My Affair

My Affair
BAB 103



Tak terasa keluarga besar Aleksander telah tinggal di mansion tersebut selama lebih kurang enam bulan lamanya. Jero yang sudah berusia tiga tahun sudah pintar berjalan dan berbicara dengan sangat lurus. Kehidupan keluarga mereka selama enam bulan terakhir terlihat ada sesuatu yang sangat mengganjal di pikiran Mommy. Tetapi Mommy tidak tahu itu apa. Setiap Mommy bercerita kepada Daddy, jawaban Daddy akan sama terus setiap Mommy bertanya. Jawaban Daddy adalah, itu hanya perasaan Mommy saja.


"Nyonya, kenapa bermenung di sini?" tanya Bik Ima saat melihat Nyonya besarnya termenung di meja mini bar.


"Ada yang mengganjal pikiran saya Bik" ujar Mommy mulai berbagi apa yang dipikirkannya kepada Bik Ima.


"Kalau Nyonya percaya dengan Bibik, Bik Ima boleh kok cerita dengan bibik" ujar Bik Ima.


"Itulah Bik, saya tidak tahu mau mulai dari mana ceritanya ke bibik" kata Mommy menjawab pertanyaan dari bik Ima.


"Mulai saja dari bagian mana yang Nyonya rasa paling nyaman" ujar Bik Ima sambil duduk di seberang meja yang lainnya.


Bik Ima tidak bisa duduk berdampingan dengan Mommy karena Bik Ima sedang memasak menu untuk makan malam.


"Jadi gini Bik. Semenjak pindah ke sini, Suami saya selalu dibuatkan teh nya oleh Rina. Semenjak itu, suami saya terlihat aneh, dia selalu memandang ke arah Rina. Mereka seperti memiliki hubungan di belakang saya" ujar Mommy memulai ceritanya kepada Bik Ima.


"Nyonya kok berpikiran seperti itu Nyonya?" ujar Bik Ima sambil melihat dengan serius ke arah Nyonya besarnya itu


"Bik, beberapa kali aku melihat dari jauh kalau Rina keluar dari ruang kerja suami aku selalu tersenyum sumringah. Dulu ruangan itu pakai CCTV, ntah kenapa suami aku ngomong akalu CCTV rusak dan harus di perbaiki" lanjut Mommy mengeluarkan kecurigaan kecurigaan nya kepada Bik Ima.


Bik Ima mendengar apa yang diceritakan oleh Nyonya besarnya itu.


"Bentar Nyonya saya aduk sayur dulu" ujar Bik Ima yang nyambi masak sambil dengerin curahan hati Nyonya nya itu.


Bik Ima pergi mengaduk sayur yang dibuatnya terlebih dahulu. Saat itulah ponsel milik Mommy bergetar. Mommy melihat Daddy yang menghubunginya saat itu.


"Hallo Daddy" ujar Mommy yang berusaha terlihat biasa saja kepada suaminya itu.


"Mommy maaf ya Mommy, kali ini Daddy nggak bisa lagi makan malam di mansion Mommy" ujar Daddy menyampaikan kabar yang sudah bisa di tebak oleh Mommy sejak tadi.


"Daddy ada meeting lagi?" tanya Mommy kepada Daddy.


"Iya Mommy, maaf ya. Mommy terpaksa hanya makan berdua dengan Jero saja lagi malam ini. Daddy akan berusaha selesai cepat Mommy" ujar Daddy sambil berkata dengan nafas yang agak tersengal sengal.


"Daddy baik baik saja bukan? Kok nafasnya seperti orang mendaki itu" ujar Mommy yang sudah bisa membayangkan apa yang sedang dilakukan oleh suaminya di luar sana.


"Daddy baik baik saja Mommy. Daddy siap makan yang pedas pedas, makanya nafas seperti memburu seperti ini" ujar Daddy sambil mengecup puncak kepala seorang wanita yang sedang memberikan service kepada Daddy.


Wanita itu sangat sibuk di bawah, sehingga membuat nafas Daddy menjadi tersengal sengal dan memburu saat berbicara dengan Mommy. Wanita itu sengaja melakukan hal tersebut karena dia cemburu Daddy menelpon Mommy dekat dia. Makanya dia semakin menjadi jadi memberikan service kepada Daddy.


"Baiklah Daddy hati hati meetingnya ya." ujar Mommy dengan nada mencemooh tetapi Daddy sama sekali tidak memikirkan hal itu karena service yang diberikan oleh wanita yang sedang di bawahnya itu.


"Mommy sudah dulu ya, client Daddy sudah datang. Kasihan kalau mereka lama menunggu Mommy" ujar Daddy yang sudah tidak tahan lagi untuk membalas service yang diberikan wanita itu.


"Oke Daddy" ujar Mommy.


Mommy memutuskan panggilannya dengan Daddy. Mommy menaruh kembali ponselnya di atas meja mini bar.


Jero yang kecil tapi sudah bisa mengerti itu mendatangi Mommy nya.


"Mommy" ujar Jero sambil menarik narik pakaian mommy.


"Apa sayang?" tanya Mommy yang mengangkat Jero dan mendudukkan Jero di kursi sebelah Mommy.


"Daddy?" tanya Jero kepada Mommy.


"Mommy, jangan sedih, ada Jero" ujar Jero yang sangat paham apa yang dirasakan oleh Mommy nya itu.


"Jero sayang Mommy" lanjut Jero.


Mommy yang mendengar apa yang dikatakan anak laki laki semata wayangnya itu langsung memeluk Jero. Mommy menumpahkan semua air matanya sambil memeluk Jero.


"Mommy sayang Jero" jawab Mommy.


Bik Ima kemudian memanggil Pak Hans untuk membawa Jero bermain ke kamarnya.


"Tuan muda, kita main mobil mobilan di kamar yuk. Mommy mau masak untuk makan malam Tuan muda" ujar Pak Hans membujuk Jero untuk mau bermain dengan Pak Hans di kamar


"Mau" ujar Jero saat mendengar Pak Hans mengajak dirinya untuk main mobil mobilan.


"Mommy okey?" tanya Jero memastikan keadaan Mommy terlebih dahulu sebelum dia pergi dengan Pak Hans menuju kamar bermain.


"Mommy okey sayang" jawab Mommy meyakinkan Jero kalau Mommy dalam keadaan baik baik saja.


Jero dan Pak Hans kemudian pergi ke kamar bermain. Bik Ima yang telah selesai menata meja makan berjalan menuju Mommy.


"Nyonya ada apa?" tanya Bik Ima sambil duduk di kursi yang tadi dipakai oleh Jero.


"Apa maid itu ada di mansion Bik?" Mommy menanyakan keberadaan Rina kepada Bik Ima.


"Tidak Nyonya. Dia dari tadi sore izin ke saya, katanya mau keluar ke tempat saudaranya" ujar Bik Ima memberitahukan kepada Mommy kalau Rina sudah tidak di mansion dari tadi sore.


Mommy terdian, dia semakin yakin sekarang kalau memang mereka ada main di luar.


"Ada apa Mommy?" tanya Bik Ima kepada Mommy.


"Dia sedang bersama dengan suami saya" jawab Mommy.


"Jadi, Tuan besar kali ini tidak makan malam di mansion lagi Mommy?" tanya Bik Ima.


"Tidak. Dia sedang diberikan service oleh perempuan itu" jawab Mommy sambil menatap kosong ntah kemana pikiran Mommy.


Bik Ima berdiri dan memeluk Nyonya besarnya yang sangat baik kepada mereka semua. Bik Ima tidak menyangka kalau ada seseorang yang ternyata bisa jahat kepada Nyonya besarnya itu.


"Nyonya, Nyonya jangan berpikiran negatif dulu Nyonya. Nyonya harus berpikiran positif kepada Tuan besar. Mana tau Tuan besar beneran sedang meeting di luar dengan client nya Nyonya" kata Bik Ima berusaha membesarkan hati Mommy.


"Tidak ada agenda dia keluar hari ini Bik Ima. Saya sudah tanya ke asisten pribadinya dan juga sekretarisnya. Asistennya saja sudah pulang. Kata asistennya tadi, Tuan besar akan lembur di kantor. Padahal tidak ada yang perlu dilemburkan" ujar Mommy memberitahukan kepada Bik Ima.


Bik Ima terdiam, dia tidak tahu lagi harus mengatakan apa kepada Nyonya besarnya itu. Nyonya besar telah mencari informasi yang akurat tentang Tuan besar. Terlebih lagi si Rina maid ganjen itu tidak ada di mansion. Maka kecurigaan Mommy akan semakin nyata.


Apalagi Bik Ima juga pernah memergoki kalau Tuan besar dan Rina berciuman hot di dalam ruang kerja Tuan besar yang berada di lantai satu mansion. Bik Ima saat itu langsung terkejut. Cuma Bik Ima tidak bisa berbuat apa apa karena dia hanya seorang pelayan di mansion besar ini.


'Nyonya maafkan saya, saya tidak bisa mengatakan apa yang saya lihat kepada Nyonya. Semoga Nyonya bisa membuktikan sendiri dengan mata kepala Nyonya apa yang mereka berdua lakukan' ujar Bik Ima dalam hatinya.


"Saya ke kamar dulu Bik. Mau mandi sebentar. Nanti Bik Ima, Pak Hans temani saya dan Jero makan di meja makan ya" ujar Mommy yang terlihat sangat memiliki beban pikiran.


"baik Nyonya" ujar Bik Ima yang hanya bisa setuju saja dengan apa yang diinginkan oleh Nyonya besar yang sedang dalam keadaan tidak stabil itu.