
Jero yang telah selesai menjawab semua perkataan dari Daddynya itu, langsung mengajak Mommy untuk duduk di sofa ruang keluarga itu.
Mommy kemudian menatap ke arah Jero. Mommy bisa menangkap makna dari tatapan itu.
"Sayang, bisa mommy berbicara sebentar sama kamu sayang?" tanya mommy kepada Jero yang sekarang sudah duduk di samping Mommy.
"Ada apa Mommy?" tanya Jero sambil melihat ke arah Mommynya.
"Jero simpulkan kalau Mommy pasti menginginkan sesuatu dari Jero bukan?" tanya Jero kepada mommynya itu.
"Sayang, mommy ingin kamu tidak melawan sama Daddy kamu. Bagaimanapun dia adalah Daddy kamu sayang. Kamu tidak pantas untuk marah ke dia dan memaki maki dia nak." ujar Mommy sambil menatap ke arah Jero.
Jero terdiam mendengar perkataan mommynya itu. Jero menyimak setiap kata kata yang dikeluarkan oleh mulut mommy.
"Mommy, Jero tidak ingin melawan mommy. Jero juga tidak ingin dikatakan sebagai anak yang durhaka." jawab Jero kepada Mommy.
"Tetapi tadi itu benar benar sudah di luar batas Mommy. Sangat di luar batas. Masak iya dia menggendong wanita sundel itu di depan kita mommy?" ujar Jero menjawab perkataan dari Mommy.
"Mommy kalau memang kita sudah tidak dibutuhkan lagi di sini, Jero siap kok untuk pindah. Jero rela kita tinggal dimanapun. Bagi Jero tidak masalah. Bagi Jero yang terpenting sekarang adalah Mommy yang bahagia tidak memikirkan orang itu lagi. Itu saja kok Mommy" ujar Jero melanjutkan perkataannya.
"Sabar ya Nak" Mommy hanya bisa mengatakan hal itu saja.
Tak berapa lama, Daddy berjalan menuju ruang keluarga tempat Mommy dan Jero duduk dan sedang menonton televisi yang tanpa suara.
"Saya berdua ingin berbicara dengan kalian berdua sekarang juga" ujar Daddy yang terdengar oleh Pak Hans yang berada tidak jauh dari ruang keluarga.
"Silahkan duduk Tuan besar. Kami berdua siap untuk mendengarkan apa yang akan Tuan besar katakan" ujar Mommy menjawab pilihan kata kata yang membuat mommy sedikit bersedih karena perkataan dari Daddy.
Daddy kemudian duduk di sofa yang berada di depan Mommy dan Jero. Daddy duduk seperti seorang Tuan besar yang akan berbicara dengan bawahannya.
Jero memegang tangan Mommy nya itu, dia tahu kalau yang duduk di depannya kali ini bukanlah Daddy yang selama ini selalu dibangga banggakan oleh Jero. Sekarang yang duduk di depannya adalah orang lain, bukan orang yang di kenal Jero.
Mommy melirik ke arah Jero. Jero kemudian memberikan senyumannya ke Mommy. Mereka berdua saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya.
"Saya cuma mau mengatakan kepada kalian berdua. Kalian berdua harus menerima Rina untuk menjadi bagian dari keluarga kita" ujar Daddy sambil menatap ke arah Jero dan Mommy.
Sebuah bom besar dilemparkan oleh Daddy kepada Mommy dan Jero. Mereka berdua kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Daddy kepada mereka berdua.
"Maksudnya?" tanya Jero yang memilih untuk bersuara. Sedangkan mommy hanya diam saja tidak mengeluarkan suara apapun.
"Kamu anak kecil lebih baik diam atau kalau tidak silahkan ke kamar" ujar Daddy berbicara dengan nada yang agak kasar kepada Jero.
Mommy merangkul Jero saat itu juga. Mommy menggeleng kepada Jero memberi isyarat agar Jero tidak memulai pertengkaran dengan Daddy.
"Saya tetap di sini. Siapa lagi yang akan melindungi orang yang telah melahirkan dan menjaga saya dari saya dalam kandungannya, kalau bukan saya. Anda silahkan berbicara kelanjutannya." ujar Jero dengan menahan rasa kesal dalam hatinya melihat tingkah Tuan besar Aleksander.
"Selamat Tuan besar" ujar Mommy memberikan selamat dengan raut wajah yang sangat datar.
Mommy tidak memperlihatkan emosi apapun kepada Daddy. Mommy berusaha menahan perasaannya saat mendengar apa yang dikatakan oleh Daddy kepada dirinya.
"Terimakasih. Mulai malam ini, kamu harus tidur sendirian, karena saya harus menjaga Rina. Rina tidak boleh kecapekan kata dokter" lanjut Tuan besar Aleksander mengatakan hal yang sangat sangat membuat luka di hati seorang istri.
Jero menatap geram ke wajah pria tua bangka yang sama sekali tidak memperhatikan perasaan lawan bicaranya.
"Tuan besar, kamu benar benar membuat marah saya." ujar Jero menatap tajam dan geram ke arah Daddy.
"Apa masih ada lagi yang akan Anda bicarakan dengan kami Tuan besar?" tanya Jero kepada Daddy nya yang sekarang telah diubah panggilannya oleh Jero dengan panggilan Tuan besar.
"Saya rasa untuk kali ini cukup sampai di sini saja." ujar Daddy menjawab pertanyaan dari anaknya itu.
"Oh ya lupa satu lagi. Saya berharap kamu bisa memberlakukan Rina sebaik mungkin" ujar Daddy kepada Mommy.
"Dan untuk kamu" ujar Daddy menunjuk Jero dengan tangan kirinya.
"Kamu harus menghormati dia seperti kamu menghormati Mommy kamu, karena bagaimanapun juga dia akan menjadi istri kedua saya" ujar Daddy berkata kepada Jero sambil menatap dengan tatapan marah.
"Oh baiklah. Saya akan menghargai dia seperti saya menghargai mommy" ujar Jero menjawab perkataan dari Tuan besar Aleksander.
"Terimakasih, kalau begitu saya permisi dulu untuk kembali ke kamar calon istri saya yang sedang mengandung anak saya" ujar Tuan Aleksander kepada Mommy dan Daddy.
"Silahkan" jawab Mommy.
Tuan besar Aleksander kemudian pergi berjalan menuju kamar Rina yang sekarang berada di kamar tamu mansion. Rina yang berusaha mencuri dengar percakapan antara Tuan besar, Nyonya besar dan Tuan Muda sama sekali tidak mendapatkan hasil apapun.
Percakapan ketiga orang itu sama sekali tidak terdengar oleh Rina. Mereka bertiga berbicara dengan suara biasa saja.
"Yah tidak ada yang marah marah. Padahal aku berharap kalau Nyonya besar yang oon itu marah marah dan menyerang aku ke sini" ujar Rina dengan nada sedikit kesal karena harapannya tidak terkabul.
"Kalau dia marah marah kan aku bisa pura pura terjatuh terus perut aku sakit. Nah kalau perlu sampai keguguran. Aku tidak mengaharapkan anak ini lahir" ujar Rina dengan nada jengkel yang luar biasa karena tiba tiba saja dia sudah hamil.
"Untung saja dokter itu tidak mengatakan usia kehamilan aku di depan Tuan besar. Kalau dikatakannya bisa bisa aku ketahuan" ujar Rina sambil menatap ke arah luar kamar
Rina melihat Tuan besar berjalan menuju kamar tamu, kamar yang akan ditempati oleh Rina mulai sekarang. Rina langsung berjalan ke ranjang kembali, belum sempat Rina menuju ranjang Tuan besar sudah masuk ke dalam kamar.
"Sayang, ngapain? Jangan berjalan jalan kayak gini. Kalau mau apa apa tinggal panggil miad yang lain" ujar Tuan besar sambil membantu Rina untuk naik ke atas ranjang.
"Tidak apa apa sayang. Aku baik baik saja" ujar Rina sambil tersenyum ke arah Tuan besar.
'Sebentar lagi harta kekayaan kamu akan berpindah ke aku' ujar Rina dalam hatinya.