My Affair

My Affair
BAB 57



Papi meninggalkan Mami sendirian di ruang keluarga. Papi masuk ke dalam kamar tamu. Papi tidak mau melihat Mami yang cemburu tidak jelas itu. Papi sengaja masuk ke kamar tamu agar dia tidak melihat Mami lagi. Papi sangat kesal dengan pertanyaan yang diajukan oleh Mami.


Mami menatap nanar Papi yang sangat marah karena pertanyaan pertanyaan Mami yang sama sekali tidak bermutu itu. Apalagi Papi masuk ke kamar tamu, semakin membuat Mami nggak tau harus berbuat apa apa lagi. Papi ternyata benar benar marah.


Sedangkan Juan Aleksander yang berkendara menuju rumah terlihat berpikir panjang di kursi belakang. Raut wajah Juan Aleksander memperlihatkan dia sedang panik dan juga statusnya sebagai pemegang saham perusahaan yang dipertanyakan.


"Maaf Tuan Muda kalau saya lancang. Sepertinya Tuan Muda sedang dalam keadaan kurang baik. Seperti banyak pikiran" ujar sopir kepada Juan. Sopir menatap Juan dari kaca spion mobil.


"Apa begitu sangat terlihatnya Pak?" tanya Juan kepada sopirnya.


"Ya. Sangat terlihat. Semoga saja ini bukan masalah berat Tuan Muda" ujar sopir kepada Juan Aleksander.


Sopir itu adalah sopir yang sudah lama menemani Juan Aleksander. Sopir yang memang sudah ada juga di negara E. Sebelum Juan Aleksander masuk ke mansion di negara E, sopir itu sudah bekerja juga dengan keluarga Aleksander.


"Pak. Bapak kan sudah lama bekerja dengan Papi. Malahan sewaktu saya kecil Bapak sudah ada juga di mansion kita di negara E. Apa Bapak tau sesuatu tentang keluarga Aleksander?" tanya Juan yang masih memikirkan perkataan Papi saat Papi marah besar tadi di ruang kerja.


Sopir terdiam, dia tidak menyangka Juan Aleksander akan menanyakan hal itu kepada dirinya. Sopir cukup lama terdiam.


'Apa yang harus aku katakan kepada Tuan Muda?' ujar sopir dalam hatinya, dia tidak tau harus menjawab apa kepada Juan Aleksander.


"Kenapa diam Pak?" ujar Juan mendesak sopir untuk menjawab pertanyaannya.


"Saya rasa tidak ada kejadian apa apa Tuan. Semua berjalan normal normal saja" lanjut sopir menjawab pertanyaan dari Juan.


"Terus kenapa bisa perusahaan Papi di negara E mendadak jadi bangkrut saat itu?" ujar Juan melanjutkan pertanyaannya.


"Kalau masalah itu saya tidak tau Tuan Muda. Lebih baik Tuan Muda bertanya kepada Tuan Besar atau Nyonya Besar" jawab sopir yang tidak mungkin menceritakan semuanya kepada Juan Aleksander. Sopir tidak berhak mengatakan apapun kepada Juan Aleksander.


"Oh terimakasih Pak. Semoga tidak ada yang disembunyikan oleh kedua orang tua ku dari Saya, Pak" ujar Juan Aleksander yang berharap tidak ada yang sengaja disembunyikan oleh kedua orang tuanya itu.


Mobil masuk ke dalam gerbang mansion Juan Aleksander. Sopir memberhentikan mobil di teras mansion. Juan Aleksander turun dari dalam mobil. Sedangkan sopir memarkirkan mobilnya di tempat parkir khusus koleksi mobil Juan.


Juan masuk ke dalam mansion, Bik Ima yang sedang berdiri di dapur bersih melihat Tuan mudanya menatap kesegala arah. Tuan mudanya terlihat sedang mencari sesuatu.


"Maaf, Tuan muda. Kalau boleh Bibik bertanya, Tuan muda sedang mencari apa ya?" ujar Bik Ima yang memberanikan diri bertanya kepada Juan Aleksander yang terlihat sibuk mencari sesuatu.


"Apa Vian sudah pulang Bik Ima?" ujar Juan yang tetap berlaku hormat kepada Bik Ima dan sopir pribadinya yang sudah menemani dirinya dari bayi.


"Belum Tuan Muda. Tadi Nyonya muda menyampaikan kalau dia ada kegiatan operasi Tuan" ujar Bik Ima berusaha menyelamatkan Vian dari amukan Juan Aleksander, makanya Bik Ima mengatakan kalau Vian ada operasi di rumah sakit.


"Nanti kalau dia pulang, suruh langsung ke kamar saya Bik. Saya ada perlu dengan dia" ujar Juan meminta kepada Bik Ima untuk memberitahukan kepada Vian saat dia datang nanti untuk menuju kamar Juan.


"Baik Tuan Muda. Nanti saat Nyonya Muda datang akan saya minta untuk langsung keruangan Tuan Muda" ujar Bik Ima kepada Juan.


Juan pergi meninggalkan lantai satu mansion. Dia langsung menuju kamarnya yang berada di lantai dua mansion besar itu. Sesampainya di kamar, Juan langsung mengambil handuk. Dia akan mandi sambil menunggu Vian pulang dari rumah sakit.


Bik Ima yang melihat Tuan mudanya sudah pergi ke kamarnya, langsung mencari sopir yang juga suaminya itu.


"Pak, apa yang terjadi di mansion utama tadi?" ujar Bik Ima kepada suaminya itu.


"Kenapa Ibuk tanya itu, apa sesuatu terjadi lagi di mansion?" tanya Pak Hans kepada Bik Ima.


"Jawab pertanyaan aku saja Pak. Apa yang terjadi di mansion utama?" ujar Bik Ima menanyakan hal yang sama kedua kalinya kepada Pak Hans suaminya yang tadi mengantarkan Juan ke mansion utama Aleksander.


"Jadi begini ceritanya Buk" ujar Pak Hans memilih untuk menceritakan saja apa kejadian yang terjadi sebenarnya. Termasuk pertanyaan yang diberikan Juan kepada dirinya.


"Mana Bapak tau Buk, masalah perusahaan dan bisnis. Bapak tidak orang bisnis Buk" ujar Pak Hans menjawab pertanyaan istrinya yang kelihatan panik itu.


"Terus Bapak jawab apa saat Tuan Muda Juan bertanya tentang apa kejadian yang terjadi di negara E?" ujar Bik Ima kembali bertanya kepada suaminya.


"Bapak katakan saja, kalau tidak ada yang terjadi di negara E. Terus untuk masalah kepana perusahaan yang di sana bisa bangkrut, Bapak katakan saja Bapak tidak mengetahuinya" ujar Pak Hans menjawab pertanyaan istrinya yang sudah seperti polisi mengintrograsi terdakwa.


Sepasang suami istri yang telah mengabdi puluhan tahun kepada keluarga Aleksander tidak menyangka riak ini akan timbul. Mereka berdua memang yakin masalah ini akan muncul. Tetapi dalam waktu seperti ini.


"Pak, Ibuk sebenarnya sudah memperkirakan hal ini akan terjadi sejak lama. Tapi saat ini terjadi Ibuk seperti belum siap menghadapinya Pak. Semoga aja satu pihak berlapang dada untuk memaafkan keadaan" ujar Bik Ima berharap sesuatu yang rasanya tidak akan mungkin terjadi.


"Buk, Bapak rasa ini tidak akan berakhir cepat, ini bukan riaknya Buk. Bapak rasa ini bukan permainan dari Tuan Muda. Ini adalah permainan yang dimainkan oleh orang yang membenci Tuan muda Juan." ujar Pak Hans memberikan pandangannya kepada istrinya yang selalu kepo terhadap hal hal yang berbau Tuan Muda dan Nyonya Besar kesayangannya itu.


"Buk kita sekarang hanya bisa berdoa semoga apa yang dilakukan Tuan Muda supaya berakhir dengan perdamaian, walaupun itu sangat sulit terjadi." lanjut Pak Hans memberikan analisanya kepada Bik Ima.


"Buk, nggak ada orang yang bisa memaafkan kesalahan yang fatal seperti itu. Sangat jarang bisa terjadi Buk. Orang orang pilihan lah yang bisa memaafkan hal yang terjadi di negara E" lapar Pak Hans kepada istrinya.


"Makanya tadi Bapak mengatakan kalau kita sekarang hanya bisa berdoa dan meminta kebaikan kepada yang maha kuasa." ujar Bapak menjelaskan semuanya kepada Bik Ima.


"Iya Pak. Ibuk akan berdoa untuk kebaikan keluarga Aleksander yang sudah sangat baik kepada keluarga kita." jawab Ibuk yang paham maksud Bapak.


"Terlebih lagi anak kita bisa seperti sekarang karena bantuan dari Tuan Aleksander. Maka sudah selayaknya kita mendoakan kebaikan untuk keluarga ini" ujar Bik Ima.


Saat sepasang suami istri ini sedang berbincang bincang, terdengar suara mobil yang berhenti di depan mansion.


"Pak itu Tua" ujar Ibuk yang mulutnya sudah disumpel oleh Bapak.


"Ibuk jangan ngomong gitu. Terdengar nanti bagaimana. Ibuk mau dia tidak bisa kita lihat lagi, seperti beberapa tahun ke belakang ini" ujar Bapak kepada Ibuk yang hampir saja membuat hancur rencana.


"Nggak Pak. Ibuk senang dia ada di sini. Walaupun dia pura pura tidak kenal kita" jawab Bik Ima sambil tersenyum.


Bik Ima kembali ke dalam mansion. Dia akan mengatakan kepada Vian kalau sudah ditunggu oleh Juan di kamarnya.


"Nyonya, tadi Tuan Muda Juan berpesan kepada saya, kalau harus menyampaikan pesan dari Tuan Muda" uajr Bik Ima yang berbicara sudah belepotan seperti itu


"Pesan apa Bik?" tanya Vian kepada Bik Ima yang berbicara sudah tidak jelas itu.


"Nyonya diminta menemui Tuan ke kamarnya sekarang" ujar Bik Ima yang akhirnya berhasil juga menyampaikan pesan kepada Vian.


"Oh begitu. Makasi Bik. Saya akan ke atas" ujar Vian.


Bik Ina yang sebenarnya mau ikut dengan Nyonya mudanya itu, mengurungkan niatnya saat Vian memberikan kode nggak usah ikut.


Vian kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar Juan. Sesampainya di depan pintu kamar, Vian menyiapkan mentalnya terlebih dahulu. Dia sudah bisa memperkirakan apa yang akan menimpa dirinya saat pintu itu terbuka nanti.


Tok tok tok. Vian mengetuk pintu kamar Juan Aleksander. Juan kemudian membukakan pintu untuk Vian. Juan sama sekali tidak bertanya siapa yang datang, karena dia tau, Vian lah yang datang ke kamarnya


Juan membuka pintu kamarnya lebar lebar. Tiba tiba sebuah bunyi yang cukup meninggalkan bekas, menggelegar terdengar di telinga Vian dan Bik Ima yang berdiri beberapa tangga sebelum tiba di lantai dia mansion.


Plak. Plak. Plak. Tiga tamparan mendarat di pipi Vian. Bik Ima yang berada di anak tangga, melihat semua kejadian yang terjadi menimpa Vian. Vian mendapatkan tiga tamparan sekaligus sore ini.


Ingin rasanya Bik Ima memanggil Jero dan meminta Jero untuk membawa jauh Nyonya mudanya yang sangat baik hati dan tidak neko neko serta bergaya apa adanya bukan ada apanya.


Bik Ima terpaksa mengurut dada saja menyaksikan apa yang terjadi menimpa Vian. Seorang istri yang diperlakukan tidak seperti manusia oleh suaminya sendiri.