
Daddy melihat ke arah Mommy yang beneran tertidur di atas sofa ruang kerja Daddy. Daddy berjalan dengan pelan mendekat ke arah sofa tempat monny tidur tersebut. Daddy berusaha memegang saku pakaian mommy untuk mengambil kunci kamar mandi. Daddy sangat kasihan dengan keadaan Rina yang berada di dalam kamar mandi yang pastinya saat ini sangat dingin. Tambah lagi dengan lampu yang satu satunya cara untuk membuat ruangan menjadi hangat dimatikan oleh Mommy.
Tangan Daddy berusaha meraba saku pakaian milik mommy. Mommy yang merasa kalau ada sentuhan di atas pakaian miliknya, memilih untuk mengubah posisi tidurnya menjadi menghadap ke sandaran sofa.
"Yah aka semakin susah mengambilnya. Kenapa mommy pindah posisi tidur seperti itu" ujar Daddy yang menjadi kesal karena mommy memutar posisi tidurnya.
"Gimana cara ngambilnya ya. Kasihan Rina yang ada di dalam kamar mandi. Bisa kedinginan dia" ujar Daddy berusaha memikirkan bagaimana cara membuka pintu kamar mandi tersebut.
Mommy mendengar semua yang dikatakan oleh Daddy itu. Mommy sama sekali tidak tidur, mommy masih terjaga, mommy hanya pura pura tidur. Mommy ingin melihat apa yang dilakukan oleh Daddy untuk maid yang sekarang berada di dalam kamar mandi tersebut.
'Ternyata kamu memang sangat peduli dengan dia, sehingga kamu rela untuk mengambil barang yang sekarang aku simpan ini' ujar Mommy.
Mommy masih melanjutkan drama pura pura tidur dirinya itu. Mommy kembali telentang supaya Daddy kembali berusaha untuk mengambil kunci kamar mandi itu.
"Pas" ujar Daddy yang melihat mommy sudah dalam posisi terlentang kembali.
Daddy kemudian mengarahkan kembali tangannya menuju saku pakaian depan Mommy. Mommy melihat dengan membuka sedikit matanya.
'Kamu memang tidak menganggap aku ada lagi Tuan. Aku berjanji juga tidak akan menganggap kamu ada lagi' ujar Mommy dalam hatinya.
Mommy benar benar tidak menyangka dengan apa yang dilakukan oleh Daddy kepada Mommy saat ini. Mommy mengira Daddy hanya iseng dengan maid itu. Tetapi ternyata tidak seperti yang dipikirkan oleh Mommy.
Daddy masih terus berusaha untuk mengambil kunci kamar mandi tersebut dari saku pakaian Mommy. Mommy masih tetap dalam mode drama tidurnya. Mommy ingin melihat sampai berapa lama Daddy sanggup melakukan hal itu.
Telah dua jam drama pura pura tidur diperankan oleh Mommy, dan selama dua jam itu jugalah Daddy berusaha mengambil kunci yang ada di dalam saku pakaian mommy.
Mommy hanya bisa memasrahkan lagi apa yang akan terjadi terhadap pernikahan mereka. Mommy sudah tahu hubungan ini tidak akan kembali seperti semula. Mommy akan mengikuti permainan yang mereka buat berdua.
Mommy yang sudah jengah dengan usaha Daddy langsung membuka matanya saat Daddy masih berusaha untuk mengambil kunci itu.
"Kamu, mau kunci ini?" tanya Mommy sambil menatap tajam ke mata Daddy dengan pandangan penuh kemarahan.
Daddy kaget saat mommy yang tiba tiba bangun dan langsung berkata dengan pelan tetapi menusuk jantung. Daddy seperti maling yang tertangkap tangan saat ingin mengambil milik orang lain.
"Ini kamu ambil. Tapi tolong dengarkan satu kalimat saya" ujar Mommy menatap Daddy dengan tatapan yang benar benar membuat Daddy menjadi sedikit takut.
Daddy selama ini belum pernah melihat tatapan mommy yang seperti itu. Ini adalah tatapan pertama mommy yang di dalamnya terdapat unsur kebencian kepada Daddy.
"Apa Mommy" ujar Daddy juga menatap mata mommy.
Daddy mencari di sana apakah mommy mengetahui sesuatu atau tidak. Tetapi daddy sama sekali tidak menemukan hal itu. Daddy hanya menemukan kemarahan, dan kebencian yang ada di dalam tatapan mata tersebut.
"Saya hanya minta, kalau mau bermain tolong rapi. Itu saja" ujar Mommy kepada Daddy.
"Ingatlah manusia memiliki batasan sebagai seorang manusia" ujar Mommy.
Mommy bangkit dari duduknya. Dia berjalan dengan langkah santai untuk keluar dari dalam ruang kerja Daddy. Mommy berhitung dalam hatinya. Dia ingin tahu apakah Daddy menghentikan dia atau tidak.
Sampai hitungan ke delapan dan mommy sudah berada di luar pintu, Daddy sama sekali tidak memanggilnya.
"Baiklah itu pilihan anda. Akan saya wujudkan" ujar Mommy dengan nada yang sama sekali tidak ada nada menyesal, terhina atau apapaun. Nada mommy adalah nada seorang ibu yang akan selalu menjaga anaknya.
Mommy berjalan menuju kamar Jero. Mommy membuka pintu kamar miliknya. Dia kembali masuk ke kamar Jero lewat pintu penghubung yang ada di sana.
Mommy memeluk Jero
"Silahkan kamu bela wanita itu. Dia memang aka selalu berada di sisi kamu. Kami berdua pasti akan pergi dari sini. Tetapi sebagai seorang istri, saya tidak akan pergi kalau tidak di minta pergi. Kalian ingin mempertontonkan kepada saya kemesraan kalian tidak masalah. Asal jangan di depan anak saya" ujar Mommy berkata.
Mommy menguat nguatkan hati dan perasaannya. Mommy tidak ingin dia terlihat menjadi lemah di depan sepasang anak manusia yang tidak punya otak itu. Makanya Mommy memilih untuk menguatkan hatinya dengan memandang ke arah Jero. Anak satu satunya, sumber kekuatan bagi Mommy untuk menjalani semua penyiksaan yang akan diterimanya. Bukan penyiksaan fisik tetapi penyiksaan bathin.
Daddy yang disangka oleh Mommy pergi membukakan pintu kamar mandi untuk Rina ternyata tidak melakukan hal itu. Daddy memilih untuk pergi tidur ke ruang keluarga. Daddy tidak tahu harus berbuat apa lagi.
Kelakuannya sudah diketahui oleh Mommy. Daddy yang mengira kalau mommy akan marah besar ternyata tidak sama sekali. Mommy hanya mengatakan apa yang dianggapnya penting saja. Hal itu yang mambuat Daddy menjadi tidak mengerti apa yang harus dilakukan oleh Daddy saat ini.
Sebelum menuju ruang keluarga, Daddy menaruh kunci kamar mandi di atas meja dekat sofa tempat mommy tadi pura pura tidur. Daddy tidak ingin menambah masalah lagi dengan mengeluarkan Rina dari dalam kamar mandi
...----------------...
Pagi harinya Bik Ima yang sudah selesai membuat sarapan untuk keluarga Aleksander berjalan menuju meja makan untuk merapikan meja makan yang akan digunakan oleh pemilik rumah saat mereka sarapan nanti.
"Loh Tuan besar kenapa tidur di sini?" ujar Bik Ima yang kaget saat melihat Tuan besar tidur di sofa ruang keluarga.
Bik Ima kemudian berjalan ke arah Tuan besar yang sedang tidur itu. Bik Ima melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Bik Ima memutuskan untuk membangunkan Tuan besarnya itu.
"Tuan, Tuan, bangun Tuan sudah pukul tujuh pagi" ujar Bik Ima membangunkan Tuan besarnya itu.
Tuan besar yang mendengar dan juga merasakan kakinya di guncang seseorang berusaha membuka matanya yang masih berat itu. Dia melihat bik Ima berdiri di depannya.
"bibik yang membangunkan saya?" tanya Tuan besar Aleksander kepada Bik Ima.
"Iya Tuan. Sudah jam tujuh. Apa Tuan tidak kerja" ujar Bik Ima.
"makasi bik sudah membangunkan saya. Saya ke atas dulu" ujar Tuan besar Aleksander.
Tuan besar Aleksander kemudian berjalan menuju kamarnya. Dia berharap menemukan istrinya di sana. Istri yang sedang dalam keadaan marah besar itu.