga sudah rapi dengan memakai midi dress berwarna hitam dan sepatu flat berwarna senada. Vian membawa tas kerjanya yang berisi alat alat yang digunakan oleh seorang dokter untuk memeriksa pasien. Vian benar benar sudah siap untuk kembali bekerja di bidang keahliannya itu. Bidang yang sudah dikangeninya, seharusnya Vian sekarang sudah melanjutkan kuliah spesialisnya, tetapi karena Jero harus menyelesaikan suatu masalah di perusahaannya membuat Vian harus kembali memundurkan jadwal kuliah sepesialisnya ke waktu yang tidak ditentukan, tetapi karena sekarang Vian sudah kembali bekerja, maka Vian sama sekali tidak akan merasa jenuh lagi, karena dia akan sangat sibuk di rumah sakit.


"Sayang, kamu ke rumah sakit hari ini?" tanya Jero saat melihat pakaian yang dikenakan oleh Vian saat dirinya baru membuka pintu kamar dan melihat Vian sudah berdiri di depan kamarnya denganĀ  tampilan seorang dokter.


"Iya sayang, aku sudah tidak sabaran lagi ingin bekerja. Lagian Greta juga ke rumah sakit sekarang. Jadi, aku juga ingin mulainya hari ini." ujar Vian sambil menatap ke arah Jero yang terlihat sangat berbeda dari pada biasanya.


"Apa yang kamu lihat sayang?" ujar Jero bertanya kepada Vian yang menatap dirinya dengan sangat dalam sekali seperti Vian melihat yang aneh di diri Jero.


"Kok model rambut kamu berbeda ya sayang dari pada biasanya?" ujar Vian sambil melihat ke arah kepala Jero yang lumayan tinggi itu.


Vian memegang pundak Jero dan menekannya turun ke bawah, Jero yang paham dengan kode yang diberikan oleh Vian kepada dirinya langsung merendahkan tubuhnya sedikit ke arah Vian. Supaya Vian bisa melakukan apa yang diinginkan oleh Vian. Jero tidak ingin Vian susah untuk melakukan apa yang ingin dilakukan oleh dirinya saat itu.


"Haha haha haha" ujar Vian tertawa ngakak saat melihat bagaimana cara Jero menyisir rambutnya itu.


Jero yang melihat Vian tertawa ngakak hanya bisa menatap wajah Vian saja dengan tatapan geli sendiri. Vian benar benar tertawa saat melihat bagaimana cara Jero menyisir rambutnya. Benar benar bukan gaya dari seorang Jero saat Vian melihat bagaimana cara Jero menyisir rambutnya itu.


"Apa yang kamu ketawakan sayang?" ujar Jero yang tidak paham kenapa Vian tertawa seperti itu.


"Rambut kamu sayang, rambut kamu benar benar membuat aku tertawa sayang" jawab Vian sambil menatap rambut Jero yang terlihat aneh menurut Vian.


"Emang kenapa rambut aku?" ujar Jero bertanya kepada Vian


"Bisa aku rapikan sayang?" ujar Vian bertanya kepada Jero.


"Emang ini tidak rapi sayang?" tanya Jero kepada Vian


"Rapi tapi aneh" ujar Vian sambil melihat ke arah Jero.


"Aneh maksudnya?" ujar Jero yang tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Vian kepada dirinya.


Vian menarik tangan Jero untuk masuk kembali ke dalam kamarnya itu. Jero yang mendadak di tarik oleh Vian sempat terhunyung untuk masuk ke dalam kamarnya karena kaget Vian menarik dirinya dengan cara seperti itu. Vian meminta Jero untuk kembali duduk di kursi yang ada di depan kaca tempat Jero meletakkan beberapa alat perangnya untuk merapikan diri sebelum dia pergi ke manapun.


"Kamu mau ngapain sayang?" ujar Jero yang melihat Vian berdiri di depannya dengan mengangkangkan kakinya di antara kaki Jero.


"Mau mengembalikan sesuatu kepada tempatnya semula" jawab Vian yang tangannya sudah gatal ingin mengembalikan rambut Jero kepada gayanya semula. Gaya yang paling membuat Vian bahagia saat Jero memakai gaya rambut seperti itu.


Jero mulai paham apa yang dikatakan oleh Vian kepada dirinya. Jero tentu akan mengizinkan Vian untuk melakukan itu. Bagi Jero apapun yang terbaik menurut Vian maka dia akan menuruti keinginan Vian tersebut. Jero teringat sesuatu dalam pikirannya saat ini.


"Oke tapi ada syaratnya" ujar Jero sambil memindahkan tangan Vian untuk digenggaman Jero.


"Apa?" tanya Vian yang penasaran dengan syarat yang akan diajukan oleh Jero kepada dirinya.


"Kamu akan didampingi oleh Josua saat berada di rumah sakit" ujar Jero dengan santai mengatakan kalau Josua akan mendampingi semua kegiatan Vian.


"Loh apa hubungannya merapikan rambut kamu dengan Josua?" ujar Vian yang sama sekali tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Jero kepada dirinya.


"Ada lah. Pokoknya kamu harus ditemani oleh Josua selama berkegiatan di luar, tidak ada bantahan Vian. Atau tidak sama sekali" ujar Jero yang sudah tidak mau lagi di bantah oleh Vian.


"Terus kamu?" lanjut Vian bertanya kepada Jero yang biasanya selalu di dampingi oleh Josua.


"Ada Ryan jadi aku akan sama dia saja" jawab Jero yang heran kenapa Vian memikirkan siapa yang akan mendampingi dirinya.


"Oh Oke kalau begitu. Aku akan sama Josua" jawab Vian yang tidak akan memulai perdebatan dengan Jero hanya karena Vian harus didampingi oleh Josua.


"Sip, sekarang tolong kembalikan rambut aku ke posisi favorit kamu" ujar Jero sambil meminta Vian untuk mengembalikan posisi rambut Jero ke posisi biasanya.


Vian memainkan jari jarinya di rambut Jero. Vian membenarkan posisi rambut Jero kembali keposisi semula. Bagi Vian Jero akan sangat terlihat tampan dengan gaya rambutnya yang biasanya saja bukan dengan gaya rambut seperti sekarang ini.


"Selesai. Ini baru kekasih aku" ujar Vian sambil memegang kedua pipi Jero dengan tangannya.


Jero menatap dirinya dari sela sela kepala Vian. Jero melihat kalau gayanya sudah kembali seperti semula. Tidak seperti Jero yang biasanya tampil di depan orang banyak saat dirinya menjadi seorang CEO.


"Ayo kita keluar, aku sudah lapar" ujar Vian sambil memegang perutnya.


Jero menggendong Vian supaya bisa beranjak dari posisi Vian sekarang ini. Vian tersenyum kepada Jero, dia sangat senang Jero memperlakukannya seperti seorang putri.


Mereka berdua kemudian jalan bergandengan tangan menuju meja makan.


"Siapa yang bikin sarapan sayang?" ujar Jero bertanya kepada Vian.


Jero sangat ragu kalau Vian yang akan membuat sarapan karena Vian terlihat sudah sangat rapi pagi ini.


"Aku sayang. Walaupun aku sudah memutuskan untuk bekerja kembali, tetapi aku akan tetap menyempatkan waktu untuk membuat sarapan" jawab Vian sambil tersenyum kepada Jero.


Vian memang sudah memutuskan walaupun dia kembali bekerja tetapi kewajibannya kepada Jero tidak akan dilupakan oleh Vian.


"Makasi sayang. Tapi kalau kamu capek, kamu mintak pelayan saja yang menyiapkan sarapan ya. Aku tidak apa apa kok" ujar Jero yang paham kenapa Vian melakukan hal itu.


"Tenang sayang. Saat aku capek makan aku akan minta pelayan yang membuatkan sarapan untuk kita semua. Tapi kalau aku masih sehat dan rasanya mampu makan akan tetap aku yang buat" jawab Vian sambil tersenyum kepada kekasihnya itu.


Vian sangat tahu kalau Jero memikirkan kesehatannya makanya Jero mengatakan hal tersebut.


Jero melihat semua anggota keluarganya sudah duduk di kursi masing masing. Hanya tinggal kursi dirinya dan Vian yang masih kosong.