
"Tuan besar Alexsander sebelumnya saya minta maaf kepada anda. Anda benar benar sudah keterlaluan sekali. Hanya untuk kerjasama anda dengan gampangnya melakukan perkenalan menyakitkan ini. Maafkan saya tuan besar alexsander, saya tidak akan mau berkenalan lebih lanjut lagi dengan saudara" ujar Bram yang sangat kesal dengan apa yang dikatakan oleh Tuan besar alexsander tersebut kepada dirinya dan kedua kakaknya
Jero dan Felix yang melihat Bram sudah berdiri dari duduknya juga melakukan hal yang sama, mereka juga akan pergi mengikuti Bram meninggalkan ruangan VVIP itu. Mereka benar benar sudah kesal dengan apa yang dilakukan oleh Tuan besar alexsander tersebut.
"Maaf tuan besar alexsander sepertinya percakapan kita tidak bisa dilanjutkan kembali. Kami permisi terlebih dahulu" ujar Jero yang juga langsung berdiri dari posisi duduknya. Dia sangat paham apa yang dirasakan oleh kedua adiknya itu.
'Ternyata anda tetap tidak berubah tuan besar' ujar Jero dalam hatinya mengomentari apa yang telah dilakukan oleh Tuan besar alexsander kepada mereka bertiga
Mereka bertiga kemudian keluar dari dalam ruangan VVIP. Jeri yang melihat juga langsung mengajak mereka yang berada di ruangan VVIP yang satu lagi untuk keluar dan berjalan menuju mobil mobil yang telah menanti mereka di depan terminal kedatangan penumpang pesawat pribadi
"Dasar pria tua yang nggak ada niat untuk berubah" ujar Jero yang akhirnya mengumpat ayahnya sendiri karena kelakuan dari Tuan besar alexsander juga yang harus membuat Jero menjadi seperti ini.
"Ya mau gimana lagi bang. kalau udah harta yang berkuasa maka nggak akan ada lagi yang bisa menghalanginya" ujar Felix memberikan komentar atas apa yang dikatakan oleh Jero kepada mereka berdua
"Yup setuju" jawab Jero
Ivan dan Juan sudah berdiri di tempat mobil yang akan menjemput mereka semua. Ivan dan Juan sudah berada di sana dua jam yang lalu, setelah mereka membersihkan pesawat, mereka langsung menuju tempat mobil menunggu, mereka tidak mau terlambat, bisa bisa ditinggal oleh Jero. Ternyata oh ternyata sebaliknya yang terjadi
"Loh ada bang Juan, udah berapa lama berdiri di sini Bang?" ujar Bram bertanya dengan raut wajah yang masih kesal karena ulah dari seorang pengusaha yang sangat terkenal itu. Hal itu sukses membuat Bram sama sekali kehilangan moodnya untuk melakukan kegiatan apapun saat ini.
"Udah sejam lebih lah. Kalian lama sekali"ucap Juan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Bram Asander kepada dirinya. Dia dan Ivan sudah berdiri di sana selama mungkin, berharap Jero dan yang lainnya hanya terlambar setengah jam. Tetapi ternyata tidak sama sekali, Jero dan kedua adiknya terlambat hampir dua jam lamanya. Hal itu membuat Juan dan Ivan sudah berkali kali pindah tempat beridiri karena bandara tidak menyediakan tempat duduk di teras Bandara.
"kami ketemu sama manusia yang nggak pernah berhenti sombongnya Bang. Sombongnya awet seawet umurnya. Bikin kesal aja tu orang" ujar Bram yang memang sangat kesal dengan kelakuan tuan besar Alexsander tadi saat mereka melakukan perkenalan diri.
"Yang anehnya dia yang meminta berkenalan dengan kami, ternyata oh ternyata dia juga yang tidak menghargai kami" lanjut Bram yang mengeluarkan semua yang dirasakan oleh dirinya kepada Juan sahabat dari abangnya sendiri. Juan memang selalu menjadi tempat curhat dari Bram dan Felix. Juan tidak sama dengan Tama dan jeri, Juan selalu memberikan bimbingan bukan cara.
Jero yang mendengar apa yang dikatakan oleh Bram hanya bisa setuju saja. Jero juga sangat kesal dengan apa yang telah dilakukan oleh Tuan besar Alexsander kepada dirinya dan kedua adiknya. Penghinaan yang sangat luar biasa membuat Jero Asander, Felix Asander, dan Bram Asander kembali membenci pria yang tadi sebenarnya sudah mereka maafkan akan semua kesalahan yang telah terjadi, Tetapi saat mendapatkan perlakuan seperti tadi, membuat Jero dan kedua adiknya membatalkan niatnya untuk memberikan maaf kepada Tuan besar Alexsander.
'Kenapa dia? kok kelihatan seperti seseorang yang sedang terbeli kain robek' ujar Juan bertanya kepada Felix dengan gerakan mulutnya saja. Juan benar benar tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu dari seorang Bram Asander. Selama ini Bram selalu memperlakukan Juan dengan sangat baik, karena menganggap Juans ama dengan Jeri dan Tama.
Vian yang melihat Jero hanya diam saja saat mereka bertemu, hanya bisa menggenggam tangan Jero. Itupun karena Jero yang menggenggam duluan, kalau tidak maka Jero dan Vian akan berjalan seperti orang yang saling tidak kenal. Untung saja Jero masih ingat untuk memegang tangan Vian selama perjalanan menuju mobil yang sudah menunggu mereka.
Vian bisa melihat kalau beban yang ditanggung oleh Jero setelah tidak dengan sengaja bertemu dengan Daddynya berakhir lebih tragis lagi. Bukannya beban itu semakin berkurang, melainkan semakin bertambah saja. Hal itu terlihat sangat jelas dengan perubahan sikap Jero.
Vian bisa mengetahui hal itu karena diberikan peringatan oleh Jeri. Dahulu tiga tahun yang lewat, Jero tidak sengaja bertemu dengan Tuan besar Alexsander, Jero pada saat itu tidak sengaja menabrak Tuan besar Alexsander, persis dengan kejadian tadi. Nah saat itu tuan besar Alexsander memberikan Jero uang dan mengatakan kalau pemuda miskin tidak boleh ke mall karena mengganggu pemandangan.
Mereka semua kemudian masuk ke dalam mobil hitam dove yang sudah menunggu dari tadi. Mereka semua akan langsung menuju mansion utama Asander. Mansion yang sangat bagus dan sangat luas yang ada di negara I. Mansion yang letaknya hanya orang orang Asander saja yang tahu dimana gerbang masuk mansion mewah tersebut, selain dari orang orang Asander maka tidak ada yang tahu lagi dimana mansion itu berada.
Mobil melaju dengan kecepatan yang sama membelah jalanan ibu kota menuju mansion rahasia milik keluarga Asander. Mansion itu terdiri dari satu bangunan utama tempat tinggal Jero dan kedua adiknya sekarang bertambah dengan Vian dan para sahabatnya yang jombo.
Selain mansion utama, juga ada empat mansion lagi yang belum dihuni, salah satunya nanti akan ditempati oleh Jeri dan Greta saat mereka berdua memutuskan untuk menikah. Sedangkan yang lainnya adalah jatah untuk Tama dan Juan serta satu lagi ditempati oleh Bik Ima dan Pak Hans orang tua Jeri yang selama ini membantu Jero saat mereka tinggal di mansion Juan Alexsander.
Selain bangunan mansion, di lingkungan mansion itu terdapat rumah rumah untuk para pengawal dan pelayan yang ada di mansion utama. Selain itu di sana juga dilengkapi dengan hellipad, kolam renang, dan arena olah raga lainnya. Tanah seluar tujuh hektar itu benar benar seperti sebuah markas mafia yang ada di negara K.
TUAN BESAR ALEXSANDER
tuan besar alexsander menatap kepergian Jero, Felix dan Bram. Tuan besar Alexsander berharap bisa melihat rombongan dari ketiga orang yang tadi di ajaknya berkenalan itu, tetapi sayangnya langsung gagal karena Tuan besar Alexsander tidak melakukan perkenalan dengan sangat baik, sehingga membuat Jero dan kedua adilnya memelih untuk langsung pergidari ruangan VVIP tempat mereka bertemu berempat.
"Aku sangat yakin kalau mereka adalah pengusaha. Kalau tidak pengusaha mana mungkin mereka akan bisa dengan leluasa memakai pesawat pribadi" ujar Tuan besar Alexsander berkata sambil duduk kembali ke sofanya.
Tuan besar Alexsander sudah menyaksikan kepergian Jero, Felix dan Bram Asander. Tuan besar Alexsander berharap kalau dirinya akan melihat kendaraan yang menjemput Jero dan kedua adiknya tersebut. Tetapi sayangnya tidak sama sekali, Tuan besar Alexsander tidak bisa melihat dengan apa ke tiga kakak beradik itu kembali pulang menuju mansion atau apartemen mereka masing masing.
"Mereka cepat kali menghilangnya" ujar Tuan besar alexsander kesal dengan apa yang dilihatnya saat ini.
Tuan besar alexsander kemudian kembali ke dalam ruangan VVIP untuk mengambil ponsel milihnya dan perlengkapan yang lain. Dia akan pulang ke mansion utama untuk membuat perhitungan dengan nyonya mami dan juan alexsander