My Affair

My Affair
BAB 87



"Hay Vian, bisa kamu dan aku berkenalan sekali lagi?" kata Greta sambil menatap ke arah Vian yang bersandar ke kepala ranjang besarnya itu.


"Bisalah Greta. Aku senang sekali bisa punya teman di negara yang baru kali ini aku datangi" jawab Vian yang sangat senang bisa berteman dengan Greta. Jadi Vian saat Jero dan yang lainnya sibuk bekerja, dia bisa bermain dengan Greta.


"Apalagi kalau kamu mau jadi sahabat aku, tentu aku akan semakin bahagia" lanjut Vian semakin membuat Greta merasa bersyukur bisa mengenal Vian.


"Serius kamu mau menjadi sahabat aku?" tanya Greta yang masih ragu mendengar apa yang dikatakan oleh Vian.


"Serius, aku mau jadi sahabat kamu" jawab Vian sambil melihat ke arah Greta.


"Wow aku sangat senang sekali mendengarnya Vian. Aku sangat senang bisa bersahabat dengan kamu" ujar Greta yang tidak menutupi rasa bahagianya karena Vian mau bersahabat dengan dia.


"Aku juga senang bisa memiliki sahabat di negara ini. Apalagi sahabat aku itu kamu, seorang dokter yang ternama di negara U" ujar Vian memuji Greta.


"Kau juga dokter yang hebat Vian" giliran Greta memuji Vian.


"Udah ah saling memujinya. Oh ya Vian, kamu sudah tahu atau belum kenapa Jero membawa kamu ke negara ini?" tanya Greta kepada Vian.


"Taulah, Jero ingin aku konsultasi dengan kamu tentang semua rasa takut aku saat melihat sesuatu yang membuat rasa takut itu muncul dengan sendirinya" ujar Vian yang memang sudah mengetahui maksud Jero membawa dirinya untuk bertemu dengan Greta.


"Boleh aku bertanya tentang hal itu? Kamu boleh kok untuk tidak menjawabnya" ujar Greta yang disadari oleh Vian, kalau Greta sudah masuk ke dalam program terapi untuk Vian.


Vian menyambut dengan bahagia dan tangan terbuka usaha yang dilakukan oleh Greta itu. Vian akan menjawab semuanya. Vian akan menceritakan semuanya, tanpa ada yang akan ditutup tutupi oleh Vian dari Greta.


'Aku ingin sembuh. Aku harus jujur' ujar Vian menyemangati dirinya sendiri.


"Boleh Greta, silahkan aja kamu mau tanya apa. Aku akan menjawabnya" ujar Vian dengan nada pasti dan mantap.


"Mau tidak kamu menceritakan kepada aku, kamu siapa. Maka aku akan menentukan aku harus melakukan apa terhadap kamu" ujar Greta yang meminta Vian untuk menjelaskan siapa dirinya kepada Greta.


Vian tersenyum kepada Greta. Vian sangat tau sekali, kalau dia berbicara tidak sebenarnya kepada Greta, Greta pada akhirnya tetap akan mengetahui kalau Vian sedang berbohong.


"Jadi sebenarnya aku adalah seorang istri dari Juan Aleksander" ujar Vian memberitahukan status pernikahannya kepada Greta.


'Juan Aleksander, seperti nama keluarga yang tidak asing lagi di telinga gue, apa kaitannya dengan Jero Asander dan dua adiknya' ujar Greta berpikir dan berbicara sendiri sambil menatap jauh ke depan.


"Greta" ujar Vian memanggil Greta yang termenung itu.


"Eh sorry Vian, tadi aku sempat termenung sebentar" ujar Greta meminta maaf kepada Vian karena dia sempat melamun saat Vian mengatakan hal yang tadi itu.


"Tidak masalah Greta" jawab Vian sambil tersenyum kepada Greta.


"Pasti kamu berpikir aku sudah bersuami kenapa masih dekat dengan Jero bukan?" tanya Vian melihat ke dalam Mata Greta.


"Tidak Vian, aku sama sekali tidak memikirkan itu." ujar Greta yang tidak akan menyebutkan kepada Vian apa yang tadi dipikirkan oleh dirinya.


"Kirain" ujar Vian sambil tersenyum.


"Terus dimana kamu mengenal Jero?" lanjut Greta bertanya kepada Vian.


"Nah, Jero saat itu bekerja menjadi sopir pribadi Juan Aleksander. Karena aku sudah menjadi istrinya dan juga bekerja di rumah sakit Harapan Kita, Jero diperintahkan untuk menjadi sopir pribadi aku" ujar Vian menceritakan awal mula dia bisa bertemu dengan Jero.


"Saat itu semua orang membayangkan kebahagiaan aku pasti berlipat lipat ganda. Siapa orang yang nggak tau dengan keluarga Aleksander. Keluarga yang termasuk dalam keluarga kaya dan berpengaruh di negara I. Setiap kami menyebutkan nama keluarga Aleksander semua orang akan langsung menundukkan kepalanya" ujar Vian mengatakan bagaimana pengaruh keluarga Aleksander di negara I.


Greta menyimak semua cerita dari Vian. Greta sama sekali tidak pernah menyela atau menyanggah maupun memotong perkataan dari Vian.


"Tapi semua itu tidak berlaku dalam kehidupan gue. Bagi gue pernikahan gue dengan Juan Aleksander adalah sebuah petaka paling besar yang pernah terjadi dalam hidup gue" ujar Vian bercerita dengan sangat tegar, Vian sama sekali tidak menitikkan air matanya saat menceritakan bagaimana kelamnya kehidupan rumah tangga yang dilalui oleh Vian.


"Terlihat dari luar, kehidupan rumah tangga gue benar benar seperti sepasang suami istri yang sedang jatuh cinta. Setiap jamuan makan malam bisnis, kami akan tampil layaknya sepasang suami istri yang berbahagia." ujar Vian sambil menatap dan membalik kisah kelam rumah tangganya itu.


"Tetapi saat kami sudah berada kembali di mansion yang super mewah dan megah bagaikan istana itu, kami akan kembali menjadi seperti orang tidak ada ikatan apapun" lanjut Vian.


"Ada apa Vian?" tanya Greta kepada Vian yang terdiam cukup lama itu.


"Bisa kita lanjut besok saja? Aku sedang ingin memasak makan malam untuk kita" ujar Vian kepada Greta.


Greta menatap Vian sambil tercengang. Dia tidak menyangka seorang putri yang dari lahir sudah banyak memiliki pelayan bisa mengatakan kalau dia akan memasak menu makan malam.


"Kamu serius??" tanya Greta lagi.


"Serius lah, kenapa? Kamu ragu karena aku istri dari Juan Aleksander gitu?" ujar Vian sambil tersenyum kepada Greta.


Greta menganggukkan kepalanya.


"Selain yang satu itu, aku juga yakin kalau kamu bukan dari kalangan keluarga biasa saja di negara I. Walaupun cerita kita belum sampe sana. Makanya aku tercengang saat kamu mengatakan kalau kamu bisa masak" lanjut Greta mengutarakan kenapa dia sampai tercengang saat mendengar Vian akan masak menu makan malam.


"Ayuk turun, kelamaan banget kalau kita pake cerita dulu. Nanti bisa makan tengah malam kita" ujar Vian mengajak Greta untuk turun dan memasak di dapur bersih.


Vian terlihat mau menuju tangga mansion.


"Vian, di sini ada lift. Kamu tau kita sedang di lantai berapa mansion?" tanya Greta kepada Vian.


Vian menggeleng, dia memang tidak mengetahui kalau sekarang dia berada di lantai berapa mansion.


"Kita di lantai tiga mansion Vian. Kalau jalan ke bawah lama banget jadinya." ujar Greta memberitahukan posisi mereka sekarang ini.


"Hah?" ujar Vian kaget mendengar informasi dari Greta.


"Tahan kaget kamu say. Besok aja, lebih banyak yang akan membuat kamu kaget" ujar Greta kepada Vian.


"Huft. Sepertinya aku harus banyak makan biar nggak panik saat aku tau semuanya" ujar Vian.


"Setuju. Kalau tidak, kamu akan lama terapi dengan aku" ujar Greta menggoda Vian.


"Kalau psikiater nya seperti kamu, aku mau" ujar Vian.


"Tapi nggak diruangan terapinya. Bisa seteres aku" lanjut Vian mengutarakan syarat kepada Greta.


"Asiap" jawab Greta.


Mereka berdua kemudian menuju dapur bersih yang ternyata untuk makan keluarga terletak di lantai dua mansion bagian belakang.


Beberapa orang koki terlihat sedang menyiapkan bahan bahan untuk mereka olah menjadi makan malam.


"Tuan, permisi, bolehkah saya yang mengolah semua ini?" tanya Vian kepada kepala koki.


"Tapi Nona. Ini sudah tugas kami. Kami bisa dimarahi Tuan Muda kalau tau Nona muda yang memasak" ujar Kepala pelayan menolak keinginan Vian.


Bram yang berada di meja makan, melihat semua kejadian itu. Bram melihat wajah kakak iparnya sedikit berubah karena dilarang mengolah makan malam mereka.


"Kepala Pelayan, biarkan saja kakak ipar masak. Kalian larang malah akan buat abang Jero marah nanti" ujar Bram memberikan perintahnya kepada kepala pelayan.


"Baiklah Nona muda, silahkan gunakan dapurnya" ujar kepala pelayan setelah mendengar perintah dari Bram.


Beberapa koki yang ada di sana juga keluar dari dapur. Mereka mempersilahkan Vian untuk memasak di dapur.


"Greta, ayuk masak." ujar Vian mengajak Greta untuk masak menu makan malam mereka.


"Hah?" ujar Greta kaget mendengar ucapan dari Vian.