
"Sayang, kamu aku antar saja ke kamar. Aku tidak mau kamu tertidur di lift dan membuat aku menjadi sangat cemas dengan keadaan kamu" ujar Jero yang tidak mau melepaskan dan membiarkan Vian pergi sendiri menuju kamar.
Vian tersenyum ke arah Jero. Vian tidak menyangka kalau Jero benar benar tidak membiarkan dirinya untuk pergi sendirian ke kamar yang terletak di lantai tiga mansion.
"Ayuk. Aku juga nggak mau tertidur di dalam lift." kata Vian sambil menatap ke arah Jero.
Jero membimbing Vian untuk menuju kamar Vian yang berada di lantai tiga mansion. Mereka berdua berjalan berbimbingan tangan seperti seseorang yang tidak bisa berjalan tanpa dibimbing untuk masuk ke dalam ruangan.
"Haduh sebegitunya ternyata kalau jatuh cinta" ujar Tama yang sangat bersemangat untuk menggoda pasangan yang sedang mabuk kepayang karena satu kata yaitu cinta.
"Iri aja loe. Makanya pacaran bang. Jangan jomblo dan sibuk dengan sekian banyak pasien. Uang dicari, kekasih lagi dicari" ujar Bram meledek Tama yang baru saja meledek Jero dan Vian yang terlihat sangat mesra.
Vian dan Jero telah menghilang dari hadapan dua adik Jero dan dua sahabat Jero. Mereka berdua sudah masuk ke dalam lift.
"Jadi, memang seperti itu dari tadi Jero dan Vian, Hen?" tanya Jeri kepada Hendri yang dari pagi menemani Jero dan Vian seharian.
"Iya Tuan. Malahan tadi saat pulang, Nona Vian tertidur. Tuan muda yang tidak mau menganggu Nona Vian, meminta saya untuk berjalan jalan di sepanjang jalanan ibu kota." ujar Hendri menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Jeri kepada dirinya.
"Jadi saat kalian sudah sampai di depan gerbang mansion terus berbalik lagi ke arah luar, karena Kak Vian yang tertidur di mobil?" tanya Bram sambil melihat ke arah Hendri yang berdiri di depan mereka berempat.
"Benar Tuan Muda. Nona muda tertidur, sedangkan Tuan Muda sama sekali tidak mau membangunkan nona muda. Makanya Tuan Muda memutuskan untuk memutar kembali arah mobilmobil" ujar Hendri menjawab pertanyaan dari Bram.
Bram kemudian menepuk jidatnya. Hanya karena Vian yang tertidur di mobil, Jero rela memutar kembali mobilnya ke arah luar. Sedangkan dia dan Felix menjadi cemas luar biasa dan menekan tombol darurat yang membuat semua penghuni mansion melakukan siaga satu karena keputusan yang diambil oleh Felix dan Bram.
Jeri dan Tama langsung tertawa terbahak bahak melihat ekspresi yang diberikan oleh Felix dan Bram karena ulah mereka tadi. Mereka telah melakukan kesalahan fatal yang berakibat kepada semua penghuni mansion menjadi kalang kabut dan melakukan tindakan cepat siaga satu.
Jero yang telah berada di tengah tengah mereka semua menatap heran kearah Jeri dan Tama yang tertawa ngakak seperti itu.
"Kalian berdua kenapa? Amankan ya?" ujar Jero sambil duduk di kursi yang masih kosong.
Seorang pelayan laki laki datang mengantarkan minuman untuk Jero. Jero terbiasa minum teh hijau panas saat malam hari.
Jero mengangguk kepada pelayan itu. Jero akan selalu bersikap sopan kepada setiap orang yang telah menolong dirinya selama ini. Siapapun orangnya, baik adik, sahabat bahkan pelayan sekalipun. Jero bukan tipe orang yang membanding bandingkan orang lain.
"Loe sehari ini nengok ponsel tidak?" ujar Jeri menanyakan hal yang sama saat Jero baru datang tetapi sama sekali tidak dijawab oleh Jero karena Jero sibuk dengan Vian yang sedang mengantuk.
"Nggak. Ponsel gue aja nggak tau gue ada dimana." jawab Jero yang memang tidak tahu dimana meletakkan ponsel miliknya hari ini.
"Hendri, ada lihat ponsel saya?" ujar Jero bertanya kepada pengawalnya yang dari tadi pagi sudah bersama dengan Jero seharian.
"Siap ada Tuan Muda. Ini" ujar Hendri memberikan ponsel milik Jero kepada Tuan Muda itu.
"Makasi" ujar Jero yang tidak berusaha bertanya kenapa ponsel miliknya bisa berada di tangan Hendri.
"Ini ponsel gue udah ada. Terus?" ujar Jero melihat kepada Jeri dan meminta Jeri untuk menjelaskan apa yang harus dilakukan oleh Jero terhadap ponsel miliknya itu.
"Loe tengok. Ada nggak pemberitahuan darurat masuk" ujar Jeri sambil melirik Felix dan Bram yang menatap protes kepada Jeri.
Jeri sengaja mengerjai mereka. Jeri ingin Felix dan Bram mengerti bagaimana keadaan darurat yang sebenarnya. Bukan hanya main tebak saja, seperti kejadian hari ini.
"Ada apa ini? Bisa tolong diceritakan?" ujar Jero kepda Jeri dan Tama yang sepertinya sangat tahu bagaimana alur cerita yang terjadi saat ini.
"Jadi gini, adik loe berdua itu menekan tombol darurat saat loe dengan tiba tiba putar balik di depan mansion" ujar Jeri yang langsung saja menyebutkan apa yang dilakukan oleh Felix dan Bram yang membuat gempar satu mansion.
"Terus?" tanya Jero yang mendengar dengan serius apa yang diceritakan oleh Jeri kepada dirinya.
"Terus semua pengawal sudah bergerak. Mansion sudah langsung berubah fungsi. Kaca kaca anti peluru menutupi bangunan megah ini" lanjut Jeri mengatakan kepada Jero bagaimana keadaan mansion saat Felix dan Bram memencet tombol darurat.
Jero membayangkan apa yang terjadi dan bagaimana paniknya Felix dan Bram saat melihat mobil yang dikemudian oleh Jero berputar balik di depan mansion.
"Maafkan kami Bang. Karena kecerobohan kami semua ini terjadi. Kami nggak mengira kalau abang putar balik karena Kak Vian yang tertidur di mobil" ujar Bram yang memutuskan untuk meminta maaf terlebih dahulu sebelum mereka dimarahi oleh Jero.
Jero menatap ke arah Bram dan Felix. Jero tidak marah kepada kedua adiknya itu.
"Abang nggak marah ke kalian berdua. Tetapi jadikan ini sebagai pelajaran sebelum kalian mengambil keputusan untuk memencet tombol darurat itu ya." ujar Jero melihat kearah kedua adiknya.
Jero tahu kalau kedua adiknya memencet tombol darurat karena takut akan terjadi sesuatu kepada Jero dan Vian di luaran sana. Makanya Jero sama sekali tidak marah kepada kedua adiknya itu. Jero memaklumi keadaan adiknya.
"Serius abang nggak marah?" tanya Bram kepada Jero dan menatap Jero dengan tatapan kebahagiaan karena tidak jadi dimarahi oleh Jero karena kelalaian mereka.
"Serius. Kalian mau abang marah?" tanya Jero kepada Felix dan Bram.
"Nggak" jawab mereka berdua kompak dengan suara menggelegar dan penuh kebahagiaan.
Jero, Jeri dan Tama menatap ke arah Felix dan Bram yang terlihat begitu bahagia dengan jawaban dari Jero yang mengatakan kalau Jero tidak marah akibat tingkah aneh mereka dalam mengambil keputusan menyatakan keadaan darurat di mansion utama.
Mereka kemudian melanjutkan obrolan. Bram sama sekali belum menyinggung tentang permasalahan di perusahaan JFB Grub. Bram berencana akan mengatakan besok pagi kepada Jero.
"Jadi, udah loe ceritakan semuanya kepada Vian tentang masa lalu yang ada di mansion depan?" tanya Jeri kepada Jero.
Jeri mengetahui kalau Jero ke mansion depan dari Hendri dan Erik. Mereka sudah mengatakan kepada Jeri kalau Jero dan Vian seharian di mansion utama Aleksander.
"Sudah" jawab Jero sambil meminum teh hijau hangat yang tadi disajikan oleh pelayan.
"Terus gimana reaksi dari Vian?" tanya Tama yang penasaran dengan reaksi Vian saat mendengar kalau mertuanya ternyata adalah orang tua Jero.
"Kaget. Tetapi hebatnya, dia tidak berusaha menghakimi gue. Dia cuma mengatakan boleh balas dendam, tapi jangan sampai membuat durhaka kepada orang tua" jawab Jero sambil melihat kearah Jeri dan Tama.
"Keren." jawab Tama yang tidak menyangka tanggapan Vian akan sedewasa itu.
"Sekarang apa loe akan tetap melanjutkan penyelidikan terhadap Rina?" ujar Jeri yang penasaran dengan kelanjutan penyelidikan Jero terhadap Rina.
"Tetap lah. Nggak mungkin nggak. Gue akan tetap cari tahu, apa yang terjadi sebenarnya. Termasuk Juan Aleksander. Mereka akan tau sekarang berhadapan dengan siapa" ujar Jero sambil tersenyum mengerikan.
Jeri, Tama, Felix dan Bram merinding melihat senyuman Jero. Mereka tidak menyangka kalau Jero akan tetap melakukan penyelidikan itu.