
Jero dan Vian yang sudah berada di dalam mobil sport terbaru milik Jer. Jero mulai menghidupkan mobilnya. Terdengar suara lembut dari mesin mobil keluaran terbaru dari salah satu pabrikan di eropa yang sangat terkenal dengan tingkat kenyamanan dari sebuah mobil. Mobil yang hampir semuanya dimiliki oleh orang orang kaya di benua biru itu. Sedangkan untuk di negara I baru bisa dihitung dengan sebelah tangan saja orang orang yang memiliki mobil keluaran pabrikan eropa yang satu itu. Mobil sport yang terkenal dengan harganya yang luar biasa mahalnya dan bisa merobek robek saku saku dan dompet dari seseorang yang ingin memilikinya.
"Siap sayang?" ujar Jero bertanya kepada Vian yang sudah selesai memasang sabuk pengamannya, Vian juga sudah duduk rapi di kursinya.
"Siap sayang, ayo lets go, lajukan mobil sport mewah ini sayang" ujar Vian yang sangat bersemangat untuk mencoba berkendara memakai mobil mewah yang terkenal dengan kemewahan interior dan juga tenaga kuda yang dimiliki mesin empat silinder dan belum memakai turbo yang akan bisa menambah kecepatan lari dari mobil sport mewah mahal itu.
Jero kemudian melajukan mobilnya menuju tempat yang ditujunya yaitu perusahaan Bram untuk bertemu dengan sahabat sekaligus pengacara keluarga dan juga perusahaannya siapa lagi kalau bukan Jeri. Pria yang tadi mengomel karena Jero menghubunginya melalui asisten pribadi Jeri, karena Jeri sama sekali tidak mengangkat panggilan telpon dari Jero setelah satu kali Jero berusaha menghubunginya.
"Kamu yakin Jeri masih di situ sayang?" ujar Vian bertanya kepada Jero.
Vian sedikit ragu kalau Jeri masih bertahan di perusahaan Bram. Makanya dia bertanya hal itu kepada Jero untuk meyakinkan dirinya kalau Jeri masih menunggu mereka berdua di perusahaan Bram.
"Yakinlah sayang. Aku sangat tahu bagaimana mereka semua. Mereka pasti akan menunggu aku sampai datang. Mereka tidak akan berani pergi sampai aku bertemu dengan mereka dan mengatakan apa yang rasanya perlu aku katakan kepada mereka." ujar Jero menjelaskan kepada Vian bagaimana sahabat sekaligus adik adiknya kalau sudah mendapatkan kabar kalau Jero akan bertemu dengan mereka dimana mereka berada sekarang. Mereka semua pasti akan tetap berada di sana sampai Jero berhasil bertemu dengan mereka.
Oh baiklah semoga mereka benar benar tidak pergi sayang. Kalau sampai mereka pergi maka aku sendiri yang akan memukul mereka nanti saat jam makan malam berlangsung" ujar Vian yang sudah bisa mengadopsi beberapa sikap dan juga sifat Jero yang membuat siapa saja menjadi merinding saat melihat Vian sudah menggunakan sikap dan juga sifatnya yang mirp dengan Jero itu.
"Haha haha haha haha, boleh sayang, sangat boleh sekali. Nanti kalau kita tidak menemukan Jeri dan Bram di perusahaan Bram, maka kamu boleh memukul mereka nanti saat kita semua sudah sampai kembali di mansion. Kamu jangan ragu akan hal itu sayang. itu bisa di atur. Kamu silahkan buat mereka berdua menjadi bertekuk lutut di kaki kamu" ujar Jero yang sangat senang kalau Vian sudah bisa bersikap tegas dan bisa mengambil keputusan yang baik untuk saat ini.
Itulah sesuatu yang sedang dibutuhkan oleh Jero sekarang ini. Jero sangat butuh seorang Vian yang bisa menunjukkan sikapnya sebagai seseorang wanita yang sebentar lagi posisinya akan menjadi istri atau nyonya besar Jero Asander.seorang pengusaha muda yang sangat ditunggu kiprahnya dan juga orangnya di depan masyarakat umum.
"Sayang, kamu udah yakin ne mau mengajukan perceraian kepada Juan Aleksander?" ujar Jero bertanya kepada Vian yang sekarang sedang bersikap serius dan menatap fokus kepada jalanan yang sedang dilalui oleh Jero.
"Kok kamu nanyak itu sayang?" tanya Vian yang tidak paham kenapa Jero bisa menanyakan hal itu kepada Vian.
"Kamu kan tahu sendiri sayang bagaimana pernikahan aku berlangsung selama ini" lanjut Vian
"Kalau memang iya seperti itu tidak masalah, aku akan tetap mengajukan perceraian aku terhadap pria itu. Aku juga akan pergi dari hidup kamu, kamu jangan cemas akan hal itu. Aku tidak akan mengganggu hidup kamu kok" lanjut Vian yang tersinggung saat mendengar apa yang ditanyakan oleh Jero kepada dirinya. Vian tidak menyangka kalau Jero akan menanyakan hal itu kembali kepada Vian.
Jero mendengar apa yang dikatakan oleh Vian kepada dirinya. Jero sama sekali tidak menyangka kalau Vian akan mengarahkan perkataannya ke arah situ. Jero tadi benar benar murni niatnya hanya untuk bertanya saja, bukan untuk hal hal lainnya, ternyata Vian memiliki tanggapan yang lain. Jero sama sekali tidak menyangka kalau pikiran dan ucapan Vian akan mengarah ke sana.
"Sayang, maafkan aku kalau perkataan aku tadi membuat kamu terluka atau tersinggung." ujar Jero meminta maaf kepada Vian.
"Jujur tidak ada niat aku ke sana sama sekali. Aku murni hanya menanyakan kepada kamu, apa kamu sudah yakin untuk mengajukan perceraian kepada Juan Aleksander." ujar Jero mulai menjelaskan apa maksud dari pertanyaannya tadi kepada Vian.
"Satu sisi kamu tahukan kalau dia adalah salah satu pengusaha muda yang sangat berhasil dalam memajukan bisnisnya di negara ini. Sehingga berita apapun tentang dia pastinya merupakan makanan empuk bagi para wartawan di luaran sana" ujar Jero menjelaskan kepada Vian apa maksud dari pertanyaannya tadi.
"Nah apa kamu siap dengan semua berita yang nantinya akan mengarah kepada kamu?" ujar Jero bertanya kepada Vian.
Vian mendengarkan dan memikirkan apa yang dikatakan oleh Jero kepada dirinya. Semua yang dikatakan oleh Jero memang ada benarnya juga, saat dia memutuskan untuk bercerai dengan Juan Aleksander, tentu semua wartawan akan mencari cari dirinya dan akan selalu memburu dirinya. Belum lagi isu isu liar di luar sana yang mengatakan kalau perceraian antara dirinya dan Juan adalah di sebabkan karena dirinya yang kabur dengan sopir sekaligus asisten pribadinya.
Jero melihat Vian berpikir dengan keras, hal itu terlihat dari kerutan yang terlihat sangat jelas di dahu Vian. Jero tersenyum, pada akhirnya Vian akan memikirkan apa yang seharusnya dilakukannya nanti setelah surat permohonan perceraian dirinya dengan Juan masuk ke dalam ranah pengadilan.
Jero membiarkan saja Vian sibuk dengan apa yang dipikirkannya saat ini. Jero tetap fokus ke jalan yang sedang dilaluinya. Dua buah mobil mengikuti Jero di bagian belakang. Kedua mobil hitam itu adalah Josua dan Ryan, sedangkan yang dibagian belakang adalah mobil yang tidak mereka kenal. Tetapi karena mobil itu masih dalam keadaan biasa biasa saja membuat Ryan dan Josua sama sekali belum bertindak tetapi mereka tetap waspada tingkat tinggi, kalau kalau saja mobil itu akan melakukan sesuatu yang bisa membahayakan Vian dan Jero.
'Mobil itu masih aman Tuan muda, Tuan muda santai saja.' bunyi pesan suara yang dikirimkan oleh Josua langsung kepada Jero.
'Dua mobil di sebelah mobil Tuan muda adalah mobil pengawal kita, jadi mobil itu kalau mau bertindak bodoh maka siap siap saja mereka akan langsung di serbu oleh para pengawal kita' lanjut josua memberitahukan perkembangan yang terjadi kepada Jero.
Jero sama sekali tidak memberikan tanggapan kepada Josua. Karena kalau Jero memberikan tanggapan, maka Vian akan tahu kalau mereka sedang diikuti dan membuat Vian menjadi cemas dan takut selama dalam perjalanan menuju perusahaan Bram yang jaraknya tinggal lima menit perjalanan lagi. Jero tidak mau membuat Vian cemas dan menjadi paranoid. Jadi sekarang Jero memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada Josua dan Ryan untuk mengatasi penyusup itu.