My Affair

My Affair
BAB 118



Mobil yang dikemudikan oleh Hendri berjalan pelan menuju mansion keluarga Asander yang terletak di bagian belakang dari komplek mansion elit elit itu. Jero sengaja membeli di bagian belakang karena lahan yang begitu luas. Apalagi dengan tambahan mansion lama keluarga Aleksander, maka akan semakin membuat luas mansion keluarga Asander. Tetapi, demi menghormati mommy, Jero dan kedua adiknya tidak berminat untuk menggabungkan antara mansion Asander dengan mansion Aleksander.


"Sayang, apa kamu sudah puas dengan semua yang aku ceritakan kepada kamu hari ini?" ujar Jero bertanya kepada Vian yang kepalanya sekarang sedang berada di paha Jero.


Vian benar benar lelah dan mengantuk. Makanya dia membutuhkan paha Jero sebagai bantalnya. Niat pertama Vian hanya untuk merebahkan kepala sebentar saja. Tetapi ternyata semuanya kebablasan. Vian akhirnya tertidur di paha Jero.


Via yang tertidur sama sekali n tidak mendengar apa yang ditanyakan oleh Jero kepada dirinya. Hal itu membuat Jero menjadi heran, kenapa Vian hanya diam saja dan tidak menanggapi pertanyaan dari Jero.


"Sayang" Jero kembali memanggil Vian. Tetapi tetap sama, Vian sama sekali tidak memberikan tanggapan terhadap panggilan Jero kepada dirinya.


"Erik coba kamu lihat apa Vian tertidur?" tanya Jero yang susah untuk melihat Vian. Apalagi kalau Jero sempat bergerak, Jero takut mengganggu Vian kalau memang dia tertidur di pahanya.


Erik melihat ke arah Vian. Jero menyibak rambut Vian yang menutupi wajahnya, sehingga membuat Erik menjadi sulit untuk melihat apakah Vian tertidur atau tidak saat ini.


"Siap iya Tuan, Nona sedang tidur saat ini" ujar Erik menjawab pertanyaan dari Jero dan mengatakan kalau Vian memang sedang tertidur saat ini serta memakai paha Jero sebagai bantalnya.


"Kok bisa ini anak tidur mendadak seperti itu. Apa dia nggak mikir kalau badannya akan sakit sakit nanti" ujar Jero yang tidak habis pikir dengan kelakuan Vian yang bisa bisanya tertidur di dalam mobil dengan posisi meringkuk seperti saat sekarang ini.


Untung saja tadi Jero sudah meminta salah satu pengawal untuk membawa mobil yang dikemudikan oleh Jero tadi untuk di bawa kembali ke mansion Asander, kalau tidak ntah bagaimana posisi Vian tidur sekarang ini.


"Sepertinya Nona tidur sangat nyenyak Tuan Muda" ujar Erik kepada Jero sambil melirik sekolah ke wajah cantik Vian.


"Hendri putar balik. Vian masih tertidur, tidak mungkin kita membawa dia untuk balik ke mansion sekarang" ujar Jero meminta Hendri untuk putar kembali keluar dari komplek mansion para pengusaha negara E tersebut.


"Siap Tuan Muda" jawab Hendri.


Hendri memutar kembali mobil yang dikemudikan oleh dirinya. Mereka tidak jadi masuk ke dalam gerbang utama mansion keluarga Asander. Posisi Vian yang masih tertidur nyenyak membuat Jero memutuskan untuk kembali ke jalan dan membawa Vian berkeliling kota sekali lagi.


Felix dan Bram yang tadi sudah melihat kalau mobil Jero sudah masuk dalam radar CCTV dan mendadak putar balik menjadi aneh sendiri.


"Bang? Kok mobil Bang Jero putar balik. Sepertinya ada sesuatu Bang" ujar Bram yang terlihat sangat panik saat melihat mobil yang dikemudikan oleh Hendri kembali putar balik menjauh dari mansion.


Felix yang sudah tidak berpikir sehat lagi dan panik saat mengetahui dan melihat secara langsung mobil yang dipakai oleh Jero putar balik, langsung saja menekan tombol darurat. Semua mansion di tutupi oleh kaca anti peluru. Semua mansion sudah terjaga dengan level satu.


Beberapa pengawal terlatih langsung masuk ke ruangan utama mansion. Beberapa barang yang ada di ruang utama dengan sendirinya langsung masuk ke dalam ruangan yang ada di bawah ruang utama.


Semua pengawal sudah berdiri di sana dan bersiap menerima instruksi yang akan diberikan oleh Felix dan Bram saat itu juga. Mereka tahu kalau salah satu dari tiga orang Tuan Muda itu menekan bel darurat maka salah satu dari mereka sedang dalam posisi terancam.


"Terimakasih karena suda berkumpul dengan sangat cepat. Kalian tadi melihat sendiri kalau mobil Tuan Jero berputar arah saat sudah sampai di depan mansion. Di dalam mobil ada Tuan Jero dan Nona Vian serta Hendri, Erik." ujar Felix yang langsung turun tangan memberikan pengumuman kepada semua pengawal yang berdiri di depan Felix dan Bram.


Sedangkan pengawal ring dua diperintahkan eh Bram untuk berputar putar di area komplek mansion yang sangat luas itu. Untuk pengawal ring tiga dan empat, mereka ditugaskan untuk stanbay dan berjaga jaga di sekitar mansion utama.


Felix dan Bram akan langsung turun tangan untuk menindak kejadian kali ini. Mereka tidak ingin Jero dan Vian mengalami sesuatu di luar sana.


Jeri yang baru kembali dari mengantar Greta pulang, melihat keadaan mansion dalam siaga satu. Jeri kemudian memarkir mobilnya di sembarang tempat saja. Dia harus bertanya kepada Felix dan Bram apa yang sedang terjadi saat ini.


"Felix, Bram" panggil Jeri sambil berteriak mencari dua adik Jero yang bertanggung jawab atas kejadian seperti ini.


"Felix, Bram" ujar Jeri kembali berteriak dengan sangat keras.


Felix dan Bram yang mendengar suara Jeri, langsung turun dengan bergegas ke arah Jeri.


"Kenapa mansion seperti siaga satu seperti ini? Ada apa?" ujar Jeri bertanya kepada Felix dan Bram. Jeri sudah yakin pasti mereka berdua yang membuat status mansion siaga satu.


Felix kemudian menceritakan kepada Jeri apa yang terjadi dan kenapa dia serta Bram mengambil kesimpulan untuk memberikan level siaga satu atas mansion keluarga Asander.


"Kalian berdua emang lah ya. Boleh cemas dengan Jero tapi nggak goblok keterlaluan seperti ini juga kali Felix, Bram" ujar Jero dengan setengah emosi menahan amarahnya yang sudah sampai puncak ubun ubun.


"Maksud Bang Jeri apaan? Kami berdua tidak mengerti sama sekali dengan apa yang Bang Jeri katakan. Malahan kami Abang katakan gobbloks" ujar Bram yang tidak Terima dikatakan goblok oleh Jeri karena Bram dan Felix memutuskan untuk memberikan kode siaga satu terhadap keamanan mansion utama dan juga Jero serta Vian yang berada di dalam mobil.


"Abang nggak tau gimana cemas kami saat melihat mobil itu putar balik lagi tepat di wajah kami Bang. Eee eee eee sekarang dengan gampangnya abang mengatakan kami goblok. Enak banget" ujar Bram yang sudah tersulut emosinya kepada Jeri.


Sedangkan Felix masih tetap diam. Dia berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh Jeri. Akhirnya Felix sampai kepada satu kesimpulan.


"apa abang sempat menghubungi Bang Jero sebelum ke sini?" tanya Felix kepada Jeri yang dengan santainya duduk di sebuah kursi.


Felix menatap lurus kearah Jeri. Begitu juga dengan Bram. Mereka melihat dan menatap Jeri yang dengan santainya masih duduk sambil goyang goyang kaki di kursi itu.


Jeri benar benar tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Felix dan Bram. Mereka berdua terlalu cepat menyimpulkan suatu keadaan.


"pikir aja sendiri" ujar Jeri setengah geram dengan kelakuan dua beradik itu yang benar benar masih belum bisa membuat keputusan dengan sangat tepat tanpa membuat keributan.


Felix menekan kembali tombol darurat. Tombol itu langsung sampai ke semua orang. Kali ini tombol itu mengatakan kalau kondisi sudah kembali kondusif. Semua pengawal yang berada di luar kembali ke dalam mansion. Untuk ruang utama sudah kembali seperti semula. Serta semua kaca anti peluru sudah kembali tersimpan ke tempatnya semula. Mansion utama keluarga Asander sudah kembali terlihat seperti semula.


Felix dan Bram sudah menyadari kalau mereka salah membuat keputusan. Mereka akan bertanya nanti kepada Jero apa yang sebenarnya terjadi sehingga Jero berputar arah saat sudah berada di depan mansion utama.