
Jero dan yang lainnya berjalan menuju taman samping mansion. Bram yang sudah memberitahukan kepada kepala pelayan untuk membuatkan cemilan dan jus jeruk menyusul Jero dan yang lainnya yang sudah duduk di taman samping.
"Jadi, kapan loe mau kasih tahu kepada Vian siapa loe sebenarnya?" ujar Tama bertanya kepada Jero sambil memandang ke arah Jero.
"Rencananya mulai besok gue akan beritahukan kepada Vian" jawab Jero yang sudah menyusun rencana kapan dia akan mulai menceritakan semuanya kepada Vian tentang siapa dia sebenarnya
"Jero" ujar Greta memanggil Jero dengan nada serius.
Jero menatap ke arah Greta.
"Gue berharap loe memberitahukan kepada Vian secara perlahan. Jangan seperti hari ini. Vian belum siap menerima semuanya. Jadi, saran gue pelan pelan aja memberitahunya" ujar Greta memberikan sarannya kepada Jero.
"Satu lagi Jero. Ini permasalahan cukup komplek. Sangat luar biasa komplek. Jadi, jangan sampai Vian drop lagi. Kita sekarang nggak tau apa yang ada dalam pikirannya" lanjut Greta.
"Besok, gue akan ke sini untuk berbincang bincang dengan Vian. Gue akan mengorek semuanya. Gue akan tanya, ada apa dia sebenarnya. Kenapa dia sampai pingsan" kata Greta yang sudah tidak sabar ingin berbincang bincang dengan Vian.
"Kerjaan Vian apa Jer? Gue lihat sekilas dia seperti bekerja di suatu perusahaan" ujar Tama yang memang belum mengenal secara lebih jelas siapa Vian.
"Dia seorang dokter. Rencananya akan lanjut kuliah di kampus O untuk mengambil spesialis kandungan" ujar Jero memberitahukan kepada Tama dan Greta siapa Vian sebenarnya.
"Jadi dia dokter?" tanya Tama kaget mendengar pekerjaan dari Vian.
"Ya dia dokter" jawab Jero.
"Keren juga ya. Dokter. Pas itu harusnya dia nggak ambil obgyn. Tapi psikiater" ujar Tama dengan wajah polosnya.
"Kok harus psikiater?" tanya Jeri yang nggak paham dengan maksud Tama.
"Harusnya dan cocok nya memang psikiater, Vian itu ngambil psikiater biar dia bisa menenangkan Jero yang seperti air mendidih ini" ujar Tama yang langsung berpindah duduk setelah mengucapkan hal itu.
"Haha haha haha" Bram dan Felix tertawa ngakak mendengar apa yang dikatakan oleh Tama.
"Bang Bang. Nggak perlu jadi psikiater, Kakak ipar kami itu udah jadi pawang Bang. Kakak ipar bilang A maka Abang kami ini akan langsung A." ujar Bram yang puas bisa meledek Jero di tengah tengah sahabat sahabatnya.
"Oooo. Jadi udah ada pawangnya" tanya Greta sambil melihat Jero.
"Ya, pawang paling paten dari pada pawang hujan." jawab Bram.
"Bayangin aja nih ya. Kejadiannya baru banget, kan waktu itu harus transit kan ya di bandara UEA, nah saat itu transit dua jam. Bayangin aja duduk dua jam tanpa ngelakuin apa apa" ujar Bram memulai ceritanya.
"Tu mono jadinya?" sambar Tama
"Harusnya sih gitu untung aja nggak. Ee ee gara gara pawang hujan mintak untuk jalan jalan di mall yang ada di bandara itu." ujar Bram melanjutkan ceritanya.
"Loe emang diajak?" tanya Tama selanjutnya.
"Diajak lah, malahan aku ditraktir beli baju." ujar Bram menjawab pertanyaan dari Tama.
"Terus loe belanja banyak nggak?" tanya Tama yang penasaran apakah Bram memanfaatkan peluang itu dengan sangat baik atau tidak sama sekali.
"Sayangnya tidak Bang. Kakak ipar gue hanya masuk dua toko. Itupun belanjanya hanya satu toko saja. Tidak kedua tokonya. Untung saja aku ngambil barang yang cukup mahal" ujar Bram menceritakan kejadian belanja mendadak di bandara saat mereka transit itu.
Mereka kemudian melanjutkan cerita mereka tentang berbagai hal.
Vian yang sedang di kamar sudah sadar dari pingsannya dan juga sudah bangun dari tidur panjangnya. Vian melihat ke berbagai arah, dia sama sekali tidak mengenali kamar yang ditempatinya sekarang ini.
Vian berusaha mengumpulkan semua kenangan kenangan yang berserakan. Vian berusaha mengingat semuanya.
"Jero" ujar Vian.
Vian mengambil ponsel miliknya. Dia sudah yakin Jero pasti akan sangat panik saat Vian pingsan tadi. Vian menghubungi nomor Jero. Jero yang sedang mengobrol dengan keluarganya mengambil ponsel miliknya yang berdering terlihat di layar Big Boss memanggil.
Mereka yang berada di sana melihat Jero langsung berdiri ikut ikutan berdiri. Mereka mengikuti Jero dari belakang dengan langkah panjang panjang.
"Sayang, aku ke kamar sekarang juga. Kamu nggak boleh turun dari kasur" ujar Jero memberikan perintah kepada Vian.
"Bang, ada lift. Ngapain jalan kaki ke lantai tiga" ujar Bram berteriak kepada Jero untuk naik lift saja.
Jero berbalik arah. Dia langsung masuk ke dalam lift yang isinya sudah lumayan itu.
"Panik sih panik bray tapi nggak gitu kali" ujar Tama mengejek Jero yang main langsung mau naik tangga aja ke lantai tiga mansion besar itu.
"Haha haha haha. Lupa gue asli. Gue kira ya gitulah" ujar Jero yang nampak seperti orang bego nggak jelas.
Lift berhenti di lantai tiga mansion. Mereka bergerak dengan cepat menuju kamar Vian.
"Sayang" teriak Jero yang melihat Vian tidak ada di atas ranjangnya.
"Kamar mandi sayang" jawab Vian melalui intercom yang ada di kamar mandi.
"Huft. Oke. Aku dan yang lainnya di kamar" ujar Jero menjawab Vian.
Mereka menunggu Vian sambil duduk di sofa kamar. Sedangkan Jero mondar mandir di depan pintu kamar mandi.
Tama melihat ke arah Bram. Bram mengangkat pundaknya. Bram juga nggak tau apa yang dilakukan oleh Jero sekarang ini.
"Gue juga gagal paham dengan Abang gue yang satu itu Bang." ujar Bram berbisik kepada Tama.
"Cinta bikin dia agak sarap Bang" lanjut Bram kepada Tama.
"Loe. Mau loe ditutup semua akses sama abang loe yang super tegaan itu?" tanya Tama kepada Bram.
"Awas loe Bang" kata Bram yang takut semua akseanya ditutup oleh Jero.
Bram nggak mau dia menjadi nggak bisa melakukan apa apa gara gara semua akseanya ditutup oleh Jero.
Vian yang ditunggu oleh Jero membuka pintu kamar mandi.
"Sayang, udah dibilangin jangan turun masih aja bandel" ujar Jero sambil menggendong Vian kembali ke atas ranjang besar miliknya.
"Jero apa apaan, malu, rame" jawab Vian yang langsung memasukkan kepalanya ke dada bidang Jero. Vian malu dengan orang yang seramai itu di dalam kamarnya.
'Jero soplak' ujar Vian dalam hatinya.
Jero membaringkan Vian ke atas ranjang besar itu. Vian kemudian menatap langit langit kamarnya. Vian melihat semua orang memandang ke arahnya.
"Tama periksa calon istri gue" ujar Jero meminta Tama untuk memeriksa keadaan Vian.
"Vian, perkenalkan saya Tama. Saya dokter keluarga Asander. Berhubung kamu juga dokter, pertanyaan saya hanya satu, apakah kamu demam atau sakit?" tanya Tama kepada Vian.
"Nggak" jawab Vian dengan pastinya.
Plak. Sebuah bantal mendarat di kepala Tama. Jero melemparkan bantal itu ke arah Tama dengan kesalnya.
"Loe gue suruh periksa soplak. Bukan bertanya. Aneh lo" ujar Jero.
"Jero Asander yang terhormat. Vian adalah dokter, dia tahu apakah dia sakit atau tidak. Makanya gue hanya tanya ke dia aja. Kalau dia sakit maka akan gue periksa. Tapi dia nggak sakit Jero Asander." ujar menahan kesalnya.
"Tapi tadi udah gue bilang siapa yang dibutuhkan oleh Vian. Elo emang lah ya. Nggak bisa diomongin" ujar Tama kesal dengan Jero.
Jero menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. Dia telah salah kembali memarahi Tama. Jero benar benar habis dibuat Tama sehari ini